158.
Coach Jenny langsung menarik paksa pergelangan tangan Eugenea ke hadapannya saat seluruh anggota cheerleader sudah berkumpul dan berbaris dengan rapi di aula yang malam itu cukup remang karena tidak semua lampu dinyalakan.
“You look so fucking stupid! Penampilan jadi kacau karena kamu!” ujar Coach Jenny seraya menunjuk wajah Eugenea dengan jari telunjuknya. Eugenea menundukkan kepalanya, tubuhnya bergetar hebat menahan takut. Seluruh anggota cheerleader hanya diam menyaksikan—lebih tepatnya, tidak mau ikut terseret dalam masalah yang Eugenea sendiri ciptakan.
“Kita latihan berbulan-bulan bukan untuk ngelihat kamu cuma diam di atas kayak tadi! Sekarang semua orang ngomongin soal saya yang nggak becus jadi coach! Padahal bukan saya yang nggak becus, tapi kamu yang bodoh! Stupid!” Coach Jenny berteriak layaknya orang kesetanan.
Tangan Coach Jenny yang sudah bersiap menampar Eugenea di depannya seketika berhenti di udara saat melihat Yemima yang berada di barisan paling depan sedang mengarahkan kamera handphone milik perempuan itu ke arahnya—seakan sedang merekam kegiatannya.
“What the fuck are you doing?!” hardik Coach Jenny menatap Yemima.
“Just documenting your actions. Mau mukul Eugenea, ‘kan? Lanjutin aja, Coach,” ujar Yemima dengan suaranya yang setenang air. Seakan tidak takut dengan Coach Jenny yang sedang murka.
Para anggota cheerleader lain menatap Yemima tidak percaya. Ada juga yang menatapnya kagum atas aksi berani yang perempuan itu lakukan.
Coach Jenny mengibaskan tangannya dengan kasar lalu menggeram. Membatalkan niatnya yang hendak memukul murid di depannya.
“Besok kita latihan seharian. Saya akan meminta surat dispensasi ke sekolah agar kalian dibebaskan sehari untuk tidak belajar. Persiapkan fisik dan mental kalian!” ujar Coach Jenny menatap satu persatu anggota cheerleader di ruangan itu.
Yemima dengan perlahan menurunkan ponselnya saat merasa Coach Jenny tidak akan menyerang fisik lagi.
“Tidak ada kata ampun untuk sekecil apapun kesalahan yang kalian perbuat! Terutama kamu!” hardik Coach Jenny seraya menunjuk Eugenea yang masih menunduk takut di depannya.
Setelahnya, Coach Jenny melangkah pergi dari sana. Tanpa berpamitan seperti biasanya, tanpa ada kalimat penutupan juga seperti biasanya.
Para anggota cheerleader langsung membubarkan diri, ingin bergegas kembali ke rumah masing-masing karena mereka sangat lelah ditambah omelan Coach Jenny membuat kepala mereka semakin berdenyut pusing tidak karuan.
Yemima melangkah ke arah Eugenea. “You good?” tanya perempuan itu menatap adik kelasnya yang masih menunduk takut.
Eugenea perlahan mengangguk. “Thank you, Kak Mima … for saving me…” lirihnya.
“I’m not saving you tho?” ujar Yemima yang membuat Eugenea mengernyitkan dahinya bingung. Yemima hanya tersenyum tipis. “Hati-hati pulangnya, gue duluan,” ujar perempuan itu seraya pergi dari hadapan Eugenea untuk mengambil tasnya.
Apa yang Yemima katakan benar adanya. Ia tidak berniat untuk menyelamatkan Eugenea atau menjadi pahlawan kesiangan untuk adik kelasnya itu. Eugenea memang salah dan jika boleh mengaku, Yemima juga cukup sebal, akibat kesalahan yang cukup fatal yang dilakukan oleh adik kelasnya itu pasti mengurangi banyak poin milik Racy Star di kompetisi GBL ini.
Tapi, Yemima tidak akan pernah membenarkan kekerasan fisik yang dilakukan oleh siapapun dan apapun penyebabnya. Kekerasan fisik tetaplah kekerasan yang siapapun tidak pantas mendapatkannya.
Saat berjalan keluar dari aula, Abby menghampirinya dan berjalan di sebelahnya. “Mim, lo tadi keren banget, anjir! Tapi gue bingung deh. Tadi bukannya battery handphone lo lowbatt, ya? Kok tadi bisa ngerekam Coach Jenny?” tanya Abby keheranan.
Yemima terkekeh. “Emang habis, By,” ujar Yemima seraya mengangkat handphone-nya yang menunjukkan layar hitam.
Abby membelalakkan matanya. “Hah? Gimana, sih? Jadi tadi lo cuma nakut-nakutin dia aja? Nggak beneran ngerekam?”
“Yes,” kekeh Yemima. “Gue duluan, ya, By,” ujar perempuan itu lalu berjalan mendahului Abby yang mematung dan menganga tidak percaya.
“Mim, sorry kalau lo bosen dengernya! Tapi, lo keren banget anjir?!” ujar Abby sedikit berteriak karena Yemima sudah cukup jauh di depannya yang membuat Yemima hanya tertawa mendengarnya.