jenobeat

Stay A Little Longer.

Napas hangat Alodia Orish berembus pelan bersama dengan semilir angin siang yang menabraknya dari belakang. Dua netranya mengamati sepasang boots berwarna beige dengan heels setinggi delapan senti yang membungkus nyaman kakinya. Perempuan itu menjadi salah satu manusia yang rela menanti jemu sekaligus tak sabar dibalik standing barrier salah satu tempat paling sibuk di Indonesia. Orish mendongak, memindai situasi sekitar yang nahasnya masih sama persis puluhan menit yang lalu.

Arrival gate yang menjadi pusat matanya mematri sama sekali tak menunjukkan tanda segerombolan orang akan muncul dari portal itu. Orish kembali menurunkan pandangannya seperti semula setelah menghela bosan. Meskipun telinganya tersumpal earpods, dia masih sanggup merasakan sebising dan sepadat apa tempat yang kini dia pijak. Tentu saja membuatnya merasa tak nyaman, namun tidak ada yang bisa dia lakukan lagi selain tetap menunggu. Pasalnya, siapa yang tak tahu Bandara Internasional Soekarno-Hatta selalu memiliki jadwal padat juga manusia yang berlalu-lalang hingga menyebet gelar Bandara tersibuk di negara ini.

Hari ini Jumat. Orish masih belum punya rutinitas pasti untuk dia lakukan beberapa waktu ke depan selain bangun pagi, membersihkan kamar beserta sejumlah bagian rumah, mengurus Ola dan kucing kekasihnya yang mulai menetap di kediamannya. Sesekali dia mengecek LinkedIn, Sribulancer, dan rentetan media sosial yang menyertakan beberapa karya dan kontak bisnisnya.

Empat bulan lebih usai kelulusannya, Alodia Orish masih belum bisa meneguhkan hatinya bagaimana dia akan berkarier. Dia tak bisa setegas Jendra yang secara totalitas mematangkan rencana juga tekad untuk merajut pengalaman kerjanya, bak tidak ada gelisah, kepastian terpancar lugas di mata lelaki itu ketika Orish menatapnya tiga bulan lalu sebelum dia meninggalkan Jakarta. Kini, saat Orish hanya sibuk mengurus bisnis kecilnya di toko online yang sudah dia rintis sejak masih menyandang gelar mahasiswa kupu-kupu, Jendra bekerja dua kali lebih padat dari sebelumnya. Lelaki itu hanya menyempatkan diri untuk menyapa dan mengingatkan Orish agar tidak melewatkan **jadwal **makannya, tidak banyak cerita bisa dibagi sebab Jendra kerap pulang membawa segudang lelah. Mereka tak bisa melakukan sesuatu yang lebih kecuali Jendra memiliki waktu luang.

“Tuh, akhirnya keluar juga.” Orish tersentak dari lamunannya mendengar itu, sontak mendongakkan kepala ke arah gate. Benar saja, satu-dua orang mulai keluar dari sana dan mata Orish tak absen meneliti setiap rupa untuk menemukan target-nya. Rupanya beruntung dia mengenakan sepatu berhak tinggi, perempuan itu jadi tak berhalangan memindaikan mata meski harus mundur dua langkah menghindari desakan. Orish terus memperhatikan orang-orang yang silih berganti keluar, namun beberapa waktu berlalu dia masih tak melihat kehadiran Jendra.

Satu per satu orang yang menanti bersamanya mulai meninggalkan tempat begitu orang yang mereka tunggu-tunggu muncul dan menghamburkan peluk rindu bahkan tangis haru. Orish di sana menatap gusar ke arah gate. Dia takut Jendra tak muncul dari sana sebagaimana praduga konyolnya. Padahal dia ingin merasakan peluk serupa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya. Orish ingin mendekap Jendra begitu laki-laki itu menampakkan batang hidung.

C’mon please, Jendra, come to me,” pinta perempuan itu dalam hatinya. Dia terus merapal kalimat itu bak mantra yang akan bekerja ketika matanya sejenak terpejam. Lucunya, hal itu sungguh terkabul, entah kebetulan atau memang doa Orish yang sakti. Dia melihat giliran Jendra datang, menyalip orang yang berjalan lebih lambat untuk dia dahului.

Orish melihat sendiri laki-laki itu melangkah cepat dengan kaki-kaki panjangnya, tubuh Jendra hanya dibalut pakaian santai; kaos oblong putih, celana denim dan sebuah topi polos. Style Jendra masih tak berubah meskipun dua tahun lebih berlalu, laki-laki itu masih suka mengenakan topi ke manapun dia pergi. Orish mengudarakan satu tangannya meraih atensi Jendra, hingga si lelaki sadar, menyungging seulas senyum senang ke arah Orish.

Hey, sayang—” Jendra memutuskan untuk tidak melanjutkan kalimatnya ketika Orish menabrak tubuhnya begitu saja. Perempuan itu melingkarkan tangan di punggung Jendra, dagunya ia istirahatkan pada bahu kokoh si lelaki. “I’ve been missed you so much, Jendra.”

Jendra membalas pelukan itu erat, membubuhkan kecupan pada kepala di sisinya sembari mengelus rambut panjang Orish. “I know.” Orish kemudian terpaksa menarik diri dan berjalan menepi dengan Jendra mengingat mereka berdiri di tengah jalan.

I thought you grew taller in three months,” ejek Jendra dibarengi kekehan setelah mengamati Orish dari ujung rambut sampai kaki. Perempuan cantik itu hanya mendengus. Tinggi mereka memang tidak terlalu jauh, dan dengan heels yang dikenakannya, mereka terlihat hampir setara kini. “You look much prettier than the last time I saw you in person.

I don't wanna hear anything from you,” rajuk Orish. Jendra tertawa, melingkarkan satu tangannya pada pinggang perempuan itu lalu menuntunnya berjalan beriringan menuju area parkir. “Gak mau dengerin apa-apa, terus kamu maunya apa?”

“Kamu tau nggak, sih, aku tuh kayak mau marah ke kamu yang marah banget gitu. Serius deh, aku kesel banget banget sama kamu.” Jendra mengernyitkan keningnya mendengar celotehan Orish. “Emangnya aku ngapain sampe kamu begitu?”

Alih-alih menjawab, Orish masih setia bungkam dan berekspresi bak tak tertarik dengan pertanyaan yang dia dengar. Jendra yang gemas pun menggerakkan jemarinya yang hinggap di pinggang Orish secara abstrak. membuat perempuan itu mengaduh, “Akh! Ampun, ampun.”

“Jen, kamu jangan gelitikin lagi, please. **Bukannya **geli yang ada sakit soalnya jari kamu isinya tulang semua,” protes Orish usai menepis tangan besar Jendra dari pinggangnya. “Kamu katanya kangen, disamperin jauh-jauh begini malah mau musuhin aku, ditanyain gak jawab lagi.”

“Gamau, aku males sama kamu.” Jendra tersenyum, tak menyahuti Orish lagi dan memilih melanjutkan langkah mereka dengan dua tangan yang bertautan.

Sebenarnya jika dia diminta menebak alasan Orish kesal dengannya, Jendra akan menjawab akhir-akhir ini dia semakin usil pada perempuan itu. Puncaknya adalah hari ini ketika pagi tadi dia berbohong pada Orish dengan berkata dia punya jadwal padat untuk dilakukan, padahal dia hanya hinggap di kantornya setengah hari lalu berlanjut ke Bendara. Jendra ingin kepulangannya ke Jakarta menjadi kejutan untuk perempuan itu. Sayang, pesan yang mulanya akan dia kirim ke Sean untuk menanyakan keberadaan Orish malah tak sadar dia kirimkan ke perempuan itu sendiri dan berujung membuat Orish tahu bahwa Jendra akan segera take off untuk **penerbangannya.

“Sean mana? Kenapa kamu jemput sendiri?” tanya Jendra begitu sampai di area parkir, tepat di depan HRV putih milik Orish. “Tadinya dia mau ikut tapi nggak aku bolehin, aku emang mau jemput kamu sendiri biar dia jagain Jeki Ola aja di rumah.”

Jendra menganggukkan kepala paham, usai meraih kunci dari Orish dan mempersilakan perempuan itu duduk manis di kursi penumpang sisi seat kemudi, Jendra kembali berujar, “Padahal tadi niatnya aku cuma mau tanya dia kamu di rumah apa ada agenda di luar, aku mau tiba-tiba berdiri di depan pintumu. Tapi iMess-nya malah gak sadar aku kirim ke kamu langsung.”

“I would be mad at you kalau aku nggak tau kamu mau ke sini. You know sometimes I really don't like surprises.” Jendra berdeham selagi memasangkan seatbelt Orish. Perempuan itu tampak lucu ketika mengomel sendiri, Jendra jadi tak bisa menahan kedua sudut bibir terangkat mendengar celotehan pacarnya itu.

Selesai dengan seatbelt, Jendra menatap perempuan itu. Satu tangannya secara instingtif menangkup pipi agak gembil Orish, memandang larut sepasang mata yang dipoles make up tipis dan salah satu kosmetik berupa garis yang mempertegas mata. Tanpa banyak bicara lagi, Jendra mengikis jarak. Mereunikan belah bibirnya dan milik Orish lembut lalu disusul dengan sedikit tekanan lunak sebagai pembuka. Tiga bulan terakhir ini, Jendra rindu mencium Orish setengah mati, kerinduan itu begitu menyiksanya habis sebab tak ada yang bisa Jendra aksikan. Kini dihadapkan dengan kesempatan, Jendra memilih mengeksekusi idenya untuk memagut birai lembut kekasihnya.

Tak ada yang tergesa, tak ada yang menuntut, dan tak ada lidah yang ikut andil. Pagutan itu terkesan amat rapi namun pasti, terlebih saat Jendra makin memiringkan kepala untuk memantapkan tautan bibir mereka. It’s just a slow and steady kiss they love.

“Masih pundung gak?” tanyanya, sedikit menaikkan dagu Orish setelah menyudahi ciuman. Perempuan itu dengan polos mengangguk, berakhir membuat Jendra tersenyum kemudian kembali memagut bibir Orish lebih intens dari sebelumnya.

Laki-laki itu membawa lumatan mereka semakin passionate. Entah kemampuan Orish yang makin meningkat atau Jendra yang pintar membaca tiap gerakan bibir kekasihnya hingga tautan tersebut terjalin tepat dan mulai demanding. Belasan detik selanjutnya, Jendra menarik diri untuk memberi mereka jeda guna meraup oksigen. Laki-laki itu tersenyum hingga menyipit mengingat Orish yang tadinya mengomel kini bungkam dengan wajah memanas. Ibu jarinya mengusap lembut pipi Orish sebelum memberi kecupan bertubi sebagi penutup.

We’ll make out better than this, nanti. Sekarang kita makan siang dulu, oke?” Alih-alih menjawab, Orish hanya mengangguk singkat lalu memalingkan muka menatap jalanan di sampingnya. Dia merasa sedikit gugup, dalam hening jantungnya bak akan jatuh ke bawah. Belum lagi wajah yang masih terasa panas. Uh, Orish mendadak ingin pulang.

Jendra terkekeh, tangan kirinya mengusak poni rapi Orish singkat sebelum beralih ke setir mobil untuk melajukan kendaraan itu keluar area dari Bandara.

Nice eyeliner,” puji Jendra, membuat Orish agak tak percaya lelaki itu me-notice perubahan gaya garis celak pada mata Orish. Uh, perempuan mana yang tak suka riasannya disanjung? Biasanya Orish hanya menggambar natural eyeliner-nya, kini dia mencoba gaya baru dengan sedikit meruncingkan ekor celak itu ke atas. “Does it look good in my eyes? This style is called cat’s eye, I feel a little too flashy.

Jendra menggeleng cepat. “Nah, it looks suitable on you, prettier and sharp.” Orish mengulum bibirnya senang. “Thank you for complimenting me, but I gotta be honest I mad because of your hairstyle.

“Kenapa? Is it because I look damn perfect with blue-black undercut?” Jendra menebak sekaligus memuji dirinya sendiri, mengundang dengusan malas dari Orish. Namun, sejatinya memang benar demikian, perempuan itu merasa kesal karena Jendra terlihat sangat sempurna dengan gaya itu selama mereka terpisah jarak, membuat hati Orish agak mencelos khawatir. “Yeah, you look insanely cool and I wasn't around to enjoy it before. I’m so jealous.

Jendra tersenyum miring. “So am I, I feel lost when you look prettier day by day but I cant see you all the time. It feels so unfair to me, you know.

Lima menit perjalanan membawa mereka berdua singgah di warung Mie Ayam Mangkok yang dulu pernah Jendra datangi bersama kawanannya saat menjemputnya usai kecelakaan di Surabaya. Laki-laki itu langsung memesan dua porsi begitu tiba dan memilih meja paling belakang di mana tempat itu berhadapan langsung dengan area lapang beserta pesawat-pesawat Soetta yang beroperasi di langit sebagai pemandangan utama.

“Kamu berapa hari di sini?” tanya Orish. Dia tidak sempat bertanya banyak sebelum keberangkatan Jendra maupun saat mereka berada di mobil. Jendra yang hendak menyuapkan gulungan mie ke dalam mulut mengurungkan niatnya. “Dua malam aja, aku Minggu sore balik.”

Orish mengangguk, dia sudah menduga Jendra tak akan lama di Jakarta sebab tak ada acara penting apalagi jadwal libur yang bisa membuat laki-laki itu singgah lebih lama di sini. Dikunjungi begini saja sudah jadi hal yang besar bagi Orish. “So… what’s your plans for today and tomorrow?

“Hm… hari ini mau istirahat aja ke apart sama kamu, **besok **mau ketemu Oma sekalian nganterin check up rutin. Kamu mau ikut gak?” Orish menganggukkan kepala. Sebelum ini, Orish sudah beberapa kali ikut Jendra bertemu dengan Oma-nya, dia tak masalah dan justru senang bisa bertemu lagi dengan wanita lansia yang menyambutnya hangat sejak pertama kali berkenalan. “Of course, I haven't seen her in a long time, kinda miss Oma Eliz. Tapi aku takut kalo tiba-tiba ketemu Oma nggak ada kamu.”

Jendra tersenyum, dia jadi orang yang paling senang melihat dua wanita kesayangannya itu saling cocok. “Oma loves you, she must really miss you and your cookies, dia juga pernah telpon aku cuma nanyain kamu tapi aku lupa bilang.”

Seriously?” Jendra memangguk singkat. “Makanya gausah takut, langsung aja datengin Oma terus bikin kue lagi berdua kayak waktu itu.” Perempuan itu mengulum bibir senang dan menjawab, “Iya, nanti aku usahakan ke depannya.”

Jendra kembali menyunggingkan senyum bahagia mendengar jawaban Orish. “Oh, iya, kalo besok kita mau anterin Oma check up, nanti malam kamu tetep tidur di apart atau pulang ke rumah Oma?”

“Kayak tadi yang aku bilang, abis ini mau istirahat di apart, malamnya tetep tidur di apart. Besok baru tidur di rumah Oma sekalian bawa barangku yang belum kebawa, soalnya kontrak apartment kebetulan kelar bulan ini.” Sejak Jendra kembali merantau ke Surabaya, barang-barangnya sudah sebagian dikirim ke rumah Oma, lalu sebagaian lagi dia bawa ke kota kerjanya. Apart Jendra hanya menyisakan barang pokok yang dari awal sudah tersedia di sana. Tempat itu hampir kosong, Orish pernah mampir saat dia merindukan Jendra begitu gila, dan dengan access card yang laki-laki itu berikan, Orish singgah untuk sejenak tidur siang memeluk selimut Jendra sambil berangan lelaki tegap itu merengkuh tubuhnya dari belakang seperti biasa. “Kamu kalau mau tidur di apart, make sure kamu beli minuman dulu, kulkas udah kosong. Buy mineral water, no beers, no cola.

Jendra menangguk selagi mengunyah makanannya. “Kamu gimana? Abis ini temenin aku kan di sana? Nanti malem aku tetep anterin kamu pulang kok,” tawar Jendra, membuat Orish mengerutkan kening. “Nganter gimana? Kan aku yang bawa mobil terus motor kamu juga ada di rumah Oma?”

Laki-laki itu menepuk dahinya, kemudian kembali berbicara, “Gak, nanti aku ikut kamu pulang dulu ke rumahmu, mau ketemu Mama-Papa sama Jeki Ola dulu, terus baru aku balik naik ojek online. Intinya biar kamu gak sendirian di jalanan.” Orish meringis, mendengar rencana Jendra rasanya membuat dia ikut bingung dan repot. “Agak ribet, ya? Aku bisa kok temenin kamu, terus pulang sendiri, aku berani. Atau kalau nanti malam kamu mau ke rumah buat ketemu Jeki sama Mama Papa mending sekalian kamu nginep di rumahku dulu, besoknya tidur di Oma.”

Opsi pertama membuat Jendra berpikir dirinya akan jadi sangat pengecut, bodoh dan tak ada harga diri jika membiarkan perempuannya repot-repot di jalan untuk mengantarnya dan kembali pulang sendirian. Sebaliknya, opsi kedua terdengar lebih baik, dia tak perlu menghabiskan malamnya seorang diri di apart jika malam ini dirinya menginap di rumah Orish lalu esoknya di rumah Oma.

“Boleh?” Jendra bertanya sungkan. Sebelumnya dia sudah dua kali menginap atas sepengetahuan tuan rumah, rasanya tak enak jika dia menumpang lagi padahal keluarga Orish sebenarnya cukup tertutup dan tak begitu bebas dengan hal semacam itu, Orish bahkan tak pernah bisa sembarangan bermalam di tempat Jendra maupun temannya yang lain. “Gak usah dah, aku gak enak sama Mama-Papa. Kurang pantes, tar image-ku buruk di mata calon mertua.”

Orish tak mengindahkan gurauan Jendra di akhir kalimat, perempuan itu meremas tangan kiri Jendra yang menganggur di meja sambil menatap netra lelaki itu. Kalau boleh terus terang, dia malah ingin Jendra tak lepas dari pandangannya selama laki-laki itu ada di sini. “Please? I wanna stay with you longer.”

Maka siapalah Jendra yang sanggup menolak ketika Orish dengan binar matanya sudah memohon? Dia akan menyanggupi apa pun yang perempuannya itu inginkan.


Pulang. Menurut KBBI, pulang artinya pergi ke rumah atau ke tempat asalnya, kembali. Namun, Jendra sudah jarang menggunakan kata tersebut tatkala hendak kembali ke rumah usai bepergian dari suatu tempat.

Sejak beranjak dewasa, Jendra mulai sadar bahwa hatinya segan menyebut hal membosankan itu sebagai definisi dari pulang. Pasalnya, bagaimana bisa tempat yang hanya digunakan untuk singgah disebut pulang? Bagaimana mungkin tempat yang memberinya hampa memaknai kata sehangat pulang?

Gue balik dulu dah, ada deadline tugas gue.” Balik. Sounds better.

Lalu apa definisi sederhana baginya perihal pulang itu sendiri? Klise. Ketika dia mendatangi Oma-nya yang tak pernah cerewet tentang banyak hal, ketika wanita lansia itu membiarkan dia tidur di pahanya dengan elusan di puncak kepala, atau yang setahun terakhir ini dia temukan setelah sekian lama hilang; dekapan dan telinga tatkala dia berkeluh kesah juga afeksi yang cuma-cuma diberikan sosok perempuan bernama Alodia Orish.

Jendra mengembuskan napas secara halus, tak ingin membuat Orish yang tengah tidur dengan kepala di atas dadanya terbangun. Ini yang dia sebut dengan pulang. Saat lelah dan rindunya dapat dikonfersikan dalam suatu momen, yang nyata. Pulang yang murni bukan hanya tentang tempat, namun juga manusia, peristiwa, dan segala hal yang membawa batin kita kembali pada tenang.

“Eungh… jam berapa?” tanya Orish tiba-tiba begitu membuka mata, dua tangannya dia renggangkan ke atas lalu merubah posisi tubuhnya menjadi baring menghadap langit apart Jendra. “Jam lima, tidur lagi aja,” jawab Jendra kembali membawa kepala Orish ke dadanya lalu mengelus kepala sampai punggung perempuan itu.

“Berat nggak kepalaku?” Jendra menggeleng, tidak mengindahkan Orish yang mendongak, menatap dagu, bibir dan hidungnya yang tinggi itu. Orish tersenyum kemudian kembali menempelkan kepala di dada kiri laki-lakinya. “Bohong, your heart beats may be stable, tapi aku kerasa dada kamu naik turun kayaknya berat banget.

“Daripada ngeyel gini mending kamu cerita gimana perkembangan usaha online kamu,” saran Jendra. “Atau apa aja yang belum sempet kamu ceritain ke aku beberapa hari terakhir ini.” Orish menggumam, jari telunjuknya menggambar abstrak di dada kanan Jendra selagi kepalanya menyusun kata.

“Waktu itu ada temen yang nawarin jadi illustrator buat buku anak, Jen. Tapi aku nggak mau, soalnya waktu aku cek lagi style yang mereka cari sebenernya nggak sesuai sama punyaku. Jadi yaudah, kayaknya aku emang ditakdirin ngurus bisnis kecil aja, deh.” Orish menceritakan santai, matanya kini menatap kaca besar bening, yang rasanya tembus pandang dengan cakrawala jingga Jakarta sementara Jendra masih setia mengelus kepala dan bermain dengan rambut panjang Orish. “It will get bigger and bigger selama kamu tekun, serius dan pandai baca setiap peluangmu. But it’s nice to see you understand which one to take, kayak masalah style tadi, that’s matter.”

Orish mengangguk. “Selain itu, I've already taken a big step, Jen. Aku udah taruh modal besar di usahaku ini jadi mau nggak mau aku harus buat kemajuan kan? At least sampai modalnya bener-bener balik.” Jendra menaikkan satu alisnya. “Ya, kalau kamu bisa harus sampai dapat laba, lah. Udah capek mikir ini-itu, kesana-kemari kalo balik modal doang namanya rugi. Bener kan?”

“Jangan bilang gitu…” mohon Orish dengan suara pelan, mengundang tanda tanya. “Tapi sejauh ini seneng nggak ngejalanin bisnis kamu itu? Apa aja kendalanya?”

“Aku seneng kok, seneng banget malahan, apalagi kalau udah dapat feedback yang bagus dari buyer. Tapi kadang capek banget, sama dulu aku kan udah cerita ke kamu kalau awal-awalnya sedih banget karena order yang masuk belum masuk target-ku, terus semenjak aku ikutin saran kamu buat minta tolong promosiin ke temen dan alumnus jurusan jadi lumayan sih makin ke sini. Makanya aku beraniin tanam modal lebih, sekarang udah banyak produk yang ready stock. Aku juga bikin content promosi di Tiktok, followers di Instragram sama Tiktok naik!”

Jendra ikut tersenyum bangga, mengacungkan ibu jarinya di hadapan Orish. “Pengirimannya masih drop off atau udah kamu ubah pick up jasa kirimnya. Sean bantuin kamu, kan?” Orish terkekeh. “Sean sibuk, aku kadang dibantuin sama Mama, terus pas makin banyak order aku udah berani pakai layanan pick up.” Si lelaki senang mendengar, dia memberi kecup pada kening kekasihnya sebagai reward kecil. “Good job, Orish. Painterish will definitely gets bigger, you can take my words.

Painterish adalah nama bisnis online Orish, seperti yang dia katakan, toko kecilnya melapak di platform e-commarce. Mulanya sejak perempuan itu masih menjadi mahasiswa semester tua dan hanya punya satu dua produk berupa ragam sticker set karyanya sendiri, kemudian semakin berkembang dengan bertambahnya produk pernak-pernik journaling and scrapbook yang menjadi salah satu trend yang **paling menyenangkan untuk disimak dan dilakukan. Lalu bertambah lagi berupa mug keramik dengan fanart karakter dan produk paling larisnya saat ini selain. stickers set juga ada painting by number, self healing yang tak hanya dilakukan di atas kanvas, melainkan di beberapa media yang Orish uji. Totebag, canvas shoes, dan banyak lagi.

Jendra, I can't stay calm but keep on being excited when I start talking to you, I feel like I wanna tell you anything.” Orish berujar jujur, membuat Jendra memutuskan untuk memiringkan badan hingga kepala Orish jatuh di lengan kokohnya. Mereka berhadapan dengan dua pasang mata bertemu. Badan besar Jendra menghalau sinar matahari agar minyilaukan mata, baik miliknya maupun empunya si cantik. “What stopping you? I’m all ears, love.”

Orish terkekeh lagi, jari-jemarinya dengan senang bermain di dada Jendra selagi mata dingin lelaki itu meneliti wajahnya. “You know fear is the thing that sticks with me the most, I feel like everything I do has a line with what I fear. Termasuk tentang usaha kecil ini, aku selalu takut mulai sesuatu mengembang ini itu padahal aku memang udah saatnya naik level, aku takut tiap ada yang complaints, you know it’s nightmare for any sallers. Aku juga sering nggak teliti kadang, bikin beberapa cacat dan kesalahan lain, dan dari sana aku belajar. Kamu tau, aku sampai ada bukunya sendiri buat ngerangkum kesalahanku itu buat pedoman biar nggak terulang.” Jendra tertawa di sela keseriusannya menyimak.

“Terus, aku bahagia banget waktu aku berani minta tolong ke alumnus sama temen-temen, ternyata mereka dengan sennang hati banget tolongin aku. Padahal aku kuliah nggak aktif-aktif banget, terus aku kirimin mereka prouduk aku sama hampers, karena kalau nggak ada bantuan mereka nggak akan ada orderan yang masuk sebanyak itu, sampai aku kelimpungan, sampai Mama juga manggil orang buat bantuin kita. Aku bahagia waktu mereka kasih bingang lima dan review bagus, waktu mereka puji pengemasan rapi yang emang aku kemas sendiri, waktu mereka tag aku di Instagram. Jadi kalau kamu tanya aku senang apa nggak jalanin ini semua, aku lebih dari seneng.”

Jendra merapikan anak rambut Orish ke belakang telinganya, kemudian membelai pipi perempuan itu lembut. “I can't give any other reaction than the same happiness for your success. You deserve that. No, you still deserve anything better. I won't be able to forget three months ago when you cried on the phone and said you were tired, it broke me really. Sekarang kamu bisa sekeren ini, you really deserve all the good things.”

I will never forget one of the customers who ordered 30 boxes of canvas painting by number to be sent to the address of Panti Asuhan Hari Esok.” Orish sedikit beranjak untuk mengecup khas pipi Jendra hingga berbunyi, membuat laki-laki itu tersenyum miring. “Thank you for ordering that much.”

Orish mengecup lagi di mata kanan Jendra yang terpejam. “Thank you for being such a good person to those kids.” Kemudian mengecup lagi di mata kiri. “Thank you for supporting me so far.” Lalu mengecup lebih lama hidung besar yang selalu dia kagumi. “Thank you for coming here in your busy time and talking to me about this, Jendra.”

Jendra membuka kedua mata saat Orish menyudahi kecupannya, netra itu menangkap wajah perempuan yang hanya berjarak beberapa senti dari miliknya. Laki-laki itu sadar, masih satu bagian dari wajahnya yang tersisa untuk Orish kecup, Jendra enggan sekali melewatkan kesempatannya untuk bertanya. “What will you thank me for when you kiss my lips?”

For pouring me with your love. For loving me so much until I can feel it deep into the recesses, I've never been loved like this with anyone but family. I wouldn't be this brave Orish without your encouragement, Jen.” Orish mengungkapkannya dengan tatapan yang menyihir Jendra, hingga laki-laki itu tak berkutik, tidak juga mengembuskan napas. Dia hanya berdegup gugup, sebab dia selalu ringan membantu jika itu tentang Orish dan sama sekali tak mengaharapkan balasan. Namun, siapa yang mengira mendapat sejumlah kata dapat membuatnya bak akan terbang begini.

Then kiss me right, kiss me longer.” Tubuh **Jendra **bangkit, bersandar pada kepala *ranjang, netranya sama sekali tak lepas mengunci semesta tepat di hadapan. Satu tangannya berlabuh di pinggang perempuannya. “Make it feel like forever. Can you?*”

I don’t know how to do it.” Orish menjawab disertai gelengan, wajahnya penuh rona, tapi telapak tangan dan jemari kirinya menyapu tulang selangka Jendra. Laki-laki itu terkekeh pelan, menampilkan deretan gigi rapi, mendengar kalimat Orish yang tak sinkron dengan jemari lentik yang kini mengelus lehernya. “I will do it for you, so you can keep acting innocent and play dumb with me.

Giliran Orish yang tertawa karena kebenaran yang diucapkan Jendra. Kalau dulu disindir sok polos dan hanya gimik belaka, Orish akan sakit hati, mengikis kepercayaan dirinya sendiri. Butuh waktu bertahun-tahun untuk Orish membuka diri dan menunjukkan bagaimana sifat rumahannya yang lebih cerita dan aktif. Namun, Jendra hanya butuh waktu berbulan-bulan, sangat klise, tapi siapa yang tak larut dengan sweet talker seperti Jendra, siapa yang tak hanyut jika aksi-aksi lelaki itu selalu berjalan lancar?

Yang Orish pikirkan dulu, ketika dia punya kekasih, mungkin akan butuh waktu beberapa lama hingga lelaki itu bosan duluan untuk beradaptasi dengan Orish dan pribadi pemalu beserta kecenderungan cemasnya. Jendra tidak demikian, dia hanya butuh enam bulan untuk mengerti dan membuat Orish mengerti pula tentang ‘banyak hal’. Entah memang begini rasanya pacaran atau karena Jendra adalah orang yang mengajaknya menjalin hubungan.

Have you ever counted how many times I told you that you’re insanely beautiful when you laugh?” Perempuan itu masih tertawa lagi selagi menggeleng. “Yeah, I’ve done it before, tapi makin ke sini makin nggak bisa.”

That’s it. You better not do it again.”

Orish mengangguk. Tatapannya turun bersamaan dengan jemari yang naik ke bibir Jendra, membelai birai atas yang tipis itu lembut lalu ke bagian bawah yang lebih tebal. Orish memainkannya dengan terus menekan beberapa kali, kenyal. “I wanna bite this, may I?”

“No need to ask, just do anything you want while I stay a little longer here.” Itu **kalimat terakhir yang Orish dengar sebelum menghapus jarak bibir mereka. Jendra harus bilang, meskipun kali ini perempuan itu menyerang duluan, gerakannya tak pernah tak lembut, tak pernah terlalu menuntut, namun selalu berhasil membuatnya terbuai.

Jendra menahan dirinya agar tidak mangambil alih ketika Orish yang memgang kendali, memagut bibir atas dan bawahnya bergantian. Tangan kanannya masih tetap menopang tubuh selagi dia fokus pada setiap lumatan lembut. Tak lama setelah itu Orish menyesap sedikit lebih kuat bibir bawahnya, lalu dengan gigi rata miliknya, perempuan itu menggigit daging lunak itu untuk ditarik keluar. Sekali lepas, Orish memagutnya lagi.

You don’t even bite it hard,” komentar Jendra usai Orish memberi jarak. “Nanti bibir kamu sakit kalau aku gigit beneran.”

Jendra menggeleng. “It's not like I'll push you away if I get hurt, I don't even care if it bleeds.” Orish menghela napasnya jengah, sekarang dia terbisa merotasikan mata seperti yang dilakukan Nicky saat mendengar sesuatu yang tak dia suka, benar-benar memberinya kesan yang berbeda. “But I do.”

Jendra tak peduli dan memilih mengangkat tubuh Orish yang tadinya masih duduk disamping beralih ke atas perut liatnya, mengundang panik karena Jendra melakukannya gesit, bak Orish tak punya beban tubuh. “Do. It. Again.”

Perempuan itu *sedikit bergidik mendengar titah. Namun, kedua tangannya sudah hinggap di leher Jendra, jantungnya berdegup gila. “Close your eyes? Please,”* pinta Orish, Jendra menatapnya tak santai, membuatnya makin dikerubungi gugup. Usai Jendra memenjamkan mata, Orish perlahan merendahkan tubuh, duduk di perut laki-laki itu membuatnya berposisi lebih tinggi.

Orish kembali mengikis jarak, mencium bela bibir yang kini tertutup, dia kira Jendra akan membuka bibirnya ketika beberapa kali mengecup, namun laki-laki usil itu malah makin merapatkan bibirnya. Orish mencoba trik lain, menyapukan lidah di atas permukaan birai laki-lakinya, tapi Jendra tak juga memberinya akses. “I don't understand, you want me to repeat it but you won't open your lips. Let me know when you're done teasing me.”

Jendra tertawa melihat wajah kesal Orish, tangannya mencengkram pinggul Orish ketika perempuan itu berusaha menyingkir dari atas tubuhnya. Semakin Orish mencoba bangkit, semakin kuat pula Jendra menahannya ke bawah. Sampai Orish menyerah dan membiarkan Jendra menariknya kuat ke bawah, laki-laki itu sontak mendesis pelan hingga Orish terkejut.

“K-ken-napa?” tanyanya panik. “K-kamu kenapa?”


“Jendra, kamu marah?” selidik Orish, lelaki di sampingnya hanya menggeleng tanpa memberi jawaban. Tidak ada yang tersirat dari netra kelam yang menatap fokus pada jalanan padat hingga membuat Orish makin bingung dengan bisunya Jendra. “Kalo nggak marah kamu harus ngomong.”

Laki-laki dibalut kemeja navy dengan kaos dalam putih itu menoleh sekilas. “Aku gak marah, sayang.”

Orish setia murung meski sudah mendengar jawaban Jendra karena dia mengenali setiap intonasi bicara orang dan nada barusan lebih terdengar seperti orang tidak bersemangat alih-alih santai seperti biasa. Orish kurang mengerti apa Jendra bersikap begini karena marah perkara kejadian yang beberapa saat lalu dia saksikan langsung atau bagaimana, yang jelas Orish tak suka suasana ganjil ini.

Jendra kira keberuntungan hari ini berpihak pada dia sebab rencananya terasa seperti dimuluskan. Pertemuannya dengan dosen pembimbing berjalan baik, tak dijadwalkan ulang di hari lain seperti biasanya karena alasan agenda mendadak sosok pengajar yang terkanal senior di Jurusan Arsitektur itu. Jendra tidak ingin membuang waktu, laki-laki itu bergegas mengambil bucket bunga yang sudah dia pesan kemarin dari sebuah outlet kemudian kembali ke kampus atau tepatnya menyusul Orish di FSRD.

Jendra tahu benar Orish tidak mau disusul terang-terangan didasari oleh alasan ketidaknyamanan ketika menjadi tontonan, maka dari itu saat Jendra memijakkan kakinya di Fakultas Seni Rupa dan Desain dia memilih untuk berkeliling sedikit, menjelajahi area seni yang nampak dua kali lebih rimbun dan beraura hidup ketimbang fakultasnya yang tak kasatmata cenderung suram. Omong-omong Orish benar, Jendra merasa diawasi dengan tatapan menilai warga fakultas tetangga ini, ia di amati dari ujung rambut hingga alas sepatu. Lelaki itu merasa sedang masuk area terlarang, padahal bukan kali pertama ia mendatangi lingkungan ini. Bisa jadi karena Jendra menginvasi terlalu jauh hingga orang-orang disana mulai menotis keberadaannya yang masih asing. Jendra acuh tak acuh terus melangkahkan kaki sampai langkah acaknya menuntun dia pada sebuah kelas di lantai dasar sebuh gedung yang dihadapkan taman.

Sebenarnya dia telah mengirim pesan pada Orish tapi perempuan itu belum membalas. dan ketika menemukan kelas kecil yang bisa dia lihat memuat sosok yang dicari, ia cukup terkesiap. Entah kebetulan, atau memang takdir. Jendra hendak menyembulkan kepala di pintu saat ekor matanya menangkap Orish tertawa karena percakapannya dengan laki-laki lain, lalu pandangannya turun ke bawah melihat sebuah kotak berbentuk hati yang dia tahu pasti berisi cokelat edisi Valentine. Mengurungkan niat, Jendra memutuskan untuk berdiri di balik daun pintu sampai tiga orang yang tersisa di dalam ruang itu keluar dengan sendirinya.

Orish terkejut saat tiba-tiba mendapati Jendra di depan pintu kelas seperti kata-katanya pagi buta tadi dalam obrolan chat. Perempuan itu baru selesai menggunakan kelas kosong untuk berdiskusi dengan Ketua angkatan dan teman-teman lain mengenai rencana temu mereka dengan alumni untuk sharing pengalaman TA. Orish kesulitan mendeskripsikan tatapan Jendra sejak dia keluar dari sana bersamaan dengan Devon dan Radit.

“Terus kenapa mukanya begitu?” cicit Orish pelan. Perempuan itu menunduk, menatapi beberapa tangkai mawar yang dikemas apik di pangkuannya. Ia tak banyak tahu tentang makna bunga, tapi orang bilang red rose melambangkan cinta serta kasih sayang dan merah mudah lambang keanggunan. Jendra memberikan bucket yang memang tak dia bawa masuk itu kepada Orish usai membuka pintu mobil untuk perempuannya. “Gak apa.”

Orish diam, tak ingin memaksakan kehendak agar Jendra membuka suara mengenai apa yang mengusik dirinya hingga laki-laki itu berniat untuk bicara. Belum sampai hitungan menit, sebuah pertanyaan melayang dari Jendra.

“Ketua Angkatan kamu yang pake kacamata itu?” Orish sempat termenung sejenak untuk memikirkan alasan Jendra bertanya sebelum akhirnya dia mengangguk. “Iya, kenapa?”

“Dia kasih kamu cokelat?” tembak Jendra.

Orish meringis, rupanya ini. “Iya, tapi bukan aku aja kok yang dikasih tadi Radit juga. Dia punya banyak makanya bagi-bagi.”

“Tapi temen kamu satunya dikasih cokelat batang biasa, cokelat yang dikasih kamu beda,” kilah Jendra. Memang cokelat yang diberi Devon bak hadiah Valentine spesial sebab kotak heart-shaped yang identik diberikan untuk orang tersayang, namun Orish paham bahwa tak mungkin Devon bermaksud demikian.

“Jendra tadi Radit sendiri yang milih itu, terus akhirnya yang besar Devon kasih ke aku, aku tadi udah nolak tapi tetep disuruh bawa.”

Jendra bungkam, sekadar cokelat bukan masalah besar bagi Jendra, perempuan sebaik Orish sudah pasti menerima banyak hadiah cokelat dari teman-temannya di hari sespesial ini. Sayangnya, sosok Devon yang merupakan Ketua Angkatan Orish ini benar-benar mengganggu pikiran. Orish beberapa kali memiliki keperluan dengan laki-laki itu, saat Jendra bertanya pada Sean, dia bilang Orish memang cukup akrab dengan teman yang satu itu sejak semester awal. Jendra marah karena dia sadar ini tindakan yang kekanakan, padahal dia percaya pada Orish.

“Jendra, Devon udah punya pacar, itu dia bagi cokelat dari pacarnya karena dikirim banyak banget kata dia,” jelas Orish untuk meluruskan kesalahpahaman kecil yang konyol ini.

The way he looked at you was different,” ungkap Jendra membuat Orish tersentak, ia mengembuskan napas guna memperbarui pasokan oksigen lalu menjawab, “Jendra, don't mind it. Kamu percaya aku kan?”

Jendra mengangguk tapi ekspresi resahnya sama sekali tak lepas dari wajah, ia hanya tak mengungkitnya bukan mengusir pemikiran itu dari kepala. Jujur saja akhir-akhir ini kesibukan keduanya membuat mereka jadi jarang bertemu langsung, meski dua-duanya selalu berusaha saling menghubungi setiap ada waktu, Jendra masih saja waswas. Parno.

It's Valentine! Smile to me, please,” pinta Orish. Jendra mengabulkan dengan garis senyum yang tak bertahan kurang dari 5 detik. Orish gemas, perempuan itu sedikit mengendurkan sabuk pengaman yang dia kenakan lalu memberi kecup singkat di pipi kiri Jendra. “Nggak boleh murung, aku nggak mau kita diem-dieman karena masalah itu.”

Jendra masih membeku karena aksi barusan, ini bukan hal baru bagi mereka, Jendra hanya tidak menduga ide seperti itu bisa melintas dipikiran Orish untuk mengatasinya di saat seperti ini.

“Diajarin siapa?” tegurnya sambil menatap Orish tak percaya. Orish mulanya merutuki diri dalam hati karena aksi bodohnya, namun saat mendengar kekehan Jendra menyusul, perempuan itu mendongak dan melihat pacarnya yang masih tertawa.

Orish mendengus, “kamu yang ajarin aku, kamu! Makanya jangan ditekuk mukanya.”

Jendra terbahak puas, “sekali lagi dong.”

“Nggak, nyetir dulu yang bener.”

“Nih mumpung jalannya sepi nih, buruan,” desak Jendra, tadinya jalan raya yang mereka lalui memang padat bersamaan dengan jam pulang kerja, begitu masuk persimpangan jalan, kendaraan yang berlalu-lalang sudah tak seramai tadi. “extra kiss, please.

Orish mau tak mau mendekat lagi karena Jendra tak akan berhenti berkicau sampai apa yang dia minta dituruti. Jarak seat kemudi dengan seat samping dari mobil yang mereka tumpangi ini tidak begitu jauh, jadi bukan hal sulit bagi keduanya sedikit bergerak mendekat. Orish mengecup lebih lama pipi Jendra daripada yang pertama hingga timbul bunyi kecupan dan memberi Jendra perasaan lega sampai ke hati kecilnya.

“Jen, ini kita kemana? Kok perasaan jauh,” tanya Orish bingung. Mereka sudah kembali ceria berbincang ini itu tapi masih belum sampai juga di tempat yang Jendra tuju.

Jendra memutar kemudi untuk dia belokkan ke kiri jalan, tepat di sebuah minimarket lokal. “Abis ini sampe, ini mau beli rokok dulu, mau ikut turun?”

Setelah mengangguk Orish turun dari mobil, berjalan bersisian dengan Jendra masuk ke toserba. Mata cantiknya menyapu tiap benda yang disusun dalam rak begitu suhu dingin menusuk pori-pori mereka. “Kamu mau beli sesuatu?” tawar Jendra. Gelengan Orish membawa keduanya langsung pada antrian kasir.

Orish masih betah melihati segala hal yang dijual disini, memang siapa yang tak suka mengamati isian minimarket? Satu customer lagi dan mereka akan mendapat pelayanan kasir, Orish memanfaatkan hal itu untuk memandangi tumpukkan Silver Queen dan berbagai cokelat lain yang disusun lebih ramai dari biasanya, bahkan paket serta harga potongan juga menjadi salah satu trik marketing yang digunakan untuk penjualan cokelat di hari Valentine.

“Mau cokelat yang gede itu?” tawar Jendra lagi dan jawaban Orish masih sama berupa gelengan kepala. Dia hanya berniat untuk melihat-lihat, sama sekali tak ingin membeli atau dibelikan cokelat sebagai hadiah. Orish saja dilarang mengkonsumsi terlalu banyak cokelat demi kesehatan giginya, lantas untuk apa?

Actually I have my own chocolates and cookies for us in my bag, Jen.”

Homemade cookies?

“Iya, kemarin sama Mama bikin.”

Mereka berdua mengambil langkah maju setelah konsumen sebelumnya pergi. “Marlmer tiga, mbak,” pinta Jendra seraya mengeluarkan selembaran merah muda. Orish sudah lelah menasehati jadi dia akan diam melihat Jendra menerima tiga bungkus rokoknya.

“Nggak sekalian cokelatnya Kak? Mumpung Valentine nih kita ada bundle isi tiga jadi lebih banyak dan hemat.” Jendra buru-buru melihat lagi ke arah Orish yang menggeleng. “Gak dulu deh, Mbak.”

“Bener Kak? Lumayan loh?”

Jendra menghela napasnya. “Gak deh, gak ada yang yang free condom saya males beli,” jawab Jendra enteng, baik Orish dan Mbak kasir tersentak.

“Aduh.” Jendra meringis merasakan cubitan di pinggangnya. “Bercanda sayang, sumpah.”


Mereka akhirnya tiba di sebuah gedung apartemen menjulang tinggi yang memang jauh dari area kampus. Jendra bilang ini akan menjadi tempat barunya karena masa sewa sudah kontrakan berakhir sedang Naren dan Chio memiliki keputusan yang berbeda. Sejak beberapa bulan terakhir, kedua temannya itu jarang pulang ke kontrakan sampai Jendra merasa percuma tinggal bertiga. Mereka berakhir berpisah dengan Naren yang tinggal di dekat kampus dengan teman sejurusan dan Chio pulang ke rumah Papanya.

Lalu disini lah Jendra saat ini.

Ruang persegi yang bisa dibilang cukup luas untuk ditinggali satu orang itu masih terlihat kopong. Belum banyak furnitur yang tertata mengisi tempat baru itu. Orish berjalan ke arah kaca yang menyorot pemandangan jalan dari ketinggian gedung. Siluet cahaya lampu kendaraan dan penerangan jalan terlihat bak lukisan dari tempat Orish memandang.

“Kok bisa? Sejak kapan kamu move kesini?” Pertanyaan Orish berlomba-lomba. “Dua hari lalu makanya masih kosong, barang-barang dari kontrakan masih harus dipilih mana yang harus dibawa dan enggak.”

“Ini punya temenku sebenernya, dia pindah tapi udah bayar sewa jadi aku ganti separuh buat nempatin.”

Aku juga gak lama disini.

Jendra terlalu takut untuk mengatakan kalimat selanjutnya. Ia takut tahapan yang harus ditempuh untuk merintis karir itu terlalu mendadak untuk di dengar Orish, ia takut perempuan itu sedih dan menghitung setiap waktu yang mereka habiskan. Lelaki itu takut topik hubungan jarak jauh memicu katastrofe buruk dalam kepala Orish.

Jendra hanya mau ketenangan bersama Orish hari ini, dan beberapa hari ke depan.

Ia masih mempunyai banyak waktu sampai masanya tiba, ia akan memberitahu Orish perlahan dengan pengertian paling tepat, Jendra akan memupuk kepercayaan pada benak Orish sebesar kepercayaannya pada perempuan cantik itu.

Dunia serta masalah kehidupan ini tak akan luluh dan sirna hanya karena mereka punya cerita manis, tak akan diam dan menyatukan mereka hanya karena rasa yang besar satu sama lain. Ketika Jendra Juandika sadar dia menginginkan Alodia Orish dalam hidupnya, dia tahu dia harus memperjuangkan masa depannya terlebih dahulu, Ketika Jendra sadar dia mencintai Orish, dia tahu bahwa dia harus bekerja keras untuk itu sebab ia merasa perempuannya pantas mendapat kenyamanan seumur hidup saat berada di sisinya kelak, baik dari sisi finansial dan kesiapan batin.

“Nanti aku bantuin pindahin barang-barang, ya? Oh, kita harus belanja banyak buat ngisi itu lemari makanan sama kulkas kalo gitu kamu bakal nggak makan. Kalo kamu yang belanja sendiri yang ada kamu beli mie cup kopi sama rokok aja—”

“Orish,” sela Jendra, Orish tak mengindahkan panggilan itu, perempuan yang mengelilingi petak-petak ruang memeriksa segala hal hinga akhirnya kembali lagi mengamati pemandangan langit yang sudah petang dari balik kaca.

“Orish,” ulang Jendra. Kali ini Orish dengar, ia membalik badang menghadap lelakinya. “Apa?”

“Aku punya kado buat kamu,” ucap Jendra, hanya beberapa detik saat laki-laki itu berjalan ke kamar dan datang lagi dengan kotak perhiasan berbahan beludru. Jendra membukanya tepat ketika langkahnya hanya berjarak beberapa senti dari Orish.

Berbinar.

Tangan Orish tak berani menyentuh kalung cantik di kotak yang Jendra persembahkan. “Jendra, I swear I don't need anything but your presence for this valentine...

Jendra berdeham menyangkal Orish. “This is not Valentine's gift. Aku mau kasih ini karena lihat ini aku jadi inget kamu, you both are beautiful and it would be better if you wear this.

No, it's must be pricey, kamu kan katanya mau nabung?” Orish menolak. Dia ingat Jendra bercerita dia akan berhemat mulai semester ini. Tapi kalung yang laki-laki itu pegang sama sekali bukan representasi dari ucapannya.

“Boleh aku bantu pasangin?” Jendra seperti tuli dengan penolakan Orish. Laki-laki itu membalik badan Orish membelakanginya dan memasang kalung hadianya. Kini satu wishlist yang dia tulis berhasil dia checklist.

I wish I could give you something better, more fancy and something truly 'something' to you, Orish.” ungkap Jendra usai kalung itu melingkar longgar di leher kekasihnya. Ia berkecil hati dengan apa yang dia berikan sebab wanitanya pantas mendapatkan sesuatu yang lebih ketimbang sebuah kalung.

Orish bergeming. Cahaya terang dari lampu di atap apartemen menyorotnya, membuat perempuan itu dengan mudah melihat refleksi diri di kaca gelap yang menjadi sekat pemisah ruang hangat yang dia tapaki dengan udara malam dari cakrawala petang. Orish menyentuh liontin yang bukan lain adalah potongan batu kristal Triliant yang jadi pusat daya tarik dan menggantung pada rantai berlapis rhodium modern. Orish jatuh cinta dengan kesederhanaan desain Collection III sebuah brand berlambang angsa.

Orish bersungguh, dia tak menginginkan sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang lebih indah ataupun sesuatu yang lebih 'sesuatu' sebagaimana ucapan Jendra. Ia bersyukur atas apa yang telah dia terima dari awal hingga hari ini, sepenuhnya. Mengapa Jendra mengutarakan sesuatu yang tak masuk akal bagi Orish, dia tahu benar lelakinya merogoh saldo tabungan untuk hari ini dan hadiah kelewat istimewanya.

I love this necklace. I don't want anything better than this.”

Jendra tersenyum simpul. Ia yang masih berdiri di belakang Orish itu merangkul rapat di pinggang Orish dengan kedua tangannya. Jendra mengimbuhi kecup sayang di bahu kekasihnya beberapa kali.

You're so beautiful tonight,” puji Jendra. “No, you look as beautiful as ever, Love.

Kalimat Jendra mengundang kupu-kupu datang dan berlomba terbang di dalam perut hingga tiap rongga di dadanya. Ia tersenyum manis, pipinya bersemu karena sistem saraf yang bereaksi memberi respon. “So flirty.”

Lelaki itu menggeleng-geleng kepalanya yang dia bebankan pada bahu Orish. “No, I swear, youre so pretty.

Orish membalik tubuh, mendapati tatapan Jendra yang langsung menghunus matanya. Si cantik itu berani melawan segelintir ragu kemudian mengalungkan dua tangannya memeluk leher kokoh Jendra. Ia abaikan mata Jendra untuk mengamati tiap jengkal kompenen wajah lelakinya. Alis yang tegas, netra yang indah, hidung yang sempurna, dan belah bibir yang senantiasa membawa kewarasannya terbang menembus lapisan rasa bertajuk bahagia.

You always so gentle, you look so dashing and fine, every single time, Jendra.”

Jendra terkekeh, “Of course I am.”

Narsisme seorang Jendra Juandika akan selalu jadi hal terlucu bagi Alodia Orish. Perempuan itu turut tertawa renyah dan Jendra hanya bisa menikmati tiap detik yang dia harap bisa memelan agar kecepatan waktu tak merenggut momen emasnya.

“Orish I couldn't fall any deeper than this.

Jendra berbisik di telinga Orish. Dia tak tahu mengapa melihat seorang perempuan di rengkuhannya tertawa secantik itu bisa secara instant membuatnya merasa penuh hingga instingnya menuntun untuk melafal kalimat yang bahkan tak dia susun dalam benak terlebih dahulu, spontanitas nyata.

“Sampai kapan mau gombal?” tanya Orish. Dan lagi, lagi kekehan jadi respons Jendra sebelum berucap, “sampai kamu bosen dengerin aku.”

“Berarti kamu nggak bakalan berhenti gombal, soalnya aku nggak bakal bosen.”

That's a great news then.”

Orish mendengus, “kamu bakal berhenti karena kamu capek sendiri nanti.” Namun Jendra sangat kompetitif, dia menyahuti Orish lagi. “Even if my lips stop, my heart won't. My heart will always sing praises to its Queen.

Orish membisu, dia tak tahu lagi harus menimpali apa lagi jika sudah kalah telak begini. Jendra dengan kecerdikannya dalam menyuarakan kata-kata manis tak memiliki tandingan.

“Kita ngapain abis ini? Aku mau masak ya,” ujar Orish, tangan yang mengalung mulai melonggar. “Kamu terserah mau ngapain jangan gangguin aku masak.”

Agenda memasak bersama tidak pernah berhasil pada mereka. Pengalaman pertama, Orish gagal melakukan plating karena Jendra lebih dulu mencomoti masakannya. Pengalaman kedua, alih-alih memasak mereka malah bercumbu di kitchen conter.

“Aku belum lapar, we can do anything you want sebelum makan malam,” saran Jendra. Orish jadi terheran, “do what?

Anything you want, sayang. Let's have a quality time sampai puas. Let's do anything we want.”

Ah, Orish mengangguk paham. Sebenarnya sedikit terkejut karena ia pikir konteks perkataan Jendra kurang spesifik dan ia takut salah mengartikan. Namun, mendengar lelaki itu menekan kalimat terakhirnya membuat Orish kembali memikirkan hal-hal yang dia damba bisa terlaksana bersama Jendra. Hal-hal kecil yang membahagiakan.

Can we dance?” usul Orish, ia menambahi lagi. “*It's not modern dance, just simply dancing. Dansa.”

“*Hug you then move right and left?” tebak Jendra. Jujur ia tak bisa berdansa jika yang di maksud Orish adalah dansa kerajaan seperti yang ia tonton di Netflix untuk menemani Orish. Perempuan itu tertawa ringan menyetujui tebakan Jendra. “Iya, that simple, katanya it helps us to bond our chemistry.

Let's do it,” tegas Jendra. Dia bahkan mengeratkan tangan Orish di lehernya dan rengkuhannya sendiri di pinggang perempuan itu. “Oh, pakek lagu, ya?”

Anggukan Orish secara otomatis membuat satu tangan Jendra meraih ponselnya di saku celana depan. Dia mengaktifkan bluetooth agar tersambung dengan speaker baru di sudut ruang yang tak pernah mati. “Lagu apa?”

Everybody loves Somebody?” saran Orish dibalas gelengan. Bukannya Jendra tak suka lagu yang di populerkan Dean Martin itu, ia hanya tak bisa terima dengan salah satu bait yang ia artikan bahwa sosok lelaki disana berkeinginan mengatur agar setiap gadis memiliki pesona yang sama dengan gadisnya hingga tiap menit bahkan jam, para lelaki dapat menemukan apa yang dia temukan. Jendra tidak bisa relate, ia tak ingin ada banyak Orish di dunia, dan ia tak ingin laki-laki di luar sana merasakan keberuntungan yang sama dengannya.

“Ini aja ya,” ujar Orish, menyentuh thumbnail dimana seorang wanita berdarah Amerika-Jepang yang merupakan penyanyi favoritnya membawakan lagu dari Elvis Presley, Cant Help Falling in Love.

Alunan akustik mengalun lembut, begitu juga tatapan keduanya yang menyendu. Orish sangat tersipu tapi harus dia tahan sebab ia tak ingin melewatkan setiap kepastian yang bisa dia lihat di bola mata Jendra.

Keduanya bergerak pelan, sesekali tertawa saat Orish menginjak kakinya. Tinggi badan yang tak terlalu jauh berbeda membuat Orish nyaman untuk sedikit mendongak.

“Kamu tau aku suka suara Kina Grannis,” ujar Orish, satu tangannya membelai bahu kokoh Jendra. “Aku lebih suka suaramu.” Orish membuang muka mengetahui dia dan Jendra sama-sama tersenyum.

“Orish, “Am I the man you expect?

“You are the person I look up to every night before gonna sleep, since the first time we talked to each other that time.*” tuturnya, “Kalo kamu gimana?”

Jendra berhenti bergerak untuk memeluk Orish rapat sampai perempuan itu merasa kakinya tak menapak di lantai. “Aku gak berani minta perempuan sebaik kamu ke Tuhan, tapi dia kasih,” bisik Jendra. Orish suka tiap kali Jendra menyebut Tuhan, ia dibuat merasa seperti sosok yang didamba hanya melalui kata.

“Jendra, can we last forever?

God will punish me if I don't make it happen, Orish.”


Awal Oktober 2020 adalah kali pertama ketika Alodia Orish memiliki interaksinya dengan sosok yang tak pernah berani dia duga. Dia adalah lelaki yang dia ketahui beberapa tahun silam di lobi bimbingan belajar pada pukul 5 sore, lalu pada tahun ketiga perkuliahan menjadi figur pecandu lintingan tembakau yang tak pernah absen untuk Orish perhatikan dari balik kaca tebal sebuah toserba.

Semua bermula dari barang yang tertinggal hingga jadi rasa yang tidak bisa ia sangkal. Orish kira tak ada yang lebih mengerikan daripada penilaian sosial terhadapnya, ternyata jatuh cinta yang bertepuk sebelah tangan juga memiliki potensi mengikis batinnya.

Selama hidupnya Orish menyadari bahwa menjalani cerita dibawah jeruji kecemasan selalu mengantarkannya pada rasa takut yang besar tentang segala sesuatu. Seiring berjalannya waktu semesta malah semakin membuka topeng; seperti berkata tak ada tempat bagi mereka para pecundang, hal itu menghantui Orish pada sebuah katastrofe dia harus menyerah karena harapan yang berusaha dia tanamkan dalam benak itu sebenarnya juga tak akan pernah Tuhan kabulkan.

“Sorry, tadi gue mampir dulu ke rumah dia, nganterin makanan,” ungkap Jendra setelah membuat Orish menunggu hampir satu jam di beranda toserba. Alih-alih marah Orish justru mempertanyakan apakah emosi itu pantas untuk dia rasa? Gusarnya hilang saat melihat senyum manis Jendra yang nampak lebih ceria dari biasanya.

Orish ikut menarik kedua sudut bibirnya seikhlas mungkin, “kamu kenapa kelihatan seneng banget, Jen?”

“Orish, gue kayaknya masih punya harapan buat kembali sama Stella.” Getir adalah rasa yang menjalar di hati Orish, ia turut bahagia melihat lelaki itu tak memudarkan senyum sepanjang pertemuan, tak peduli hatinya remuk sebab yang pupus menggantikan harapan Jendra adalah miliknya. Ia sangat tak punya kuasa akan hal itu, ia tak punya nyali untuk jadi egois dan memaksa rasanya agar terbalas.

How would you feel if she really came back to you, Jen?” tanya Orish pada lelaki yang duduk dihadapannya, tenang saja kali dia sudah tak mendamba sepercik kesempatan karena sudah paham bagaimana akhirnya, dia hanya ingin memastikan di level mana kebahagiaan yang akan lelaki itu rasakan.

“Rasanya bakal kayak pulang. She's been my home since I grew up with a slump. Rumah gue nanti bakal kembali.”

Ketika suatu malam ketika Jendra datang padanya untuk meminta dekapan hangat sebagai pelipur lara saat hujan dan gemuruh badai menyambangi hidupnya, Orish kira ia akan memiliki peran rumah itu, ternyata salah, lelaki itu bukan tak punya rumah, ia hanya sedikit tersesat dan kini mulai kembali menemukan jalan pulangnya. Orish hanya tempat berteduh untuk sesaat, berani sekali perempuan itu bermimpi untuk duduk di singgasana dalam hati sosok Jendra?

Tak sampai disitu karena semesta benar-benar jahat padanya karena tak memiliki simpati dan empati barang sedikit, Orish dibiarkan mendengar sebuah berita baik namun baiknya bukan untuk dirinya. Jendra mendapat rumahnya kembali.

Orish membulatkan tekad tuk membiarkan duka yang ia rasa mengaga begitu saja. Orish akan berhenti membayangkan adegan indah yang tidak akan pernah dapat kesempatan untuk jadi nyata di hidupnya, Orish akan berhenti berkhayal perihal sesuatu diantara dia dan Jendra.

Selama setahun ia mencoba pergi dari Kota kelahirannya juga tempat penuh hiruk pikuk dirinya mengenal Jendra, Orish tak pernah berekspektasi sosok itu akan merindukan dirinya saat bahagia yang dia pinta pada Tuhan sudah di depan mata. Biar saja rindu milik Orish yang tinggal, biar saja miliknya menggunung dan terus terabaikan.

Kalian tahu, satu-satunya hal yang selalu Orish jadikan pelarian dari segala emosi adalah kanvas putih. Ketika ia patah hati ia akan melukis kesedihannya disana, ketika ia bahagia maka senangnya akan tercurah disana. Dihadapkan dengan seni seperi memberi kelegaan bagi Orish, sebab tak ada aturan pasti yang mengekangnya. Kanvas, kuas dan warna-warni cat bukanlah semesta yang tidak pernah memihaknya. Ia bebas membungkus bagaimana emosi yang ia rasa disana. Sepenuhnya akan bergantung dengan imajinasi Orish, dan kalaupun ia menorehkan ujung pensil untuk membuat sketsa tentang dirinya dan Jendra meski hanya angan juga tak akan ada yang sungguh peduli dan menilai.

Sayangnya mendung itu Orish duduk di balkon dan menatap pasrah lukisan di hadapannya. Sebagai bentuk doa baik untuk Jendra dan rasa lelahnya ia melukis lelaki itu dengan wanitanya, berdua bahagia. Entah dimanapun Jendra saat ini berada, semoga riuh angin yang Orish hirup menyampaikan rindunya, semoga udara disekeliling Jendra menyejukkan hatinya, dan semoga jaket kulit yang sempat hilang itu sanggup membalut tubuhnya rapat jika hujan memutuskan untuk berjatuhan.

Ini akan jadi doa terakhir Orish, semoga laki-laki itu menemui bahagianya sebab ia sudah berkorban sepedih ini, semoga wanitanya senantiasa menghujani Jendra dengan pelukan hangat dan sayang sebagaimana yang Orish janjikan pada Tuhan.


Sedikit meleset dari ucapan sendiri tatkala Jordy baru menapaki beranda rumah Kano pada pukul sembilan lebih seperempat. Jelas bukan disengaja, dirinya sibuk kesana kemari membantu teman-temannya di lokasi. Meski acara yang satu ini termasuk non-formal dan sama sekali tak ada kaitannya dengan Koor, jiwa leadership Jordy masih terlalu lekat untuk bersikap tak acuh.

Setibanya di rumah Kano, Jordy langsung menemui Mama Kano untuk meminta izin, laki-laki muda bertubuh tegap itu dididik orangtuanya untuk tahu aturan, etika dan sopan santun. Sejatinya Kano adalah anak rumahan yang bisa dihitung dengan jari berapa kali dia meninggalkan rumah untuk bermain dalam sebulan. Mama Kano sendiri cukup strict, mungkin karena sudah lama mengenal Jordy dan setidaknya tahu sifat Jordy dan latar belakangnya membuat wanita itu berbaik hati mengijinkan putrinya untuk ikut bersama Jordy merayakan tahun baru dengan catatan tidak boleh melakukan hal-hal di luar batas, nggak perlu disebutkan karena Jordy dan Kano bukan remaja bodoh yang mengambil tindakan tanpa berpikir.

Tak peduli seacuh apa Mama di kepala Kano, wanita paruh baya itu ingin putrinya bergaul dengan baik dan sewajarnya, bukan murung apalagi sedih sendiri di rumah. Maka dari itu Mama memberi kelonggoran karena beliau percaya pada Jordy dan putrinya sendiri.

“Beneran nggak bawa apa-apa, Jor?” tanya Kano sekali lagi saat keluar dari pagar sambil meninting helm setengah lingkar miliknya yang sempat dihias Jordy dengan beberapa sticker yang dia punya.

“Iya, gak perlu. Disana udah lengkap lo minta bakso, rawon, rujak juga ada,” kelakar Jordy hanya Kano respons dengan tatapan sinis. Memang cewek libra yang satu ini agaknya kurang ramah, Jordy meringis.

Laki-laki itu meraih helm dari tangan Kano lalu memasangkan benda pelindung itu ke kepala Kano dengan benar. Kano hanya diam, memang begini rasanya jadi pacar Jordy, memang bukan hal besar tapi akan selalu menjadi hal kecil yang bermakna.

“Sama gue terus ya nanti? Gue nggak mau ya sendirian nanti disana,” peringat Kano yang baru menaiki motor Jordy, membuka sedikit kaca bening helm full-facenya kemudian menoleh ke belakang, “lo bakal disambut hangat disana, kita bukan lagi mau nribun, jangan takut. Oke?”

Kano mengangguk, Jordy kembali menutup kaca helm, tangannya terulur ke belakang meraih tangan kano agar segera melingkar di perutnya erat.

“Emauela ikut kok, lo temenan kan kemarin sama dia pas nribun waktu itu?” Kano ingat, Emauela adalah salah satu anak Saptamania yang menemaninya tatkala dia ikut nribun. Perempuan tidak banyak bicara itu jug kalo nggak salah gebetannya Capo I, Hema. “Iya.”

Jordy mengelus tangan Kano lembut, “Lo cewek gue, lo ceweknya Jordy Noah, gak bakal ada yang berani sama lo.”

Menyulut sedikit semangat yang menurut Jordy harus ada pada benak Kano. Maksud Jordy bukan semata untuk sombong saja dengan menunjukkan presensinya sebagai seorang ketua. Ia hanya ingin Kano yakin bahwa dirinya benar-benar akan Jordy jaga dan lindungi dari apapun tanpa pikir dua kali. Siapapun yang berani mengganggu Kano akan berurusan langsung dengan Jordy sendiri.

“Pegangan yang erat,” tegur Jordy, Kano akhirnya mengeretakan sedikit pelukannya pada perut Jordy, “eratan lagi sampai kita dempet banget.”

Kano menoyor helm Jordy pelan hingga terdengar kekehan laki-laki itu.


Jalanan kota malam ini lebih ramai daripada malam-malam biasanya yang menyepi kala jarum jam menunjuk pada angka sepuluh. Perjalanan dari daerah timur rumah Kano hingga ke barat lokasi pesta kecil mereka cukup memakan waktu. Meskipun Jordy melesatkan motor besar dengan cukup gesit, keindahan kota beserta warna-warninya memaksa mata keduanya untuk menikmati.

Mereka baru sampai hampir pukul sepuluh, beres memarkirkan motor di lahan kosong yang anak Sapta siapkan Jordy meminta topi hitam vibrate kebanggaannya yang sempat dia titipkan dalam tas Kano. Laki-laki itu memakai topinya ke belakang, enggan paras di atas rata-ratanya tertutup ujung topi bagian depan.

Where's your cap?” selidik Jordy. Kano juga membawa topi persis dengan Jordy yang laki-laki itu berikan sebagai salah satu kado saat berulang tahun. Kano mengeluarkan topi berwarna putih, berkebalikan dengan milik Jordy. Sebetulnya Kano sedikit merasa aneh dan malu memakai topi couple seperti anak SMP yang baru pacaran, apalagi malam-malam begini, jika bukan karena rambutnya yang baru di keramas tadi sore sepertinya Kano akan enggan menuruti Jordy.

“Gak cocok nggak sih?” gumam Kano saat melihat pantulan dirinya mengenakan topi pada kaca spion motor Jordy, laki-laki di hadapannya itu menggeleng dan memberi sanggahan, “cakep kayak idol di bandara.”

Detik berikutnya Jordy menautkan jarinya pada milik Kano, membawa perempuan itu masuk. Baru menapaki pelataran sebuah rumah, keduanya langsung disambut dengan keramaian. Rumah itu sedikit usang namun terang karena lampu-lampu yang terpasang di beberapa sudut. Salah seorang teman Jordy menghampiri mereka sebelum masuk lebih dalam ke rumah, entah namanya siapa Kano lupa, tapi bisa dibilang gaya busananya sangat keren.

“Lah begini dong nona-nya di bawa main,”celetuk laki-laki itu setelah melakukan salam khas Sapta dengan Jordy, dan fist bump dengan Kano. “Tau gak gue siapa?”

Kano menggeleng, yang dia tahu sosok ini adalah laki-laki dibalik alat perkusi tapi ia kurang paham yang mana dan namanya siapa, saat di tribun waktu itu Kano kurang banyak berinteraksi dan berkenalan dengan teman Jordy yang lain, “gue nggak tau nama lo tapi anak perkusi kan?”

Sosok itu mengacungkan jempol, “bener sekali, gue Hildan tapi anak-anak pada panggil Bang Ildan sih,” jelas Hildan Handaru.

“Udah kenalannya?” Jordy menyindir sensi ke arah Hildan, “galak amat bos? Iye kaga minta gue ya ampun.” Selepas itu Hildan Handaru mempersilakan Kano untuk mencicipi aneka hidangan yang tersedia di dalam.

Di halaman rumah sudah tersiap alat bakar dan beberapa bahan di atas meja panjang, kursi-kursi dipenuhi dengan muda-mudi yang sibuk dengan ponsel, sepertinya sibuk main game hingga mereka menyapa Jordy hanya dengan dongakan kepala.

“Ini rumah siapa, Jor? Kok mau sih rumahnya di kotorin orang? Gak ngamuk orangtuanya?” Jordy terkekeh mendengar bisikan Kano di telinganya, laki-laki itu balas berbisik, “Ini rumah kosong punya salah satu anak Sapta yang sengaja kita sewa, nanti selesai ini kita beresin kok, yang.” Kano menganggukkan kepala paham.

Semakin masuk ke dalam, keduanya makin melihat banyak remaja sebayanya, banyak yang menghentikan mereka untuk sekadar berbincang dan berkenalan. Kano sangat sadar dengan pasang-pasang mata yang menilainya. Bukannya takut Kano malah semakin membuang muka.

“Itu si Hema,” cowok sedikit gembil itu duduk di sofa tengah bersama perempuan yang Kano tahu jelas adalah gebetannya; Emauela, mereka akhirnya mendekat. Ela sedikit terkejut dengan kemunculan Kano yang tiba-tiba. Kano sempat melambai kecil saat netra mereka bertemu.

“Weh tumben lu mau ikut?” celetuk Hema yang ditujukkan pada Kano, “mau aja.”

Hema mengalihkan pandangannya ke Ela, “gue tinggal ke depan bentar ya? Lu disini aja sama Kano nanti gue balik kesini bawain ikan bakar, kaga ada Hokben.” Emauela hanya berdeham. Kemudian Jordy ikutan pamit untuk ke depan setelah Kano mendudukkan diri di samping Ela.

“Gue nggak expect lo bakal ikutan, but it's nice to see you again,” Kano tersenyum, “it's unplanned, tiba-tiba Jordy ajakin gue, sebenernya agak gimana gitu sih.”

Ela paham maksud, tak semua orang mudah bergaul dan beradaptasi di lingkungan orang lain. Saptamania bisa dibilang circumstance yang bercampur satu, baik dan buruk. Setiap individunya beragam dan harus pintar-pintar sendiri memilih teman untuk dijadikan karib.

“Lo emang ikutan apa diajakin cowok lo, La?” Emauela menaikan satu alis, cowok? siapa? “Hema sih ajakin gue, dia janji kalo gue mau ikut besok kita makan di Hokben dia yang traktir, dan dia bukan pacar gue.”

I see,” Kano tertawa kecil.

“Dan kita kayaknya gak bakal pacaran karena dia masih sering jalan sama temen ceweknya dan gue juga gitu,” terang Emauela.

‘Been there,’ batin Kano.

So, what kind of relationship are you in?

Relationshit.


Saat Kano keluar dari rumah untuk mencari keberadaan Jordy, laki-laki itu berjongkok tengah berusaha menyalakan api pada arang. Kano sudah bosan di dalam, meski ia tidak hanya berbincang dengan Ela, melainkan beberap perempuan lain yang katanya juga ingin berteman dengannya.

Kano membawa satu slice pizza untuk Jordy makan, tiba-tiba ikut berjongkok dan menyodorkan makanyan cepat saji itu di depan bibir Jordy. Si pacar mengulum bibirnya sendiri kesenangan dengan aksi Kano, Jordy bergegas melahap pizza yang disuapkan dengan gigitan besar, “kamu udah makan di dalem?”

“Udah, di dalem ada burger.”

Kano kembali memperhatikan sekitar yang ramai sembari terus menyuapi pizza Jordy, matanya tak sengaja melirik ke dalam gang kecil yang remang, sepertinya sengaja dibuat gudang. Ia semakin menyipitkan mata saat melihat siluet dua orang yang berdiri, detik berikutnya Kano terpaku, ia buru menarik diri dan menggelengkan kepala agar apa yang dia lihat barusan tak melekat kuat di pikirannya.

“Apa?” tanya Jordy memperhatikan gelagat aneh pacarnya. Tak peduli Kano menggeleng saat ditanya, Jordy bangkit dan mengecek sendiri, sedikit menyelidik beberapa lama sebelum akhirnya kembali berjongkok di hadapan arangnya, “Sabil bangsat malah ciuman di gang.”

“Ssst... nanti temen lo yang lain denger.”

“Udah biasa kayak gitu doang,” dalihnya.

“Maksudnya?” Jordy menoleh sekilas, “di dalam gak begitu emang?” Kano menggeleng.

“Lo duduk doang di dalam mana ngerti.”

“Gamau ngerti juga,” cicit Kano pelan.

“Kalo ciumannya, mau gak?” Kano membeku karena pertanyaan Jordy yang terucap tanpa permisi. Kalo harus bercerita, mereka sudah pernah berciuman. Kali pertama kecelakaan, benar-benar tidak sengaja karena Kano tiba-tiba menoleh saat muka Jordy hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya. Kali kedua saat di dalam mobil, selepas Kano mengunjungi rumah Jordy, hanya menempel, tidak lebih. Mungkin kali ketiga bisa lebih intens namun Kano bergidik saat membayangkannya, tidak.

“Kalo kepala lo gue geplak gue ga sengaja,” Jordy tertawa kencang mendengar respons pacar tsunderenya. Laki-laki itu mengajak Kano bangkit karena pekerjaannya sudah selesai, tugas awak lain membakar ayam dan jagung yang sudah disiapkan.

Jordy dan Kano berjalan ke luar dari pagar dimana bangku panjang yang sepi terletak menganggur. Mereka duduk hening berdua, jarum jam sudah menunjuk ke arah angka sebelas. Lahan kosong yang nantinya akan ramai-ramai digunakan untuk menyalakan petasan masih kosong, kebanyakan orang memilih berdiam di dalam karena nyamuk yang ganas berkeliaran bebas malam ini.

Jordy melepas jaket denim yang dikenakan lalu menyampirkannya di bahu Kano yang meninggalkan jaket beserta topinya di sofa. Tautan jemari Jordy terasa lebih kuat, Kano knows Jordy really loves hands holding.

Perempuan itu sedikit terperanjat saat Jordy tiba-tiba mencium punggung tangannya, dia sempat bilang, “Kano thank you for staying with me throughout this year, thank you for not giving up on yourself, thank you for doin big things for youself.

Kano terpaku pada mata Jordy.

Ketika orang lain berterimakasih atas aksi yang dilakukan untuk mereka, Jordy satu-satunya orang yang berterimakasih padanya atas hal yang sudah seharusnya dia lakukan untuk kebaikan dirinya sendiri. Jordy yang tanpa diminta selalu memberikan jaket dan apapun yang dia miliki agar Kano selalu merasa nyaman disekitarnya membuat hati Kano mendadak penuh hingga ia sulit bereaksi.

Kano tak pernah bertemu orang sesempurna Jordy; baik, murah akan senyum, sangat seru dengan berbagai lawakannya, tau bagaimana menempatkan diri, berbicara menyesuaikan lawannya, cerdas, dan berjiwa pemimpin. Paragraf ini akan penuh jika Kano terus melanjutkan pujiannya tentang Jordy.

She never had this kind of love before. Ia tak pernah dikecup keningnya begitu tulus oleh orang lain selain Papa, Ia tak pernah digandeng begitu erat dan hangat oleh orang lain selain Papa. Kano tidak pernah ditatap dan dikagumi sedalam yang Jordy lakukan untuknya.

“Jordy, I should be the one thanking you for all the things you've done for yourself and me, yang bahkan gak bisa sebut satu-satu apa aja itu.”

Kano berujar penuh debar, “youre the best thing for me, the best thing.”

Kano feels like she could live like this for years.

Jordy tidak memberi respons lain dari kedua tangan yang dilebarkan, memberi Kanonya pelukan terhangat di penghujung tahun dan kecupan tulus di puncak kepala.

Sayangnya, pelukan itu harus berakhir saat muda-mudi lain mulai keluar dari rumah lantara jarum jam yang kiat mendekat pada pusat waktu. Hildan dan Eric berbondong membawa petasan yang mereka beli seperti orang kalap, begitu banyak.

Yang lainnya sibuk menyiapkan kamera dan snapgram. Javas berkeliling memotret setiap temannya, termasuk Jordy yang masih duduk dengan tangan melingkar di pinggang Kano.

Pukul 00.00.

Bukan hanya petasan yang meledak, tapi sorakan dari massa juga pecah. Kano ikut larut dalam kesenangan fana ini. Semua orang menyorotkan kameranya pada ledakan bahan B3 yang menciptakan warna warni menganggumkan mata.

Jordy hanya diam menatap fokus ke arah langit, membuat Kano penasaran apa yang laki-lakinya pikirkan karena tatapan itu berbeda dari tatapan kagum, lebih seperti tatap penuh harap.

What do you wish from the sky?” tanya Kano gamblang.

Jordy membuang napas sebelum menjawab, “I'm asking for your happiness, gue mau lo ketawa lebih banyak dari tahun ini.”

Kano nggak bisa lebih tersentuh dari ini.

dia sungguh kehilangan kata atas perlakuan Jordy. Kano sendiri bahkan tak meminta apa-apa baik untuk dirinya atau orang lain.

“Jordy I don't wanna be happier than this, you know this goddamn life always takes as much as it gives, and I cant stand it.


Kano masuk ke dalam, ia ingin mengambil jaket, topi dan tasnya. Mama sudah berisik memintanya untuk pulang, mau tak mau ia harus segera bergegas. Perempuan itu berjalan masuk di ikutin Jordy. Sempat mampir ke belakang untuk mencuci tangan dengan air bersih.

Tidak Kano sangka meski rumah ini terlihat tak terawat kamar mandinya cukup bersih.

“Udah?” kepala Jordy menyembul dari sela pintu belakang yang terbuka lebar. Kano mengangguk, Kano masih mengambil waktu untuk merapikan lagi pakaiannya di depan cermin.

Jordy hanya diam melihati pacarnya dari belakang setelah ikut masuk.

“Cantik.” Suara hatinya lolos pelan tanpa terdengar Kano.

Setengah menit kemudian Jordy mematung sesaat ketika Kano hendak beranjak namun berinisiatif untuk memberi Jordy kecupan kecil di pipi kanan sebagai hadiah, “thank you udah ajak gue kesini.”

Tangannya otomatis meraih pergelangan tangan Kano saat pelaku itu akan kabur.

“Yang disini boleh dapat juga gak?” Jordy menunjuk bibirnya sendiri. Membuat Kano rasanya ingin menghilang dalam sekejap.

“Kalo gak boleh gak apa,” Kano menatap bingung sebelum akhirnya menyeletuk, “kalo yang disitu gue nggak tau caranya...”

Setan dalam diri Jordy tersenyum puas, “sini, gue tau caranya.”

Jordy nggak butuh jawaban, tangannya dengan mandiri menarik tubuh Kano untuk mendekat. Matanya menatap lekat ke arah netra Kano kemudian perlahan turun ke bibir tipis berwarna pink alami. Fantasi Jordy mulai menebak-nebak akan terasa seperti apa birai tipis itu, apa Kano menggunakan liptint plain biasa yang terasa seperti lilin atau justru berperisa buah?

Untuk mencari jawaban dari pertanyaannya sendiri, Jordy mulai menghapus jarak bibir miliknya dengan Kano. Pada detik pertama hanya menekan belah bibir satu sama lain sebelum akhirnya melumat perlahan.

Jordy mencecap rasa cherry itu tanpa tergesa namun kuat. Kano hanya sesekali melenguh karena Jordy melakukan semua sendiri dengan amat baik untuk pengalaman pertamanya.

“Uft... Jor,” Kano mendorong dada Jordy, merasa cukup. Jordy mengabulkan dengan mengakhiri ciumannya dengen kecupan kecil di ranum tipis adiktif itu.

“Yuk pulang.”

Senyum Jordy sama sekali enggan luntur bahkan sampai kepulangan mereka.

Shit happens


tw // sexual harassment

Satu-satunya hal yang Kano rasakan saat di dalam mobil BMW 7 milik pria paruh baya bernama Galih itu hanyalah ketidaknyaman. Entah karena perasaan tidak sukanya dengan orang itu yang kelewat membuncah atau tatapan Galih yang seperti pencuri.

Mulai dari Kano memasuki mobil dan duduk di seat sebelah pengemudi hingga saat ini, Kano rasa mata teman Mamanya itu nggak berhenti memperhatikannya. Kano hanya bisa berdecak sebal, bahkan beberapa kali diam dan nggak jawab ketika di lontari pertanyaan.

Yang melintas dipikiran Kano hanyalah ingin pergi dari mobil itu, Kano sama sekali nggak ingin berada di antara urusan Mamanya dan orang lain, apalagi seperti makan bersama di kediaman orang asing? Kano memeras otak, mencari alasan yang sekiranya tepat untuk digunakan pamit pulang ketika sudah sampai disana.

“Om dari dulu kepingin punya anak cewek tapi malah dapat laki-laki semua,” kelakar Galih, lagi-lagi Kano tanggapi dengan diam.

Hening sejenak, sebelum Galih kembali melontarkan pertanyaan, membuat Kano terlonjak kaget. Bukan karena pertanyaannya melainkan gestur yang lakukan. Galih hanya melayangkan pertanyaan sesederhana;

“Kamu diam aja, kenapa?”

Namun telapak tangan kirinya lancang, mendarat di lutut Kano tanpa izin. Cewek itu refleks memekik keras, pasalnya siapa yang suka disentuh tanpa consent. Beberapa detik setelah kejadian itu, mobil seketika sunyi, yang terdengar hanya mesin mobil yang amat halus.

Kano sendiri masih terdiam dengan sedikit gemetar, kepalanya memproses apa yang baru saja terjadi, hingga mobil itu terhenti karena lampu merah.

“Saya mau turun disini.”

Galih spontan menoleh, merasa khawatir dengan Kano tapi perempuan dibalut seragam sekolah itu bersikeras turun dari mobil dengan mengulang kalimatnya tiga kali. Galih terpaksa membuka smartlock mobil dan membiarkan Kano pergi begitu saja.

Setelah keluar dari mobil Kano buru-buru menyebrang ke trotoar, berlari kecil secepat mungkin. Tampilannya agak kacau dengan raut bingung dan mata berair. Trotoar yang dia telusuri sebenarnya mengarah kembali ke sekolah, membuatnya bimbang harus terus jalan atau berbalik arah. Satu hal yang pasti, Kano nggak ingin melihat mobil itu lagi, Kano nggak ingin orang itu berubah pikiran dan menyusulnya lagi.

Kano memilih terus berjalan, kepalanya berisik menerka apa yang akan Galih ceritakan pada Mamanya. Kano menerka kalimat macam apa yang akan dia dengar dari Mamanya nanti.

Setelah berjalan beberapa meter dan hampir dekat dengan sekolah, perempuan itu duduk di bangku besi di samping tangga jembatan layang, menangis. Nggak cukup keras untuk membuat orang lain tau, bahkan suranya nggak terdengar.

“Vel?”

Suara yang nggak asing itu terdengar, Kano mendongak, melihat Baim yang tiba-tiba muncul, menepikan motor Vario-nya di bibir trotoar lalu menghampirinya.

“Hei pel, lo nangis? Heh jangan ngacir,” Baim menarik tangan Kano, cewek itu beranjak begitu mendapati Baim memergokinya menangis.

“JANGAN P-pegang gue Baim.”

Baim spontan menarik tangan, “iya maap ya allah galak banget.” Menghela napas, baim melanjutkan, “pulang sama siapa? Kok disini? Lu gak abis di jahatin orang kan?”

“Vel, ayo dah gua anter pulang.” Tegas Baim.

Kaela Nouvel membalikkan badan, melihat mata Baim yang menatapnya tulus, “gue gamau pulang ke rumah.”

“Waduh kemana dong, mau ke rumah gua aja ketemu Bunda?”

Kano nggak tau harus senang atau sedih Baim memergokinya.


Pukul tiga sore kurang sepuluh menit. Jordy Noah akhirnya lepas dari ruang guru setelah ditahan beberapa menit memperbincangkan masalah tugas Fisika mendatang dengan Bu Farida, guru mapel terkait yang memberinya tanggung jawab perihal pengumpulan tugas.

Jordy buru-buru melesat, melewati koridor sekolah cepat dengan kaki jenjangnya. Sama sekali nggak lucu jika pemimpin rapat yang menekan larangan terlambat malah menjadi sosok pelaku. Baru setengah jalan, langkah Jordy terpaksa terhenti karena seruan yang mengudara dari belakang.

Liana Cantika, cewek yang menjabat sebagai sekretaris Saptamania itu memanggil Jordy dari radius lebih dari lima meter, lalu berlari kecil untuk menghampiri Jordy yang masih berdiri di tempat sampai Lia menyusul. “Gue kira lo udah di basecamp.”

Jordy menggeleng, “gue abis dari ruang guru dulu tadi setor tugas,” jawabnya sederhana kemudian lanjut melangkahkan kaki sedikit lebih cepat diikuti Lia. “Oiyah, Jor, kemarin gue udah ngobrol sama Kak Freta, walau ga dikasih tau semuanya kayaknya poin-poin yang gue rangkum dari penjelasan tentang DBL taun lalu helpful enough for us buat antipasi masalah deh, coba lo check dulu.”

Tanpa menghentikan langkah, laki-laki itu menyempatkan diri meraih iPad milik Lia, matanya langsung terfokus pada deretan kalimat yang nggak lain merupakan rekapan kelalaian Koor Saptamania sebelumnya yang sebagian besar sudah Jordy ketahui. Lagipula meski kesalahan alumni nggak terulang pada DBL kali ini, para alumni akan selalu punya seribu cara mencari celah dan koreksi pada angkatannya atau lebih tepatnya laskar yang dia pimpin.

Jordy Noah nggak masalah dengan hal itu, memang begini cara Koor berjalan dan laki-laki itu siap menikmati permainan alumni.

“Yang lain udah lihat?” tanya Jordy seraya menyerahkan kembali benda itu pada Lia. Perempuan itu hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Jordy. “Bagus. Nanti lo kasih lihat ke 4 pilar.”

Begitu sampai di basecamp Sapta, Jordy sudah disambut kerusuhan para awaknya. Termasuk Hema dan team backing vocal dadakan menyanyikan Bohemian Rhapsody dari Queen. Band bergenre Rock asal Inggris itu sampai punya space sendiri di dinding basecamp untuk posternya mengingat banyak laki-laki dari Koor Saptamania juga menggemari beberapa lagunya.

Hema merangkul pundak Jordy yang baru memasuki pintu dengan satu tangan, tangan yang lain dia gunakan untuk memegangi botol tupperware sebagai pengganti mic.

~Mama...” Pancing Hema.

“~OOOOOOH,” sahut backing vocal Hema.

~I don't want to die,” Jordy menjauhkan kepalanya dari Hema saat temen gembilnya itu bernyanyi keras, memekakkan telinga. “~I sometimes wish I'd never been born at aaaaaall.

“Anjing kuping gue,” geram Jordy, laki-laki itu mendorong tubuh Hema hingga limbung lalu acuh tak acuh lanjut berjalan menghampiri Javas yang tengah membantu Rendy screen mirroring iPadnya pada TV basecamp.

“Udah siap?” tanya Jordy. Baik Rendy juga Javas memberi jawaban berupa anggukan. Arloji berat yang melingkar dipergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul tiga sore tepat. Jordy menyapukan pandangan lagi ke sekelilingnya, mulai penuh dengan kehadiran anggota pada tempatnya masing-masing.

Ruangan berukuran seperempat aula sekolah itu nggak mereka dapat cuma-cuma, penuh kontra antara organisasi ini sendiri dengan pihak sekolah mulanya. Berkat tekad alumni yang kerap kali pulang membawa prestasi atas nama SMA Sapta berujung pengesahan dan datanglah semua fasilitas ini sebagai bentuk dukungan dari sekolah.

Jordy memberikan tanda kepada beberapa temannya yang merupakan 4 pilar untuk berhenti berkelakar dan memulai rapatnya. Hema, Ogik, juga Eric mendekat, ikut berdiri di samping Jordy yang sudah tegap di depan audiens, awak Sapta yang duduk lesehan dan bergerombol menjadi satu.

“Gue mulai ya?” tanya Jordy memancing.

Kebanyakaan dari mereka menyeru setuju, Jordy berdeham pelan guna membersihkan tenggorakannya sebelum lanjut membuka rapat.

“Selamat sore, semuanya,” Jordy memberi jeda pada kalimatnya. “Kumpul kali ini sama aja kaya biasanya, gak perlu tegang. Cuman yang mau kita bahas konteksnya serius, jadi gue minta tolong perhatian dari kalian.”

“Sebelumnya gue tanya, apa tiap bagan udah full team sesuai komando dari gue?” Jordy bertanya santai dengan intonasi yang biasa, meski begitu cukup membuat atmosfer di basecamp berubah, apalagi bagi para adik kelas yang baru bergabung. Padahal untuk ukuran ketua Koor supporter, Jordy sering dianggap terlalu santai dibanding mantan ketua koor sebelumnya yang bisa dibilang cukup bengis memimpin Saptamania. Jordy pribadi lebih memilih berkepala dingin dan mengatasi segala hal dengen seimbang.

Felix mengacungkan tangan, menyampaikan suara setelah Jordy mengangkat dagu, “Jor, anak korlap ada absen dua, yang Rafif izin nyokapnya sakit, satunya ngacir gatau dah kemane udah gue reach out juga.”

Hema berdecak keras mendengar kalimat terakhir Felix.

“Satunya siapa?”

“Calvin anak kelas sebelas.”

Jordy menoleh ke arah Lia di sudut ruangan, memastikan salah satu pengurus Koor itu melakukan tugasnya. Sebagai sekretaris Lia bertugas mencatat absensi dan poin penting rapat dimulai hingga usai. Selesai dengan Felix, bagan lain silih berganti memberikan laporan mengenai kelengkapan anggotanya. Ketua bagan cenderung berusaha menutupi aib dan kelalaian dari anggota, selain karena enggak menerima konsekuensi juga demi mempertahankan citra dan tanggung jawab yang di bebankan.

“Oke kita masuk sekarang.” Jordy meraih iPad Rendy, membuka satu file yang sudah ada di device itu, “senin kemarin jadwal DBL 2021 udah turun.”

Seluruh perhatian langsung tertuju pada layar TV. Beberapa pasang mata menelisik mencari nama Sapta sekaligus tanggal main mereka. Detik berikutnya yang terdengar ialah sorak gembira dari para awak Sapta, bagaimana tidak, setelah sekian lama SMA Sapta kembali menjadi tamu Opening DBL. Pengurus inti ikut tersernyum senang meski dalam hati sedikit meringis.

Semakin besar kesempatan yang Saptamania dapat, maka semakin besar pula tuntutan dan harapan yang alumni tekankan. Begitu kabar baik ini terdengar ke telinga alumni, sudah pasti 4 pilar harus menghadap ke mereka, memberikan informasi persiapan koor menyambut DBL. Bukan rahasia umum jika Alumni Saptamania terkenal masih suka over control dan memberi tuntutan yang bukan main kerasnya pada angkatan yang menjabat.

“Cok, beneran ini dapet opening?” Jordy tertawa melihat raut wajah Sabil yang sulit didefinisikan, entah senang karena merasa tertantang berapa banyak tiket yang harus dia jual habis atau sedih mengingat berapa bogem yang dia dan tim akan terima.

puluhan menit berlalu, Hema dan Jordy sempat membahas chant dan gerakan baru, namun keduanya menunda latian untuk pekan ini dan memprioritaskan pembahasan merchandise yang harus tuntas hari ini juga. Rendy berkesempatan menunjukkan hasil kerja kerasnya bersama tim mendesign sendiri seluruh merch angkatan mereka, menuai tepuk tangan bangga karena kreasi mereka yang bertemu dengan ekspektasi awak Sapta. Bahkan 4 pillar Sapta mengakui bahwa bagan kreatif yang diketuai Rendy adalah harta karun bagi laskar mereka, Saptamnia berani bertaruh untuk 3D san mozaik terbaik di tribun DBL akan mereka raih.

“Gue suka kaos ama flagnya, beneran kelihatan kalo kita emang rebranding, Saptamania is the revolution.” Begitu komentar Hildan.

Setelah lembar demi lembar berisi design merch itu Rendy perlihatkan, Eric langsung menembak bagan perkap terkait tanggung jawab mereka. “Gimana nih anak perkap kok gak ada suaranya? Udah nemu vendor yang bener kagak?”

“Wah nih waketukor nantangin ini gua lihat ya?” sahut Saddam. “Gua udah nyari sih sama anak-anak. Ada tiga, yang satu gua beneran ragu tapi murah, satunya lagi kata gua oke buat produksi merch keyring lanyard dsb tapi kalo buat totebag sama bajunya gua rekomen yang atu lagi, agak mahal sih tapi sablonannya beneran mantul.”

“DTG apa DTF metodenya?” celetuk Jordy.

“Ada semua mereka, tergantung bahan kaos kita apaan?”

Mengangguk, “yaudah berarti ini tinggal kita produksi dulu printilan kecilnya, coba entar ke vendor sama gue dah mau lihat gue.”

Javas mengangkat tangan, “udah nih? Bisa gue upload nanti berarti?” interupsi Javas. “Entar gue sama anak dokpub mau cetak posternya sekalian, kita tempel design all merch di mading ama kelas-kelas. Minta tolong dah kesadarann diri Koor masing-masing kelas buat partisipasinya, rayu temen lo semua biar pada beli.”

“Iye mas Japas santai aje dah.”

“Eh revealing product anggep aja dimulai besok terus POnya dimulai kapan?” tanya si Ogik.

“PO dibuka senin aja, tapi mulai besok sampe minggu promosiin dulu. Buat sistemnya gue saran pakai gform biar lebih organized. Jadi semua bakal ada buktinya gitu based on data, taun kemarin manual malah banyak keliru komplain sana sini salah size,” saran Keiko, salah satu partner Javas itu ditanggapi dengan baik.

Kembali hening saat Karin yang dari tadi diam mengangkat tangan, seluruh fokus tertuju pada perempuan cantik yang duduk memangku laptop yang nggak lain pasti sedang membuka excel pemasukan Sapta.

Sorry gue izin intrupsi, semua udah tau sekali match kita nggak ngeluarin cuma sejuta-dua juta, apalagi kita tamu opening pasti kita bakal kasih yang terbaik dan abis-abisan nggak di energi aja tapi juga dana. Gue cuma mau ingetin pengusul ide dan semua yang pro sama ide buat bikin aneka merch baru yang mana belum pernah dilakuin sama alumni ini, kalian tau kan kalo tanggung jawab dan risiko bakal dibebankan ke kalian? Jujur sebagai bendahara gue mikir kalo semua yang kalian usahain ini nggak setimpal alias cuma balik modal itu namanya buang buang tenaga dan pikiran. So good luck, do your best, make sure stock merch baru itu bisa abis, barangkali tim basket lolos babak pertama kita harus ada persiapan Dies Natalis Saptamania yang ngeluarin dana nggak sedikit.”

Kalimat panjang lebar Karin yang disertai sarkasme itu seperti tamparan, bukan hanya untuk bagan kreatif, dokpub, dan pengurus inti melainkan semua yang ada disana dan mendengarkan argumen tersebut. Tentu para pengusul ide yang dimaksud Karin memiliki alasan dan keberanian besar untuk ambil risiko atas idenya. Jordy sendiri dibuat bimbang, di satu sisi ide teman-temannya merupakan gagasan cemerlang seperti dobrakan dari laskar mereka sedangkan argumen Karin sangat valid dan realistis.

Jordy tau benar menjadi bendara Saptamania bukan tanggung jawab kecil dan Karinda adalah salah satu teman yang tepat dengan jabatan itu, penuh perhitungan di setiap tindakannya. Jika permasalahannya ada pada dana, Jordy pikir, rekan sekaligus pengusul ide cukup mampu untuk menutup masalah itu, setiap generasi harus melahirkan kreasi baru serta aksi nyatanya, bukan hanya terus mengikuti tradisi dan aturan kuno alumni.

Kembali ke realita rapat, Rendy dan anak lainnya berdebat dengan Karin, menekankan perempuan itu bahwa mereka bisa dan Karin harusnya percaya sebagai sesama awal Sapta.

“Gue yakin kita bisa, terlepas dari berhasil atau enggak bakal gue dan temen temen tanggung risikonya.” Putus Jordy. Si ketua memutuskan untuk memberi dukungan pada ide temannya, enggan mematikan kreatifitas pengusul ide, meskipun nantinya harus berurusan dengan para alumni dan hal-hal nggak terduga lainnya bila aksi kali ini nggak berjalan sesuai rencana.


Pukul tiga sore kurang sepuluh menit. Jordy Noah akhirnya lepas dari ruang guru setelah ditahan beberapa menit memperbincangkan masalah tugas Fisika mendatang dengan Bu Farida, guru mapel terkait yang memberinya tanggung jawab perihal pengumpulan tugas.

Jordy buru-buru melesat, melewati koridor sekolah cepat dengan kaki jenjangnya. Sama sekali nggak lucu jika pemimpin rapat yang menekan larangan terlambat malah menjadi sosok pelaku. Baru setengah jalan, langkah Jordy terpaksa terhenti karena seruan yang mengudara dari belakang.

Liana Cantika, cewek yang menjabat sebagai sekretaris Saptamania itu memanggil Jordy dari radius lebih dari lima meter, lalu berlari kecil untuk menghampiri Jordy yang masih berdiri di tempat sampai Lia menyusul. “Gue kira lo udah di basecamp.”

Jordy menggeleng, “gue abis dari ruang guru dulu tadi setor tugas,” jawabnya sederhana kemudian lanjut melangkahkan kaki sedikit lebih cepat diikuti Lia. “Oiyah, Jor, kemarin gue udah ngobrol sama Kak Freta, walau ga dikasih tau semuanya kayaknya poin-poin yang gue rangkum dari penjelasan tentang DBL taun lalu helpful enough for us buat antipasi masalah deh, coba lo check dulu.”

Tanpa menghentikan langkah, laki-laki itu menyempatkan diri meraih iPad milik Lia, matanya langsung terfokus pada deretan kalimat yang nggak lain merupakan rekapan kelalaian Koor Saptamania sebelumnya yang sebagian besar sudah Jordy ketahui. Lagipula meski kesalahan alumni nggak terulang pada DBL kali ini, para alumni akan selalu punya seribu cara mencari celah dan koreksi pada angkatannya atau lebih tepatnya laskar yang dia pimpin.

Jordy Noah nggak masalah dengan hal itu, memang begini cara Koor berjalan dan laki-laki itu siap menikmati permainan alumni.

“Yang lain udah lihat?” tanya Jordy seraya menyerahkan kembali benda itu pada Lia. Perempuan itu hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Jordy. “Bagus. Nanti lo kasih lihat ke 4 pilar.”

Begitu sampai di basecamp Sapta, Jordy sudah disambut kerusuhan para awaknya. Termasuk Hema dan team backing vocal dadakan menyanyikan Bohemian Rhapsody dari Queen. Band bergenre Rock asal Inggris itu sampai punya space sendiri di dinding basecamp untuk posternya mengingat banyak laki-laki dari Koor Saptamania juga menggemari beberapa lagunya.

Hema merangkul pundak Jordy yang baru memasuki pintu dengan satu tangan, tangan yang lain dia gunakan untuk memegangi botol tupperware sebagai pengganti mic.

~Mama...” Pancing Hema.

“~OOOOOOH,” sahut backing vocal Hema.

~I don't want to die,” Jordy menjauhkan kepalanya dari Hema saat temen gembilnya itu bernyanyi keras, memekakkan telinga. “~I sometimes wish I'd never been born at aaaaaall.

“Anjing kuping gue,” geram Jordy, laki-laki itu mendorong tubuh Hema hingga limbung lalu acuh tak acuh lanjut berjalan menghampiri Javas yang tengah membantu Rendy screen mirroring iPadnya pada TV basecamp.

“Udah siap?” tanya Jordy. Baik Rendy juga Javas memberi jawaban berupa anggukan. Arloji berat yang melingkar dipergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul tiga sore tepat. Jordy menyapukan pandangan lagi ke sekelilingnya, mulai penuh dengan kehadiran anggota pada tempatnya masing-masing.

Ruangan berukuran seperempat aula sekolah itu nggak mereka dapat cuma-cuma, penuh kontra antara organisasi ini sendiri dengan pihak sekolah mulanya. Berkat tekad alumni yang kerap kali pulang membawa prestasi atas nama SMA Sapta berujung pengesahan dan datanglah semua fasilitas ini sebagai bentuk dukungan dari sekolah.

Jordy memberikan tanda kepada beberapa temannya yang merupakan 4 pilar untuk berhenti berkelakar dan memulai rapatnya. Hema, Ogik, juga Eric mendekat, ikut berdiri di samping Jordy yang sudah tegap di depan audiens, awak Sapta yang duduk lesehan dan bergerombol menjadi satu.

“Gue mulai ya?” tanya Jordy memancing.

Kebanyakaan dari mereka menyeru setuju, Jordy berdeham pelan guna membersihkan tenggorakannya sebelum lanjut membuka rapat.

“Selamat sore, semuanya,” Jordy memberi jeda pada kalimatnya. “Kumpul kali ini sama aja kaya biasanya, gak perlu tegang. Cuman yang mau kita bahas konteksnya serius, jadi gue minta tolong perhatian dari kalian.”

“Sebelumnya gue tanya, apa tiap bagan udah full team sesuai komando dari gue?” Jordy bertanya santai dengan intonasi yang biasa, meski begitu cukup membuat atmosfer di basecamp berubah, apalagi bagi para adik kelas yang baru bergabung. Padahal untuk ukuran ketua Koor supporter, Jordy sering dianggap terlalu santai dibanding mantan ketua koor sebelumnya yang bisa dibilang cukup bengis memimpin Saptamania. Jordy pribadi lebih memilih berkepala dingin dan mengatasi segala hal dengen seimbang.

Felix mengacungkan tangan, menyampaikan suara setelah Jordy mengangkat dagu, “Jor, anak korlap ada absen dua, yang Rafif izin nyokapnya sakit, satunya ngacir gatau dah kemane udah gue reach out juga.”

Hema berdecak keras mendengar kalimat terakhir Felix.

“Satunya siapa?”

“Calvin anak kelas sebelas.”

Jordy menoleh ke arah Lia di sudut ruangan, memastikan salah satu pengurus Koor itu melakukan tugasnya. Sebagai sekretaris Lia bertugas mencatat absensi dan poin penting rapat dimulai hingga usai. Selesai dengan Felix, bagan lain silih berganti memberikan laporan mengenai kelengkapan anggotanya. Ketua bagan cenderung berusaha menutupi aib dan kelalaian dari anggota, selain karena enggak menerima konsekuensi juga demi mempertahankan citra dan tanggung jawab yang di bebankan.

“Oke kita masuk sekarang.” Jordy meraih iPad Rendy, membuka satu file yang sudah ada di device itu, “senin kemarin jadwal DBL 2021 udah turun.”

Seluruh perhatian langsung tertuju pada layar TV. Beberapa pasang mata menelisik mencari nama Sapta sekaligus tanggal main mereka. Detik berikutnya yang terdengar ialah sorak gembira dari para awak Sapta, bagaimana tidak, setelah sekian lama SMA Sapta kembali menjadi tamu Opening DBL. Pengurus inti ikut tersernyum senang meski dalam hati sedikit meringis.

Semakin besar kesempatan yang Saptamania dapat, maka semakin besar pula tuntutan dan harapan yang alumni tekankan. Begitu kabar baik ini terdengar ke telinga alumni, sudah pasti 4 pilar harus menghadap ke mereka, memberikan informasi persiapan koor menyambut DBL. Bukan rahasia umum jika Alumni Saptamania terkenal masih suka over control dan memberi tuntutan yang bukan main kerasnya pada angkatan yang menjabat.

“Cok, beneran ini dapet opening?” Jordy tertawa melihat raut wajah Sabil yang sulit didefinisikan, entah senang karena merasa tertantang berapa banyak tiket yang harus dia jual habis atau sedih mengingat berapa bogem yang dia dan tim akan terima.

puluhan menit berlalu, Hema dan Jordy sempat membahas chant dan gerakan baru, namun keduanya menunda latian untuk pekan ini dan memprioritaskan pembahasan merchandise yang harus tuntas hari ini juga. Rendy berkesempatan menunjukkan hasil kerja kerasnya bersama tim mendesign sendiri seluruh merch angkatan mereka, menuai tepuk tangan bangga karena kreasi mereka yang bertemu dengan ekspektasi awak Sapta. Bahkan 4 pillar Sapta mengakui bahwa bagan kreatif yang diketuai Rendy adalah harta karun bagi laskar mereka, Saptamnia berani bertaruh untuk 3D san mozaik terbaik di tribun DBL akan mereka raih.

“Gue suka kaos ama flagnya, beneran kelihatan kalo kita rebranding, Saptamania is the revolution.” Begitu komentar Hildan.

Setelah lembar demi lembar berisi design merch itu Rendy perlihatkan, Eric langsung menembak bagan perkap terkait tanggung jawab mereka. “Gimana nih anak perkap kok gak ada suaranya? Udah nemu vendor yang bener kagak?”

“Wah nih waketukor nantangin ini gua lihat ya?” sahut Saddam. “Gua udah nyari sih sama anak-anak. Ada tiga, yang satu gua beneran ragu tapi murah, satunya lagi kata gua oke buat produksi merch keyring lanyard dsb tapi kalo buat totebag sama bajunya gua rekomen yang atu lagi, agak mahal sih tapi sablonannya beneran mantul.”

“DTG apa DTF metodenya?” celetuk Jordy.

“Ada semua mereka, tergantung bahan kaos kita apaan?”

Mengangguk, “yaudah berarti ini tinggal kita produksi dulu printilan kecilnya, coba entar ke vendor sama gue dah mau lihat gue.”

Javas mengangkat tangan, “udah nih? Bisa gue upload nanti berarti?” interupsi Javas. “Entar gue sama anak dokpub mau cetak posternya sekalian, kita tempel design all merch di mading ama kelas-kelas. Minta tolong dah kesadarann diri Koor masing-masing kelas buat partisipasinya, rayu temen lo semua biar pada beli.”

“Iye mas Japas santai aje dah.”

“Eh revealing product anggep aja dimulai besok terus POnya dimulai kapan?” tanya si Ogik.

“PO dibuka senin aja, tapi mulai besok sampe minggu promosiin dulu. Buat sistemnya gue saran pakai gform biar lebih organized. Jadi semua bakal ada buktinya gitu based on data, taun kemarin manual malah banyak keliru komplain sana sini salah size,” saran Keiko, salah satu partner Javas itu ditanggapi dengan baik.

Kembali hening saat Karin yang dari tadi diam mengangkat tangan, seluruh fokus tertuju pada perempuan cantik yang duduk memangku laptop yang nggak lain pasti sedang membuka excel pemasukan Sapta.

Sorry gue izin intrupsi, semua udah tau sekali match kita nggak ngeluarin cuma sejuta-dua juta, apalagi kita tamu opening pasti kita bakal kasih yang terbaik dan abis-abisan nggak di energi aja tapi juga dana. Gue cuma mau ingetin pengusul ide dan semua yang pro sama ide buat bikin aneka merch baru yang mana belum pernah dilakuin sama alumni ini, kalian tau kan kalo tanggung jawab dan risiko bakal dibebankan ke kalian? Jujur sebagai bendahara gue mikir kalo semua yang kalian usahain ini nggak setimpal alias cuma balik modal itu namanya buang buang tenaga dan pikiran. So good luck, do your best, make sure stock merch baru itu bisa abis, barangkali tim basket lolos babak pertama kita harus ada persiapan buat Dies Natalis Saptamania yang ngeluarin dana nggak sedikit.”

Kalimat panjang lebar Karin yang disertai sarkasme itu seperti tamparan, bukan hanya untuk bagan kreatif, dokpub, dan pengurus inti melainkan semua yang ada disana dan mendengarkan argumen tersebut. Tentu para pengusul ide yang dimaksud Karin memiliki alasan dan keberanian besar untuk ambil risiko atas idenya. Jordy sendiri dibuat bimbang, di satu sisi ide teman-temannya merupakan gagasan cemerlang seperti dobrakan dari laskar mereka sedangkan argumen Karin sangat valid dan realistis.

Jordy tau benar menjadi bendara Saptamania bukan tanggung jawab kecil dan Karinda adalah salah satu teman yang tepat dengan jabatan itu, penuh perhitungan di setiap tindakannya. Jika permasalahannya ada pada dana, Jordy pikir, rekan sekaligus pengusul ide cukup mampu untuk menutup masalah itu, setiap generasi harus melahirkan kreasi baru serta aksi nyatanya, bukan hanya terus mengikuti tradisi dan aturan kuno alumni.

Kembali ke realita rapat, Rendy dan beberapa anak lainnya berdebat dengan Karin, menekankan perempuan itu bahwa mereka bisa dan Karin harusnya percaya sebagai sesama awal Sapta.

“Gue yakin kita bisa, terlepas dari berhasil atau enggak bakal gue dan temen temen tanggung risikonya.” Putus Jordy. Si ketua memutuskan untuk memberi dukungan pada ide temannya, enggan mematikan kreatifitas pengusul ide, meskipun nantinya harus berurusan dengan para alumni dan hal-hal nggak terduga lainnya bila aksi kali ini nggak berjalan sesuai rencana.


Pukul tiga sore kurang sepuluh menit. Jordy Noah akhirnya lepas dari ruang guru setelah ditahan beberapa menit memperbincangkan masalah tugas Fisika mendatang dengan Bu Farida, guru mapel terkait yang memberinya tanggung jawab perihal pengumpulan tugas.

Jordy buru-buru melesat, melewati koridor sekolah cepat dengan kaki jenjangnya. Sama sekali nggak lucu jika pemimpin rapat yang menekan larangan terlambat malah menjadi sosok pelaku. Baru setengah jalan, langkah Jordy terpaksa terhenti karena seruan yang mengudara dari belakang.

Liana Cantika, cewek yang menjabat sebagai sekretaris Saptamania itu memanggil Jordy dari radius lebih dari lima meter, lalu berlari kecil untuk menghampiri Jordy yang masih berdiri di tempat sampai Lia menyusul. “Gue kira lo udah di basecamp.”

Jordy menggeleng, “gue abis dari ruang guru dulu tadi setor tuga,” jawabnya sederhana kemudian lanjut melangkahkan kaki sedikit lebih cepat diikuti Lia. “Oiyah, Jor, kemarin gue udah ngobrol sama Kak Freta, walau ga dikasih tau semuanya kayaknya poin-poin yang gue rangkum dari penjelasan tentang DBL taun lalu helpful enough for us buat antipasi masalah deh, coba lo check dulu.”

Tanpa menghentikan langkah, laki-laki itu menyempatkan diri meraih iPad milik Lia, matanya langsung terfokus pada deretan kalimat yang nggak lain merupakan rekapan kelalaian Koor Saptamania sebelumnya yang sebagian besar sudah Jordy ketahui. Lagipula meski kesalahan alumni nggak terulang pada DBL kali ini, para alumni akan selalu punya seribu cara mencari celah dan koreksi pada angkatannya atau lebih tepatnya laskar yang dia pimpin.

Jordy Noah nggak masalah dengan hal itu, memang begini cara Koor berjalan dan laki-laki itu siap menikmati permainan alumni.

“Yang lain udah lihat?” tanya Jordy seraya menyerahkan kembali benda itu pada Lia. Perempuan itu hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Jordy. “Bagus. Nanti lo kasih lihat ke 4 pilar.”

Begitu sampai di basecamp Sapta, Jordy sudah disambut kerusuhan para awaknya. Termasuk Hema dan team backing vocal dadakan menyanyikan Bohemian Rhapsody dari Queen. Band bergenre Rock asal Inggris itu sampai punya space sendiri di dinding basecamp untuk posternya mengingat banyak laki-laki dari Koor Saptamania juga menggemari beberapa lagunya.

Hema merangkul pundak Jordy yang baru memasuki pintu dengan satu tangan, tangan yang lain dia gunakan untuk memegangi botol tupperware sebagai pengganti mic.

~Mama...” Pancing Hema.

“~OOOOOOH,” sahut backing vocal Hema.

~I don't want to die,” Jordy menjauhkan kepalanya dari Hema saat temen gembilnya itu bernyanyi keras, memekakkan telinga. “~I sometimes wish I'd never been born at aaaaaall.

“Anjing kuping gue,” geram Jordy, laki-laki itu mendorong tubuh Hema hingga limbung lalu acuh tak acuh lanjut berjalan menghampiri Javas yang tengah membantu Rendy screen mirroring iPadnya pada TV basecamp.

“Udah siap?” tanya Jordy. Baik Rendy juga Javas memberi jawaban berupa anggukan. Arloji berat yang melingkar dipergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul tiga sore tepat. Jordy menyapukan pandangan lagi ke sekelilingnya, mulai penuh dengan kehadiran anggota pada tempatnya masing-masing.

Ruangan berukuran seperempat aula sekolah itu nggak mereka dapat cuma-cuma, penuh kontra antara organisasi ini sendiri dengan pihak sekolah mulanya. Berkat tekad alumni yang kerap kali pulang membawa prestasi atas nama SMA Sapta berujung pengesahan dan datanglah semua fasilitas ini sebagai bentuk dukungan dari sekolah.

Jordy memberikan tanda kepada beberapa temannya yang merupakan 4 pilar untuk berhenti berkelakar dan memulai rapatnya. Hema, Ogik, juga Eric mendekat, ikut berdiri di samping Jordy yang sudah tegap di depan audiens, awak Sapta yang duduk lesehan dan bergerombol menjadi satu.

“Gue mulai ya?” tanya Jordy memancing.

Kebanyakaan dari mereka menyeru setuju, Jordy berdeham pelan guna membersihkan tenggorakannya sebelum lanjut membuka rapat.

“Selamat sore, semuanya,” Jordy memberi jeda pada kalimatnya. “Kumpul kali ini sama aja kaya biasanya, gak perlu tegang. Cuman yang mau kita bahas konteksnya serius, jadi gue minta tolong perhatian dari kalian.”

“Sebelumnya gue tanya, apa tiap bagan udah full team sesuai komando dari gue?” Jordy bertanya santai dengan intonasi yang biasa, meski begitu cukup membuat atmosfer di basecamp berubah, apalagi bagi para adik kelas yang baru bergabung. Padahal untuk ukuran ketua Koor supporter, Jordy sering dianggap terlalu santai dibanding mantan ketua koor sebelumnya yang bisa dibilang cukup bengis memimpin Saptamania. Jordy pribadi lebih memilih berkepala dingin dan mengatasi segala hal dengen seimbang.

Felix mengacungkan tangan, menyampaikan suara setelah Jordy mengangkat dagu, “Jor, anak korlap ada absen dua, yang Rafif izin nyokapnya sakit, satunya ngacir gatau dah kemane udah gue reach out juga.”

Hema berdecak keras mendengar kalimat terakhir Felix.

“Satunya siapa?”

“Calvin anak kelas sebelas.”

Jordy menoleh ke arah Lia di sudut ruangan, memastikan salah satu pengurus Koor itu melakukan tugasnya. Sebagai sekretaris Lia bertugas mencatat absensi dan poin penting rapat dimulai hingga usai. Selesai dengan Felix, bagan lain silih berganti memberikan laporan mengenai kelengkapan anggotanya. Ketua bagan cenderung berusaha menutupi aib dan kelalaian dari anggota, selain karena enggan ikut menerima konsekuensi juga demi mempertahankan citra dan tanggung jawab yang di bebankan.

“Oke kita masuk sekarang.” Jordy meraih iPad Rendy, membuka satu file yang sudah ada di device itu, “senin kemarin jadwal DBL 2021 udah turun.”

Seluruh perhatian langsung tertuju pada layar TV. Beberapa pasang mata menelisik mencari nama Sapta sekaligus tanggal main mereka. Detik berikutnya yang terdengar ialah sorak gembira dari para awak Sapta, bagaimana tidak, setelah sekian lama SMA Sapta kembali menjadi tamu Opening DBL. Pengurus inti ikut tersernyum senang meski dalam hati sedikit meringis.

Semakin besar kesempatan yang Saptamania dapat, maka semakin besar pula tuntutan dan harapan yang alumni tekankan. Begitu kabar baik ini terdengar ke telinga alumni, sudah pasti 4 pilar harus menghadap ke mereka, memberikan informasi persiapan koor menyambut DBL. Bukan rahasia umum jika Alumni Saptamania terkenal masih suka over control dan memberi tuntutan yang bukan main kerasnya pada angkatan yang menjabat.

“Cok, beneran ini dapet opening?” Jordy tertawa melihat raut wajah Sabil yang sulit didefinisikan, entah senang karena merasa tertantang berapa banyak tiket yang harus dia jual habis atau sedih mengingat berapa bogem yang dia dan tim akan terima.

puluhan menit berlalu, Hema dan Jordy sempat membahas chant dan gerakan baru, namun keduanya menunda latian untuk pekan ini dan memprioritaskan pembahasan merchandise yang harus tuntas hari ini juga. Rendy berkesempatan menunjukkan hasil kerja kerasnya bersama tim mendesign sendiri seluruh merch angkatan mereka, menuai tepuk tangan bangga karena kreasi mereka yang bertemu dengan ekspektasi awak Sapta. Bahkan 4 pillar Sapta mengakui bahwa bagan kreatif yang diketuai Rendy adalah harta karun bagi laskar mereka, Saptamnia berani bertaruh untuk 3D san mozaik terbaik di tribun DBL akan mereka raih.

“Gue suka ini, kaos ama flagnya, beneran kelihatan kalo kita rebranding, Saptamania is the revolution.” Begitu komentar Hildan.

Setelah lembar demi lembar berisi design merch itu Rendy perlihatkan, Eric langsung menembak bagan perkap terkait tanggung jawab mereka. “Gimana nih anak perkap kok gak ada suaranya? Udah nemu vendor yang bener kagak?”

“Wah nih waketukor nantangin ini gua lihat ya?” sahut Saddam. “Gua udah nyari sih sama anak-anak. Ada tiga, yang satu gua beneran ragu tapi murah, satunya lagi kata gua oke buat produksi merch keyring lanyard dsb tapi kalo buat totebag sama bajunya gua rekomen yang atu lagi, agak mahal sih tapi sablonannya beneran mantul.”

“DTG apa DTF metodenya?” celetuk Jordy.

“Ada semua mereka, tergantung bahan kaos kita apaan?”

Mengangguk, “yaudah berarti ini tinggal kita produksi dulu printilan kecilnya, coba entar ke vendor sama gue dah mau lihat gue.”

Javas mengangkat tangan, “udah nih? Bisa gue upload nanti berarti?” interupsi Javas. “Entar gue sama anak dokpub mau cetak posternya sekalian, kita tempel design all merch di mading ama kelas-kelas. Minta tolong dah kesadarann diri Koor masing-masing kelas buat partisipasinya, rayu temen lo semua biar pada beli.”

“Iye mas Japas santai aje dah.”

“Eh revealing product anggep aja dimulai besok terus POnya dimulai kapan?” tanya si Ogik.

“PO dibuka senin aja, tapi mulai besok sampe minggu promosiin dulu. Buat sistemnya gue saran pakai gform biar lebih organized. Jadi semua bakal ada buktinya gitu based on data, taun kemarin manual malah banyak keliru komplain sana sini salah size,” saran Keiko, salah satu partner Javas itu ditanggapi dengan baik.

Kembali hening saat Karin yang dari tadi diam mengangkat tangan, seluruh fokus tertuju pada perempuan cantik yang duduk dengan memangku laptop yang nggak lain pasti sedang membuka excel kas Sapta.

Sorry gue izin intrupsi, semua udah tau sekali match kita nggak ngeluarin cuma sejuta-dua juta, apalagi kita tamu opening pasti kita bakal kasih yang terbaik dan abis-abisan nggak di energi aja tapi juga dana. Gue cuma mau ingetin pengusul ide dan semua yang pro sama ide buat bikin aneka merch baru yang mana belum pernah dilakuin sama alumni ini, kalian tau kan kalo tanggung jawab dan risiko bakal dibebankan ke kalian? Jujur sebagai bendahara gue mikir kalo semua yang kalian usahain ini nggak setimpal alias cuma balik modal itu namanya buang buang tenaga dan pikiran. So good luck, do your best, make sure stock merch baru itu bisa abis, barangkali tim basket lolos babak pertama kita harus ada persiapan buat Dies Natalis Saptamania yang ngeluarin dana nggak sedikit.”

Kalimat panjang lebar Karin yang disertai sarkasme itu seperti tamparan, bukan hanya untuk bagan kreatif, dokpub, dan pengurus inti melainkan semua yang ada disana dan mendengarkan argumen tersebut. Tentu para pengusul ide yang dimaksud Karin memiliki alasan dan keberanian besar untuk ambil risiko atas idenya. Jordy sendiri dibuat bimbang, di satu sisi ide teman-temannya merupakan gagasan cemerlang seperti dobrakan dari laskar mereka sedangkan argumen Karin sangat valid dan realistis.

Jordy tau benar menjadi bendara Saptamania bukan tanggung jawab kecil dan Karinda adalah salah satu teman yang tepat dengan jabatan itu, penuh perhitungan di setiap tindakannya. Jika permasalahannya ada pada dana, Jordy pikir, rekan sekaligus pengusul ide cukup mampu untuk menutup masalah itu, setiap generasi harus melahirkan kreasi baru serta aksi nyatanya, bukan hanya terus mengikuti tradisi dan aturan kuno alumni.

Kembali ke realita rapat, Rendy dan beberapa anak lainnya berdebat dengan Karin, menekankan perempuan itu bahwa mereka bisa dan Karin harusnya percaya sebagai sesama awal Sapta.

“Gue yakin kita bisa, terlepas dari berhasil atau enggak bakal gue dan temen temen tanggung risikonya.” Putus Jordy. Si ketua memutuskan untuk memberi dukungan pada ide temannya, enggan mematikan kreatifitas pengusul ide, meskipun nantinya harus berurusan dengan para alumni dan hal-hal nggak terduga lainnya bila aksi kali ini nggak berjalan sesuai rencana.


Kano menghembuskan nafas, menyandarkan badannya rileks pada seat yang dia duduki. Matanya menatap kosong jalan tengah kota yang sepi, membuat mobil Yerica melaju mulus dengan kecepatan konstan.

Bicara tentang Yerica, perempuan itu adalah teman kecil Kano yang berusia dua tahun lebih tua, anak tunggal pasangan kaya Surabaya yang selalu eksis dengan fashion kelas atasnya.

Jika bukan karena kerjasama sepele yang pernah mama mereka jalin, Kano enggan berteman dengan anak manja yang menghabiskan ratusan juta sekali pergi belanja. Meski begitu Yerica memahami karakter Kano, memperlakukannya dengan baik dan sesuai, nggak berlebihan sebagaimana Yerica biasa memperlakukan temannya yang lain, luxurious.

How do you feel after your parents' divorce?” setelah panjang kali lebar Yerica bercerita, akhirnya satu pertanyaan keluar dari bibir tipis Kano. Perempuan itu meraih botol Chatime yang sempat dia letakkan di cup holder mobil.

Yerica hanya mengedikkan bahu, kacamata hitam yang bertengger di hidungnya semakin memberi kesan tak acuh, “they'd better end up divorced, Vel

Yerica memutar kemudinya ke kanan, “I'm happy for them, daripada ribut mulu di depan gue, saling ngilang terus kalo ketemu berantem mending cerai kan?”

Kano hanya berdeham, walau kedua orang tuanya sudah bercerai hampir tiga tahun lalu, Kano bingung harus menanggapi cerita Yerica. Dia merasa sebaik apapun keputusan bercerai bagi pasangan akan tetap berimbas buruk pada buah hati mereka.

Bukan berarti Kano sepenuhnya kontra terhadap perceraian, perempuan itu sadar bahwa ada kalanya keputusan berpisah memang opsi terbaik untuk hubungan yang sudah rusak.

“Terus lo bakal ikut siapa, kak?”

“Gue kuliah di UC karena Papa nggak mau jauh dari gue, dia mau turutin semua mau gue asal gue tetep disini,” Yerica memberi jeda, UC adalah salah satu Universitas Swasta termewah di Indonesia dan nomor satu di Surabaya. “Tapi keadaan udah berubah, kayaknya gue bakal ikut nyokap deh, karena dia ngedukung gue buat kuliah di luar, lo tau kan dari dulu gue pengen kuliah di London?”

Kano yang sedari tadi memperhatikan Yerica berbicara langsung menganggukkan kepala, “tapi papa lo gimana? Is he okay kalo lo move to London?”

Yerica menoleh, “He's definitely not okay with that but he knows he can't stop me, Vel.”

Kano terdiam, meski dia dan Yerica terjerumus dalam lubang yang serupa, perempuan itu sama sekali nggak terlihat memberati Papanya. Tentu Yerica nggak salah, perempuan itu hanya ingin mendapat jaminan bahwa hidupnya bisa tetap berjalan stabil setelah perceraian kedua orang tuanya, walaupun sedikit materialistis.

Family lo sendiri gimana? Masih sama?”

Mungkin Yerica adalah orang yang paling tepat untuk diajak bicara tentang ini, tapi Kano bingung harus mulai dari mana dia bercerita. Semuanya memang terlihat baik dari luar, namun begitu berantakan di dalam.

I think, my mom has a boyfriend,” ucap Kano setelah menarik napasnya.

Yerica menyembunyikan sedikit keterkejutannya dengan menganggukkan kepala. Perempuan itu juga berpikir bahwa memang normal saat individu memutuskan untuk mencari pasangan, pasalnya setiap manusia memerlukan afeksi, setiap orang memiliki kebutuhannya yang harus terpenuhi secara lahir dan batin. Apalagi Mamanya Kano merupakan seorang janda, jadi harusnya sah-sah saja. Mungkin yang jadi masalah Kano nggak bisa menerima hal itu.

“Lo nggak suka nyokap lo punya pacar?”

Kano menggeleng, “that's not what I mean like, I know my mom deserves to be happy as well but she dates the wrong person.

“Maksudnya?”

“Om itu udah berumah tangga, nyokap gue bilang mereka nggak pacaran but I'm not seven? I know right mana orang pacaran dan enggak. Gue juga nggak suka sama orang itu.”

Oh shit, that's awful.”

Kano kembali menyandarkan tubuh pada seat mobil. “Nyokap gue pelakor.”


Jendra merasa terbengkalai seorang diri di ruang tamu rumah pacarnya. Laki-laki itu memang sengaja datang satu jam setengah lebih awal menghindari molornya waktu karena dia tahu benar Orish yang berdandan kadang nggak tahu durasi.

Tiga puluh menit pertama sempat dia habiskan untuk berbincang dengan Mama Orish perihal acara pertunangan Jeffri minggu lalu, sebelum akhirnya wanita paruh baya itu pamit pergi. Tiga puluh menit berikutnya Jendra gunakan untuk memiringkan smartphone dan bermain game online selama dua ronde, andai saja Sean juga ada di rumah mungkin bisa lebih lama dari itu, sayang si tengil itu sedang ada urusan di luar.

Tersisa setengah jam terakhir, Jendra sudah amat bosan. Laki-laki itu sampai kembali mencicipi aneka ragam kue kering di dalam toples yang menjadi suguhan di atas meja. Namun, Orish masih belum juga turun dari sarangnya di lantai dua. Pacarnya nggak sedang pingsan di kamar mandi kan?

Baru saja Jendra bertekad menghampiri Orish, matanya mendapati perempuan itu menuruni tangga dengan anggun dari ambang pintu ruang tamu.

Tubuh ramping itu dibalut dress navy selutut dengan model brokat pada bagian bahu sampai lengan seperti kebaya modern yang digunakan para perempuan eksis menghadiri kondangan. Belum lagi, heart bun hairstyle yang diberi pernak-pernik keemasan, sisa rambutnya dibiarkan terurai rapi, satu di depan dan satu di belakang.

Orish melalui pintu ruang tamu begitu saja tanpa menengok ke arah Jendra yang masih terpaku, perempuan itu beberapa kali memanggil Mama tanpa mendengar sahutan hingga akhirnya Orish kembali pada pintu ruang tamu.

“Kamu lihat Mamaku nggak? Kok nggak ada ya, Jen?” tanya Orish gelisah.

Yang tanya memilih bangkit dari duduknya sebelum menjawab, “Mama kamu tadi pergi, mau ngurus arisan komplek kalo gak salah. Katanya kalo kita pergi duluan disuruh kunci rumah.”

Wajah Orish berubah kecewa, “Aah mama.”

“Kenapa?” tanya Jendra, kakinya melangkah lagi mendekat ke hadapan Orish, “Kamu udah selesai kan? Sekarang mau jam tujuh.”

Orish spontan melirik jam Junghans di ujung ruangan yang menunjuk pukul enam empat puluh, “Aaah maaf bikin nunggu lama, tapi ini gimana?”

Jendra nggak bisa menangkap maksud Orish, pacarnya itu seperti bingung sendiri, “Apa? Bilang dulu kenapa? Jangan panik.”

“Bajuku... ini—” Jendra menelisik dari ujung rambut sampai kaki telanjang dan sama sekali nggak menemukan cacat apapun. Laki-laki itu kembali menatap Orish lalu menaikkan satu alisnya, “—It looks good on you, babe. Apalagi?”

Zipper belakang macet nggak bisa aku naikin, kalo aku paksa coba nanti bagian ini yang robek.” Jelas Orish sembari mengangkat sedikit kedua lengan, pergerakannya seperti dikunci sleeves brokat yang mana jika dia paksakan pasti berujung merusak pakaian itu sendiri.

Jendra kira ada masalah yang lebih genting ternyata hanya sesepele ritsleting macet. Laki-laki itu mengesampingkan rasa heran, kemudian memutar pelan tubuh Orish di depannya tanpa aba-aba, melihat kancing ritsleting yang sudah naik setengah jalan.

Bibir Orish terkatup rapat, mata besarnya yang jernih dia arahkan ke depan, menatap cermin dinding dengan bingkai warna emas yang sengaja Mamanya letakkan di ruang tamu. Perempuan itu memandang pasrah Jendra yang berdiri tepat di belakangnya, bukannya ingin protes, jujur saja Orish hanya malu. Apalagi kalau bukan karena strapless bra-nya yang pasti terlihat, Orish menelan rasa malunya sendiri, dia pikir Jendra pasti sebenarnya sudah malas karena dibuat menunggu terlalu lama maka dari itu si cantik lebih baik diam.

“Ini ritsleting udah kecil, licin amat lagi!” Orish meringis mendengar komentar Jendra yang dari tadi juga kesulitan menaikkan zipper. “Pelan aja... nanti zipnya malah copot.”

“Iya, bentar,” Jendra sampai memposisikan tubuhnya setengah membungkuk, berusaha mengabaikan sehelai kain berbahan karet dengan warna serupa kulit punggung Orish, Jendra mencari sumber masalah macetnya zipper yang nggak lain karena benang yang menggumpal kecil di gigi-gigi ritsleting. “Ada benang yang nyangkut.”

“B-bisa diambil kan?” Jendra diam tapi bisa Orish rasakan kulit tangan laki-laki itu bersentuhan dengan punggungnya.

“Aku korek aja ya benangnya? Biar cepet, gak bisa diambil nih, ditarik juga gak bisa,” seketika membuat Orish membalikkan badan tapi malah laki-laki itu tahan, “Jendra jangan.”

“Gak bakal kena kulit serius, bajunya juga gak bakal kebakar,” Orish masih menggeleng, matanya menatap memohon ke netra Jendra. “No lepas aja, aku ganti baju.”

“Waduh nanti lama lagi, udah ini aja serius cepet,” Orish akhirnya diam, membiarkan Jendra memantik koreknya hingga terdengar kancing ritsleting turun lalu dinaikkan cepat.

Keduanya bernapas lega, sekali lagi, karena masalah sesepele ritsleting macet.

“Udah kan? Apa ada yang lain?”

Orish dengan wajah merah merona karena menahan malu itu hanya menggeleng lalu bergumam pelan, “maaf ya jadi lama.”

“Gak masalah sayang.”

Alih-alih menyingkir dari belakang Orish, Jendra malah bergeming. Kedua tangannya melingkar di pinggang Orish, mendapat respon elusan lembut membuat Jendra semakin merapatkan pelukan. Sepasang itu menatap refleksi mereka di cermin dinding, memastikan outfit mereka match satu sama lain. “Don't you see?” celetuk Jendra, laki-laki itu menyapukan ujung hidung bangirnya pada bahu Orish, mengecup sekilas sebelum melanjutkan kalimatnya, “we look so perfect together.”


Orish pikir selama perjalanan akan terasa canggung setelah kejadian sebelumnya, ternyata Jendra malah jadi talkative, menceritakan kisah SMA-nya yang bisa dibilang masa kelam sebelum diremas habis dengan dunia perkuliahan. Cowok itu bilang dirinya sudah langganan masuk BK dan babak belur karena anak basis sekolahnya. Orish merasa cowoknya itu seperti karakter utama novel-novel yang dia baca saat duduk di bangku SMA, sok keren.

“Kamu kayak preman mukanya,” komentar Orish, sesekali mencoba usil laki-laki yang mengemudi tenang disampingnya, membuat Jendra mengangkat satu alis tanpa menoleh.

But you like me,” balas Jendra sederhana, laki-laki itu tersenyum remeh, “you fall first

NO NO why did you bring it? it's unrelated with topic we talk about ih males banget sama kamu!”

Andai saja nggak sedang diburu waktu mungkin Jendra akan menepikan mobilnya, menghujani bibir ranum itu kecupan tiap kali si empunya merajuk, “mau di cium manyun-manyun gitu?”

“Nggak,” Jendra meraih tangan kanan Orish yang menganggur diatas pahanya sendiri dengan tangan kirinya, menautkan jemari mereka kemudian mengecupnya lama. “You know I fall harder.

“Jendra nyetir yang bener lihat depan!”

Selalu begitu, penuh gombal murahan dari Jendra yang anehnya selalu bekerja pada Orish. Sesekali keduanya membahas perihal lain, kemudian berdiskusi; saling bertukar pikiran dan pendapat, berakhir membuat Orish bingung dengan cara laki-laki itu menyelesaikan masalah. Ada kalanya Jendra merespon hal-hal dengan kelewat gampang, menyingkirkan hambatan semudah membalik telapak tangan, dan nggak jarang juga amarahnya terpicu dari masalah itu sendiri, atau parahnya benar-benar acuh tak acuh dengan hal yang terjadi.

Belasan menit berlalu, Honda City Crystal Black Pearl itu memasuki area parkir tempat undangan. Bukan gedung tinggi menjulang dimana resepsi pernikahan mewah biasa digelar melainkan rumah modern dengan halaman seluas kebun. Sebelum masuk pekarangan rumah, para tamu undangan disambut dengan flower gate mawar putih dan daun hijau melingkar serta lampu-lampu kecil memberi kesan warm, di kedua sisi berdiri papan bertuliskan nama kedua mempelai.

Keenan & Lily.

Nggak berhenti disitu, saat selesai menulis namanya di buku tamu, keduanya diarahkan salah satu staff wedding organizer yang kebetulan berjaga disana untuk photoboth.

“Besok kita nikah ada beginian juga?” tanya Jendra di sela-sela berpose, tangan kirinya melingkar di pinggang Orish, senyum lebar terbentuk di bibir keduanya, “emang besok kita nikah?”

“Iyalah, harus.” Orish terkekeh.

Setelah menerima hasil jepretan foto itu keduanya berjalan masuk, beringingan dengan tangan tertaut satu sama lain. Menurut Orish meski acara yang mereka hadiri sedikit ramai orang, suasananya tetap terlihat kondusif dan teratur dengan baik. Entah karena didominasi warm light dan musik jazz yang sedang terputar atau memang kinerja tim WO yang patut di acungi jempol.

Meja-meja bundar berukuran besar dimana enam sampai delapan kursi bisa melingkar itu tidak ditata berhimpitan, memberi kesan luas hingga para hadirin dan staff lain dapat berlalu-lalang dengan aman.

What a dream outdoor wedding.

“RIS HARIS! TUH SUMBER MASALAH LU DATENG TUH!”

Atensi Jendra dan Orish terfokus pada asal suara keras itu, disudut kanan dekat kuade indah berwarna putih gading. Sepertinya hampir tiga meja terpenuhi dengan muda-mudi berbalut pakaian berbagai model dalam satu warna. Senyum lebar Jendra terukir lebar begitu kedua matanya mendapati gerombolan masa SMA-nya, laki-laki itu menarik pelan Orish mendekat dengan kerumunan.

“BOS GUE DATENG WOI KURSI MANA KURSI WOI.” Sorak yang terdengar.

“Bener-bener si biang masalah gue lu anak arsi anjing,” Jendra tertawa saat salah satu temannya, Haris si mahasiswa teknik sipil menghampiri lalu berjabat khas tongkrongan mereka. “Ngeluh mulu lo mble.”

Jendra hanya sempat bersalaman dengan teman-teman di mejanya, yang lain hanya dia sapa menggunakan tangan yang dia lambaikan ke atas. Orish sendiri masih mengekor di belakang, menggenggam tangan Jendra dan sesekali tersenyum saat pasang mata meliriknya.

“Sini, bos. Sini duduk sebelah sini sama gua.” Usai mengambil tempat, Jendra langsung diserbu pertanyaan oleh teman-temannya, tentang dunia masa nakal mereka, tentang kuliah, tempat magang, game dan pasti nggak lepas dari throwback memori saat SMA. Orish hanya diam saja, perempuan itu duduk manis dan mengamati sekitar, kedua tangannya memainkan tangan Jendra yang diletakkan di pahanya selagi laki-laki itu sibuk menanggapi obrolan.

Sebenarnya tepat di samping Orish duduk seorang perempuan cantik, entah salah satu teman Jendra juga atau bukan Orish bingung karena yang dia ingat Jendra sama sekali nggak menyapa perempuan itu. Orish ragu untuk mengajaknya bicara, perempuan bergaun beludru navy yang cantik itu sibuk dengan ponselnya, mata tajam yang dihias eyeliner panjang semakin memberi aura mengintimidasi.

“Oy Jen, cewek baru lu? Kenalin dong, kesian amat diem mulu,” ujar sosok yang duduk di seberang Orish, entah siapa namanya namun mata laki-laki itu kedapatan menatapnya beberapa kali, awalnya Orish berusaha abai karena dia pikir mungkin perasaannya saja, sampai kalimat itu akhirnya mengudara.

Seluruh perhatian tiba-tiba terpusat pada Orish, perempuan itu terpaksa memasang senyum sungkan, tangannya dibawah meja sedikit meremas jemari Jendra. “Iya cewek gue, Orish namanya.”

Hanya itu yang Jendra katakan, pacar Orish itu sama sekali nggak berniat menyebut nama atau menunjuk satu persatu temannya untuk diperkenalkan pada Orish.

“Halo ceweknya Jendra,” kiranya kalimat semacam itu kerap Orish dengar sebagai sautan, tentu saja hanya dibalas senyum. Beberapa pertanyaan juga sempat teman Jendra tanyakan, klise.

‘Cantik begini kok mau sama modelan Jendra? Blangsak tuh anak.’

‘Anak mana? Sekampus sama Jendra?’

‘Semester berapa?’

“Biasanya yang cakep beginu kalo gak anak Fisip ya anak Hukum, ternyata FSRD ya?”

Orish mengangguk, “iya aku FSRD, ehm, DKV lebih spesifiknya.” Jendra menatap Orish senang, seperti timbul perasaan bangga tersendiri saat pacarnya itu berinteraksi dengan temannya.

“Lah Jendra gua kira masih ama Stella? Mana tuh anak kagak dateng?” celetuk laki-laki yang mengusulkan untuk memeperkenalkan Orish. “Sar, sahabat lu mana?”

Perempuan dingin disamping Orish ternyata bernama Sarah. Perempuan itu berdecak lalu meletakkan smartphonenya di meja, “Edo, you better shut up, none of us wanna hear any shit from you.

Mendapat respon yang buruk membuat si Edo ini ikut nggak terima, “masih aja ngesok ini cewek bangsat, gua tanya baik-baik juga.”

Sarah nggak peduli, perempuan itu bangkit, menunjukkan jari tengahnya ke arah Edo lalu pergi meninggalkan meja, hampir saja Edo ikut beranjak jika teman-teman lain di sisi kursinya tidak menahannya. Orish cukup tertegun dengan kejadian barusan terjadi, jantungnya berdebar intens, sedang Jendra menatap datar Edo di seberang sana.

Edo Putra Kurniawan masih semenjengkel kan lima tahun lalu. Hal yang Jendra benci adalah menilai dan mengurusi urusan orang, Namun Edo di matanya nggak lain hanya si pengecut yang nggak ada kapoknya. Masa SMA dulu si Edo dengan mulut lamis dan kecerobohannya sudah pernah mengadu domba teman sendiri dan murid beringas, setelah mengakibatkan kerugian Edo berakal bulus itu melepas tangan, walaupun tetap ikut bonyok. Nggak berhenti disitu, Edo juga terkenal seperti linta, biasa memanfaatkan teman tanpa ada timbal balik yang sesuai. Mendekati banyak perempuan cantik di tiap angkatan kelas tanpa peduli seberapa jijik mereka dengan Edo.

Banyak yang enggan berteman dengan Edo, termasuk Jendra. Jika bukan karena sepupu Keenan mungkin Edo sudah tamat beberapa waktu lalu, dan eksistensinya akan dianggap sampah disini. Jendra berharap Edo nggak mencari gara-gara dengannya, laki-laki itu akan dengan senang hati memberi didikan yang selama ini hanya berfantasi di kepala.

“Jendra,” panggil Orish, si pemilik nama buru-buru menoleh, mengalihkan segenap atensi pada hal yang lebih layak. “Kenapa sayang?”

Belum sempat menjawab, Jendra kembali menimpalinnya pertanyaan, “Mau makan?” tanya Jendra, laki-laki itu menjunjuk bufet dengan dagunya, mata Orish melihat aneka ragam hidangan di sajikan disana.

“Kamu aja, aku nggak laper.” Jawabnya, Orish kembali melihat bufet, matanya menangkap es lemon segar, “mungkin mau minum aja.”

Jendra segera berdiri, membantu pacarnya bangun dari duduk. “Iya, sekalian temenin aku makan ya? OIT gue makan duluan.”

Sepiring penuh, sedikit nasi lebih banyak lauk, Jendra benar-benar memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Keduanya nggak kembali ke meja asal dan memilih untuk duduk berdua di meja kecil dengan dua kursi yang terletak di dekat bufet. Orish sempat melirik sekilas ke meja mereka sebelumnya, tepat ketika Edo menoleh ke belakang, laki-laki itu mengerlingkan mata, membuat Orish merasa aneh. Akhirnya perempuan itu kembali mengamati Jendra yang beberapa kali memaksa Orish untuk menerima suapan nasi.

“Jen, abis ini pulang kan?”

Jendra mengangguk, “Abis ini foto dulu aku, anak-anak sama Keenan, terus kita berdua sama pengantennya. Kamu udah capek?”

Orish mengangguk cepat.

“Bentar lagi ya sayang.”


Orish menghela nafas lega saat punggungnya bersandar di seat mobil, akhirnya selesai juga agenda kondangan ini. Keduanya baru saja memasuki mobil setelah sesi foto yang panjang dan pamitan.

“Hape? Tas? Dompet? Aman semua?” tanya Jendra, Orish segera mengecek isi tasnya lalu mengangguk, “aku aman, kamu gimana?”

Jendra merogoh kantong depan celananya, ponsel aman, lalu kantong belakang, dompet aman. Semua oke, tapi rasanya masih ada yang mengganjal, Jendra merogoh saku depan kemejanya lalu mengeluarkan amplop putih.

“Yang, lupa salamin amplop ke Keenan,” katanya sembari tersenyum konyol. Orish menggeleng, “gimana sih kamu kok lupa, buruan kasih mumpung masih disini.”

Jendra membuka pintu mobil, “bentar ya aku lari kok, kamu di mobil aja.” Perintah Jendra Orish tanggapi dengan anggukan kepala lalu laki-laki itu melesat masuk kembali setelah menutup pintu.

Beberapa detik dari kepergian Jendra, kaca mobil dari sisi Orish diketuk, perempuan yang baru saja menundukkan kepala untuk mengecek ponsel itu terpaksa mendongak. Cukup terkejut saat melihat Edo ada diluar pintu mobil, laki-laki itu seperti meminta Orish untuk menurunkan kaca mobil. Jujur Orish sebenarnya takut, tapi rasa sungkan mengelabuhi hati dan pikirannya.

Berusaha menepikan pikiran buruk pada akhirnya Orish menurunkan sedikit kaca mobil, senyum tipis Edo mengembang.

“Kenapa ya?”

“Cowok lu kemana, cantik?” Orish meremat ujung dress yang dia pakai mendengar kalimat itu.

“Ehm... Jendra lagi balik kedalam sebentar, dia lupa sesuatu.”

Edo Putra mengangguk-anggukan kepala, kemudian menatap Orish kembali, “ini kaca apa gak bisa di turunin lagi? Lu kayak lagi ngobrol sama pengamen dah”

Demi Tuhan, Orish takut dan bingung jadi satu, perempuan itu berakhir bungkam dan menunduk. “Oiy kenapa sih? Takut lu ama gua? Yaelah cantik.”

Yang Orish dengar, laki-laki itu mendesah kesal, kemudian menunduk lagi ke sela kaca yang terbuka, “gua gak ada niat buruk kok, malah yang ada kasih lu tau hal penting. Lu udah kenal baik buruknya si Jendra?”

“E-edo m-maaf banget, kalo n-nggak ada yang penting, aku harus tutup kacanya.”

“Ck, gua heran sama cewek jaman sekarang, apalagi lu nih, lu cuma mainan doang buat cowok lu tuh, jangan jual kemahalan, abis sepah nih, abis dipake lu kayak Stella juga bakal dibuang lu.”

Orish buru-buru menaikkan kaca mobil, kedua tangannya bergetar. Ingin sekali tuli sementara hingga suara dari luar mobil tidak terdengar. Edo mengumpatinya karena menutup kaca mobil tiba-tiba, tidak bisa Orish tahan lagi, air mata yang sedari tadi menggenang akhirnya lolos.

Orish menangis pelan didalam mobil yang gelap, bahkan saat Edo sudah mulai berjarak dengan mobil sama sekali nggak mengurangi perasaan takut Orish. Bukan, perempuan itu nggak percaya apalagi terpengaruh dengan apa yang Edo ucapkan.

Orish percaya Jendra.

Beberapa hal yang membuatnya takut adalah bagaimana Edo bersikap, caranya bicara yang menyudutkan, keras dan cenderung merendahkannya. Pikiran Orish terus terdistraksi dengan berbagai kemungkinan buruk yang bisa Edo lakukan jika Jendra nggak kunjung kembali.

‘Tok tok, tok tok.’ Ketukan kaca mobil lagi.

Orish semakin menundukkan kepala, dua tanggannya dia gunakan untuk menutup telinga. “P-please pergi.”

'Klek'

P-please pergi! Pergi.”

“ORISH?”

Orish mendongak begitu mendengar suara Jendra, perempuan itu langsung memeluk cepat Jendra dengan gemetar, menangis sesenggukan. Sayangnya, Jendra melepas diri, laki-laki itu bingung. Nggak mungkin Orish tiba-tiba menangis dan gemetar ketakutan tanpa sebab yang memicu.

“Aku tanya baik-baik, jawab yang jujur. Kamu kenapa?” tanya Jendra, pelan namun penuh penekanan. Respon Orish hanya gelengan kepala, tangannya yang berada di punggung Jendra mencoba menarik pelan tubuh itu untuk dia dekap, tapi Jendra malah manahan kedua sisi lengan Orish.

“Orish, BILANG!”

Pecah, tangisan Orish makin tak terbendung, perempuan itu memilih menarik tangannya dari tubuh Jendra, pikirannya semakin kacau.

“Sayang maaf, kenapa? Tolong bilang ke aku, aku bisa gila kalo kamu nggak ngomong.” Pinta Jendra, laki-laki itu membawa Orish kembali untuk dia dekap, perasaan bersalah hinggap begitu saja setelah bentakan itu.

“J-jendra... E-ed E-edo k-kes-sini.”

Rahang Jendra mengeras. Meski hanya itu yang Orish katakan, bisa dia menyimpulkan apa yang sudah terjadi, mengenal watak dan pribadi sampah Edo. Tangannya semakin mengepal kuat apalagi saat melihat Edo berdiri di depan mobilnya sendiri.

He d-did nothing b-bu—,”

“—Sst, gapapa Orish,” Jendra manarik dirinya lagi, matanya menelisik netra Orish, sepeti sedikit demi sedikit menepikan ketakutan Orish. “Tarik napas.”

“Lagi, tarik napas.”

Edo.

Edo must take responsibility for what he has done.

“Tunggu bentar disini,” titah Jendra berusaha melepas diri dari Orish.

“N-no no p-please pu-pulang.”

Jendra masih keukeuh melepas tangan Orish yang meremat lengannya. “Iya kita pulang. Bentar aja ya, tunggu jangan keluar mobil.”

Itu kata Jendra sebelum pergi meninggalkan Orish lagi di dalam mobil. Jendra melepas jas biru tua dari setelan yang dia pakai, langkah kakinya melangkah lebar agar semakin dekat dengan Edo yang sudah melihatnya. Emosi Jendra semakin memuncak saat Edo dengan konyol tersenyum ke arahnya.

Jendra meletakkan jasnya di kap mobil Edo, kemudian berdiri tepat di depan Edo yang sebenernya baru akan memasuki mobil, “kenapa nih? Ngadu ya cewek lu?” sindirnya diselingi tawa.

“Heran aja gua dari yang sepanas Stella ganti ke cewek model baik baik gitu tujuan lu apa? Udah bosen ya lu make Stella?”

Puas mendengar kalimat panjang Edo, Jendra tanpa sepatah-kata melayangkan kepalan kuat tangannya pada perut atas Edo sampai laki-laki itu jatuh merintih. Tentu membuat keduanya jadi pusat perhatian tampat parkir para tamu undangan, Jendra nggak perduli. Laki-laki itu berjongkok, tangan kanannya menarik kuat rambut belakang Edo, melihat air muka yang masih dihias senyum. Jendra membenturkan kepala Edo ke pintu mobil cukup keras, belum ada darah, pelipis Edo terluka, terlihat memar.

Belum sempat memberontak, Jendra kembali mengeratkan tarikan rambut belakangnya, “Edo, gue udah dari lama pengen ajarin lo etika biar gak jadi manusia sampah. Lo bilang apa ke cewek gue?”

Edo hanya diam, membuat Jendra geram dan membenturkan kepala Edo lagi, “jawab kalo gue tanya.”

Sekitar mereka sudah penuh dikerubungi manusia~manusia kurang hiburan yang ingin tontanan gratis, beberapa mencoba melerai Jendra yang dengan cepat dia tampis. Jendra benci urusannya di campuri orang lain.

“Cewek lu aneh, gua cuma bilang dia mainan, dia gak ada bedanya ama Stella. Emang gua salah?”

Jendra beralih mencengkram leher Edo, menariknya berdiri kemudian menghantam sisi kanan wajah Edo hingga tersungkur kembali.

“Bangun, gak bisa ribut lo? Jangan mulut aja dipake, kalo otak udah oblong coba otot lo dipake buat ngelawan.”

Edo tertawa, “gua main hukum aja dah, lu liat nih banyak saksi.” Edo berkata, menunjuk orang-orang yang bergerombol untuk menyaksikan mereka. Jendra masih belum puas tapi aksinya terhenti karena kehadiran Haris dan beberapa temannya yang tiba-tiba datang, membelah keramaian untuk melerainya.

“Udah Jen, lo gendeng? Udah Dam, bawa Jendra pergi gue urus Edo.” Ujar Haris, tapi Jendra nggak menurut, laki-laki itu dengan gesit melepas diri dari Adam dan Riko yang menahannya, kali ini hampir menghajar Edo lagi tapi Adam dan Riko menyeretnya hingga ke tempat dimana mobil yang Jendra bawa berada.

Pintu mobil itu terbuka, atau lebih tepatnya Sarah yang entah dari mana itu membuka pintu mobil agar Orish yang dia temukan menangis sesenggukan di dalam mobil tetap memiliki udara untuk bernapas. Mata Sarah memicing benci melihat Jendra tapi tangannya masih menggenggam tangan Orish.

“Katrok lu, balik sana lu anjing.” Kata Riko sambil mendorong tubuh Jendra ke arah mobil.

“Urus tuh bangsat daripada gue bunuh.”

“Iye sana balik anjing kasian cewek lu tuh, gila lu asli Jen.” Jendra spontan menoleh ke arah Orish, perempuan itu membuang muka begitu netra mereka bertemu.

“Kita pulang ya?” Orish bergeming nggak menjawab, “lo balik aja Sar, makasih udah nemenin cewek gue.”

Sarah melepas tangan Orish, lalu mundur selangkah, “lo sanggup anterin cewek lo? Dia bahkan juga takut sama lo, mending gue tolong.”

“Gak.”

Detik itu juga setelah menutup pintu Orish dan masuk ke dalam mobil Jendra langsung menyalakan mobil, melesat keluar dari area rumah Keenan.

Selama perjalanan Orish hanya diam, meski tangisnya sudah berhenti tapi pikiran dan perasaannya di dalam begitu kacau. Jendra beberapa kali mencoba untuk mengajak berbicara namun perempuan itu malah membuang muka. Orish bahkan menepis tangan Jendra yang berusaha mengenggam. Nggak ada hal bisa Jendra lakukan malam itu selain ikut diam.

Jendra tau betul apa yang jadi salahnya saat itu, tapi laki-laki itu nggak ambil pusing karena orang semacam Edo memang perlu dihajar. Sekiranya begitu pemikiran Jendra.

Tanpa Jendra pahami, dari sinilah awal masalah hubungan mereka. Ibarat lantai kaca, Jendra telah menapaki pijakannya terlalu keras, menimbulkan keretakan parah yang nggak perlu memakan waktu lama untuk pecah.