⚠️ TW // pedofilia, grooming, sexual harassment ⚠️
TOLONG BANTU SEBARKAN
seorang selebgram sekaligus founder penyelenggara olimpiade terkenal melakukan sexual harassment dan grooming terhadap anak berusia 14 tahun.
[a thread]
Di sini, aku berbicara mewakili sepupuku, V (14 tahun), yang menjadi korban sexual harassment dan grooming oleh selebgram sekaligus founder dari Gypem Indonesia, salah satu penyelenggara olimpiade terbesar.
Pelaku juga menjabat sebagai CEO dari PT Digital Edu Indonesia.
Dari awal percakapan, pelaku sudah tahu bahwa V masih di bawah umur.
Namun, ia tetap melanjutkan obrolan dan malah mengajak V untuk berpacaran dan menjadi “uke”-nya.
Setelah itu, pelaku mulai memberikan janji-janji manis, seperti membelikan robux (cont-)
Pelaku tak segan memamerkan relasi kuasanya, seperti “relasiku banyak di dunia pendidikan, that’s why aku bisa lobby dinas pendidikan”
Ini makin menunjukkan bahwa ia sengaja memanfaatkan ‘previlege’-nya untuk bisa memanipulasi korban yang masih di bawah umur
Pelaku juga tidak sedang berkuliah di UB, melainkan alumni Untag Banyuwangi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris angkatan 2013 (bisa dilihat pada data pddikti-nya). Makanya, kami menduga bahwa pelaku berumur sekitar 29 tahun (atau bahkan lebih)
dan yang paling ‘gong’ adalah menjanjikan bahwa V akan mendapat medali emas jika mengikuti lomba yang diselenggarakan oleh lembaganya. Namun, sebagai syaratnya, pelaku mengajak korban untuk meet up di tempat ia menginap (Red Doorz) di area Malang
(cont-)
pada hari kamis, 13 oktober, jam 8 malam sehabis korban les. Pelaku sempat menawarkan diri untuk menjemput namun ditolak oleh korban.
Korban yang merasa takut, memutuskan untuk memblokir nomornya dan memutuskan kontak.
Kronologi:
Awalnya, V merasa gabut dan mencoba main Leo Match (salah satu bot di Telegram). dari situ dia mendapat banyak like, salah satunya dari pelaku.
V merasa tertarik untuk chat pelaku karena di bionya bertuliskan “yang mau robux chat aja”.
Terbukti saat pelaku memamerkan akun IG miliknya, yang ternyata bernama Ahmad Qomaruddin. Ia merupakan founder dari sebuah penyelenggara olimpiade terbesar, yakni Gypem Indonesia, sekaligus menjabat menjadi CEO PT Digital Edu Indonesia.
Jujur, aku merasa miris atas apa yang telah menimpa sepupuku. Karena pelaku memiliki branding sebagai sosok yang berprestasi dan aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan akademik, namun, yang terjadi malah sebaliknya.