KUMPULAN CUITAN TENTANG SEJARAH DAN MENULIS
Halo kawan-kawan, ini kumpulan cuitan sejarah dan menulis yang pernah kubuat. Aku bikin menjadi satu utas supaya mudah dibaca.
Semoga bermanfaat!
๐ฅฐ
Dulu di tvOne ada acara liputan kehidupan diaspora Indonesia di luar negeri. Hampir semua hebat, semacam ilmuwan atau peneliti yg penting bagi peradaban.
Aku menonton di tv pos ronda bareng bapak-bapak, cuma bisa takjub sama pencapaian mereka.
Namun, ada yg mengusik hati โโ
Pernah paruh waktu beres-beres rukan kosong tiga lantai di daerah Rawamangun, katanya mau dibuat outlet minuman kekinian.
Baru tiba lokasi, dikasih tahu sama penjaga warung rokok depan rukan kalau pernah ada orang gantung diri di dalam. Ojol yg lagi di situ juga mengiyakan.
1/
dulu bingung kenapa ada aja orang yang rela dibayar buat ikutan uji nyali.
seiring dewasa semakin sadar, ternyata emang jauh lebih nakutin ga punya duit daripada diliatin mahluk halus.
Dua kombinasi mantap: miskin dan pemerintah blo'on.
Dari dua hal ini, turunannya banyak banget... macam-macam. Saking beragamnya, di mata orang normal akan terlihat, "Goblok amat main di rel, kan bahaya!"
Jadi begini. Healing buat orang miskin sebetulnya penting.
Selalu kuingat petuah (alm.) Bapak, "Setan jumpa orang di tempat gelap paling cuma tertawa cekikikan, kalau orang jumpa orang di tempat gelap bisa dirampok terus leher digorok."
Tamat/
Kalau kalian perhatikan, mayoritas mereka yg mendiami wilayah sepanjang rel KA pasti masyarakat menengah ke bawah.
Di sisi lain, pemerintah gagal menyediakan fasilitas bermain atau ruang terbuka untuk hiburan dan berkumpul masyarakat ini.
"Kau tidak akan dapat memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya."
Harper Lee - To Kill a Mockingbird
Ingat kebutuhan akan makna dan peran. Manusia punya dorongan alami buat merasa bahwa keberadaannya berkontribusi pada sesuatu. Saat merasa gak lagi dibutuhkan, mereka mungkin merasa kehilangan tujuan, sehingga memilih menjauh pergi.
Sehat-sehat ya kalian para diaspora.
Ok, balik lagi ke si miskin.
Miskin ini berbanding lurus dengan tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan rendah, otomatis wawasan tentang keamanan dan mitigasi bahaya gak efektif di otak orang-orang ini.
Sebetulnya hal dasar, tapi faktanya kontrol kognitif orang-orang ini lemah.
Cuma karena sibuk memenuhi kebutuhan primer, hal ini ditepikan sejenak. Makanya kalau ada hiburan gratis, aji mumpung ramai-ramai turun.
Kurang hiburan! Itu mengapa cuma rangkaian lokomotif membawa 6-12 gerbong dianggap hiburan. Cuma kereta lewat, tapi sudah bikin senang.
Betul kata cuitan di atas, orang miskin lebih takut gak punya duit daripada setan.
Sepanjang bersih-bersih all clean, di otakku cuma satu: duit setelah kelar.
Misal betul muncul pun, belum pernah kudengar setan makan orang.
7/
Jika ditanya, "Memang seru? Cuma kereta doang."
Kalau gak seru, gak ada itu komunitas rail fans yg tersebar di berbagai kota di Indonesia, khususnya wilayah yg dilintasi KA. Anggotanya pun banyak, mulai dari anak-anak sampai orang tua.
Buat hal sederhana saja otak mereka ngebul, malah kalian paksa berpikir dan mencerna program-program Abah yg sebetulnya bagus, tapi njelimet. Dimaki-maki gara-gara memilih capres yg kasih makan siang gratis, padahal perut lapar lebih urgent.