FINAL.
Sorakan penonton memenuhi gedung GBL sore hari itu. Dari tribun paling selatan hingga utara dipenuhi oleh lautan manusia dengan berbagai reaksi yang berbeda-beda. Tepuk tangan, decakan sebal jika tim jagoan gagal mencetak poin, dan nyanyian penyemangat dari supporter kedua sekolah yang sedang bertanding membuat suasana semakin ramai.
SMA Amerta melawan SMA Mahadika. Pertandingan yang paling sengit di GBL pada tahun ini. Kemampuan kedua tim yang hampir setara membuat seluruh pasang mata terhipnotis dan tidak bisa mengalihkan perhatian mereka barang sebentar saja.
“Check!” teriak Adrian kepada rekan timnya.
“Nomor 18!” “Gua jaga nomor 10!”
Setelah berhasil mencetak poin dan menjadikan skor keduanya seri, kali ini saatnya SMA Amerta bertahan. Peluh yang mengalir di sekujur tubuh mereka tidak sebanding dengan tekad ingin menang yang berkobar dalam diri.
25-27 28-27 28-29
Skor terus berbalapan. Kedua tim sama-sama tidak mau tertinggal terlalu jauh.
Saat memasuki quarter 4, nyanyian dari tribun penonton semakin kencang terdengar. Ini quarter terakhir, penentuan untuk champion GBL tahun ini semuanya bergantung pada sepuluh menit yang menentukan nasib dari kedua tim.
Harris yang tadinya duduk di bench langsung berdiri sembari berteriak, “Defense, woi! Defense!”
Waktu tersisa satu menit lagi dan skor saat ini 38-36 dipimpin oleh SMA Mahadika.
“Amer! Amer! Amer! Amer!” teriakan serentak dari tribun SMA Amerta yang dipimpin oleh Hesa dan Ethan sebagai capo dan co-capo supporter.
Dari tribun supporter SMA Mahadika juga tidak mau kalah. Mereka menyanyikan chant kebanggaan sekolah dengan sangat lantang.
11 detik lagi. Kini bola berada di tangan Adrian, laki-laki itu men-dribble bola basketnya dengan mata yang melirik sekitar. Matanya bertubrukan dengan Jean yang tak jauh di depannya, langsung ia oper bola yang berada di tangannya itu dan mendarat sempurna ditangkap oleh Jean.
Karena merasa ia tidak memiliki banyak waktu, Jean dengan segera melakukan shooting jarak jauh tepat di area logo GBL dan boom.
Buzzer beater three.
Jean mencetak three point dengan peluit panjang yang ditiup referee pertanda pertandingan telah selesai.
Time is up.
Skor terakhir 38-39 dengan SMA Amerta yang unggul satu poin menjadikan kemenangan bagi mereka.
Seluruh anggota basket berteriak kegirangan seraya menghampiri Jean sebagai pencetak poin terakhir. Lagi-lagi, Jean menjadi penyelamat tim. Sudah bisa ditebak bahwa ia juga akan menjadi MVP GBL untuk tahun ini.
Tribun supporter SMA Amerta sudah sangat ricuh. Hesa bahkan sudah hampir meloncat ke lapangan jika saja tidak ada Kaina yang menarik kerah baju laki-laki itu hingga kembali ke tempat asal. “Jangan malu-maluin lo, Monyet!” desis Kaina. Bahkan, Rendy yang selalu absen saat ada pertandingan seperti ini, hari itu hadir. Ikut bertepuk tangan menyemangati sahabatnya yang sedang bertanding.
Seluruh anggota tim basket menikmati euphoria kemenangan saat ini. Seperti tidak ingin waktu berlalu.
Mata Adrian menelisik pinggir lapangan tempat anggota cheerleader berdiri. Laki-laki itu tersenyum hingga matanya membentuk bulan sabit saat bertemu tatap dengan Yemima.
“Proud of you,” ujar Yemima tanpa suara yang masih dapat ditangkap dengan jelas oleh Adrian.
“I love you,” jawab laki-laki itu juga tanpa suara yang membuat Yemima terkekeh.
Setelah saling mengucapkan selamat, tak lupa kepada tim lawan juga. Kini para player duduk di pinggir lapangan, kali ini saatnya pengumuman untuk pemenang tim cheerleader.
Racy Star—tim cheerleader SMA Amerta—sudah tampil setelah quarter 3 tadi tanpa kesalahan sedikitpun. Tidak ada yang meleset, semuanya berjalan sesuai semestinya, dan para anggota menjalankan tugasnya dengan sangat baik.
“Ini nih, selain basket, yang paling ditunggu-tunggu sama kalian. Siapa nih yang bakal bawa pulang gold medal buat cheerleader tahun ini?” ucap MC sembari bertanya kepada penonton.
Para penonton langsung bersaut-sautan meneriakkan jagoan mereka masing-masing.
“Widih, langsung pada semangat, nih. Yuk langsung aja kita cari tau dulu siapa aja sih kandidatnya?”
“Kandidat yang pertama, SMA Kartika 2!”
Tepuk tangan mengiringi langkah anggota cheerleader SMA Kartika 2 yang maju ke tengah lapangan.
“Dan kandidat terakhir ialah … Penasaran nggak, nih?” ujar MC menggantungkan kalimatnya. Sang MC tertawa saat mendengar decakan sebal dan sorakan untuk segera mempercepat pengumumannya dari arah tribun.
“Damai-damai! Ini langsung diumumin, kandidat yang terakhir ialah … SMA Amerta! Silakan maju ke depan untuk perwakilan cheerleader sekolah yang sudah saya sebutkan!”
Tribun penonton SMA Amerta semakin kacau. Hesa dan Ethan sudah berteriak layaknya orang gila. Adrian dan Jean dengan reflek berdiri dari duduknya dengan muka berharap. Kaina berdoa dalam hatinya meskipun sesekali misuh karena Hesa tak kunjung diam. Rendy hanya tenang mengamati meskipun jantungnya juga ikut berdebar tak karuan.
“Yang berhasil membawa gold medal untuk GBL 2021 ialah …”
Seluruh pasang mata menatap harap ke tengah lapangan. Yemima merapalkan doa tanpa henti, ia pejamkan matanya, kakinya bergerak gusar. Detik jam terasa berjalan sangat lambat saat itu.
“Selamat kepada … SMA Amerta!” ucap MC dengan lantang seraya menghadap ke anggota cheerleader SMA Amerta yang berada di sisi kirinya.
Seketika seluruh anggota Racy Star menangis. Tangisan bahagia yang siapa saja saat melihatnya pasti juga ikut terharu. Tidak mudah untuk mereka sampai di titik ini, bahkan butuh bertahun-tahun untuk mereka bangkit dan diakui lagi oleh sekolah. Mereka saling merengkuh tubuh satu sama lain.
“You did well, guys.” “I’m so proud of you all.” “Thank you for your hardwork.”
Ucapan-ucapan terima kasih kepada rekan satu tim mereka lontarkan untuk satu sama lain.
Para anggota basket yang sedari tadi melihat dari pinggir lapangan kini ikut menghampiri anggota cheerleader.
Adrian dengan reflek membawa Yemima masuk ke pelukannya, diusapnya surai kekasihnya yang sedang menangis itu lembut.
Adrian berani bertindak seperti ini karena bukan hanya dirinya saja, nyatanya Harris juga sedang merengkuh tubuh Alicia, Jean yang merangkul Abby sembari tersenyum satu sama lain. Para anggota tim basktet dan cheerleader saling memberikan selamat. Karena biar bagaimanapun basket dan cheerleader sudah seperti soulmate yang saling mengisi satu sama lain. Tidak ada kata canggung diantara mereka.
Para supporter yang berada di tribun juga ikut merasakan haru. Ini kemenangan mutlak untuk SMA Amerta. Tim basket dan cheerleader sama-sama mendapatkan gelar champion setelah tiga tahun terakhir hanya menjadi runner up.
“Idih kok lo nangis, sih? Ngapain, Ege?!” cibir Kaina saat melihat Hesa yang sedang mengusap ingusnya.
“Gue iri, Kai,” ujar Hesa seraya menatap tengah lapangan.
“Iri kenapa?”
“Gue juga mau meluk Mima, Kai. Alicia juga sabi, itu Abby juga kayaknya butuh pelukan gue, dah,” ujar Hesa seraya semakin menangis.
“LO BENERAN GUE GEBUK YA HABIS INI YA?! LIHAT AJA LO, MAHESA ABIAN!” Kaina sudah berancang-ancang untuk memukul Hesa, tetapi laki-laki itu sudah lebih dulu menghindar dan pergi dari sana.
Rendy yang sedari tadi hanya diam mengamati perdebatan kedua sahabatnya langsung merangkul pundak Kaina begitu Hesa menghilang.
“Ngapain?” tanya Kaina bingung.
“Lo kalau lagi garang begini harus ada pawangnya. Diem aja, anteng,” ujar Rendy seraya menyandarkan kepala Kaina di bahunya.
“Tcih, pawang kata dia,” decih Kaina. Mulut boleh mengomel, tetapi tetap saja kepalanya mencari posisi ternyaman untuk bersandar di bahu Rendy menikmati euphoria kemenangan sore itu.
Sementara di tengah lapangan, Jean berjalan menghampiri Yemima. “Congratulations, Mim,” ucap laki-laki itu.
Yemima tersenyum. “Selamat juga, Jean! Jagoan kita semua,” kekeh perempuan itu.
Setelahnya keduanya hanya diam saling menatap.
“Can I hug you?” tanya Jean setelah bergelut dengan pikirannya sendiri.
“Why not?” ujar Yemima seraya merentangkan tangannya.
Jean tersenyum sebelum akhirnya membawa Yemima masuk ke pelukannya. “I’m sorry, Mim,” lirih Jean yang masih dapat terdengar jelas di telinga Yemima.
“For what?”
“For loving you,” batinnya.
“Kok diem? Maaf kenapa?” tanya Yemima setelah keduanya hanya berpelukan dalam diam.
“Maaf soalnya pernah rusakin charger lo,” jawab Jean beralibi.
Yemima tertawa. “Random banget lo.”
Jean melakukan eye contact dengan Adrian yang berdiri tak jauh dari mereka masih dengan Yemima yang berada di pelukannya. “Bentar, ya, Bro,” ucap Jean tanpa suara.
Adrian terkekeh dan mengangguk. “Santai aja kali,” ujar laki-laki itu tanpa suara pula.
Jean harap ini pelukan terakhir dengan perasaan seperti ini kepada Yemima. Ikhlas itu tidak akan pernah ada jika ia tidak memaksa dirinya untuk melepas. Dan sepertinya inilah saatnya, melepaskan Yemima dengan kebahagiannya dan mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri.
Dengan dilepasnya pelukan keduanya, Jean hanya bisa berharap perasaan khusus untuk Yemima juga ikut pergi. Bukan berarti ia akan berhenti menyayangi perempuan itu, hanya saja ia harus membatasi rasa yang ada.
Keduanya menatap tribun supporter dan langsung terpaku pada perempuan dengan rambut yang digerai sedang mengacungkan jempolnya ke arah keduanya, di samping kanan dan kirinya ada dua orang laki-laki, yang satu tengah melambaikan tangannya brutal, dan yang satu hanya tersenyum sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
Kaina, Hesa, dan juga Rendy.
Jean dan Yemima tidak dapat menahan senyum mereka lagi. Jean juga ikut mengacungkan jempolnya seperti yang dilakukan Kaina sedangkan Yemima membentuk love sign diatas kepala.
Mereka berlima saling menatap satu sama lain dengan senyuman yang sangat lebar di wajah masing-masing.
Jika bisa menghentikan waktu, Yemima ingin menghentikannya saat ini juga. Ia benar-benar bahagia. Selain dukungan teman yang tidak ada habisnya, usaha yang dilakukan kedua tim basket dan cheerleader juga sama hebatnya.
Yemima couldn’t be more grateful. Their hardwork really paid off for the past few months.