Gue bingung ya. Indonesia itu masyarakatnya kolektif bgt sampai tetangga perempuan pulang malam atau pasangan blm nikah di kosan bareng aja diurusin sebegitunya tp kok giliran tetangga kelaparan ga ada yg tau ya? ๐ค Gak salah gue jadi ga suka bgt sm kolektivisme lah modelnya gini
Baru baca artikel singkat tapi bagus banget.
Penulisnya mengkritik World Happiness Index yg sering dimenangin negara2 Nordik itu, karena ga tepat kalau indikator kebahagiaan yg dipakai cuma satu. Ternyata tiap2 negara dan budaya, sama spt manusia, punya definisi bahagia sendiri2
Adaaaaโฆ banget.
Salah satunya yg paling umum: takut persaingan. Imigran seringkali menempati posisi/kerjaan yg mirip2 di pasar kerja negara barunya. Kalau banyak sesama imigran masuk, bisa2 posisi dia terancam dan persaingan makin ketat.
Ok, mau coba menjelaskan ini ๐ sebuah hipotesis.
Orang2 yg masa lalunya sulit secara ekonomi dan terbatas tingkat pendidikannya bertumbuh dgn pengalaman & pandangan bahwa sumber daya/resource itu terbatas. Ini membentuk โscarcity mindsetโ yg sulit diubah meski hidupnya membaik.
Dari kasus budhe sapi glonggongan Swiss gue belajar, kenapa ya orang yang udah lama tinggal di LN tapi dengan background (maaf) miskin, low educated, atau hidup susah, biasanya jadi fasis,nggak mau tersaingi, dan mental noraknya nggak hilang setelah punya privilege lebih?
My adventure today ๐ Panen jamur. Yang merah gak dipanen tapi karena beracun wkwk. Ignore my bad hair lol belum potong rambut sejak Covid muncul ๐
Hidup di zaman social justice cape ya. Mau kecewa mikir dulu apakah ada yg lebih menderita. Mau bahagia dan rayain keberhasilan mikir dulu kasian kalau yg gagal lihat. Mau donasi itung dulu berapa persen dari total kekayaan krn ada aja yg anggap kurang banyak meski ikhlas.
Kalau gue, penyebab utama ada 3:
1. Kerja di LN ga perlu masuk bidang2 tertentu buat dapat gaji yg bisa dipakai support ortu di Indo sambil nabung. Di Indo gak bisa gini. Gaji selalu habis utk hidup + support, ga bisa nabung ๐ฅฒ
Kadang yg bikin ga nyaman bukan malu bawa pembalut tapi perhatian berlebihan yg diberikan orang ketika mereka lihat kita bawa pembalut. Itu ga nyaman banget karena dikomentarin dan diketawain padahal biasa aja. Tapi mungkin dulu gue tinggal di lingkungan yg salah wkwk ๐
Imho yang namanya universitas emang tujuannya untuk riset/jadi scholar atau kerjaan2 yg perlu analisis tinggi. Di Indonesia aja yg aneh, universitas untuk segala jenis lulusan. Padahal harusnya yang ga mau jadi scholar masuknya politeknik, sekolah tinggi kejuruan, dsb.
Kenapa gak dibikin jadi matkul pilihan aja skripsinya?
Emang kalau diwajibim, kalau lulus mau jadi scholar semua?
Emang seberapa penting skripsi kalau mau kerja di industri non riset? Kepakai aja jarang.
Kalau gak mau jadi scholar kenapa diwajibkan skripsi?
Jangan coba-coba terang-terangan ngaku bibit unggul sambil pamer deretan prestasi di Skandinavia kalau gak mau disebelin orang-orang (meskipun ga sampai dibully kayak mba Fathman) ๐
Di Skandinavia ada peraturan gak tertulis yang disebut Law of Jante.
#tropicalnordicphile
Pengademan timeline dulu yuk.
Mari kita bahas bedanya studi di SE๐ธ๐ช dan di NL๐ณ๐ฑ.
Disclaimer: gue cuma kuliah di satu univ di masing2 negara jadi bisa aja di univ lain beda. Cek ke univ tujuan masing2 untuk pertanyaan spesifik universitas.
Udah mau weekend enaknya nonton film di rumah. Paling suka sama film-film Eropa yang gak mainstream dan thoughts-provoking.
Nah, di thread ini aku mau share film-film bagus dari negara-negara Nordik yang aku suka.
#tropicalnordicphile
Hmm, justru Nordic welfare system itu ada krn orang2nya individualis. Saking ga maunya bergantung sm bantuan org secara langsung jadi dilempar ke negara suruh urusin biar ga ada sandwich gen, ortu urus cucu krn kita kerja seharian, anak berhenti sekolah krn urus ortu sakit, dsb.
Finlandia dianggap bangsa yg individualis gak mau "guyub" tapi 95% bilang penting bayar pajak utk mendanai welfare state. Kalo indonesia dianggap bangsa yg kolektif, suka "guyub", "gotong royong", adain acara2 informal, tapi gak mau bayar pajak. Jadi siapa yg sebenarnya asosial?