You threw public criticism at a film and avoided rebuttal with this lame excuse. I’m not interested in dictating how u should raise your children — only rebutted your argument, as it may discourage curiosity. Sure, ur children ur rsponsibility. Must be so fun having u as a parent
Damn… this really means something. Akhirnya ngeliat kelas menengah kantoram turun ke jalan. Thanks to gen Z. Dari dulu gw admire political awareness kalian
Uhmmm let’s not make this about ourselves and emphatize more with the plight of our sisters. Sebagai anak laki2 yg juga dekat dgn ibu, gw yakin cerita mimpi2 yang kandas yang disampaikan seorang ibu ke anak perempuannya punya “nuance” yg berbeda dgn yang disampaikan ke anak laki2
It’s funny how Malaysia shamelessly proposes Bahasa Melayu to be ASEAN’s second language when significant portion of Malaysia’s population can’t even speak fluently in Melayu due to institutionalized racism
Kata gue teh, selama ga ada unsur kriminal, kekerasan, penipuan mah ngga usah dibawa ke ruang publik. Banyak masalah yang lebih penting dari drama cinta influencer
Bisa, to some extent. Kalo cm beda pandangan politik electoral mah bisa banget. Tapi kalo udah soal denying hal fundamental seperti isu kemanusiaan… that’s my line. Pernah cutoff seseorang yang physically sebenernya my type bgt tapi dia genocide denier
Iyaaaa. Intepretasi anak jaksel atas attribute “gonjreng” yang mereka kasih ke penyanyi dangdut. I’m no stylish, but I know damn well no penyanyi dangdut would wear this stupid paddle pop pelangi color pallet. Stop the jaksel-washing!
News flash: dianggep dan diperlakukan sbg pegawai (dengan hak-hak yang terpenuhi) sudah cukup buat sebagian besar orang. Pegawai ngga wajib share mimpi yang sama dengan boss nya. Lo bikin perusahaan, bukan sekte…
Yang paling menjijikan dari ini adlah oemerintah sekarang udah terang2an memakai mesin influencers untuk nyebarin propaganda. Pastinya tidak murah. Wondering kira2 budget propaganda gini pake duit apa ya? Dan apakah boleh secara pengelolaan keuangan negara?
….walaupun ceritanya sama. Ke anak perempuan, mungkin ada nuance “sbg sesama perempuan, ibu paham kamu mungkin subject to the same difficulties, belajarlah dari cerita ibu, etc.” A totally different nuance for us boys