Saya kebanyakan nyampah di Twitter karena saya ingin bahagia.
Kadang-kadang saya buat thread, and its mostly about logic. Feel free to read, discuss or criticizing it. Berikut kumpulan threadnya:
[Thread] Melawan analogi-analogi bodoh
1. Analogi tukang bubur sudah gagal sejak awal
Tukang bubur (steam) tidak pernah masuk kompleks (indonesia). Tukang buburnya jualan di luar kompleks
Selama ini pembeli yang datang ke tukang buburnya melalui jalan yang tersedia (internet)
Tukang bubur mau masuk kompleks dicegat satpam, disuruh ngisi buku tamu dan ninggal KTP. Tukang buburnya ogah, batal masuk kompleks.
Aku kelaparan, belum sarapan. Aku mesti marah ke satpam atau nyuruh tukang bubur balik lagi dan ngisi buku tamu? Atau aku beli yang lain?
- Klo berprestasi, maka masuk barak
- Klo nakal, maka masuk barak
- Berarti, klo berprestasi atau nakal, maka masuk barak
- Dengan demikian, klo tidak masuk barak, maka tidak berprestasi dan tidak nakal
Udah kacau masyarakat ini sampai ada orang yang ditanya "agamanya apa?" jawabannya "non-muslim".
Seakan-akan Buddha, Hindu, Katolik, Kristen, atau agama/kepercayaan/non-kepercayaan lainnya itu tidak memiliki identitas yang jelas.
Jelas sudah ini produk hegemoni agama tertentu.
wanita beragama Kristen disuruh berhijab.
oleh sekelompok orang bercadar demi konten.
bayangkan bila yang melakukan itu dari orang non-muslim.
apa pendapat mu?
*ini umat yg baru melek dlm belajar agama, sok suci, sok bener, usilnya bukan kepalang... Koplaknya!!
Persis masyarakat kita: "adab dulu, baru ilmu" dan lalu berbondong-bondong ngebully orang pake kata-kata kasar + mengancam. Ternyata adabnya ga ada, ilmunya juga.
Aku kasih argumentasi konkret untuk anti kebijakan vasektomi.
P1: Klo orang miskin boleh dikondisikan untuk divasektomi atas dasar memberantas kemiskinan, maka orang bodoh juga boleh dikondisikan untuk divasektomi atas dasar memberantas kebodohan.
Masalahnya di mana ya? Dan letak berkorbannya ini di mana? Trus gimana ceritanya istrinya nikah lagi? Klo udah cerai ya udah bukan istrinya dong?
Ini bentuk informasi brain-rot yg lebih parah dari tung tung tung sahur.
[Logika “TEPAT” bin KELIRU]
Thread logika @sabinverse ini banyak yang keliru ya, @ToWangsitomjero dan @miraclesitompul sebagai referensi thread tersebut harus ikut tanggung jawab untuk mengklarifikasi juga
Terima kasih pada @hxkma telah mengabarkan perihal thread tersebut
Ibuku, yg merupakan dosen dan wanita karier sepanjang masa dewasanya, menasihati aku bahwa mencari istri itu yg pekerja keras, punya ambisi, dan punya cita-cita tinggi; jangan yg bisanya goleran di rumah saja.
[A Thread] Ngaco nih Pakar Logika, logikanya monoton.
Soalnya pernyataannya berlaku sebaliknya:
"jika dulu kalian tidak percaya Gofar melecehkan Syerin melalui pernyataan Syerin, harusnya sekarang kalian juga tidak percaya bahwa Gofar tidak pernah melecehkan Syerin"
NONSENSE!
Jika dulu kalian percaya bahwa Gofar melecehkan Syerin melalui pernyataan Syerin, harusnya sekarang kalian juga percaya bahwa Gofar tidak pernah melecehkan Syerin dari pernyataan Syerin.
Jika tidak, berarti kebenaran hanya menurut selera kalian saja. Ini ga fair! Jahat banget!
Apa argumentasimu bahwa MBTI dan Astrology merupakan pseudoscience?
Untuk mengklarifikasi juga, apa basis yang kamu gunakan untuk menarik garis demarkasi antara science dengan pseudoscience? Popperian kah? Baconian kah? Atau yg lain? Tolong perjelas posisi mu.
Sepertinya masih banyak yang belum tahu kalau MBTI itu tergolong pseudoscience.
Banyak banget lho, orang-orang yang ngambil tes asal-asalan, self-describing, terus claim kalau mereka ENTJ, INFP, dsb.
Bahkan pertanyaan di kuesioner tsb relatif terlalu simpel utk bs menyimpulkan.
"laki-laki itu provider"?? kalian kira laki-laki itu Telkomsel? IM3? Tri?
Kayanya kebanyakan selama ini laki-laki itu konsumen, bukan provider. Justru perempuan yg jadi provider rumah tangga, laki-laki tinggal "bayar".
Yg diomongin dan yg dilakuin ga sejalan, cuma imajinasi.
[A Thread] @miraclesitompul is Guilty of Irrelevant Conclusion!
Ini adalah salah satu problem yg ada dalam logika klasik, logika yang dipakai dengan nama "penalaran umum" di indonesia.
Itulah knp saya tekankan jangan berhenti di logika klasik dengan bernalar hanya secara klasik