user avatar
lillasötnos
@lillasotnos
A corporate slave in a Scandic world who loves drawing, painting 🖌🎨 , and kucing oyen 🐈
Sweden 🇸🇪
Joined December 2010
  • Pinned
    user avatar
    Koleksi bunga / spring-summer 2023 collection di negara kulkas 🇸🇪 🌺🌷🌼💐🌻🌿 Mana favoritmu ?
  • user avatar
    Dari kasus budhe sapi glonggongan Swiss gue belajar, kenapa ya orang yang udah lama tinggal di LN tapi dengan background (maaf) miskin, low educated, atau hidup susah, biasanya jadi fasis,nggak mau tersaingi, dan mental noraknya nggak hilang setelah punya privilege lebih?
  • user avatar
    Replying to @melaerdbeeren
    Wah semoga lancar kak dan bisa bikin efek jera si budhe! Btw kalo beda negara gitu cara nuntutnya gimana ya? Apa ada UU tertentu yang bisa cover kasus seperti ini?
  • user avatar
    Replying to @lillasotnos
    Soalnya di Swedia juga ada. Rata rata budhe di sini walaupun udah lama di LN tetap humble. Setelah ditelusuri emang dari keluarga berpendidikan. Beda sama yang jadi fasis, anti imigran, ternyata dulunya orang susah. Ini bukan judgemental ya maaf. Tapi kenapa bisa gitu?
  • user avatar
    Luxury buat tiap orang kan beda beda ya. Harusnya sih jangan memaksakan standard orang lain ke kita dan juga sebaliknya. Kalo memang suka barangnya silakan beli, mau itu kategori apapun. Selama belinya gak nyusahin siapapun ya why not, jangan kebiasaan salty sama orang lain lah
  • user avatar
    Replying to @lillasotnos
    Orang susah/miskin ini dibagi dua ya: yang mau merubah nasib dengan jalur rumit, misalkan pendidikan, dan cara lain yang lebih mudah. Nah yang pertama biasanya lebih humble daripada yang kedua. Apa karena yg pertama udah tau gimana susahnya belajar/mengedukasi diri sendiri?
  • user avatar
    Replying to @adriansyahyasin
    Bangladesh masih kebagusan soalnya kemarin kan baru buka MRT. Lebih mirip Pakistan. Temanku orang Pakistan waktu nunjukkin foto foto negara asalnya ya kurang lebih sama kayak gini. Atmosfer ruwet dan semrawutnya mirip.
  • user avatar
    Replying to @lillasotnos
    Kalo jalur kawin menurut gue termasuk jalur mudah, karena berjuangnya dimulai nanti pas di negara pasangan. Sedangkan yang jalur kerja/sekolah kan berjuangnya udah dari pintu masuk. Trus pas udah masuk, lebih berjuang lagi karena sponsor hidup tergantung keahlian kita kan? CMIIW
  • user avatar
    Ntah kenapa gue juga lebih awet kerja sama boomer. Etika & attitude nomor satu, skill bisa tetep diasah sembari kerja. Dan boomer yang pernah kerja bareng emang menghargai proses dan paham asam garam kehidupan lah ya. Jadi kalopun nuntut, tuntutannya realistis, gak ngadi ngadi.
  • user avatar
    Replying to @lillasotnos
    Jadi intinya gue butuh artikel/narasi yang menjawab kebingungan ini wkwk. Kalo kata suami, they’re just not “bright”. Bright di sini secara intelektual. Tapi masa iya sesimpel itu? 🤔. Kalo udah di negara maju harusnya pola pikir ikut maju sedikit gak sih? Masa iya mentok aja.
  • user avatar
    Replying to @abchutapea
    Hahahaahh salfok sama tapiokabullar i grönsaker buljong 😭😭😭 mas nya bakso aci dong
  • user avatar
    Replying to @LathifahIndah
    Meanwhile di Berlin sama Hamburg “Mirip jalan layang di Jakarta…” “Lah ini sih Tanjung Priok…”
  • user avatar
    Replying to @METALCA11N
    1. Kakak kelas gak perlu terlalu dihormati/diagungkan banget lah, biasa aja. Cuma beda setahun dua tahun juga. Dan program orientasi yang bentak bentak gak penting mending dihapus aja 2. Selain IPA / IPS, mungkin mengadakan jurusan bahasa/seni yg bisa diarahkan ke industri
  • user avatar
    Replying to @Hujandisenja
    Aku pernah baca ini jg Mba. Tp sekarang aku bikin definisi sendiri. Kalo Loud luxury lebih ke brand2 yg banyak orang pakai alias pasaran. Kalo Quiet yg lebih niche, yg gak semua orang tau dan kayaknya ada circle / akses tertentu nya deh. Atau pengetahuan ttg brand emang luas bgt