user avatar
๐Ÿงโ€โ™€๏ธ๐ŸŒทโ„๏ธโ˜˜๏ธ
@ThereseClaire_
Home is wherever you feel free ๐Ÿงก In freedom I found my security. Training my thinking skills ๐Ÿ˜Š Make everything beautiful again ๐Ÿ’โœจ
๐ŸŒท๐Ÿงก
Joined March 2010
  • user avatar
    Korupsi, terorisme, intoleransi, mabuk agama, tapi alamnya bagus dan makanannya enak. Lebih baik jadi tujuan liburan dibanding tempat tinggal.
    What comes to mind when you think of Indonesia?
  • user avatar
    Gue bingung ya. Indonesia itu masyarakatnya kolektif bgt sampai tetangga perempuan pulang malam atau pasangan blm nikah di kosan bareng aja diurusin sebegitunya tp kok giliran tetangga kelaparan ga ada yg tau ya? ๐Ÿค” Gak salah gue jadi ga suka bgt sm kolektivisme lah modelnya gini
  • user avatar
    Baru baca artikel singkat tapi bagus banget. Penulisnya mengkritik World Happiness Index yg sering dimenangin negara2 Nordik itu, karena ga tepat kalau indikator kebahagiaan yg dipakai cuma satu. Ternyata tiap2 negara dan budaya, sama spt manusia, punya definisi bahagia sendiri2
  • user avatar
    Adaaaaโ€ฆ banget. Salah satunya yg paling umum: takut persaingan. Imigran seringkali menempati posisi/kerjaan yg mirip2 di pasar kerja negara barunya. Kalau banyak sesama imigran masuk, bisa2 posisi dia terancam dan persaingan makin ketat.
    Ini ada penelitian nya gak sih kenapa sampe ada diaspora yang kek gini
  • user avatar
    Ok, mau coba menjelaskan ini ๐Ÿ˜„ sebuah hipotesis. Orang2 yg masa lalunya sulit secara ekonomi dan terbatas tingkat pendidikannya bertumbuh dgn pengalaman & pandangan bahwa sumber daya/resource itu terbatas. Ini membentuk โ€œscarcity mindsetโ€ yg sulit diubah meski hidupnya membaik.
    Dari kasus budhe sapi glonggongan Swiss gue belajar, kenapa ya orang yang udah lama tinggal di LN tapi dengan background (maaf) miskin, low educated, atau hidup susah, biasanya jadi fasis,nggak mau tersaingi, dan mental noraknya nggak hilang setelah punya privilege lebih?
  • user avatar
    My adventure today ๐Ÿ˜ Panen jamur. Yang merah gak dipanen tapi karena beracun wkwk. Ignore my bad hair lol belum potong rambut sejak Covid muncul ๐Ÿ˜‚
  • user avatar
    Hidup di zaman social justice cape ya. Mau kecewa mikir dulu apakah ada yg lebih menderita. Mau bahagia dan rayain keberhasilan mikir dulu kasian kalau yg gagal lihat. Mau donasi itung dulu berapa persen dari total kekayaan krn ada aja yg anggap kurang banyak meski ikhlas.
  • user avatar
    Kalau gue, penyebab utama ada 3: 1. Kerja di LN ga perlu masuk bidang2 tertentu buat dapat gaji yg bisa dipakai support ortu di Indo sambil nabung. Di Indo gak bisa gini. Gaji selalu habis utk hidup + support, ga bisa nabung ๐Ÿฅฒ
    Replying to @ecommurz
    Buat teman-teman yang pindah keluar dari Indonesia, share dong kenapa akhirnya lebih pilih kerja diluar negri dibanding di Indo?
  • user avatar
    Replying to @cania_citta and @Cittairlanie
    Kadang yg bikin ga nyaman bukan malu bawa pembalut tapi perhatian berlebihan yg diberikan orang ketika mereka lihat kita bawa pembalut. Itu ga nyaman banget karena dikomentarin dan diketawain padahal biasa aja. Tapi mungkin dulu gue tinggal di lingkungan yg salah wkwk ๐Ÿ˜‚
  • user avatar
    Imho yang namanya universitas emang tujuannya untuk riset/jadi scholar atau kerjaan2 yg perlu analisis tinggi. Di Indonesia aja yg aneh, universitas untuk segala jenis lulusan. Padahal harusnya yang ga mau jadi scholar masuknya politeknik, sekolah tinggi kejuruan, dsb.
    Replying to @PAClearning
    Kenapa gak dibikin jadi matkul pilihan aja skripsinya? Emang kalau diwajibim, kalau lulus mau jadi scholar semua? Emang seberapa penting skripsi kalau mau kerja di industri non riset? Kepakai aja jarang. Kalau gak mau jadi scholar kenapa diwajibkan skripsi?
  • user avatar
    Jangan coba-coba terang-terangan ngaku bibit unggul sambil pamer deretan prestasi di Skandinavia kalau gak mau disebelin orang-orang (meskipun ga sampai dibully kayak mba Fathman) ๐Ÿ˜ Di Skandinavia ada peraturan gak tertulis yang disebut Law of Jante. #tropicalnordicphile
  • user avatar
    Pengademan timeline dulu yuk. Mari kita bahas bedanya studi di SE๐Ÿ‡ธ๐Ÿ‡ช dan di NL๐Ÿ‡ณ๐Ÿ‡ฑ. Disclaimer: gue cuma kuliah di satu univ di masing2 negara jadi bisa aja di univ lain beda. Cek ke univ tujuan masing2 untuk pertanyaan spesifik universitas.
  • user avatar
    Udah mau weekend enaknya nonton film di rumah. Paling suka sama film-film Eropa yang gak mainstream dan thoughts-provoking. Nah, di thread ini aku mau share film-film bagus dari negara-negara Nordik yang aku suka. #tropicalnordicphile
  • user avatar
    Hmm, justru Nordic welfare system itu ada krn orang2nya individualis. Saking ga maunya bergantung sm bantuan org secara langsung jadi dilempar ke negara suruh urusin biar ga ada sandwich gen, ortu urus cucu krn kita kerja seharian, anak berhenti sekolah krn urus ortu sakit, dsb.
    Finlandia dianggap bangsa yg individualis gak mau "guyub" tapi 95% bilang penting bayar pajak utk mendanai welfare state. Kalo indonesia dianggap bangsa yg kolektif, suka "guyub", "gotong royong", adain acara2 informal, tapi gak mau bayar pajak. Jadi siapa yg sebenarnya asosial?