Kumpulan thread/ non-thread ttg data science, pengalaman gw interview buat DS di UK, bootcamp yg gw pilih di Indonesia, dan overall talks on geoscience, portfolio, energy as a whole.
Bener banget lagi si Ferry Irwandi.
"Militer dilatih dan ditempa untuk:
- patuh
- tidak bertanya
"
Masuk akal sekarang kenapa beberapa pejabat publik anti diskusi, anti kritik.
**kau klo cm mau kritik, keluar saja
- loh
Dulu ibu ngutang 37,5jt ke keluarga besar buat sy kuliah ke UGM
Berhubung satu2nya dalam silsilah keluarga ibu yg ke UGM, semua pd mencibir pas pinjem uang.
Bahkan ad yg ngolok2 bilang “sok2an sih ngirim anak ke Jogja” - pdhl yg minjemin bukan dia 😅
Tp yg bikin sedih adl..
Lagi rame pengorbanan Ibu.
Okelah saya kisahkan sedikit Mama saya itu seperti apa.
Jadi tahun 1999 saya dan bapak ke Makassar. Terus bapak beli gelang emas buat Mama.
Pas saya masuk kuliah, ternyata gelangnya digadai buat biaya kuliah.
Dan baru ditebus 20 tahun kemudian. 😭
Gatau dong. Kan miskin. Ibu saya single parent, lulusan SMA, struggling to make the end meets daily, sambil ttp mastikan anak ga kelaparan, ketika uang jajan di kantin sekolah g ada.
Dont you dare speak low to my mum. She’s doing her best to raise us
Urusan gini ya negara lah
Indonesia kesulitan untuk menunda kesenangan (delayed gratification) dan berprosesn
Baru lolos, rolex. Mau juara, naturalisasi.
Apa2 mau instant.
Ga bisa invest time 8-12 tahun.
Bener emang kata Radit.
Twitter serius banget.
It was like they waiting for that one mistake to punish you. Bombarded with what you said wrong and here is why..
Never want to “educate”/guide” you. Or even curious why you said so.
Just a straight punch when you dont look.
Sahabat SMP gw yg gw selalu yakin dia paling jenius di antara kami bertiga, baru aja mau ke Korsel buat studi S3 Biomedical Engineering— intinya studi computational engineering / ML lah buat biomedication.
Dulu lepas sma, dia ga bs s1 krn jagain neneknya. Skrg kita berdua s1,
Baru nonton si Ferry sama Pandji di sesi SkakMat.
Ada bagian dia jelasin org Indo yg betah di Jepang. Alasannya krn “pemerintahnya KERASA”. Dia bilang “oh gini toh rasanya klo ada pemerintah yg care/bener”.
Gw pernah bilang hal yg sama persis pas di Norway.
Gw pernah miting sm klien aussie. Pas miting temen gw presentasi.
“Sorry, I am sure all of this is valueable but unfortunately we only scheduled this meeting for half an hour, could you please go to the section where we could see the result and if the objective is met?”
💯
Just a thought.
Kenapa ya anak2 pejabat ini gak beneran sekolah all in ke luar, ttg politik, public policy ke Oxford, tata kota, etc yg relate sm kerjaannya nanti - kan duitnya ada?
At the very least, they know what they’re doing very well?
Udah diriset ternyata sama Kompas dan confirmed:
“62% anggota muda (<40th) memiliki ikatan kekerabatan dengan pejabat publik/tokoh politik berpengaruh. Bila dirinci secara kelompok usia, semakin muda usianya, semakin besar presentase kekerabatannya.”
kompas.id/baca/riset/202…
Orang Aceh yg statusnya refugee banyak tersebar di negara skandinavia seperti sweden, finland dan norway.
Some, wouldn’t call themselves “Indonesia”, but Acehnese.
They speak local (Norsk) and Aceh only.
They now up to 3 generations, without ever visiting Indonesia.
Ga bisa milih kuliah di jurusan yg diinginkan krn adanya cm beasiswa utk jurusan xyz.
Pas lulus, yg ada dilamar, diambil, krn harus biayain keluarga.
G bs kyk temen2, internship cm cari pengalaman dulu.
Harus udh cari duit :)
Pilihan itu kadang cm buat yg punya uang.
Gimana ya cara jelasin dengan sederhana kalau kisah “orang miskin yang nggak ambil kesempatan” itu sama sekali nggak menegasikan kemiskinan struktural…
Sebaliknya, mereka nggak ambil kesempatan itu kemungkinan besar justru ya karena kemiskinan struktural.