127.
Adrian dan Yemima duduk di kursi depan teras rumah Yemima yang malam itu sepi seperti hari-hari biasanya.
“Tadi kenapa nggak jadi minta jemput aku, Mim?” tanya Adrian seraya meletakkan sendok plastik di atas ice cream milik perempuan itu.
Yemima hanya menatap sekilas mintchoco ice cream di tangannya, belum berniat untuk menyentuh. “Ditebengin Abby, Ian. Dia mau ke rumah neneknya sekalian lewat sini,” ujar perempuan itu menjawab pertanyaan Adrian.
Adrian hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanya terdiam setelahnya. Hanya ada suara motor dan mobil di jalanan luar yang mengisi sepi.
Melihat dari gelagat Yemima, Adrian tau ada yang mau perempuan itu ceritakan padanya. Jadi ia memilih untuk diam membiarkan kekasihnya itu berpikir terlebih dahulu.
“Ian,” panggil Yemima setelah hening bermenit-menit lamanya.
“Iya, Mim?” jawab Adrian sepersekian detik setelahnya.
“Aku nggak jadi kapten, Ian.” Kalimatnya lugas. Raut wajah perempuan itu juga biasa saja. Menatap Adrian lurus di matanya.
Yang ditatap kembali mengangguk lalu tersenyum untuk menenangkan. “Iya … tadi ‘kan udah bilang di chat, Mim. Nggak papa, Sayang.”
“Aku dari awal nggak pernah sedikitpun ngerasa kalau aku cocok jadi kapten, Ian. Jadi, kalau coach aku nggak ngelihat jiwa leadership atau apapun itu ada di diri aku… that’s not a problem for me because even myself is not confident about it,” jelas Yemima panjang lebar. “Tapi, aku juga nggak jadi flyer, Ian…” Suara Yemima kian melemah. Kali ini ada sirat kesedihan dibalik tatapan perempuan itu.
Tangan Adrian terulur membawa jemari Yemima masuk ke genggamannya. Laki-laki itu memusatkan seluruh perhatiannya, mendengarkan Yemima bercerita dengan seksama. Tidak mau terlewatkan barang satu katapun yang terucap dari mulut perempuan itu.
“That’s fine if I’m not good enough for that position, but ... the fact that I know something is wrong behind all this makes me…” Yemima menggantungkan ucapannya, menatap Adrian tepat di matanya.
Yemima adalah orang yang sangat tenang, tidak pernah membesar-besarkan masalah dan selalu memilih mengalah. Selama berpacaran dengan Yemima, Adrian baru pertama kali melihat tatapan ini di mata perempuan itu. Tatapan kecewa dan marah yang menjadi satu.
“I can’t stand this anymore, Ian…” lanjut perempuan itu.
“Is this about your coach?” tanya Adrian lembut seraya mengeratkan genggaman tangan keduanya.
“I don't know, everything about her seems fishy to me even since day one,” ujar Yemima.
Adrian setuju bahwa ada sesuatu yang tidak beres dibalik coach baru kekasihnya itu. “Aku bahkan cuma ngelihat coach kamu sekilas, but I can tell that she is a bit sus from the way she looks at you.”
Bahkan Adrian saja menyadari hal ini, apalagi dirinya sendiri. “Aku lagi cari tau soal sesuatu. I’ll let you know when I’m sure about it,” ujar Yemima.
“Alright. Let me know if you need any help.”
Yemima hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah terdiam beberapa saat, Adrian kembali membuka suaranya, “Mim, Today sucks, right? But, do you want to hear good news?” tanyanya.
“Apa, Ian?”
“Whatever is meant for you, will always be yours. Don’t worry, ya, Mim? Your hardwork will be paid off soon, I promise,” ujar Adrian seraya mengusap jemari Yemima yang masih di genggamannya.
Yemima tersenyum dan mengangguk. “Thank you, Ian.”
“Thank you for what? I didn’t do anything tho?”
Yemima mengedikkan bahunya. “Just ... thanks? Thanks for being here, thanks for listening to me, also ... thanks for the mintchoco ice cream? Hehe,” ujar perempuan itu dengan cengiran seraya melepaskan genggaman tangan keduanya dan mulai memakan ice cream pemberian Adrian yang sempat ia diamkan sedari tadi.
Adrian menyunggingkan senyumnya. “Anytime, Mim. *Also, please remember that whatever your position later, whether it’s a flyer or a side base or even a front base, my eyes will only be on you and just for you.”
Yemima yang sedang melahap mintchoco ice cream a.k.a her number one moodboster seketika tersedak. Entah kenapa merasa salah tingkah mendengar ucapan Adrian.
“Makannya pelan-pelan. Nggak bakal ada yang minta, Mim. Aku nggak doyan odol,” kekeh Adrian.
“Odol apaan, sih! Beda tau!” protes perempuan itu tidak terima.
Tangan laki-laki itu terulur untuk mengusap noda ice cream di sudut bibir kekasihnya. “Belepotan semua kayak anak kecil.”
Bertepatan dengan Adrian yang sibuk membersihkan sudut bibir Yemima, ada seseorang yang tiba-tiba datang.
“Eh? Jean? Kenapa, Je?” tanya Yemima menatap sosok laki-laki yang kini berdiri di depan keduanya.
Adrian ikut menoleh. “Oit Jean? Sama siapa, Bro?” tanya Adrian seraya celingukan melihat ke belakang Jean. Siapa tau ada Kaina, Rendy, dan juga Hesa yang selalu bersama kemanapun. Namun, nyatanya nihil. Sepertinya, Jean hanya seorang diri.
Jean langsung menyembunyikan sesuatu yang sedari tadi ia tenteng ke belakang tubuhnya lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tiba-tiba merasa canggung. “Anu … Itu … “ Jean tampak berpikir menatap sekelilingnya. Adrian dan Yemima menunggu dengan seksama.
Seketika laki-laki itu menjentikkan jarinya. “Oh, iya! Charger gue ketinggalan disini! Iya, charger! Mau ngambil boleh, ya, Mim?” ujar laki-laki itu sedikit gelagapan.
Yemima mengangguk lalu tertawa. “Boleh lah. Langsung masuk aja, Je. Ambil sendiri soalnya gue nggak tau charger lo yang mana.”
“Sip, misi, ya, Mim,” ujar Jean lalu tak lupa menepuk bahu Adrian—berniat menyapa— beberapa kali sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah Yemima.
Adrian dan Yemima kembali mengobrol. Kali ini obrolan ringan seputar sekolah ataupun latian yang beberapa hari terakhir ini menguras waktu keduanya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Jean selesai mengambil “charger” miliknya. Laki-laki itu langsung berpamitan pulang kepada Yemima dan Adrian lalu melangkah pergi dari hadapan keduanya.
Saat sudah berjalan cukup jauh dari teras rumah Yemima, Jean menatap sesuatu yang sedari tadi ia sembunyikan dibalik tubuhnya.
Satu kantong plastik berisi tiga box mintchoco ice cream.
Sepersekian detik setelah mendapat kabar dari Kaina perihal Yemima yang tidak terpilih menjadi flyer membuat Jean tanpa berpikir panjang langsung menuju ke rumah perempuan itu.
Nyatanya, mengambil charger hanya sebuah alasan karena tujuan sebenarnya ia kemari adalah untuk membuat Yemima menyunggingkan senyuman. Tapi, ia lupa bahwa tugasnya sebagai orang pertama yang menghibur Yemima disaat perempuan itu sedih sedari lama sudah tergantikan.
Jean tertawa miris menatap kantong plastik tersebut. Dirogohnya saku celananya untuk mengambil handphone miliknya dan langsung menghubungi seseorang yang langsung terlintas dalam benaknya.