155.
Selasa, 14 Desember 2021, hari pertama GBL diselenggarakan. Setelah bel pulang sekolah berdering, para murid SMA Amerta berbondong-bondong menuju GBL Arena—tempat berlangsungnya kompetisi basket terbesar di Jawa—untuk mendukung tim basket dan cheerleader kebanggaan.
Hari pertama di babak penyisihan ini SMA Amerta melawan SMA Intan Permata I. Skor akhir 83 – 12 dengan telak dimenangkan oleh SMA Amerta. Adrian sebagai captain memimpin tim dengan sangat baik hari itu dan bukan hal yang mengejutkan bahwa Jean mencetak poin paling banyak.
Kini tim basket duduk di pinggir lapangan dengan peluh yang mengalir di sekujur tubuh mereka. “As expected from our MVP,” ujar Adrian kepada Jean seraya memberikan sebotol air mineral pada teman satu timnya itu. Jean terkekeh lalu menerima botol tersebut dan dengan cepat meneguknya hingga tak tersisa. “Ngaca, Bro. Main lo juga keren,” ujar Jean menatap Adrian yang kini mengguyur wajahnya dengan sisa air dalam botol milik laki-laki itu. Adrian hanya tertawa menanggapi.
Perhatian keduanya langsung berpindah menuju tengah lapangan saat mendengar teriakan dan tepuk tangan heboh dari penonton di tribun. Penyebabnya adalah anggota Racy Star mulai memasuki area untuk bersiap perform.
Kedua sudut bibir Adrian dan juga Jean sama-sama terangkat secara bersamaan. Menatap satu oknum yang sama. Mata keduanya tidak bisa berpaling dari perempuan berkuncir kuda di barisan kedua yang tengah sibuk mengatur posisinya.
Siapa lagi jika bukan Yemima Ameera.
Yemima mencuri pandang ke pinggir lapangan, menatap Adrian sambil tersenyum. Keduanya melakukan kontak mata. Adrian semakin melebarkan senyumnya dan mengucapkan “semangat” tanpa suara yang dijawab anggukan ringan oleh perempuan itu.
Kegiatan yang Adrian dan Yemima lakukan secara diam-diam itu berhasil ditangkap dengan jelas oleh mata kepala Jean yang kini tersenyum pahit.
Seharusnya, ia sudah biasa. Seharusnya, hal ini bukanlah masalah besar. Tapi, nyatanya hatinya masih berdenyut nyeri.
“One! Two! Three! Let’s start!”
Suara Alicia sebagai captain cheerleader yang terdengar melengking di seluruh penjuru lapangan menyita perhatian semua orang tak terkecuali Yemima dan Adrian yang langsung memutus kontak mata mereka dan juga Jean yang menampik rasa sedih pada dirinya dan memfokuskan dirinya kembali ke penampilan cheers.
Musik pun mulai diputar dan anggota cheerleader mulai melakukan koreografi dengan kompak.
Penampilan Racy Star berjalan dengan baik tanpa kesalahan sedikitpun di menit awal. Coach Jenny di sisi lapangan tersenyum dengan bangga. Sorakan dan tepuk tangan tak berhenti terdengar terutama di tribun selatan yang kini didominasi oleh murid SMA Amerta. Hesa sebagai capo terlihat paling heboh di barisan depan.
Namun, saat mendekati akhir, bagaikan kehilangan fokus yang entah kemana, Eugenea sebagai salah satu flyer melakukan banyak kesalahan. Bahkan saat seharusnya melakukan basket toss, ia malah berdiam diri di atas tanpa melakukan apapun. Coach Jenny yang melihatnya membelalakkan matanya terkejut.
Para penonton juga mulai memelankan sorakan dan tepuk tangan mereka lantaran merasa ada yang aneh.
Wajah Coach Jenny merah menahan marah. Sudah siap murka saat itu juga. Setelah Racy Star menyelesaikan penampilannya dan kembali ke backstage. Satu kalimat yang Coach Jenny ucapkan berhasil membuat para anggota cheerleader bergidik ngeri ketakutan.
“Malam ini, berkumpul di aula sekolah, tidak ada yang boleh langsung pulang ke rumah.”