When you don’t destroy your enemy but you change them, ultimately their convictions, and the act of changing itself is actually just an alternative form of annihilation. Well, ironic, innit?
ya inilah jadinya kalau masih gagap dlm membedakan pemaknaan kata ‘fiksi’ dan ‘fiktif’. belajar lagi, mas.
karena mengatakan fiksi bukan sumber sejarah adalah hinaan utk kesusastraan.
Guiddo Purba, Reza Arap, Adam Levine are epitomes of insecure men with unresolved chronic self-loathing who seek out validation outside their relationships solely to prove to themselves they’re good enough. Disgusting.
logika bayi aja deh, kalau emg fiksi kedudukannya ga bisa dijadikan sebagai sumber valid dalam konteks sejarah—mengungkap fakta sejarah dan menyajikan konteks kebudayaan masa lampau yg sebenar-benarnya—kenapa pernah ada urgensi untuk membumihanguskan karya-karya tersebut? DUH