Stay A Little Longer.
Napas hangat Alodia Orish berembus pelan bersama dengan semilir angin siang yang menabraknya dari belakang. Dua netranya mengamati sepasang boots berwarna beige dengan heels setinggi delapan senti yang membungkus nyaman kakinya. Perempuan itu menjadi salah satu manusia yang rela menanti jemu sekaligus tak sabar dibalik standing barrier salah satu tempat paling sibuk di Indonesia. Orish mendongak, memindai situasi sekitar yang nahasnya masih sama persis puluhan menit yang lalu.
Arrival gate yang menjadi pusat matanya mematri sama sekali tak menunjukkan tanda segerombolan orang akan muncul dari portal itu. Orish kembali menurunkan pandangannya seperti semula setelah menghela bosan. Meskipun telinganya tersumpal earpods, dia masih sanggup merasakan sebising dan sepadat apa tempat yang kini dia pijak. Tentu saja membuatnya merasa tak nyaman, namun tidak ada yang bisa dia lakukan lagi selain tetap menunggu. Pasalnya, siapa yang tak tahu Bandara Internasional Soekarno-Hatta selalu memiliki jadwal padat juga manusia yang berlalu-lalang hingga menyebet gelar Bandara tersibuk di negara ini.
Hari ini Jumat. Orish masih belum punya rutinitas pasti untuk dia lakukan beberapa waktu ke depan selain bangun pagi, membersihkan kamar beserta sejumlah bagian rumah, mengurus Ola dan kucing kekasihnya yang mulai menetap di kediamannya. Sesekali dia mengecek LinkedIn, Sribulancer, dan rentetan media sosial yang menyertakan beberapa karya dan kontak bisnisnya.
Empat bulan lebih usai kelulusannya, Alodia Orish masih belum bisa meneguhkan hatinya bagaimana dia akan berkarier. Dia tak bisa setegas Jendra yang secara totalitas mematangkan rencana juga tekad untuk merajut pengalaman kerjanya, bak tidak ada gelisah, kepastian terpancar lugas di mata lelaki itu ketika Orish menatapnya tiga bulan lalu sebelum dia meninggalkan Jakarta. Kini, saat Orish hanya sibuk mengurus bisnis kecilnya di toko online yang sudah dia rintis sejak masih menyandang gelar mahasiswa kupu-kupu, Jendra bekerja dua kali lebih padat dari sebelumnya. Lelaki itu hanya menyempatkan diri untuk menyapa dan mengingatkan Orish agar tidak melewatkan **jadwal **makannya, tidak banyak cerita bisa dibagi sebab Jendra kerap pulang membawa segudang lelah. Mereka tak bisa melakukan sesuatu yang lebih kecuali Jendra memiliki waktu luang.
“Tuh, akhirnya keluar juga.” Orish tersentak dari lamunannya mendengar itu, sontak mendongakkan kepala ke arah gate. Benar saja, satu-dua orang mulai keluar dari sana dan mata Orish tak absen meneliti setiap rupa untuk menemukan target-nya. Rupanya beruntung dia mengenakan sepatu berhak tinggi, perempuan itu jadi tak berhalangan memindaikan mata meski harus mundur dua langkah menghindari desakan. Orish terus memperhatikan orang-orang yang silih berganti keluar, namun beberapa waktu berlalu dia masih tak melihat kehadiran Jendra.
Satu per satu orang yang menanti bersamanya mulai meninggalkan tempat begitu orang yang mereka tunggu-tunggu muncul dan menghamburkan peluk rindu bahkan tangis haru. Orish di sana menatap gusar ke arah gate. Dia takut Jendra tak muncul dari sana sebagaimana praduga konyolnya. Padahal dia ingin merasakan peluk serupa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya. Orish ingin mendekap Jendra begitu laki-laki itu menampakkan batang hidung.
“C’mon please, Jendra, come to me,” pinta perempuan itu dalam hatinya. Dia terus merapal kalimat itu bak mantra yang akan bekerja ketika matanya sejenak terpejam. Lucunya, hal itu sungguh terkabul, entah kebetulan atau memang doa Orish yang sakti. Dia melihat giliran Jendra datang, menyalip orang yang berjalan lebih lambat untuk dia dahului.
Orish melihat sendiri laki-laki itu melangkah cepat dengan kaki-kaki panjangnya, tubuh Jendra hanya dibalut pakaian santai; kaos oblong putih, celana denim dan sebuah topi polos. Style Jendra masih tak berubah meskipun dua tahun lebih berlalu, laki-laki itu masih suka mengenakan topi ke manapun dia pergi. Orish mengudarakan satu tangannya meraih atensi Jendra, hingga si lelaki sadar, menyungging seulas senyum senang ke arah Orish.
“Hey, sayang—” Jendra memutuskan untuk tidak melanjutkan kalimatnya ketika Orish menabrak tubuhnya begitu saja. Perempuan itu melingkarkan tangan di punggung Jendra, dagunya ia istirahatkan pada bahu kokoh si lelaki. “I’ve been missed you so much, Jendra.”
Jendra membalas pelukan itu erat, membubuhkan kecupan pada kepala di sisinya sembari mengelus rambut panjang Orish. “I know.” Orish kemudian terpaksa menarik diri dan berjalan menepi dengan Jendra mengingat mereka berdiri di tengah jalan.
“I thought you grew taller in three months,” ejek Jendra dibarengi kekehan setelah mengamati Orish dari ujung rambut sampai kaki. Perempuan cantik itu hanya mendengus. Tinggi mereka memang tidak terlalu jauh, dan dengan heels yang dikenakannya, mereka terlihat hampir setara kini. “You look much prettier than the last time I saw you in person.”
“I don't wanna hear anything from you,” rajuk Orish. Jendra tertawa, melingkarkan satu tangannya pada pinggang perempuan itu lalu menuntunnya berjalan beriringan menuju area parkir. “Gak mau dengerin apa-apa, terus kamu maunya apa?”
“Kamu tau nggak, sih, aku tuh kayak mau marah ke kamu yang marah banget gitu. Serius deh, aku kesel banget banget sama kamu.” Jendra mengernyitkan keningnya mendengar celotehan Orish. “Emangnya aku ngapain sampe kamu begitu?”
Alih-alih menjawab, Orish masih setia bungkam dan berekspresi bak tak tertarik dengan pertanyaan yang dia dengar. Jendra yang gemas pun menggerakkan jemarinya yang hinggap di pinggang Orish secara abstrak. membuat perempuan itu mengaduh, “Akh! Ampun, ampun.”
“Jen, kamu jangan gelitikin lagi, please. **Bukannya **geli yang ada sakit soalnya jari kamu isinya tulang semua,” protes Orish usai menepis tangan besar Jendra dari pinggangnya. “Kamu katanya kangen, disamperin jauh-jauh begini malah mau musuhin aku, ditanyain gak jawab lagi.”
“Gamau, aku males sama kamu.” Jendra tersenyum, tak menyahuti Orish lagi dan memilih melanjutkan langkah mereka dengan dua tangan yang bertautan.
Sebenarnya jika dia diminta menebak alasan Orish kesal dengannya, Jendra akan menjawab akhir-akhir ini dia semakin usil pada perempuan itu. Puncaknya adalah hari ini ketika pagi tadi dia berbohong pada Orish dengan berkata dia punya jadwal padat untuk dilakukan, padahal dia hanya hinggap di kantornya setengah hari lalu berlanjut ke Bendara. Jendra ingin kepulangannya ke Jakarta menjadi kejutan untuk perempuan itu. Sayang, pesan yang mulanya akan dia kirim ke Sean untuk menanyakan keberadaan Orish malah tak sadar dia kirimkan ke perempuan itu sendiri dan berujung membuat Orish tahu bahwa Jendra akan segera take off untuk **penerbangannya.
“Sean mana? Kenapa kamu jemput sendiri?” tanya Jendra begitu sampai di area parkir, tepat di depan HRV putih milik Orish. “Tadinya dia mau ikut tapi nggak aku bolehin, aku emang mau jemput kamu sendiri biar dia jagain Jeki Ola aja di rumah.”
Jendra menganggukkan kepala paham, usai meraih kunci dari Orish dan mempersilakan perempuan itu duduk manis di kursi penumpang sisi seat kemudi, Jendra kembali berujar, “Padahal tadi niatnya aku cuma mau tanya dia kamu di rumah apa ada agenda di luar, aku mau tiba-tiba berdiri di depan pintumu. Tapi iMess-nya malah gak sadar aku kirim ke kamu langsung.”
“I would be mad at you kalau aku nggak tau kamu mau ke sini. You know sometimes I really don't like surprises.” Jendra berdeham selagi memasangkan seatbelt Orish. Perempuan itu tampak lucu ketika mengomel sendiri, Jendra jadi tak bisa menahan kedua sudut bibir terangkat mendengar celotehan pacarnya itu.
Selesai dengan seatbelt, Jendra menatap perempuan itu. Satu tangannya secara instingtif menangkup pipi agak gembil Orish, memandang larut sepasang mata yang dipoles make up tipis dan salah satu kosmetik berupa garis yang mempertegas mata. Tanpa banyak bicara lagi, Jendra mengikis jarak. Mereunikan belah bibirnya dan milik Orish lembut lalu disusul dengan sedikit tekanan lunak sebagai pembuka. Tiga bulan terakhir ini, Jendra rindu mencium Orish setengah mati, kerinduan itu begitu menyiksanya habis sebab tak ada yang bisa Jendra aksikan. Kini dihadapkan dengan kesempatan, Jendra memilih mengeksekusi idenya untuk memagut birai lembut kekasihnya.
Tak ada yang tergesa, tak ada yang menuntut, dan tak ada lidah yang ikut andil. Pagutan itu terkesan amat rapi namun pasti, terlebih saat Jendra makin memiringkan kepala untuk memantapkan tautan bibir mereka. It’s just a slow and steady kiss they love.
“Masih pundung gak?” tanyanya, sedikit menaikkan dagu Orish setelah menyudahi ciuman. Perempuan itu dengan polos mengangguk, berakhir membuat Jendra tersenyum kemudian kembali memagut bibir Orish lebih intens dari sebelumnya.
Laki-laki itu membawa lumatan mereka semakin passionate. Entah kemampuan Orish yang makin meningkat atau Jendra yang pintar membaca tiap gerakan bibir kekasihnya hingga tautan tersebut terjalin tepat dan mulai demanding. Belasan detik selanjutnya, Jendra menarik diri untuk memberi mereka jeda guna meraup oksigen. Laki-laki itu tersenyum hingga menyipit mengingat Orish yang tadinya mengomel kini bungkam dengan wajah memanas. Ibu jarinya mengusap lembut pipi Orish sebelum memberi kecupan bertubi sebagi penutup.
“We’ll make out better than this, nanti. Sekarang kita makan siang dulu, oke?” Alih-alih menjawab, Orish hanya mengangguk singkat lalu memalingkan muka menatap jalanan di sampingnya. Dia merasa sedikit gugup, dalam hening jantungnya bak akan jatuh ke bawah. Belum lagi wajah yang masih terasa panas. Uh, Orish mendadak ingin pulang.
Jendra terkekeh, tangan kirinya mengusak poni rapi Orish singkat sebelum beralih ke setir mobil untuk melajukan kendaraan itu keluar area dari Bandara.
“Nice eyeliner,” puji Jendra, membuat Orish agak tak percaya lelaki itu me-notice perubahan gaya garis celak pada mata Orish. Uh, perempuan mana yang tak suka riasannya disanjung? Biasanya Orish hanya menggambar natural eyeliner-nya, kini dia mencoba gaya baru dengan sedikit meruncingkan ekor celak itu ke atas. “Does it look good in my eyes? This style is called cat’s eye, I feel a little too flashy.”
Jendra menggeleng cepat. “Nah, it looks suitable on you, prettier and sharp.” Orish mengulum bibirnya senang. “Thank you for complimenting me, but I gotta be honest I mad because of your hairstyle.”
“Kenapa? Is it because I look damn perfect with blue-black undercut?” Jendra menebak sekaligus memuji dirinya sendiri, mengundang dengusan malas dari Orish. Namun, sejatinya memang benar demikian, perempuan itu merasa kesal karena Jendra terlihat sangat sempurna dengan gaya itu selama mereka terpisah jarak, membuat hati Orish agak mencelos khawatir. “Yeah, you look insanely cool and I wasn't around to enjoy it before. I’m so jealous.”
Jendra tersenyum miring. “So am I, I feel lost when you look prettier day by day but I cant see you all the time. It feels so unfair to me, you know.”
Lima menit perjalanan membawa mereka berdua singgah di warung Mie Ayam Mangkok yang dulu pernah Jendra datangi bersama kawanannya saat menjemputnya usai kecelakaan di Surabaya. Laki-laki itu langsung memesan dua porsi begitu tiba dan memilih meja paling belakang di mana tempat itu berhadapan langsung dengan area lapang beserta pesawat-pesawat Soetta yang beroperasi di langit sebagai pemandangan utama.
“Kamu berapa hari di sini?” tanya Orish. Dia tidak sempat bertanya banyak sebelum keberangkatan Jendra maupun saat mereka berada di mobil. Jendra yang hendak menyuapkan gulungan mie ke dalam mulut mengurungkan niatnya. “Dua malam aja, aku Minggu sore balik.”
Orish mengangguk, dia sudah menduga Jendra tak akan lama di Jakarta sebab tak ada acara penting apalagi jadwal libur yang bisa membuat laki-laki itu singgah lebih lama di sini. Dikunjungi begini saja sudah jadi hal yang besar bagi Orish. “So… what’s your plans for today and tomorrow?”
“Hm… hari ini mau istirahat aja ke apart sama kamu, **besok **mau ketemu Oma sekalian nganterin check up rutin. Kamu mau ikut gak?” Orish menganggukkan kepala. Sebelum ini, Orish sudah beberapa kali ikut Jendra bertemu dengan Oma-nya, dia tak masalah dan justru senang bisa bertemu lagi dengan wanita lansia yang menyambutnya hangat sejak pertama kali berkenalan. “Of course, I haven't seen her in a long time, kinda miss Oma Eliz. Tapi aku takut kalo tiba-tiba ketemu Oma nggak ada kamu.”
Jendra tersenyum, dia jadi orang yang paling senang melihat dua wanita kesayangannya itu saling cocok. “Oma loves you, she must really miss you and your cookies, dia juga pernah telpon aku cuma nanyain kamu tapi aku lupa bilang.”
“Seriously?” Jendra memangguk singkat. “Makanya gausah takut, langsung aja datengin Oma terus bikin kue lagi berdua kayak waktu itu.” Perempuan itu mengulum bibir senang dan menjawab, “Iya, nanti aku usahakan ke depannya.”
Jendra kembali menyunggingkan senyum bahagia mendengar jawaban Orish. “Oh, iya, kalo besok kita mau anterin Oma check up, nanti malam kamu tetep tidur di apart atau pulang ke rumah Oma?”
“Kayak tadi yang aku bilang, abis ini mau istirahat di apart, malamnya tetep tidur di apart. Besok baru tidur di rumah Oma sekalian bawa barangku yang belum kebawa, soalnya kontrak apartment kebetulan kelar bulan ini.” Sejak Jendra kembali merantau ke Surabaya, barang-barangnya sudah sebagian dikirim ke rumah Oma, lalu sebagaian lagi dia bawa ke kota kerjanya. Apart Jendra hanya menyisakan barang pokok yang dari awal sudah tersedia di sana. Tempat itu hampir kosong, Orish pernah mampir saat dia merindukan Jendra begitu gila, dan dengan access card yang laki-laki itu berikan, Orish singgah untuk sejenak tidur siang memeluk selimut Jendra sambil berangan lelaki tegap itu merengkuh tubuhnya dari belakang seperti biasa. “Kamu kalau mau tidur di apart, make sure kamu beli minuman dulu, kulkas udah kosong. Buy mineral water, no beers, no cola.”
Jendra menangguk selagi mengunyah makanannya. “Kamu gimana? Abis ini temenin aku kan di sana? Nanti malem aku tetep anterin kamu pulang kok,” tawar Jendra, membuat Orish mengerutkan kening. “Nganter gimana? Kan aku yang bawa mobil terus motor kamu juga ada di rumah Oma?”
Laki-laki itu menepuk dahinya, kemudian kembali berbicara, “Gak, nanti aku ikut kamu pulang dulu ke rumahmu, mau ketemu Mama-Papa sama Jeki Ola dulu, terus baru aku balik naik ojek online. Intinya biar kamu gak sendirian di jalanan.” Orish meringis, mendengar rencana Jendra rasanya membuat dia ikut bingung dan repot. “Agak ribet, ya? Aku bisa kok temenin kamu, terus pulang sendiri, aku berani. Atau kalau nanti malam kamu mau ke rumah buat ketemu Jeki sama Mama Papa mending sekalian kamu nginep di rumahku dulu, besoknya tidur di Oma.”
Opsi pertama membuat Jendra berpikir dirinya akan jadi sangat pengecut, bodoh dan tak ada harga diri jika membiarkan perempuannya repot-repot di jalan untuk mengantarnya dan kembali pulang sendirian. Sebaliknya, opsi kedua terdengar lebih baik, dia tak perlu menghabiskan malamnya seorang diri di apart jika malam ini dirinya menginap di rumah Orish lalu esoknya di rumah Oma.
“Boleh?” Jendra bertanya sungkan. Sebelumnya dia sudah dua kali menginap atas sepengetahuan tuan rumah, rasanya tak enak jika dia menumpang lagi padahal keluarga Orish sebenarnya cukup tertutup dan tak begitu bebas dengan hal semacam itu, Orish bahkan tak pernah bisa sembarangan bermalam di tempat Jendra maupun temannya yang lain. “Gak usah dah, aku gak enak sama Mama-Papa. Kurang pantes, tar image-ku buruk di mata calon mertua.”
Orish tak mengindahkan gurauan Jendra di akhir kalimat, perempuan itu meremas tangan kiri Jendra yang menganggur di meja sambil menatap netra lelaki itu. Kalau boleh terus terang, dia malah ingin Jendra tak lepas dari pandangannya selama laki-laki itu ada di sini. “Please? I wanna stay with you longer.”
Maka siapalah Jendra yang sanggup menolak ketika Orish dengan binar matanya sudah memohon? Dia akan menyanggupi apa pun yang perempuannya itu inginkan.
Pulang. Menurut KBBI, pulang artinya pergi ke rumah atau ke tempat asalnya, kembali. Namun, Jendra sudah jarang menggunakan kata tersebut tatkala hendak kembali ke rumah usai bepergian dari suatu tempat.
Sejak beranjak dewasa, Jendra mulai sadar bahwa hatinya segan menyebut hal membosankan itu sebagai definisi dari pulang. Pasalnya, bagaimana bisa tempat yang hanya digunakan untuk singgah disebut pulang? Bagaimana mungkin tempat yang memberinya hampa memaknai kata sehangat pulang?
“Gue balik dulu dah, ada deadline tugas gue.” Balik. Sounds better.
Lalu apa definisi sederhana baginya perihal pulang itu sendiri? Klise. Ketika dia mendatangi Oma-nya yang tak pernah cerewet tentang banyak hal, ketika wanita lansia itu membiarkan dia tidur di pahanya dengan elusan di puncak kepala, atau yang setahun terakhir ini dia temukan setelah sekian lama hilang; dekapan dan telinga tatkala dia berkeluh kesah juga afeksi yang cuma-cuma diberikan sosok perempuan bernama Alodia Orish.
Jendra mengembuskan napas secara halus, tak ingin membuat Orish yang tengah tidur dengan kepala di atas dadanya terbangun. Ini yang dia sebut dengan pulang. Saat lelah dan rindunya dapat dikonfersikan dalam suatu momen, yang nyata. Pulang yang murni bukan hanya tentang tempat, namun juga manusia, peristiwa, dan segala hal yang membawa batin kita kembali pada tenang.
“Eungh… jam berapa?” tanya Orish tiba-tiba begitu membuka mata, dua tangannya dia renggangkan ke atas lalu merubah posisi tubuhnya menjadi baring menghadap langit apart Jendra. “Jam lima, tidur lagi aja,” jawab Jendra kembali membawa kepala Orish ke dadanya lalu mengelus kepala sampai punggung perempuan itu.
“Berat nggak kepalaku?” Jendra menggeleng, tidak mengindahkan Orish yang mendongak, menatap dagu, bibir dan hidungnya yang tinggi itu. Orish tersenyum kemudian kembali menempelkan kepala di dada kiri laki-lakinya. “Bohong, your heart beats may be stable, tapi aku kerasa dada kamu naik turun kayaknya berat banget.”
“Daripada ngeyel gini mending kamu cerita gimana perkembangan usaha online kamu,” saran Jendra. “Atau apa aja yang belum sempet kamu ceritain ke aku beberapa hari terakhir ini.” Orish menggumam, jari telunjuknya menggambar abstrak di dada kanan Jendra selagi kepalanya menyusun kata.
“Waktu itu ada temen yang nawarin jadi illustrator buat buku anak, Jen. Tapi aku nggak mau, soalnya waktu aku cek lagi style yang mereka cari sebenernya nggak sesuai sama punyaku. Jadi yaudah, kayaknya aku emang ditakdirin ngurus bisnis kecil aja, deh.” Orish menceritakan santai, matanya kini menatap kaca besar bening, yang rasanya tembus pandang dengan cakrawala jingga Jakarta sementara Jendra masih setia mengelus kepala dan bermain dengan rambut panjang Orish. “It will get bigger and bigger selama kamu tekun, serius dan pandai baca setiap peluangmu. But it’s nice to see you understand which one to take, kayak masalah style tadi, that’s matter.”
Orish mengangguk. “Selain itu, I've already taken a big step, Jen. Aku udah taruh modal besar di usahaku ini jadi mau nggak mau aku harus buat kemajuan kan? At least sampai modalnya bener-bener balik.” Jendra menaikkan satu alisnya. “Ya, kalau kamu bisa harus sampai dapat laba, lah. Udah capek mikir ini-itu, kesana-kemari kalo balik modal doang namanya rugi. Bener kan?”
“Jangan bilang gitu…” mohon Orish dengan suara pelan, mengundang tanda tanya. “Tapi sejauh ini seneng nggak ngejalanin bisnis kamu itu? Apa aja kendalanya?”
“Aku seneng kok, seneng banget malahan, apalagi kalau udah dapat feedback yang bagus dari buyer. Tapi kadang capek banget, sama dulu aku kan udah cerita ke kamu kalau awal-awalnya sedih banget karena order yang masuk belum masuk target-ku, terus semenjak aku ikutin saran kamu buat minta tolong promosiin ke temen dan alumnus jurusan jadi lumayan sih makin ke sini. Makanya aku beraniin tanam modal lebih, sekarang udah banyak produk yang ready stock. Aku juga bikin content promosi di Tiktok, followers di Instragram sama Tiktok naik!”
Jendra ikut tersenyum bangga, mengacungkan ibu jarinya di hadapan Orish. “Pengirimannya masih drop off atau udah kamu ubah pick up jasa kirimnya. Sean bantuin kamu, kan?” Orish terkekeh. “Sean sibuk, aku kadang dibantuin sama Mama, terus pas makin banyak order aku udah berani pakai layanan pick up.” Si lelaki senang mendengar, dia memberi kecup pada kening kekasihnya sebagai reward kecil. “Good job, Orish. Painterish will definitely gets bigger, you can take my words.”
Painterish adalah nama bisnis online Orish, seperti yang dia katakan, toko kecilnya melapak di platform e-commarce. Mulanya sejak perempuan itu masih menjadi mahasiswa semester tua dan hanya punya satu dua produk berupa ragam sticker set karyanya sendiri, kemudian semakin berkembang dengan bertambahnya produk pernak-pernik journaling and scrapbook yang menjadi salah satu trend yang **paling menyenangkan untuk disimak dan dilakukan. Lalu bertambah lagi berupa mug keramik dengan fanart karakter dan produk paling larisnya saat ini selain. stickers set juga ada painting by number, self healing yang tak hanya dilakukan di atas kanvas, melainkan di beberapa media yang Orish uji. Totebag, canvas shoes, dan banyak lagi.
“Jendra, I can't stay calm but keep on being excited when I start talking to you, I feel like I wanna tell you anything.” Orish berujar jujur, membuat Jendra memutuskan untuk memiringkan badan hingga kepala Orish jatuh di lengan kokohnya. Mereka berhadapan dengan dua pasang mata bertemu. Badan besar Jendra menghalau sinar matahari agar minyilaukan mata, baik miliknya maupun empunya si cantik. “What stopping you? I’m all ears, love.”
Orish terkekeh lagi, jari-jemarinya dengan senang bermain di dada Jendra selagi mata dingin lelaki itu meneliti wajahnya. “You know fear is the thing that sticks with me the most, I feel like everything I do has a line with what I fear. Termasuk tentang usaha kecil ini, aku selalu takut mulai sesuatu mengembang ini itu padahal aku memang udah saatnya naik level, aku takut tiap ada yang complaints, you know it’s nightmare for any sallers. Aku juga sering nggak teliti kadang, bikin beberapa cacat dan kesalahan lain, dan dari sana aku belajar. Kamu tau, aku sampai ada bukunya sendiri buat ngerangkum kesalahanku itu buat pedoman biar nggak terulang.” Jendra tertawa di sela keseriusannya menyimak.
“Terus, aku bahagia banget waktu aku berani minta tolong ke alumnus sama temen-temen, ternyata mereka dengan sennang hati banget tolongin aku. Padahal aku kuliah nggak aktif-aktif banget, terus aku kirimin mereka prouduk aku sama hampers, karena kalau nggak ada bantuan mereka nggak akan ada orderan yang masuk sebanyak itu, sampai aku kelimpungan, sampai Mama juga manggil orang buat bantuin kita. Aku bahagia waktu mereka kasih bingang lima dan review bagus, waktu mereka puji pengemasan rapi yang emang aku kemas sendiri, waktu mereka tag aku di Instagram. Jadi kalau kamu tanya aku senang apa nggak jalanin ini semua, aku lebih dari seneng.”
Jendra merapikan anak rambut Orish ke belakang telinganya, kemudian membelai pipi perempuan itu lembut. “I can't give any other reaction than the same happiness for your success. You deserve that. No, you still deserve anything better. I won't be able to forget three months ago when you cried on the phone and said you were tired, it broke me really. Sekarang kamu bisa sekeren ini, you really deserve all the good things.”
“I will never forget one of the customers who ordered 30 boxes of canvas painting by number to be sent to the address of Panti Asuhan Hari Esok.” Orish sedikit beranjak untuk mengecup khas pipi Jendra hingga berbunyi, membuat laki-laki itu tersenyum miring. “Thank you for ordering that much.”
Orish mengecup lagi di mata kanan Jendra yang terpejam. “Thank you for being such a good person to those kids.” Kemudian mengecup lagi di mata kiri. “Thank you for supporting me so far.” Lalu mengecup lebih lama hidung besar yang selalu dia kagumi. “Thank you for coming here in your busy time and talking to me about this, Jendra.”
Jendra membuka kedua mata saat Orish menyudahi kecupannya, netra itu menangkap wajah perempuan yang hanya berjarak beberapa senti dari miliknya. Laki-laki itu sadar, masih satu bagian dari wajahnya yang tersisa untuk Orish kecup, Jendra enggan sekali melewatkan kesempatannya untuk bertanya. “What will you thank me for when you kiss my lips?”
“For pouring me with your love. For loving me so much until I can feel it deep into the recesses, I've never been loved like this with anyone but family. I wouldn't be this brave Orish without your encouragement, Jen.” Orish mengungkapkannya dengan tatapan yang menyihir Jendra, hingga laki-laki itu tak berkutik, tidak juga mengembuskan napas. Dia hanya berdegup gugup, sebab dia selalu ringan membantu jika itu tentang Orish dan sama sekali tak mengaharapkan balasan. Namun, siapa yang mengira mendapat sejumlah kata dapat membuatnya bak akan terbang begini.
“Then kiss me right, kiss me longer.” Tubuh **Jendra **bangkit, bersandar pada kepala *ranjang, netranya sama sekali tak lepas mengunci semesta tepat di hadapan. Satu tangannya berlabuh di pinggang perempuannya. “Make it feel like forever. Can you?*”
“I don’t know how to do it.” Orish menjawab disertai gelengan, wajahnya penuh rona, tapi telapak tangan dan jemari kirinya menyapu tulang selangka Jendra. Laki-laki itu terkekeh pelan, menampilkan deretan gigi rapi, mendengar kalimat Orish yang tak sinkron dengan jemari lentik yang kini mengelus lehernya. “I will do it for you, so you can keep acting innocent and play dumb with me.”
Giliran Orish yang tertawa karena kebenaran yang diucapkan Jendra. Kalau dulu disindir sok polos dan hanya gimik belaka, Orish akan sakit hati, mengikis kepercayaan dirinya sendiri. Butuh waktu bertahun-tahun untuk Orish membuka diri dan menunjukkan bagaimana sifat rumahannya yang lebih cerita dan aktif. Namun, Jendra hanya butuh waktu berbulan-bulan, sangat klise, tapi siapa yang tak larut dengan sweet talker seperti Jendra, siapa yang tak hanyut jika aksi-aksi lelaki itu selalu berjalan lancar?
Yang Orish pikirkan dulu, ketika dia punya kekasih, mungkin akan butuh waktu beberapa lama hingga lelaki itu bosan duluan untuk beradaptasi dengan Orish dan pribadi pemalu beserta kecenderungan cemasnya. Jendra tidak demikian, dia hanya butuh enam bulan untuk mengerti dan membuat Orish mengerti pula tentang ‘banyak hal’. Entah memang begini rasanya pacaran atau karena Jendra adalah orang yang mengajaknya menjalin hubungan.
“Have you ever counted how many times I told you that you’re insanely beautiful when you laugh?” Perempuan itu masih tertawa lagi selagi menggeleng. “Yeah, I’ve done it before, tapi makin ke sini makin nggak bisa.”
“That’s it. You better not do it again.”
Orish mengangguk. Tatapannya turun bersamaan dengan jemari yang naik ke bibir Jendra, membelai birai atas yang tipis itu lembut lalu ke bagian bawah yang lebih tebal. Orish memainkannya dengan terus menekan beberapa kali, kenyal. “I wanna bite this, may I?”
“No need to ask, just do anything you want while I stay a little longer here.” Itu **kalimat terakhir yang Orish dengar sebelum menghapus jarak bibir mereka. Jendra harus bilang, meskipun kali ini perempuan itu menyerang duluan, gerakannya tak pernah tak lembut, tak pernah terlalu menuntut, namun selalu berhasil membuatnya terbuai.
Jendra menahan dirinya agar tidak mangambil alih ketika Orish yang memgang kendali, memagut bibir atas dan bawahnya bergantian. Tangan kanannya masih tetap menopang tubuh selagi dia fokus pada setiap lumatan lembut. Tak lama setelah itu Orish menyesap sedikit lebih kuat bibir bawahnya, lalu dengan gigi rata miliknya, perempuan itu menggigit daging lunak itu untuk ditarik keluar. Sekali lepas, Orish memagutnya lagi.
“You don’t even bite it hard,” komentar Jendra usai Orish memberi jarak. “Nanti bibir kamu sakit kalau aku gigit beneran.”
Jendra menggeleng. “It's not like I'll push you away if I get hurt, I don't even care if it bleeds.” Orish menghela napasnya jengah, sekarang dia terbisa merotasikan mata seperti yang dilakukan Nicky saat mendengar sesuatu yang tak dia suka, benar-benar memberinya kesan yang berbeda. “But I do.”
Jendra tak peduli dan memilih mengangkat tubuh Orish yang tadinya masih duduk disamping beralih ke atas perut liatnya, mengundang panik karena Jendra melakukannya gesit, bak Orish tak punya beban tubuh. “Do. It. Again.”
Perempuan itu *sedikit bergidik mendengar titah. Namun, kedua tangannya sudah hinggap di leher Jendra, jantungnya berdegup gila. “Close your eyes? Please,”* pinta Orish, Jendra menatapnya tak santai, membuatnya makin dikerubungi gugup. Usai Jendra memenjamkan mata, Orish perlahan merendahkan tubuh, duduk di perut laki-laki itu membuatnya berposisi lebih tinggi.
Orish kembali mengikis jarak, mencium bela bibir yang kini tertutup, dia kira Jendra akan membuka bibirnya ketika beberapa kali mengecup, namun laki-laki usil itu malah makin merapatkan bibirnya. Orish mencoba trik lain, menyapukan lidah di atas permukaan birai laki-lakinya, tapi Jendra tak juga memberinya akses. “I don't understand, you want me to repeat it but you won't open your lips. Let me know when you're done teasing me.”
Jendra tertawa melihat wajah kesal Orish, tangannya mencengkram pinggul Orish ketika perempuan itu berusaha menyingkir dari atas tubuhnya. Semakin Orish mencoba bangkit, semakin kuat pula Jendra menahannya ke bawah. Sampai Orish menyerah dan membiarkan Jendra menariknya kuat ke bawah, laki-laki itu sontak mendesis pelan hingga Orish terkejut.
“K-ken-napa?” tanyanya panik. “K-kamu kenapa?”