I will not tire of stating this to my international colleagues: the Republic of Indonesia has been reduced to a mere instrument of United States interests under the leadership of Prabowo Subianto, alongside Hasyim Djojohadikusumo.
Tapi memang fakta, kalau milih Pelanggar HAM Berat dan Pelanggar Kode Etik berat itu sudah jelas Goblok banget sih... Terlebih lagi kalau mengenyam pendidikan formal... Kalau masyarakat awam masih dimaklumin. Tapi kalau yang main sosmed tiap hari, tapi begitu... Goblok sih...
Prabowo cuman ingin main Presiden-Presidenan. Ingin main jadi Hero. Semuanya ingin dia satukan... Tapi angkat orang buat jadi pejabat politik cuman bermodalkan pekara imbal balik atau bagi kue kekuasaan. Apa yang ingin diharapkan? Dari awal saja sudah berhalusinasi.
Tulis panjang × lebar isinya cuman melarikan konteks bahwa ada Anak Presiden yang mencalonkan diri sebagai wapres "ketika" Bapak Anak tersebut masih jadi Presiden. Sudah begitu , Konstitusi diacak-acakin demi agar sang Anak tersebut memenuhi syarat pencalonan diri.
Purwakarta masih dikuasain sama Ormas dan LSM. Pabrik besar banyak pekerja (buruh)-nya titipan Ormas dan LSM. Bahkan di perusahaan milik tokoh politisi besar, tidak luput dari ini juga. Tapi sayangnya, perusahaannya sudah habis kebakaran yang di Purwakarta.
Sebenarnya kan, bisa saja diselesaikan tanpa harus tunggu mereka nyerang pemotor dari keluarga marinir. Misal aparat kepolisian lebih aktif ketika mendapatkan laporan warga. Dlsb. Apa faedahnya ada Institusi ngurusin kamtibmas coba...
Punya sosmed buat beginian saja. Warga Biasa ngegunain buat Kritik Penguasa. Sedangkan orang ini, buat adigang adigungan. Proyek - Pembangunan buat Fomo. Suram banget masa depan Republik Indonesia ini. 😆 Tapi iya tidak masalah, Rakyat Indonesia bahagia nonton Orang Kaya Pamer.
Menauladani Bpk. @gibran_tweet , soalnya Rakyat Indonesia jadi semakin optimis bahwa pendidikan itu tidak penting karena yang penting punya Orang Dalam.