Using generative AI? Make sure:
1. You are smarter than AI.
Combining artificial intelligence (of those machines) to genuine stupidity (of yours) will never work out.
2. Give the credit they (AI) deserve!
Sangat jauh dr legit ini kampus, apalagi kalo lokasi kampusnya ditelusur. Abal-abal, bahkan kampus-kampus ruko di Indonesia jd tampak lebih kredibel wkwkwk... Tapi mungkin kampus kayak gt pas buat kualitas artis tukang broker politik gitu ya mas.
Frase paling gw benci di kelas:
"Mohon izin ..."
diutarakan saat mahasiswa mau bertanya, mengajukan ide, atau memberi pernyataan lainnya.
Feodalisme kampus merasuk ke sumsum mahasiswa kalangan genZ itu.
I hate when my worries come true. Rumus baku perilaku kebijakan si bapak itu selama ini:
- yg dinyatakan bakal berlaku sebaliknya,
- yg bikin dia kaget justru bakal kejadiannya memburuk de perkiraan.
Penjelasannya cuma:
1. He knows nothing, DAN/ATAU
2. He is part of the problem.
Bahkan semasa pandemi, sekolah-sekolah di Jepang, Jerman, negara-negara Skandinavia tidak berubah mjd mode online learning berbasis electronik device, cellular gadget, dan Zoom meeting, justru kembali ke konvensional via post dsb. Di luar pandemi, menulis dgn tangan jd tradisi
Nggak heran Orde Baru Suharto berkuasa 32 thn. Pancasila = otoriter? Berarti kurangi demokrasi dan beralih ke pemerintahan otoriter? Entah Sultan atau DPD RI atau admin akun ini yang membajak Pancasila & UUD 1945 demi kepentingan politik segerombolan pembegal demokrasi Indonesia.
Nah posisi biner begini juga akibat masalah sistemik yang gagal menghubungkan ekosistem kampus dan industri, seperti yang sudah mapan di Jerman dan Skandinavia. Balik ke soal awal: perlu bedakan antara keterhubungan kampus-industri dan pemenuhan hak kompensasi dosen yang layak.
"Saya mengontak Kepala Dinas. Semua berlangsung cepat." Bravo! Tapi tanpa intervensi Pak Pras, apakah proses bisnis @beacukaiRI bisa handle situasi bottleneck tsb? Bukankah tak sedikit situasi riil yg jauh lebih complicated dibandingkan case di atas meski tidak viral?
I feel you. Tak sdikit orang pake narasi agama tapi yg diikuti ternyata adat istiadat masy patriarki. Lost in translation. C/o "qawwam" yg srg diterjemahkan "pemimpin" dlm alQuran itu sarat tuntutan responsibilitas, minim priviledge, tapi masy kita memahaminya bermakna sbaliknya.
Beda value. Ini soal kesadaran tanggung jawab kewargaan (civics), bukan hanya soal menang-kalah. Kalah biasa aja asalkan jangan lakukan cara-cara salah.