ㅤ
"Sebuah toko di Diagon Alley spesialis kaca bernama Janus Galloglass menjual barang-barang yang dibutuhkan untuk catoptromancy. Bahkan, katanya mereka mempunyai ruangan psychomanteum juga disana. Keren, ya?"
ㅤ
ㅤ
Pintu ruang kelas 11 dibuka lebar, alih-alih sang pengajar, mereka melihat Boy yang berdiri di sisi lain kelas. Matanya teralihkan pada rombongan yang baru saja datang.
"Yo—bertemu lagi. Tuan Forthwood masih dalam perjalanan," ia melirik pintu di sebelahnya.
ㅤ
ㅤ
Pintu dibuka. Begitu melangkah masuk, mereka mendapati diri di tengah jalanan ramai yang sangat akrab bagi mereka—Diagon Alley.
"Kalian tahu ini di mana," kata Heron yang sudah menanti mereka. "Ayo, ada sesuatu yang harus kalian lihat."
ㅤ
ㅤ
"Ambil ini sebagai hadir karena sudah hadir di pertemuan hari ini," ucapnya sambil menerbangkan cermin genggam kepada siswanya dengan sekali ayunan tongkat.
"Terima kasih sudah hadir. Sampai jumpa pekan depan." katanya sambil tersenyum.
ㅤ
ㅤ
Atribut Hufflepuff dan Gryffindor mengisi Great Hall setelah kemenangannya untuk House Cup dua bulan ini. Ia turut bertepuk tangan sebagai bentuk perayaan.
ㅤ
ㅤ
"Sebelumnya, metode ini juga digunakan dengan menafsirkan pola yang dipantulkan pada kaca di dalam sumur air suci, mirip dengan cara membaca daun teh. Keduanya sama-sama menafsirkan pola," jelasnya.
ㅤ
ㅤ
"Seperti yang kalian tahu, tepung adalah bahan utama pembuatan kue-kue pada umumnya. Namun, ternyata tepung juga digunakan sebagai media ramalan, lho. Ada yang tahu nama metodenya?"
ㅤ
ㅤ
"So... After me," Heron mengisyaratkan mereka untuk mengikutinya, memimpin jalan kembali menuju pintu tempat mereka masuk.
Dari kejauhan, pintu tersebut hampir tak terlihat—terlihat tembus pandang, seakan hampir menyatu dengan dinding batu bata khas Diagon Alley.
ㅤ
ㅤ
"Sementara itu, Bangsa Tesalonika dan Pythagoras melakukan scrying dengan menggunakan cahaya bulan," jelasnya.
"Beberapa dari kalian sempat menyebutkannya pekan lalu. Tapi cahaya bulan yang dimaksud adalah sumber cahaya yang akan dipantulkan, medianya tetap cermin."
ㅤ
ㅤ
"Divination Witch berfokus pada berbagai praktik ramalan, seperti beberapa yang sudah kalian sebutkan sebelumnya. Bagi mereka, yang terpenting adalah menerapkan praktik-praktik ini dalam kehidupan sehari-hari atau setidaknya dalam ritual-ritual tertentu."
ㅤㅤ
ㅤ
"Nah, itu saja untuk materi malam ini,” ujar Heron sembari menutup penjelasannya. "Saya punya tugas tambahan—tentatif, kalau kalian berminat." Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Ketentuannya sudah saya tuliskan di sini." (s.id/BDAT-0725)
ㅤ
ㅤ
"Biasanya intuisi merupakan bakat psikis yang diterima oleh sebagian besar orang."
"Terkadang orang-orang menyebut intuisi dengan ‘perasaan dalam hati’, ‘insting naluri’, ‘firasat’, ‘indra keenam’ atau ‘keberuntungan’. Sebutan ini pasti sering kalian dengar sehari-hari."
ㅤㅤ
ㅤ
"Sementara Divination Witch bisa melakukan seni meramal melalui usaha dalam belajar, pengalaman, dan intuisi," jelasnya. Ia mengayunkan tongkatnya, menerbangkan lembaran kepada siswanya.
ㅤ