Cara Menulis Footnote dari Jurnal: Contoh dan Template Mudah
Footnote, atau catatan kaki, adalah catatan yang ditempatkan di bagian bawah halaman sebuah dokumen atau karya ilmiah. Fungsinya beragam, namun yang paling utama adalah untuk:
- Memberikan kutipan sumber: Menunjukkan asal informasi yang digunakan dalam teks, menghindari plagiarisme, dan memberikan kredit kepada penulis asli.
- Memberikan penjelasan tambahan: Memperluas atau mengklarifikasi poin yang dibahas dalam teks utama tanpa mengganggu alur baca. Penjelasan ini bisa berupa definisi, contoh, data tambahan, atau perspektif alternatif.
- Menyediakan referensi silang: Mengarahkan pembaca ke bagian lain dari dokumen yang sama atau ke sumber lain yang relevan.
- Memberikan komentar atau kritik: Penulis dapat menggunakan footnote untuk memberikan komentar pribadi, kritikan terhadap sumber, atau refleksi atas informasi yang disajikan. Namun, penggunaan ini harus dilakukan secara bijak dan profesional.
Footnote berbeda dengan endnote. Footnote terletak di bagian bawah setiap halaman yang relevan, sedangkan endnote dikumpulkan di akhir bab atau di akhir seluruh dokumen. Pemilihan antara footnote dan endnote tergantung pada gaya penulisan dan preferensi penulis atau pedoman penerbit.
Meskipun format footnote bervariasi tergantung pada gaya sitasi yang digunakan (MLA, APA, Chicago/Turabian), ada beberapa prinsip umum yang berlaku:
- Nomor Urut: Footnote diberi nomor urut secara berkesinambungan di setiap halaman atau di seluruh dokumen (tergantung gaya sitasi). Nomor footnote ditempatkan sebagai superskrip (angka kecil di atas garis teks) setelah kalimat atau klausa yang direferensikan.
- Ukuran Font: Ukuran font footnote biasanya lebih kecil daripada teks utama (misalnya, 10 atau 11 poin).
- Spasi: Footnote biasanya menggunakan spasi tunggal.
- Sebelum: Baris pertama setiap footnote biasanya diinden (menjorok ke dalam).
- Pemisah: Garis pendek horizontal memisahkan footnote dari teks utama.
- Informasi Bibliografi: Footnote harus menyertakan informasi bibliografi yang lengkap atau cukup untuk mengidentifikasi sumber dengan jelas. Ini mencakup nama penulis, judul artikel atau buku, nama jurnal atau penerbit, tahun publikasi, nomor halaman, dan informasi relevan lainnya.
Gaya Chicago/Turabian adalah salah satu gaya sitasi yang paling umum digunakan dalam bidang humaniora, sejarah, dan seni. Dalam gaya ini, footnote digunakan secara ekstensif. Ada dua varian utama: Catatan dan Daftar Pustaka dan Penulis-Tanggal. Berikut adalah contoh format footnote jurnal menggunakan gaya Chicago/Turabian (Notes and Bibliography):
-
Footnote Pertama:
1. Nama Depan Nama Belakang Penulis, “Judul Artikel,” Nama Jurnal Volume Nomor, Nomor Edisi (Tahun Publikasi): Nomor Halaman.
Contoh:
1. David Armitage, “Deklarasi Kemerdekaan dan Hukum Internasional,” Suku Tahunan William dan Mary 59, tidak. 4 (2002): 645.
-
Footnote Selanjutnya (Jika sumber yang sama dikutip lagi):
2. Nama Belakang Penulis, “Judul Artikel,” Nomor Halaman.
Contoh:
2. Armitage, “Deklarasi Kemerdekaan,” 648.
-
Jika sumber yang sama dikutip berurutan langsung (Ibid.):
3. Ibid., Nomor Halaman.
Contoh:
3. Di tempat yang sama, 650.
Ibid. adalah singkatan dari ibidemyang berarti “di tempat yang sama.”
Gaya APA (American Psychological Association) lebih umum digunakan dalam ilmu sosial, psikologi, dan pendidikan. Meskipun APA lebih menekankan pada sitasi dalam teks (parenthetical citation), footnote masih dapat digunakan untuk memberikan penjelasan tambahan atau catatan konten.
-
Footnote dengan Penjelasan Tambahan:
1 Untuk analisis yang lebih mendalam tentang peran media dalam pembentukan opini publik, lihat Smith (2018).
Dalam contoh ini, footnote digunakan untuk mengarahkan pembaca ke sumber lain untuk informasi lebih lanjut. Perhatikan bahwa sitasi lengkap untuk Smith (2018) akan muncul dalam daftar pustaka di akhir dokumen.
-
Footnote dengan Catatan Konten:
2 Data ini dikumpulkan melalui survei online yang dilakukan antara Januari dan Maret 2023. Rincian lebih lanjut tentang metodologi survei tersedia berdasarkan permintaan.
Dalam contoh ini, footnote memberikan informasi tambahan tentang metodologi penelitian.
Gaya MLA (Modern Language Association) umumnya digunakan dalam bidang bahasa dan sastra. Seperti APA, MLA lebih menekankan pada sitasi dalam teks, tetapi footnote dapat digunakan untuk catatan konten.
-
Footnote dengan Penjelasan Tambahan:
1 Untuk interpretasi alternatif dari simbolisme warna dalam puisi tersebut, lihat Jones 34-37.
Dalam contoh ini, footnote mengarahkan pembaca ke halaman tertentu dalam karya Jones untuk interpretasi yang berbeda.
-
Footnote dengan Catatan Konten:
2 Semua kutipan dari novel ini diambil dari edisi Norton Critical Edition (2005).
Dalam contoh ini, footnote memberikan informasi tentang edisi khusus novel yang digunakan.
Berikut adalah template yang dapat Anda gunakan sebagai panduan untuk membuat footnote dari jurnal:
Gaya Chicago/Turabian (Catatan dan Daftar Pustaka):
-
Footnote Pertama:
Nomor Footnote. Nama Depan Nama Belakang Penulis, “Judul Artikel,” Nama Jurnal Volume Nomor, Nomor Edisi (Tahun Publikasi): Nomor Halaman.
-
Footnote Selanjutnya:
Nomor Footnote. Nama Belakang Penulis, “Judul Artikel,” Nomor Halaman.
-
Ibid.:
Nomor Footnote. Ibid., Nomor Halaman.
Gaya APA (untuk catatan konten atau penjelasan tambahan):
Nomor Footnote. Teks catatan atau penjelasan. (Jika diperlukan, sertakan sitasi singkat dalam teks catatan, dengan sitasi lengkap dalam daftar pustaka).
Gaya MLA (untuk catatan konten atau penjelasan tambahan):
Nomor Footnote. Teks catatan atau penjelasan. (Jika diperlukan, sertakan sitasi singkat dalam teks catatan, dengan sitasi lengkap dalam daftar karya yang dikutip).
-
Konsisten: Pastikan Anda menggunakan gaya sitasi yang sama secara konsisten di seluruh dokumen.
-
Tepat: Periksa kembali semua informasi bibliografi untuk memastikan akurasi.
-
Ringkasan: Usahakan untuk membuat footnote sesingkat mungkin tanpa mengorbankan kejelasan.
-
Relevan: Hanya sertakan footnote yang benar-benar diperlukan untuk mendukung atau memperjelas teks Anda.
-
Gunakan Alat Bantu: Manfaatkan fitur footnote otomatis yang tersedia di program pengolah kata (seperti Microsoft Word) untuk menyederhanakan proses pembuatan dan pengelolaan footnote.
-
Periksa Pedoman Penerbit: Jika Anda menulis untuk publikasi tertentu, pastikan untuk memeriksa pedoman gaya mereka karena mereka mungkin memiliki persyaratan khusus untuk footnote.
-
Hindari Penggunaan Berlebihan: Terlalu banyak footnote dapat mengganggu alur baca. Gunakan footnote dengan bijak dan hanya jika benar-benar diperlukan.
-
Prioritaskan Sitasi Dalam Teks: Dalam gaya APA dan MLA, utamakan sitasi dalam teks (parenthetical citation) sebisa mungkin, dan gunakan footnote hanya untuk catatan konten atau penjelasan tambahan.
- **Kesalahan Umum yang Harus Dihindari dalam Penulisan Footnote**
-
Plagiarisme: Kegagalan untuk memberikan kredit yang tepat kepada sumber adalah plagiarisme. Pastikan Anda selalu mengutip sumber dengan benar.
-
Informasi Bibliografi yang Tidak Lengkap: Menyertakan informasi yang tidak lengkap atau tidak akurat dapat membuat sulit bagi pembaca untuk menemukan sumber yang Anda kutip.
-
Inkonsistensi Gaya: Menggunakan gaya sitasi yang berbeda dalam dokumen yang sama dapat membuat karya Anda terlihat tidak profesional.
-
Penggunaan Ibid. mana yang Salah: Ibid. hanya boleh digunakan jika Anda mengutip sumber yang sama persis dengan footnote sebelumnya dan tidak ada sumber lain yang disisipkan di antaranya.
-
Footnote yang Tidak Relevan: Menyertakan footnote yang tidak relevan dengan teks utama dapat mengganggu alur baca dan membingungkan pembaca.
-
Mengabaikan Pedoman Gaya: Gagal mengikuti pedoman gaya yang ditetapkan oleh penerbit atau institusi Anda dapat mengakibatkan karya Anda ditolak.
- **Pentingnya Konsultasi dengan Pedoman Gaya**
Meskipun panduan ini memberikan gambaran umum tentang cara menulis footnote dari jurnal, sangat penting untuk selalu berkonsultasi dengan pedoman gaya yang relevan (Chicago/Turabian, APA, MLA, dll.) untuk memastikan

