writemeuup

p

Sorakan penonton memenuhi gedung GBL sore hari itu. Dari tribun paling selatan hingga utara dipenuhi oleh lautan manusia dengan berbagai reaksi yang berbeda-beda. Tepuk tangan, decakan sebal jika tim jagoan gagal mencetak poin, dan nyanyian penyemangat dari supporter kedua sekolah yang sedang bertanding membuat suasana semakin ramai.

SMA Amerta melawan SMA Mahadika. Pertandingan yang paling sengit di GBL pada tahun ini. Kemampuan kedua tim yang hampir setara membuat seluruh pasang mata terhipnotis dan tidak bisa mengalihkan perhatian mereka barang sebentar saja.

“Check!” teriak Adrian kepada rekan timnya.

“Nomor 18!” “Gua jaga nomor 10!”

Setelah berhasil mencetak poin dan menjadikan skor keduanya seri, kali ini saatnya SMA Amerta bertahan. Peluh yang mengalir di sekujur tubuh mereka tidak sebanding dengan tekad ingin menang yang berkobar dalam diri.

25-27 28-27 28-29

Skor terus berbalapan. Kedua tim sama-sama tidak mau tertinggal terlalu jauh.

Saat memasuki quarter 4, nyanyian dari tribun penonton semakin kencang terdengar. Ini quarter terakhir, penentuan untuk champion GBL tahun ini semuanya bergantung pada sepuluh menit yang menentukan nasib dari kedua tim.

Harris yang tadinya duduk di bench langsung berdiri sembari berteriak, “Defense, woi! Defense!”

Waktu tersisa satu menit lagi dan skor saat ini 38-36 dipimpin oleh SMA Mahadika.

“Amer! Amer! Amer! Amer!” teriakan serentak dari tribun SMA Amerta yang dipimpin oleh Hesa dan Ethan sebagai capo dan co-capo supporter.

Dari tribun supporter SMA Mahadika juga tidak mau kalah. Mereka menyanyikan chant kebanggaan sekolah dengan sangat lantang.

11 detik lagi. Kini bola berada di tangan Adrian, laki-laki itu men-dribble bola basketnya dengan mata yang melirik sekitar. Matanya bertubrukan dengan Jean yang tak jauh di depannya, langsung ia oper bola yang berada di tangannya itu dan mendarat sempurna ditangkap oleh Jean.

Karena merasa ia tidak memiliki banyak waktu, Jean dengan segera melakukan shooting jarak jauh tepat di area logo GBL dan boom.

Buzzer beater three.

Jean mencetak three point dengan peluit panjang yang ditiup referee pertanda pertandingan telah selesai.

Time is up.

Skor terakhir 38-39 dengan SMA Amerta yang unggul satu poin menjadikan kemenangan bagi mereka.

Seluruh anggota basket berteriak kegirangan seraya menghampiri Jean sebagai pencetak poin terakhir. Lagi-lagi, Jean menjadi penyelamat tim. Sudah bisa ditebak bahwa ia juga akan menjadi MVP GBL untuk tahun ini.

Tribun supporter SMA Amerta sudah sangat ricuh. Hesa bahkan sudah hampir meloncat ke lapangan jika saja tidak ada Kaina yang menarik kerah baju laki-laki itu hingga kembali ke tempat asal. “Jangan malu-maluin lo, Monyet!” desis Kaina. Bahkan, Rendy yang selalu absen saat ada pertandingan seperti ini, hari itu hadir. Ikut bertepuk tangan menyemangati sahabatnya yang sedang bertanding.

Seluruh anggota tim basket menikmati euphoria kemenangan saat ini. Seperti tidak ingin waktu berlalu.

Mata Adrian menelisik pinggir lapangan tempat anggota cheerleader berdiri. Laki-laki itu tersenyum hingga matanya membentuk bulan sabit saat bertemu tatap dengan Yemima.

“Proud of you,” ujar Yemima tanpa suara yang masih dapat ditangkap dengan jelas oleh Adrian.

“I love you,” jawab laki-laki itu juga tanpa suara yang membuat Yemima terkekeh.

Setelah saling mengucapkan selamat, tak lupa kepada tim lawan juga. Kini para player duduk di pinggir lapangan, kali ini saatnya pengumuman untuk pemenang tim cheerleader.

Racy Star—tim cheerleader SMA Amerta—sudah tampil setelah quarter 3 tadi tanpa kesalahan sedikitpun. Tidak ada yang meleset, semuanya berjalan sesuai semestinya, dan para anggota menjalankan tugasnya dengan sangat baik.

“Ini nih, selain basket, yang paling ditunggu-tunggu sama kalian. Siapa nih yang bakal bawa pulang gold medal buat cheerleader tahun ini?” ucap MC sembari bertanya kepada penonton.

Para penonton langsung bersaut-sautan meneriakkan jagoan mereka masing-masing.

“Widih, langsung pada semangat, nih. Yuk langsung aja kita cari tau dulu siapa aja sih kandidatnya?”

“Kandidat yang pertama, SMA Kartika 2!”

Tepuk tangan mengiringi langkah anggota cheerleader SMA Kartika 2 yang maju ke tengah lapangan.

“Dan kandidat terakhir ialah … Penasaran nggak, nih?” ujar MC menggantungkan kalimatnya. Sang MC tertawa saat mendengar decakan sebal dan sorakan untuk segera mempercepat pengumumannya dari arah tribun.

“Damai-damai! Ini langsung diumumin, kandidat yang terakhir ialah … SMA Amerta! Silakan maju ke depan untuk perwakilan cheerleader sekolah yang sudah saya sebutkan!”

Tribun penonton SMA Amerta semakin kacau. Hesa dan Ethan sudah berteriak layaknya orang gila. Adrian dan Jean dengan reflek berdiri dari duduknya dengan muka berharap. Kaina berdoa dalam hatinya meskipun sesekali misuh karena Hesa tak kunjung diam. Rendy hanya tenang mengamati meskipun jantungnya juga ikut berdebar tak karuan.

“Yang berhasil membawa gold medal untuk GBL 2021 ialah …”

Seluruh pasang mata menatap harap ke tengah lapangan. Yemima merapalkan doa tanpa henti, ia pejamkan matanya, kakinya bergerak gusar. Detik jam terasa berjalan sangat lambat saat itu.

“Selamat kepada … SMA Amerta!” ucap MC dengan lantang seraya menghadap ke anggota cheerleader SMA Amerta yang berada di sisi kirinya.

Seketika seluruh anggota Racy Star menangis. Tangisan bahagia yang siapa saja saat melihatnya pasti juga ikut terharu. Tidak mudah untuk mereka sampai di titik ini, bahkan butuh bertahun-tahun untuk mereka bangkit dan diakui lagi oleh sekolah. Mereka saling merengkuh tubuh satu sama lain.

“You did well, guys.” “I’m so proud of you all.” “Thank you for your hardwork.”

Ucapan-ucapan terima kasih kepada rekan satu tim mereka lontarkan untuk satu sama lain.

Para anggota basket yang sedari tadi melihat dari pinggir lapangan kini ikut menghampiri anggota cheerleader.

Adrian dengan reflek membawa Yemima masuk ke pelukannya, diusapnya surai kekasihnya yang sedang menangis itu lembut.

Adrian berani bertindak seperti ini karena bukan hanya dirinya saja, nyatanya Harris juga sedang merengkuh tubuh Alicia, Jean yang merangkul Abby sembari tersenyum satu sama lain. Para anggota tim basktet dan cheerleader saling memberikan selamat. Karena biar bagaimanapun basket dan cheerleader sudah seperti soulmate yang saling mengisi satu sama lain. Tidak ada kata canggung diantara mereka.

Para supporter yang berada di tribun juga ikut merasakan haru. Ini kemenangan mutlak untuk SMA Amerta. Tim basket dan cheerleader sama-sama mendapatkan gelar champion setelah tiga tahun terakhir hanya menjadi runner up.

“Idih kok lo nangis, sih? Ngapain, Ege?!” cibir Kaina saat melihat Hesa yang sedang mengusap ingusnya.

“Gue iri, Kai,” ujar Hesa seraya menatap tengah lapangan.

“Iri kenapa?”

“Gue juga mau meluk Mima, Kai. Alicia juga sabi, itu Abby juga kayaknya butuh pelukan gue, dah,” ujar Hesa seraya semakin menangis.

“LO BENERAN GUE GEBUK YA HABIS INI YA?! LIHAT AJA LO, MAHESA ABIAN!” Kaina sudah berancang-ancang untuk memukul Hesa, tetapi laki-laki itu sudah lebih dulu menghindar dan pergi dari sana.

Rendy yang sedari tadi hanya diam mengamati perdebatan kedua sahabatnya langsung merangkul pundak Kaina begitu Hesa menghilang.

“Ngapain?” tanya Kaina bingung.

“Lo kalau lagi garang begini harus ada pawangnya. Diem aja, anteng,” ujar Rendy seraya menyandarkan kepala Kaina di bahunya.

“Tcih, pawang kata dia,” decih Kaina. Mulut boleh mengomel, tetapi tetap saja kepalanya mencari posisi ternyaman untuk bersandar di bahu Rendy menikmati euphoria kemenangan sore itu.

Sementara di tengah lapangan, Jean berjalan menghampiri Yemima. “Congratulations, Mim,” ucap laki-laki itu.

Yemima tersenyum. “Selamat juga, Jean! Jagoan kita semua,” kekeh perempuan itu.

Setelahnya keduanya hanya diam saling menatap.

“Can I hug you?” tanya Jean setelah bergelut dengan pikirannya sendiri.

“Why not?” ujar Yemima seraya merentangkan tangannya.

Jean tersenyum sebelum akhirnya membawa Yemima masuk ke pelukannya. “I’m sorry, Mim,” lirih Jean yang masih dapat terdengar jelas di telinga Yemima.

“For what?”

“For loving you,” batinnya.

“Kok diem? Maaf kenapa?” tanya Yemima setelah keduanya hanya berpelukan dalam diam.

“Maaf soalnya pernah rusakin charger lo,” jawab Jean beralibi.

Yemima tertawa. “Random banget lo.”

Jean melakukan eye contact dengan Adrian yang berdiri tak jauh dari mereka masih dengan Yemima yang berada di pelukannya. “Bentar, ya, Bro,” ucap Jean tanpa suara.

Adrian terkekeh dan mengangguk. “Santai aja kali,” ujar laki-laki itu tanpa suara pula.

Jean harap ini pelukan terakhir dengan perasaan seperti ini kepada Yemima. Ikhlas itu tidak akan pernah ada jika ia tidak memaksa dirinya untuk melepas. Dan sepertinya inilah saatnya, melepaskan Yemima dengan kebahagiannya dan mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri.

Dengan dilepasnya pelukan keduanya, Jean hanya bisa berharap perasaan khusus untuk Yemima juga ikut pergi. Bukan berarti ia akan berhenti menyayangi perempuan itu, hanya saja ia harus membatasi rasa yang ada.

Keduanya menatap tribun supporter dan langsung terpaku pada perempuan dengan rambut yang digerai sedang mengacungkan jempolnya ke arah keduanya, di samping kanan dan kirinya ada dua orang laki-laki, yang satu tengah melambaikan tangannya brutal, dan yang satu hanya tersenyum sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

Kaina, Hesa, dan juga Rendy.

Jean dan Yemima tidak dapat menahan senyum mereka lagi. Jean juga ikut mengacungkan jempolnya seperti yang dilakukan Kaina sedangkan Yemima membentuk love sign diatas kepala.

Mereka berlima saling menatap satu sama lain dengan senyuman yang sangat lebar di wajah masing-masing.

Jika bisa menghentikan waktu, Yemima ingin menghentikannya saat ini juga. Ia benar-benar bahagia. Selain dukungan teman yang tidak ada habisnya, usaha yang dilakukan kedua tim basket dan cheerleader juga sama hebatnya.

Yemima couldn’t be more grateful. Their hardwork really paid off for the past few months.

p

Selasa, 14 Desember 2021, hari pertama GBL diselenggarakan. Setelah bel pulang sekolah berdering, para murid SMA Amerta berbondong-bondong menuju GBL Arena—tempat berlangsungnya kompetisi basket terbesar di Jawa—untuk mendukung tim basket dan cheerleader kebanggaan.

Hari pertama di babak penyisihan ini SMA Amerta melawan SMA Intan Permata I. Skor akhir 83 – 12 dengan telak dimenangkan oleh SMA Amerta. Adrian sebagai captain memimpin tim dengan sangat baik hari itu dan bukan hal yang mengejutkan bahwa Jean mencetak poin paling banyak.

Kini tim basket duduk di pinggir lapangan dengan peluh yang mengalir di sekujur tubuh mereka. “As expected from our MVP,” ujar Adrian kepada Jean seraya memberikan sebotol air mineral pada teman satu timnya itu. Jean terkekeh lalu menerima botol tersebut dan dengan cepat meneguknya hingga tak tersisa. “Ngaca, Bro. Main lo juga keren,” ujar Jean menatap Adrian yang kini mengguyur wajahnya dengan sisa air dalam botol milik laki-laki itu. Adrian hanya tertawa menanggapi.

Perhatian keduanya langsung berpindah menuju tengah lapangan saat mendengar teriakan dan tepuk tangan heboh dari penonton di tribun. Penyebabnya adalah anggota Racy Star mulai memasuki area untuk bersiap perform.

Kedua sudut bibir Adrian dan juga Jean sama-sama terangkat secara bersamaan. Menatap satu oknum yang sama. Mata keduanya tidak bisa berpaling dari perempuan berkuncir kuda di barisan kedua yang tengah sibuk mengatur posisinya.

Siapa lagi jika bukan Yemima Ameera.

Yemima mencuri pandang ke pinggir lapangan, menatap Adrian sambil tersenyum. Keduanya melakukan kontak mata. Adrian semakin melebarkan senyumnya dan mengucapkan “semangat” tanpa suara yang dijawab anggukan ringan oleh perempuan itu.

Kegiatan yang Adrian dan Yemima lakukan secara diam-diam itu berhasil ditangkap dengan jelas oleh mata kepala Jean yang kini tersenyum pahit.

Seharusnya, ia sudah biasa. Seharusnya, hal ini bukanlah masalah besar. Tapi, nyatanya hatinya masih berdenyut nyeri.

“One! Two! Three! Let’s start!”

Suara Alicia sebagai captain cheerleader yang terdengar melengking di seluruh penjuru lapangan menyita perhatian semua orang tak terkecuali Yemima dan Adrian yang langsung memutus kontak mata mereka dan juga Jean yang menampik rasa sedih pada dirinya dan memfokuskan dirinya kembali ke penampilan cheers.

Musik pun mulai diputar dan anggota cheerleader mulai melakukan koreografi dengan kompak.

Penampilan Racy Star berjalan dengan baik tanpa kesalahan sedikitpun di menit awal. Coach Jenny di sisi lapangan tersenyum dengan bangga. Sorakan dan tepuk tangan tak berhenti terdengar terutama di tribun selatan yang kini didominasi oleh murid SMA Amerta. Hesa sebagai capo terlihat paling heboh di barisan depan.

Namun, saat mendekati akhir, bagaikan kehilangan fokus yang entah kemana, Eugenea sebagai salah satu flyer melakukan banyak kesalahan. Bahkan saat seharusnya melakukan basket toss, ia malah berdiam diri di atas tanpa melakukan apapun. Coach Jenny yang melihatnya membelalakkan matanya terkejut.

Para penonton juga mulai memelankan sorakan dan tepuk tangan mereka lantaran merasa ada yang aneh.

Wajah Coach Jenny merah menahan marah. Sudah siap murka saat itu juga. Setelah Racy Star menyelesaikan penampilannya dan kembali ke backstage. Satu kalimat yang Coach Jenny ucapkan berhasil membuat para anggota cheerleader bergidik ngeri ketakutan.

“Malam ini, berkumpul di aula sekolah, tidak ada yang boleh langsung pulang ke rumah.”

p

Coach Jenny langsung menarik paksa pergelangan tangan Eugenea ke hadapannya saat seluruh anggota cheerleader sudah berkumpul dan berbaris dengan rapi di aula yang malam itu cukup remang karena tidak semua lampu dinyalakan.

“You look so fucking stupid! Penampilan jadi kacau karena kamu!” ujar Coach Jenny seraya menunjuk wajah Eugenea dengan jari telunjuknya. Eugenea menundukkan kepalanya, tubuhnya bergetar hebat menahan takut. Seluruh anggota cheerleader hanya diam menyaksikan—lebih tepatnya, tidak mau ikut terseret dalam masalah yang Eugenea sendiri ciptakan.

“Kita latihan berbulan-bulan bukan untuk ngelihat kamu cuma diam di atas kayak tadi! Sekarang semua orang ngomongin soal saya yang nggak becus jadi coach! Padahal bukan saya yang nggak becus, tapi kamu yang bodoh! Stupid!” Coach Jenny berteriak layaknya orang kesetanan.

Tangan Coach Jenny yang sudah bersiap menampar Eugenea di depannya seketika berhenti di udara saat melihat Yemima yang berada di barisan paling depan sedang mengarahkan kamera handphone milik perempuan itu ke arahnya—seakan sedang merekam kegiatannya.

“What the fuck are you doing?!” hardik Coach Jenny menatap Yemima.

“Just documenting your actions. Mau mukul Eugenea, ‘kan? Lanjutin aja, Coach,” ujar Yemima dengan suaranya yang setenang air. Seakan tidak takut dengan Coach Jenny yang sedang murka.

Para anggota cheerleader lain menatap Yemima tidak percaya. Ada juga yang menatapnya kagum atas aksi berani yang perempuan itu lakukan.

Coach Jenny mengibaskan tangannya dengan kasar lalu menggeram. Membatalkan niatnya yang hendak memukul murid di depannya.

“Besok kita latihan seharian. Saya akan meminta surat dispensasi ke sekolah agar kalian dibebaskan sehari untuk tidak belajar. Persiapkan fisik dan mental kalian!” ujar Coach Jenny menatap satu persatu anggota cheerleader di ruangan itu.

Yemima dengan perlahan menurunkan ponselnya saat merasa Coach Jenny tidak akan menyerang fisik lagi.

“Tidak ada kata ampun untuk sekecil apapun kesalahan yang kalian perbuat! Terutama kamu!” hardik Coach Jenny seraya menunjuk Eugenea yang masih menunduk takut di depannya.

Setelahnya, Coach Jenny melangkah pergi dari sana. Tanpa berpamitan seperti biasanya, tanpa ada kalimat penutupan juga seperti biasanya.

Para anggota cheerleader langsung membubarkan diri, ingin bergegas kembali ke rumah masing-masing karena mereka sangat lelah ditambah omelan Coach Jenny membuat kepala mereka semakin berdenyut pusing tidak karuan.

Yemima melangkah ke arah Eugenea. “You good?” tanya perempuan itu menatap adik kelasnya yang masih menunduk takut.

Eugenea perlahan mengangguk. “Thank you, Kak Mima … for saving me…” lirihnya.

“I’m not saving you tho?” ujar Yemima yang membuat Eugenea mengernyitkan dahinya bingung. Yemima hanya tersenyum tipis. “Hati-hati pulangnya, gue duluan,” ujar perempuan itu seraya pergi dari hadapan Eugenea untuk mengambil tasnya.

Apa yang Yemima katakan benar adanya. Ia tidak berniat untuk menyelamatkan Eugenea atau menjadi pahlawan kesiangan untuk adik kelasnya itu. Eugenea memang salah dan jika boleh mengaku, Yemima juga cukup sebal, akibat kesalahan yang cukup fatal yang dilakukan oleh adik kelasnya itu pasti mengurangi banyak poin milik Racy Star di kompetisi GBL ini.

Tapi, Yemima tidak akan pernah membenarkan kekerasan fisik yang dilakukan oleh siapapun dan apapun penyebabnya. Kekerasan fisik tetaplah kekerasan yang siapapun tidak pantas mendapatkannya.

Saat berjalan keluar dari aula, Abby menghampirinya dan berjalan di sebelahnya. “Mim, lo tadi keren banget, anjir! Tapi gue bingung deh. Tadi bukannya battery handphone lo lowbatt, ya? Kok tadi bisa ngerekam Coach Jenny?” tanya Abby keheranan.

Yemima terkekeh. “Emang habis, By,” ujar Yemima seraya mengangkat handphone-nya yang menunjukkan layar hitam.

Abby membelalakkan matanya. “Hah? Gimana, sih? Jadi tadi lo cuma nakut-nakutin dia aja? Nggak beneran ngerekam?”

“Yes,” kekeh Yemima. “Gue duluan, ya, By,” ujar perempuan itu lalu berjalan mendahului Abby yang mematung dan menganga tidak percaya.

“Mim, sorry kalau lo bosen dengernya! Tapi, lo keren banget anjir?!” ujar Abby sedikit berteriak karena Yemima sudah cukup jauh di depannya yang membuat Yemima hanya tertawa mendengarnya.

Selasa, 14 Desember 2021, hari pertama GBL diselenggarakan. Setelah bel pulang sekolah berdering, para murid SMA Amerta berbondong-bondong menuju GBL Arena—tempat berlangsungnya kompetisi basket terbesar di Jawa—untuk mendukung tim basket dan cheerleader kebanggaan.

Hari pertama di babak penyisihan ini SMA Amerta melawan SMA Intan Permata I. Skor akhir 83 – 12 dengan telak dimenangkan oleh SMA Amerta. Adrian sebagai captain memimpin tim dengan sangat baik hari itu dan bukan hal yang mengejutkan bahwa Jean mencetak poin paling banyak.

Kini tim basket duduk di pinggir lapangan dengan peluh yang mengalir di sekujur tubuh mereka. “As expected from our MVP,” ujar Adrian kepada Jean seraya memberikan sebotol air mineral pada teman satu timnya itu. Jean terkekeh lalu menerima botol tersebut dan dengan cepat meneguknya hingga tak tersisa. “Ngaca, Bro. Main lo juga keren,” ujar Jean menatap Adrian yang kini mengguyur wajahnya dengan sisa air dalam botol milik laki-laki itu. Adrian hanya tertawa menanggapi.

Perhatian keduanya langsung berpindah menuju tengah lapangan saat mendengar teriakan dan tepuk tangan heboh dari penonton di tribun. Penyebabnya adalah anggota Racy Star mulai memasuki area untuk bersiap perform.

Kedua sudut bibir Adrian dan juga Jean sama-sama terangkat secara bersamaan. Menatap satu oknum yang sama. Mata keduanya tidak bisa berpaling dari perempuan berkuncir kuda di barisan kedua yang tengah sibuk mengatur posisinya.

Siapa lagi jika bukan Yemima Ameera.

Yemima mencuri pandang ke pinggir lapangan, menatap Adrian sambil tersenyum. Keduanya melakukan kontak mata. Adrian semakin melebarkan senyumnya dan mengucapkan “semangat” tanpa suara yang dijawab anggukan ringan oleh perempuan itu.

Kegiatan yang Adrian dan Yemima lakukan secara diam-diam itu berhasil ditangkap dengan jelas oleh mata kepala Jean yang kini tersenyum pahit.

Seharusnya, ia sudah biasa. Seharusnya, hal ini bukanlah masalah besar. Tapi, nyatanya hatinya masih berdenyut nyeri.

“One! Two! Three! Let’s start!”

Suara Alicia sebagai captain cheerleader yang terdengar melengking di seluruh penjuru lapangan menyita perhatian semua orang tak terkecuali Yemima dan Adrian yang langsung memutus kontak mata mereka dan juga Jean yang menampik rasa sedih pada dirinya dan memfokuskan dirinya kembali ke penampilan cheers.

Musik pun mulai diputar dan anggota cheerleader mulai melakukan koreografi dengan kompak.

Penampilan Racy Star berjalan dengan baik tanpa kesalahan sedikitpun di menit awal. Coach Jenny di sisi lapangan tersenyum dengan bangga. Sorakan dan tepuk tangan tak berhenti terdengar terutama di tribun selatan yang kini didominasi oleh murid SMA Amerta. Hesa sebagai capo terlihat paling heboh di barisan depan.

Namun, saat mendekati akhir, bagaikan kehilangan fokus yang entah kemana, Eugenea sebagai salah satu flyer melakukan banyak kesalahan. Bahkan saat seharusnya melakukan basket toss, ia malah berdiam diri di atas tanpa melakukan apapun. Coach Jenny yang melihatnya membelalakkan matanya terkejut.

Para penonton juga mulai memelankan sorakan dan tepuk tangan mereka lantaran merasa ada yang aneh.

Wajah Coach Jenny merah menahan marah. Sudah siap murka saat itu juga. Setelah Racy Star menyelesaikan penampilannya dan kembali ke backstage. Satu kalimat yang Coach Jenny ucapkan berhasil membuat para anggota cheerleader bergidik ngeri ketakutan.

“Malam ini, berkumpul di aula sekolah, tidak ada yang boleh langsung pulang ke rumah.”

Adrian dan Yemima duduk di kursi depan teras rumah Yemima yang malam itu sepi seperti hari-hari biasanya.

“Tadi kenapa nggak jadi minta jemput aku, Mim?” tanya Adrian seraya meletakkan sendok plastik di atas ice cream milik perempuan itu.

Yemima hanya menatap sekilas mintchoco ice cream di tangannya, belum berniat untuk menyentuh. “Ditebengin Abby, Ian. Dia mau ke rumah neneknya sekalian lewat sini,” ujar perempuan itu menjawab pertanyaan Adrian.

Adrian hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanya terdiam setelahnya. Hanya ada suara motor dan mobil di jalanan luar yang mengisi sepi.

Melihat dari gelagat Yemima, Adrian tau ada yang mau perempuan itu ceritakan padanya. Jadi ia memilih untuk diam membiarkan kekasihnya itu berpikir terlebih dahulu.

“Ian,” panggil Yemima setelah hening bermenit-menit lamanya.

“Iya, Mim?” jawab Adrian sepersekian detik setelahnya.

“Aku nggak jadi kapten, Ian.” Kalimatnya lugas. Raut wajah perempuan itu juga biasa saja. Menatap Adrian lurus di matanya.

Yang ditatap kembali mengangguk lalu tersenyum untuk menenangkan. “Iya … tadi ‘kan udah bilang di chat, Mim. Nggak papa, Sayang.”

“Aku dari awal nggak pernah sedikitpun ngerasa kalau aku cocok jadi kapten, Ian. Jadi, kalau coach aku nggak ngelihat jiwa leadership atau apapun itu ada di diri aku… that’s not a problem for me because even myself is not confident about it,” jelas Yemima panjang lebar. “Tapi, aku juga nggak jadi flyer, Ian…” Suara Yemima kian melemah. Kali ini ada sirat kesedihan dibalik tatapan perempuan itu.

Tangan Adrian terulur membawa jemari Yemima masuk ke genggamannya. Laki-laki itu memusatkan seluruh perhatiannya, mendengarkan Yemima bercerita dengan seksama. Tidak mau terlewatkan barang satu katapun yang terucap dari mulut perempuan itu.

“That’s fine if I’m not good enough for that position, but ... the fact that I know something is wrong behind all this makes me…” Yemima menggantungkan ucapannya, menatap Adrian tepat di matanya.

Yemima adalah orang yang sangat tenang, tidak pernah membesar-besarkan masalah dan selalu memilih mengalah. Selama berpacaran dengan Yemima, Adrian baru pertama kali melihat tatapan ini di mata perempuan itu. Tatapan kecewa dan marah yang menjadi satu.

“I can’t stand this anymore, Ian…” lanjut perempuan itu.

“Is this about your coach?” tanya Adrian lembut seraya mengeratkan genggaman tangan keduanya.

“I don't know, everything about her seems fishy to me even since day one,” ujar Yemima.

Adrian setuju bahwa ada sesuatu yang tidak beres dibalik coach baru kekasihnya itu. “Aku bahkan cuma ngelihat coach kamu sekilas, but I can tell that she is a bit sus from the way she looks at you.”

Bahkan Adrian saja menyadari hal ini, apalagi dirinya sendiri. “Aku lagi cari tau soal sesuatu. I’ll let you know when I’m sure about it,” ujar Yemima.

“Alright. Let me know if you need any help.”

Yemima hanya mengangguk mengiyakan.

Setelah terdiam beberapa saat, Adrian kembali membuka suaranya, “Mim, Today sucks, right? But, do you want to hear good news?” tanyanya.

“Apa, Ian?”

“Whatever is meant for you, will always be yours. Don’t worry, ya, Mim? Your hardwork will be paid off soon, I promise,” ujar Adrian seraya mengusap jemari Yemima yang masih di genggamannya.

Yemima tersenyum dan mengangguk. “Thank you, Ian.”

“Thank you for what? I didn’t do anything tho?”

Yemima mengedikkan bahunya. “Just ... thanks? Thanks for being here, thanks for listening to me, also ... thanks for the mintchoco ice cream? Hehe,” ujar perempuan itu dengan cengiran seraya melepaskan genggaman tangan keduanya dan mulai memakan ice cream pemberian Adrian yang sempat ia diamkan sedari tadi.

Adrian menyunggingkan senyumnya. “Anytime, Mim. *Also, please remember that whatever your position later, whether it’s a flyer or a side base or even a front base, my eyes will only be on you and just for you.”

Yemima yang sedang melahap mintchoco ice cream a.k.a her number one moodboster seketika tersedak. Entah kenapa merasa salah tingkah mendengar ucapan Adrian.

“Makannya pelan-pelan. Nggak bakal ada yang minta, Mim. Aku nggak doyan odol,” kekeh Adrian.

“Odol apaan, sih! Beda tau!” protes perempuan itu tidak terima.

Tangan laki-laki itu terulur untuk mengusap noda ice cream di sudut bibir kekasihnya. “Belepotan semua kayak anak kecil.”

Bertepatan dengan Adrian yang sibuk membersihkan sudut bibir Yemima, ada seseorang yang tiba-tiba datang.

“Eh? Jean? Kenapa, Je?” tanya Yemima menatap sosok laki-laki yang kini berdiri di depan keduanya.

Adrian ikut menoleh. “Oit Jean? Sama siapa, Bro?” tanya Adrian seraya celingukan melihat ke belakang Jean. Siapa tau ada Kaina, Rendy, dan juga Hesa yang selalu bersama kemanapun. Namun, nyatanya nihil. Sepertinya, Jean hanya seorang diri.

Jean langsung menyembunyikan sesuatu yang sedari tadi ia tenteng ke belakang tubuhnya lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tiba-tiba merasa canggung. “Anu … Itu … “ Jean tampak berpikir menatap sekelilingnya. Adrian dan Yemima menunggu dengan seksama.

Seketika laki-laki itu menjentikkan jarinya. “Oh, iya! Charger gue ketinggalan disini! Iya, charger! Mau ngambil boleh, ya, Mim?” ujar laki-laki itu sedikit gelagapan.

Yemima mengangguk lalu tertawa. “Boleh lah. Langsung masuk aja, Je. Ambil sendiri soalnya gue nggak tau charger lo yang mana.”

“Sip, misi, ya, Mim,” ujar Jean lalu tak lupa menepuk bahu Adrian—berniat menyapa— beberapa kali sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah Yemima.

Adrian dan Yemima kembali mengobrol. Kali ini obrolan ringan seputar sekolah ataupun latian yang beberapa hari terakhir ini menguras waktu keduanya.

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Jean selesai mengambil “charger” miliknya. Laki-laki itu langsung berpamitan pulang kepada Yemima dan Adrian lalu melangkah pergi dari hadapan keduanya.

Saat sudah berjalan cukup jauh dari teras rumah Yemima, Jean menatap sesuatu yang sedari tadi ia sembunyikan dibalik tubuhnya.

Satu kantong plastik berisi tiga box mintchoco ice cream.

Sepersekian detik setelah mendapat kabar dari Kaina perihal Yemima yang tidak terpilih menjadi flyer membuat Jean tanpa berpikir panjang langsung menuju ke rumah perempuan itu.

Nyatanya, mengambil charger hanya sebuah alasan karena tujuan sebenarnya ia kemari adalah untuk membuat Yemima menyunggingkan senyuman. Tapi, ia lupa bahwa tugasnya sebagai orang pertama yang menghibur Yemima disaat perempuan itu sedih sedari lama sudah tergantikan.

Jean tertawa miris menatap kantong plastik tersebut. Dirogohnya saku celananya untuk mengambil handphone miliknya dan langsung menghubungi seseorang yang langsung terlintas dalam benaknya.

Adrian dan Yemima duduk di kursi depan teras rumah Yemima yang malam itu sepi seperti hari-hari biasanya.

“Tadi kenapa nggak jadi minta jemput aku, Mim?” tanya Adrian seraya meletakkan sendok plastik di atas ice cream milik perempuan itu.

Yemima hanya menatap sekilas mintchoco ice cream di tangannya, belum berniat untuk menyentuh. “Ditebengin Abby, Ian. Dia mau ke rumah neneknya sekalian lewat sini,” ujar perempuan itu menjawab pertanyaan Adrian.

Adrian hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanya terdiam setelahnya. Hanya ada suara motor dan mobil di jalanan luar yang mengisi sepi.

Melihat dari gelagat Yemima, Adrian tau ada yang mau perempuan itu ceritakan padanya. Jadi ia memilih untuk diam membiarkan kekasihnya itu berpikir terlebih dahulu.

“Ian,” panggil Yemima setelah hening bermenit-menit lamanya.

“Iya, Mim?” jawab Adrian sepersekian detik setelahnya.

“Aku nggak jadi kapten, Ian.” Kalimatnya lugas. Raut wajah perempuan itu juga biasa saja. Menatap Adrian lurus di matanya.

Yang ditatap kembali mengangguk lalu tersenyum untuk menenangkan. “Iya … tadi ‘kan udah bilang di chat, Mim. Nggak papa, Sayang.”

“Aku dari awal nggak pernah sedikitpun ngerasa kalau aku cocok jadi kapten, Ian. Jadi, kalau coach aku nggak ngelihat jiwa leadership atau apapun itu dalam diri aku … that’s not a problem for me because even myself is not confident about it,” jelas Yemima panjang lebar. “Tapi, aku juga nggak jadi flyer, Ian…” Suara Yemima kian melemah. Kali ini ada sirat kesedihan dibalik tatapan perempuan itu.

Tangan Adrian terulur membawa jemari Yemima masuk ke genggamannya. Laki-laki itu memusatkan seluruh perhatiannya, mendengarkan Yemima bercerita dengan seksama. Tidak mau terlewatkan barang satu katapun yang terucap dari mulut perempuan itu.

“That’s fine if I’m not good enough for that position, but ... the fact that I know something is wrong behind all this makes me…” Yemima menggantungkan ucapannya, menatap Adrian tepat di matanya.

Yemima adalah orang yang sangat tenang, tidak pernah membesar-besarkan masalah dan selalu memilih mengalah. Selama berpacaran dengan Yemima, Adrian baru pertama kali melihat tatapan ini di mata perempuan itu. Tatapan kecewa dan marah yang menjadi satu.

“I can’t stand this anymore, Ian…” lanjut perempuan itu.

“Is this about your coach?” tanya Adrian lembut seraya mengeratkan genggaman tangan keduanya.

“I don't know, everything about her seems fishy to me even since day one,” ujar Yemima.

Adrian setuju bahwa ada sesuatu yang tidak beres dibalik coach baru kekasihnya itu. “Aku bahkan cuma ngelihat coach kamu sekilas, but I can tell that she is a bit sus from the way she looks at you.”

Bahkan Adrian saja menyadari hal ini, apalagi dirinya sendiri. “Aku lagi cari tau soal sesuatu. *I’ll let you know when I’m sure about it,” ujar Yemima.

“Alright. Let me know if you need any help.”

Yemima hanya mengangguk mengiyakan.

Setelah terdiam beberapa saat, Adrian kembali membuka suaranya, “Mim, I know today sucks, but do you want to hear good news?” tanyanya.

“Apa, Ian?”

“Whatever is meant for you, will always be yours. Don’t worry, ya, Mim? Your hardwork will be paid off soon, I promise,” ujar Adrian seraya mengusap jemari Yemima yang masih di genggamannya.

Yemima tersenyum dan mengangguk. “Thank you, Ian.”

*“Thank you for what?”

Yemima mengedikkan bahunya. “Just ... thanks? Thanks for being here right now, thanks for listening to me, also ... thanks for the mintchoco ice cream? Hehe,” ujar perempuan itu dengan cengiran seraya melepaskan genggaman tangan keduanya dan mulai memakan ice cream pemberian Adrian yang sempat ia diamkan sedari tadi.

“Also, Mim … whatever your position later, whether it’s a flyer or a side base or even a front base, my eyes will only be on you and just for you,” lanjut Adrian seraya menyunggingkan senyumnya.

Yemima yang sedang melahap mintchoco ice cream a.k.a her number one moodboster seketika tersedak. Entah kenapa merasa salah tingkah mendengar ucapan Adrian.

“Makannya pelan-pelan. Nggak bakal ada yang minta, Mim. Aku nggak doyan odol,” kekeh Adrian.

“Odol apaan, sih! Beda tau!” protes perempuan itu tidak terima.

Tangan laki-laki itu terulur untuk mengusap noda ice cream di sudut bibir kekasihnya. “Belepotan semua kayak anak kecil.”

Bertepatan dengan Adrian yang sibuk membersihkan sudut bibir Yemima, ada seseorang yang tiba-tiba datang.

“Eh? Jean? Kenapa, Je?” tanya Yemima menatap sosok laki-laki yang kini berdiri di depan keduanya.

Adrian ikut menoleh. “Oit Jean? Sama siapa, Bro?” tanya Adrian seraya celingukan melihat ke belakang Jean. Siapa tau ada Kaina, Rendy, dan juga Hesa yang selalu bersama kemanapun. Namun, nyatanya nihil. Sepertinya, Jean hanya seorang diri.

Jean langsung menyembunyikan sesuatu yang sedari tadi ia tenteng ke belakang tubuhnya lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tiba-tiba merasa canggung. “Anu … Itu … “ Jean tampak berpikir menatap sekelilingnya. Adrian dan Yemima menunggu dengan seksama.

Seketika laki-laki itu menjentikkan jarinya. “Oh, iya! Charger gue ketinggalan disini! Iya, charger! Mau ngambil boleh, ya, Mim?” ujar laki-laki itu sedikit gelagapan.

Yemima mengangguk lalu tertawa. “Boleh lah. Langsung masuk aja, Je. Ambil sendiri soalnya gue nggak tau charger lo yang mana.”

“Sip, misi, ya, Mim,” ujar Jean lalu tak lupa menepuk bahu Adrian—berniat menyapa— beberapa kali sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah Yemima.

Adrian dan Yemima kembali mengobrol. Kali ini obrolan ringan seputar sekolah ataupun latian yang beberapa hari terakhir ini menguras waktu keduanya.

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Jean selesai mengambil “charger” miliknya. Laki-laki itu langsung berpamitan pulang kepada Yemima dan Adrian lalu melangkah pergi dari hadapan keduanya.

Saat sudah berjalan cukup jauh dari teras rumah Yemima, Jean menatap sesuatu yang sedari tadi ia sembunyikan dibalik tubuhnya.

Satu kantong plastik berisi tiga box mintchoco ice cream.

Sepersekian detik setelah mendapat kabar dari Kaina perihal Yemima yang tidak terpilih menjadi flyer membuat Jean tanpa berpikir panjang langsung menuju ke rumah perempuan itu.

Nyatanya, mengambil charger hanya sebuah alasan karena tujuan sebenarnya ia kemari adalah untuk membuat Yemima menyunggingkan senyuman. Tapi, ia lupa bahwa tugasnya sebagai orang pertama yang menghibur Yemima disaat perempuan itu sedih sedari lama sudah tergantikan.

Jean tertawa miris menatap kantong plastik tersebut. Dirogohnya saku celananya untuk mengambil handphone miliknya dan langsung menghubungi seseorang yang langsung terlintas dalam benaknya.

Latian sudah berlangsung cukup lama. Tetapi, tidak seberat kemarin. Sebentar lagi sudah waktunya pulang dan seluruh anggota cheerleader sedang berbaris dengan rapi untuk mendengarkan pengumuman yang akan diberikan Coach Jenny.

“Since we don’t have so much time dan kalian nggak mau pulang telat kayak kemarin lagi. I will quickly announce who will be the captain. Is that okay, Girls?” ujar Coach Jenny.

Seluruh anggota cheerleader mengangguk dengan serempak. “Yes, Coach!”

“Give a round of applause to the new captain! Alicia, please come forward!” Coach Jenny berujar dengan lantang seraya bertepuk tangan hingga menggema di seluruh penjuru aula malam hari itu.

Sementara seluruh anggota cheerleader malah diam mematung. Bahkan ada beberapa yang dengan terang-terangan menoleh menatap Yemima seakan bertanya, “Kok bukan lo?”

Yemima sendiri hanya menggelengkan kepalanya karena ia sendiri juga tidak tahu. Tidak ada yang bisa perempuan itu lakukan selain ikut bertepuk tangan menyambut Alicia yang kini tengah berdiri disamping Coach Jenny.

“Thank you Coach Jenny for trusting me. It’s such an honour to be Racy Star’s new captain. I’ll do my best for our team!” ujar Alicia seraya berjingkrak kegirangan.

“Okay! Sekarang Coach akan bagi posisi kalian buat main choreo kita. Karena koreo kita butuh tiga satu kesatuan, so we also need 3 flyers. First flyer, sudah pasti, our captain, a.k.a Alicia,” ujar Coach Jenny seraya menatap Alicia di sampingnya dengan senyuman. “Thank you, Coach!” ucap Alicia bersemangat.

“And the second one is Abby…” lanjut Coach Jenny lalu menatap Abby yang langsung mengangguk, “Yes, Coach. Terima kasih!”

Tersisa satu posisi lagi untuk flyer. Hanya ada satu nama di benak seluruh anggota yang pantas mendapati posisi ini yang tak lain adalah Yemima a.k.a Racy Star’s ACE.

“The last one is…” Coach Jenny menggantungkan kalimatnya. Ia tersenyum menatap seluruh anggota cheerleader satu persatu.

“Eugenea!” lanjut Coach Jenny seraya bertepuk tangan dengan heboh lagi.

Seluruh pasang mata yang ada di aula tersebut membelalakkan matanya terkejut tak terkecuali Eugenea. Lagi-lagi mereka kembali menatap Yemima yang kini raut mukanya sudah tidak setenang tadi.

Abby yang merasa ini tidak beres langsung mengangkat tangannya dengan berani.

“Yes, Abby? What’s wrong?” tanya Coach Jenny.

“What about Yemima, Coach? She is the flyer even since our 1st grade,” tanya Abby menyuarakan kebingungannya.

Coach Jenny membuka lembar catatan di tangannya sekilas lalu menatap Abby dan Yemima secara bergantian. “Oh… Yemima will be the front base,” ujar Coach Jenny seraya mengedikkan bahunya.

Semua orang semakin dibuat kebingungan. Bukannya mereka meragukan Eugenea karena masih kelas sepuluh. Potensi Eugenea sudah bagus, hanya saja skill Yemima masih sangat jauh diatas Eugenea. Jika seperti ini, sama saja Racy Star seakan membuang kartu AS yang mereka punya.

“Ada yang keberatan sama pertimbangan yang Coach buat selama satu bulan terakhir bahkan nggak tidur ini?” tanya Coach Jenny dengan senyuman yang mengintimidasi seluruh anggota cheerleader disana. “Keputusan ini bukan Coach ambil asal-asalan. Coach melihat skill kalian untuk Racy Star yang lebih baik. Jika ada yang keberatan langsung bilang sekarang.”

Hening.

Tidak ada yang berani menjawab.

Sampai akhirnya di tengah kebisuan yang sedang berlangsung, Yemima mengangkat satu tangannya menginterupsi.

Coach Jenny semakin tersenyum licik. Ini berjalan seperti apa yang ia mau. Jika Yemima protes, ia sudah menyiapkan seribu satu jawaban yang ia yakini akan membuat muridnya itu terdiam kikuk. “Go ahead,” ujar Coach Jenny menantang.

Semua anggota cheerleader memusatkan perhatian mereka ke Yemima yang kini tengah menatap lurus ke arah Coach Jenny dengan satu sudut bibir yang sedikit terangkat. Mereka was-was karena takut akan terjadi pertikaian setelah ini.

Mulut mereka menganga lebar tak terkecuali Alicia–yang masih berdiri di samping Coach Jenny–saat Yemima menunjuk Coach Jenny dengan jari telunjuknya tepat di wajah perempuan berusia awal tiga puluhan itu. Namun, saat Coach Jenny hendak murka, Yemima langsung merubah raut wajahnya menjadi tersenyum dan menggeser tangannya menunjuk jam dinding di belakang Coach Jenny. “Udah jam 7, Coach. It’s time to go home, we’re tired hehe,” ujar Yemima dengan cengiran.

Seluruh anggota cheerleader sontak menghembuskan nafasnya lega. Mereka kira mereka akan melihat keributan. Mereka kira Yemima yang biasanya tenang dalam menghadapi masalah yang ada akan murka malam itu. Tapi, ternyata mereka salah besar. Karena sepertinya Yemima tidak mempermasalahkan keputusan yang diberi Coach Jenny.

Atau ... lebih tepatnya … perempuan itu “memilih” untuk tidak mempermasalahkannya dahulu untuk saat ini.

Coach Jenny berdeham lalu mengangguk. “Alright. Saya tidak mau dibilang korupsi waktu lagi. You all can go home. Good job for today and see you later, Girls!”

Seluruh anggota cheerleader dengan serempak menjawab. “Thank you for today, Coach!”

Raut wajah Yemima yang tadinya tersenyum, begitu ia membalikkan badan langsung berubah 180 derajat. “Gue nggak tau kalau lo berani main sejauh ini, ” Yemima bermonolog entah untuk siapa kalimat itu ditujukan. “Gue udah diem aja selama ini and you choose to play with me again,” lanjutnya seraya berjalan untuk mengambil tasnya.

“Challenge accepted,” ujar Yemima dengan senyuman lebar seraya berjalan ke luar aula.

Biar saja orang yang melihatnya berbicara sendiri seperti ini menganggapnya gila.

Karena pada dasarnya dalang dibalik semua ini jauh di atas kata gila.

The visualization for their position :

pict cr. pinterest