120.

Latian sudah berlangsung cukup lama. Tetapi, tidak seberat kemarin. Sebentar lagi sudah waktunya pulang dan seluruh anggota cheerleader sedang berbaris dengan rapi untuk mendengarkan pengumuman yang akan diberikan Coach Jenny.

“Since we don’t have so much time dan kalian nggak mau pulang telat kayak kemarin lagi. I will quickly announce who will be the captain. Is that okay, Girls?” ujar Coach Jenny.

Seluruh anggota cheerleader mengangguk dengan serempak. “Yes, Coach!”

“Give a round of applause to the new captain! Alicia, please come forward!” Coach Jenny berujar dengan lantang seraya bertepuk tangan hingga menggema di seluruh penjuru aula malam hari itu.

Sementara seluruh anggota cheerleader malah diam mematung. Bahkan ada beberapa yang dengan terang-terangan menoleh menatap Yemima seakan bertanya, “Kok bukan lo?”

Yemima sendiri hanya menggelengkan kepalanya karena ia sendiri juga tidak tahu. Tidak ada yang bisa perempuan itu lakukan selain ikut bertepuk tangan menyambut Alicia yang kini tengah berdiri disamping Coach Jenny.

“Thank you Coach Jenny for trusting me. It’s such an honour to be Racy Star’s new captain. I’ll do my best for our team!” ujar Alicia seraya berjingkrak kegirangan.

“Okay! Sekarang Coach akan bagi posisi kalian buat main choreo kita. Karena koreo kita butuh tiga satu kesatuan, so we also need 3 flyers. First flyer, sudah pasti, our captain, a.k.a Alicia,” ujar Coach Jenny seraya menatap Alicia di sampingnya dengan senyuman. “Thank you, Coach!” ucap Alicia bersemangat.

“And the second one is Abby…” lanjut Coach Jenny lalu menatap Abby yang langsung mengangguk, “Yes, Coach. Terima kasih!”

Tersisa satu posisi lagi untuk flyer. Hanya ada satu nama di benak seluruh anggota yang pantas mendapati posisi ini yang tak lain adalah Yemima a.k.a Racy Star’s ACE.

“The last one is…” Coach Jenny menggantungkan kalimatnya. Ia tersenyum menatap seluruh anggota cheerleader satu persatu.

“Eugenea!” lanjut Coach Jenny seraya bertepuk tangan dengan heboh lagi.

Seluruh pasang mata yang ada di aula tersebut membelalakkan matanya terkejut tak terkecuali Eugenea. Lagi-lagi mereka kembali menatap Yemima yang kini raut mukanya sudah tidak setenang tadi.

Abby yang merasa ini tidak beres langsung mengangkat tangannya dengan berani.

“Yes, Abby? What’s wrong?” tanya Coach Jenny.

“What about Yemima, Coach? She is the flyer even since our 1st grade,” tanya Abby menyuarakan kebingungannya.

Coach Jenny membuka lembar catatan di tangannya sekilas lalu menatap Abby dan Yemima secara bergantian. “Oh… Yemima will be the front base,” ujar Coach Jenny seraya mengedikkan bahunya.

Semua orang semakin dibuat kebingungan. Bukannya mereka meragukan Eugenea karena masih kelas sepuluh. Potensi Eugenea sudah bagus, hanya saja skill Yemima masih sangat jauh diatas Eugenea. Jika seperti ini, sama saja Racy Star seakan membuang kartu AS yang mereka punya.

“Ada yang keberatan sama pertimbangan yang Coach buat selama satu bulan terakhir bahkan nggak tidur ini?” tanya Coach Jenny dengan senyuman yang mengintimidasi seluruh anggota cheerleader disana. “Keputusan ini bukan Coach ambil asal-asalan. Coach melihat skill kalian untuk Racy Star yang lebih baik. Jika ada yang keberatan langsung bilang sekarang.”

Hening.

Tidak ada yang berani menjawab.

Sampai akhirnya di tengah kebisuan yang sedang berlangsung, Yemima mengangkat satu tangannya menginterupsi.

Coach Jenny semakin tersenyum licik. Ini berjalan seperti apa yang ia mau. Jika Yemima protes, ia sudah menyiapkan seribu satu jawaban yang ia yakini akan membuat muridnya itu terdiam kikuk. “Go ahead,” ujar Coach Jenny menantang.

Semua anggota cheerleader memusatkan perhatian mereka ke Yemima yang kini tengah menatap lurus ke arah Coach Jenny dengan satu sudut bibir yang sedikit terangkat. Mereka was-was karena takut akan terjadi pertikaian setelah ini.

Mulut mereka menganga lebar tak terkecuali Alicia–yang masih berdiri di samping Coach Jenny–saat Yemima menunjuk Coach Jenny dengan jari telunjuknya tepat di wajah perempuan berusia awal tiga puluhan itu. Namun, saat Coach Jenny hendak murka, Yemima langsung merubah raut wajahnya menjadi tersenyum dan menggeser tangannya menunjuk jam dinding di belakang Coach Jenny. “Udah jam 7, Coach. It’s time to go home, we’re tired hehe,” ujar Yemima dengan cengiran.

Seluruh anggota cheerleader sontak menghembuskan nafasnya lega. Mereka kira mereka akan melihat keributan. Mereka kira Yemima yang biasanya tenang dalam menghadapi masalah yang ada akan murka malam itu. Tapi, ternyata mereka salah besar. Karena sepertinya Yemima tidak mempermasalahkan keputusan yang diberi Coach Jenny.

Atau ... lebih tepatnya … perempuan itu “memilih” untuk tidak mempermasalahkannya dahulu untuk saat ini.

Coach Jenny berdeham lalu mengangguk. “Alright. Saya tidak mau dibilang korupsi waktu lagi. You all can go home. Good job for today and see you later, Girls!”

Seluruh anggota cheerleader dengan serempak menjawab. “Thank you for today, Coach!”

Raut wajah Yemima yang tadinya tersenyum, begitu ia membalikkan badan langsung berubah 180 derajat. “Gue nggak tau kalau lo berani main sejauh ini, ” Yemima bermonolog entah untuk siapa kalimat itu ditujukan. “Gue udah diem aja selama ini and you choose to play with me again,” lanjutnya seraya berjalan untuk mengambil tasnya.

“Challenge accepted,” ujar Yemima dengan senyuman lebar seraya berjalan ke luar aula.

Biar saja orang yang melihatnya berbicara sendiri seperti ini menganggapnya gila.

Karena pada dasarnya dalang dibalik semua ini jauh di atas kata gila.

The visualization for their position :

pict cr. pinterest