Unbearable.


Jendra merasa terbengkalai seorang diri di ruang tamu rumah pacarnya. Laki-laki itu memang sengaja datang satu jam setengah lebih awal menghindari molornya waktu karena dia tahu benar Orish yang berdandan kadang nggak tahu durasi.

Tiga puluh menit pertama sempat dia habiskan untuk berbincang dengan Mama Orish perihal acara pertunangan Jeffri minggu lalu, sebelum akhirnya wanita paruh baya itu pamit pergi. Tiga puluh menit berikutnya Jendra gunakan untuk memiringkan smartphone dan bermain game online selama dua ronde, andai saja Sean juga ada di rumah mungkin bisa lebih lama dari itu, sayang si tengil itu sedang ada urusan di luar.

Tersisa setengah jam terakhir, Jendra sudah amat bosan. Laki-laki itu sampai kembali mencicipi aneka ragam kue kering di dalam toples yang menjadi suguhan di atas meja. Namun, Orish masih belum juga turun dari sarangnya di lantai dua. Pacarnya nggak sedang pingsan di kamar mandi kan?

Baru saja Jendra bertekad menghampiri Orish, matanya mendapati perempuan itu menuruni tangga dengan anggun dari ambang pintu ruang tamu.

Tubuh ramping itu dibalut dress navy selutut dengan model brokat pada bagian bahu sampai lengan seperti kebaya modern yang digunakan para perempuan eksis menghadiri kondangan. Belum lagi, heart bun hairstyle yang diberi pernak-pernik keemasan, sisa rambutnya dibiarkan terurai rapi, satu di depan dan satu di belakang.

Orish melalui pintu ruang tamu begitu saja tanpa menengok ke arah Jendra yang masih terpaku, perempuan itu beberapa kali memanggil Mama tanpa mendengar sahutan hingga akhirnya Orish kembali pada pintu ruang tamu.

“Kamu lihat Mamaku nggak? Kok nggak ada ya, Jen?” tanya Orish gelisah.

Yang tanya memilih bangkit dari duduknya sebelum menjawab, “Mama kamu tadi pergi, mau ngurus arisan komplek kalo gak salah. Katanya kalo kita pergi duluan disuruh kunci rumah.”

Wajah Orish berubah kecewa, “Aah mama.”

“Kenapa?” tanya Jendra, kakinya melangkah lagi mendekat ke hadapan Orish, “Kamu udah selesai kan? Sekarang mau jam tujuh.”

Orish spontan melirik jam Junghans di ujung ruangan yang menunjuk pukul enam empat puluh, “Aaah maaf bikin nunggu lama, tapi ini gimana?”

Jendra nggak bisa menangkap maksud Orish, pacarnya itu seperti bingung sendiri, “Apa? Bilang dulu kenapa? Jangan panik.”

“Bajuku... ini—” Jendra menelisik dari ujung rambut sampai kaki telanjang dan sama sekali nggak menemukan cacat apapun. Laki-laki itu kembali menatap Orish lalu menaikkan satu alisnya, “—It looks good on you, babe. Apalagi?”

Zipper belakang macet nggak bisa aku naikin, kalo aku paksa coba nanti bagian ini yang robek.” Jelas Orish sembari mengangkat sedikit kedua lengan, pergerakannya seperti dikunci sleeves brokat yang mana jika dia paksakan pasti berujung merusak pakaian itu sendiri.

Jendra kira ada masalah yang lebih genting ternyata hanya sesepele ritsleting macet. Laki-laki itu mengesampingkan rasa heran, kemudian memutar pelan tubuh Orish di depannya tanpa aba-aba, melihat kancing ritsleting yang sudah naik setengah jalan.

Bibir Orish terkatup rapat, mata besarnya yang jernih dia arahkan ke depan, menatap cermin dinding dengan bingkai warna emas yang sengaja Mamanya letakkan di ruang tamu. Perempuan itu memandang pasrah Jendra yang berdiri tepat di belakangnya, bukannya ingin protes, jujur saja Orish hanya malu. Apalagi kalau bukan karena strapless bra-nya yang pasti terlihat, Orish menelan rasa malunya sendiri, dia pikir Jendra pasti sebenarnya sudah malas karena dibuat menunggu terlalu lama maka dari itu si cantik lebih baik diam.

“Ini ritsleting udah kecil, licin amat lagi!” Orish meringis mendengar komentar Jendra yang dari tadi juga kesulitan menaikkan zipper. “Pelan aja... nanti zipnya malah copot.”

“Iya, bentar,” Jendra sampai memposisikan tubuhnya setengah membungkuk, berusaha mengabaikan sehelai kain berbahan karet dengan warna serupa kulit punggung Orish, Jendra mencari sumber masalah macetnya zipper yang nggak lain karena benang yang menggumpal kecil di gigi-gigi ritsleting. “Ada benang yang nyangkut.”

“B-bisa diambil kan?” Jendra diam tapi bisa Orish rasakan kulit tangan laki-laki itu bersentuhan dengan punggungnya.

“Aku korek aja ya benangnya? Biar cepet, gak bisa diambil nih, ditarik juga gak bisa,” seketika membuat Orish membalikkan badan tapi malah laki-laki itu tahan, “Jendra jangan.”

“Gak bakal kena kulit serius, bajunya juga gak bakal kebakar,” Orish masih menggeleng, matanya menatap memohon ke netra Jendra. “No lepas aja, aku ganti baju.”

“Waduh nanti lama lagi, udah ini aja serius cepet,” Orish akhirnya diam, membiarkan Jendra memantik koreknya hingga terdengar kancing ritsleting turun lalu dinaikkan cepat.

Keduanya bernapas lega, sekali lagi, karena masalah sesepele ritsleting macet.

“Udah kan? Apa ada yang lain?”

Orish dengan wajah merah merona karena menahan malu itu hanya menggeleng lalu bergumam pelan, “maaf ya jadi lama.”

“Gak masalah sayang.”

Alih-alih menyingkir dari belakang Orish, Jendra malah bergeming. Kedua tangannya melingkar di pinggang Orish, mendapat respon elusan lembut membuat Jendra semakin merapatkan pelukan. Sepasang itu menatap refleksi mereka di cermin dinding, memastikan outfit mereka match satu sama lain. “Don't you see?” celetuk Jendra, laki-laki itu menyapukan ujung hidung bangirnya pada bahu Orish, mengecup sekilas sebelum melanjutkan kalimatnya, “we look so perfect together.”


Orish pikir selama perjalanan akan terasa canggung setelah kejadian sebelumnya, ternyata Jendra malah jadi talkative, menceritakan kisah SMA-nya yang bisa dibilang masa kelam sebelum diremas habis dengan dunia perkuliahan. Cowok itu bilang dirinya sudah langganan masuk BK dan babak belur karena anak basis sekolahnya. Orish merasa cowoknya itu seperti karakter utama novel-novel yang dia baca saat duduk di bangku SMA, sok keren.

“Kamu kayak preman mukanya,” komentar Orish, sesekali mencoba usil laki-laki yang mengemudi tenang disampingnya, membuat Jendra mengangkat satu alis tanpa menoleh.

But you like me,” balas Jendra sederhana, laki-laki itu tersenyum remeh, “you fall first

NO NO why did you bring it? it's unrelated with topic we talk about ih males banget sama kamu!”

Andai saja nggak sedang diburu waktu mungkin Jendra akan menepikan mobilnya, menghujani bibir ranum itu kecupan tiap kali si empunya merajuk, “mau di cium manyun-manyun gitu?”

“Nggak,” Jendra meraih tangan kanan Orish yang menganggur diatas pahanya sendiri dengan tangan kirinya, menautkan jemari mereka kemudian mengecupnya lama. “You know I fall harder.

“Jendra nyetir yang bener lihat depan!”

Selalu begitu, penuh gombal murahan dari Jendra yang anehnya selalu bekerja pada Orish. Sesekali keduanya membahas perihal lain, kemudian berdiskusi; saling bertukar pikiran dan pendapat, berakhir membuat Orish bingung dengan cara laki-laki itu menyelesaikan masalah. Ada kalanya Jendra merespon hal-hal dengan kelewat gampang, menyingkirkan hambatan semudah membalik telapak tangan, dan nggak jarang juga amarahnya terpicu dari masalah itu sendiri, atau parahnya benar-benar acuh tak acuh dengan hal yang terjadi.

Belasan menit berlalu, Honda City Crystal Black Pearl itu memasuki area parkir tempat undangan. Bukan gedung tinggi menjulang dimana resepsi pernikahan mewah biasa digelar melainkan rumah modern dengan halaman seluas kebun. Sebelum masuk pekarangan rumah, para tamu undangan disambut dengan flower gate mawar putih dan daun hijau melingkar serta lampu-lampu kecil memberi kesan warm, di kedua sisi berdiri papan bertuliskan nama kedua mempelai.

Keenan & Lily.

Nggak berhenti disitu, saat selesai menulis namanya di buku tamu, keduanya diarahkan salah satu staff wedding organizer yang kebetulan berjaga disana untuk photoboth.

“Besok kita nikah ada beginian juga?” tanya Jendra di sela-sela berpose, tangan kirinya melingkar di pinggang Orish, senyum lebar terbentuk di bibir keduanya, “emang besok kita nikah?”

“Iyalah, harus.” Orish terkekeh.

Setelah menerima hasil jepretan foto itu keduanya berjalan masuk, beringingan dengan tangan tertaut satu sama lain. Menurut Orish meski acara yang mereka hadiri sedikit ramai orang, suasananya tetap terlihat kondusif dan teratur dengan baik. Entah karena didominasi warm light dan musik jazz yang sedang terputar atau memang kinerja tim WO yang patut di acungi jempol.

Meja-meja bundar berukuran besar dimana enam sampai delapan kursi bisa melingkar itu tidak ditata berhimpitan, memberi kesan luas hingga para hadirin dan staff lain dapat berlalu-lalang dengan aman.

What a dream outdoor wedding.

“RIS HARIS! TUH SUMBER MASALAH LU DATENG TUH!”

Atensi Jendra dan Orish terfokus pada asal suara keras itu, disudut kanan dekat kuade indah berwarna putih gading. Sepertinya hampir tiga meja terpenuhi dengan muda-mudi berbalut pakaian berbagai model dalam satu warna. Senyum lebar Jendra terukir lebar begitu kedua matanya mendapati gerombolan masa SMA-nya, laki-laki itu menarik pelan Orish mendekat dengan kerumunan.

“BOS GUE DATENG WOI KURSI MANA KURSI WOI.” Sorak yang terdengar.

“Bener-bener si biang masalah gue lu anak arsi anjing,” Jendra tertawa saat salah satu temannya, Haris si mahasiswa teknik sipil menghampiri lalu berjabat khas tongkrongan mereka. “Ngeluh mulu lo mble.”

Jendra hanya sempat bersalaman dengan teman-teman di mejanya, yang lain hanya dia sapa menggunakan tangan yang dia lambaikan ke atas. Orish sendiri masih mengekor di belakang, menggenggam tangan Jendra dan sesekali tersenyum saat pasang mata meliriknya.

“Sini, bos. Sini duduk sebelah sini sama gua.” Usai mengambil tempat, Jendra langsung diserbu pertanyaan oleh teman-temannya, tentang dunia masa nakal mereka, tentang kuliah, tempat magang, game dan pasti nggak lepas dari throwback memori saat SMA. Orish hanya diam saja, perempuan itu duduk manis dan mengamati sekitar, kedua tangannya memainkan tangan Jendra yang diletakkan di pahanya selagi laki-laki itu sibuk menanggapi obrolan.

Sebenarnya tepat di samping Orish duduk seorang perempuan cantik, entah salah satu teman Jendra juga atau bukan Orish bingung karena yang dia ingat Jendra sama sekali nggak menyapa perempuan itu. Orish ragu untuk mengajaknya bicara, perempuan bergaun beludru navy yang cantik itu sibuk dengan ponselnya, mata tajam yang dihias eyeliner panjang semakin memberi aura mengintimidasi.

“Oy Jen, cewek baru lu? Kenalin dong, kesian amat diem mulu,” ujar sosok yang duduk di seberang Orish, entah siapa namanya namun mata laki-laki itu kedapatan menatapnya beberapa kali, awalnya Orish berusaha abai karena dia pikir mungkin perasaannya saja, sampai kalimat itu akhirnya mengudara.

Seluruh perhatian tiba-tiba terpusat pada Orish, perempuan itu terpaksa memasang senyum sungkan, tangannya dibawah meja sedikit meremas jemari Jendra. “Iya cewek gue, Orish namanya.”

Hanya itu yang Jendra katakan, pacar Orish itu sama sekali nggak berniat menyebut nama atau menunjuk satu persatu temannya untuk diperkenalkan pada Orish.

“Halo ceweknya Jendra,” kiranya kalimat semacam itu kerap Orish dengar sebagai sautan, tentu saja hanya dibalas senyum. Beberapa pertanyaan juga sempat teman Jendra tanyakan, klise.

‘Cantik begini kok mau sama modelan Jendra? Blangsak tuh anak.’

‘Anak mana? Sekampus sama Jendra?’

‘Semester berapa?’

“Biasanya yang cakep beginu kalo gak anak Fisip ya anak Hukum, ternyata FSRD ya?”

Orish mengangguk, “iya aku FSRD, ehm, DKV lebih spesifiknya.” Jendra menatap Orish senang, seperti timbul perasaan bangga tersendiri saat pacarnya itu berinteraksi dengan temannya.

“Lah Jendra gua kira masih ama Stella? Mana tuh anak kagak dateng?” celetuk laki-laki yang mengusulkan untuk memeperkenalkan Orish. “Sar, sahabat lu mana?”

Perempuan dingin disamping Orish ternyata bernama Sarah. Perempuan itu berdecak lalu meletakkan smartphonenya di meja, “Edo, you better shut up, none of us wanna hear any shit from you.

Mendapat respon yang buruk membuat si Edo ini ikut nggak terima, “masih aja ngesok ini cewek bangsat, gua tanya baik-baik juga.”

Sarah nggak peduli, perempuan itu bangkit, menunjukkan jari tengahnya ke arah Edo lalu pergi meninggalkan meja, hampir saja Edo ikut beranjak jika teman-teman lain di sisi kursinya tidak menahannya. Orish cukup tertegun dengan kejadian barusan terjadi, jantungnya berdebar intens, sedang Jendra menatap datar Edo di seberang sana.

Edo Putra Kurniawan masih semenjengkel kan lima tahun lalu. Hal yang Jendra benci adalah menilai dan mengurusi urusan orang, Namun Edo di matanya nggak lain hanya si pengecut yang nggak ada kapoknya. Masa SMA dulu si Edo dengan mulut lamis dan kecerobohannya sudah pernah mengadu domba teman sendiri dan murid beringas, setelah mengakibatkan kerugian Edo berakal bulus itu melepas tangan, walaupun tetap ikut bonyok. Nggak berhenti disitu, Edo juga terkenal seperti linta, biasa memanfaatkan teman tanpa ada timbal balik yang sesuai. Mendekati banyak perempuan cantik di tiap angkatan kelas tanpa peduli seberapa jijik mereka dengan Edo.

Banyak yang enggan berteman dengan Edo, termasuk Jendra. Jika bukan karena sepupu Keenan mungkin Edo sudah tamat beberapa waktu lalu, dan eksistensinya akan dianggap sampah disini. Jendra berharap Edo nggak mencari gara-gara dengannya, laki-laki itu akan dengan senang hati memberi didikan yang selama ini hanya berfantasi di kepala.

“Jendra,” panggil Orish, si pemilik nama buru-buru menoleh, mengalihkan segenap atensi pada hal yang lebih layak. “Kenapa sayang?”

Belum sempat menjawab, Jendra kembali menimpalinnya pertanyaan, “Mau makan?” tanya Jendra, laki-laki itu menjunjuk bufet dengan dagunya, mata Orish melihat aneka ragam hidangan di sajikan disana.

“Kamu aja, aku nggak laper.” Jawabnya, Orish kembali melihat bufet, matanya menangkap es lemon segar, “mungkin mau minum aja.”

Jendra segera berdiri, membantu pacarnya bangun dari duduk. “Iya, sekalian temenin aku makan ya? OIT gue makan duluan.”

Sepiring penuh, sedikit nasi lebih banyak lauk, Jendra benar-benar memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Keduanya nggak kembali ke meja asal dan memilih untuk duduk berdua di meja kecil dengan dua kursi yang terletak di dekat bufet. Orish sempat melirik sekilas ke meja mereka sebelumnya, tepat ketika Edo menoleh ke belakang, laki-laki itu mengerlingkan mata, membuat Orish merasa aneh. Akhirnya perempuan itu kembali mengamati Jendra yang beberapa kali memaksa Orish untuk menerima suapan nasi.

“Jen, abis ini pulang kan?”

Jendra mengangguk, “Abis ini foto dulu aku, anak-anak sama Keenan, terus kita berdua sama pengantennya. Kamu udah capek?”

Orish mengangguk cepat.

“Bentar lagi ya sayang.”


Orish menghela nafas lega saat punggungnya bersandar di seat mobil, akhirnya selesai juga agenda kondangan ini. Keduanya baru saja memasuki mobil setelah sesi foto yang panjang dan pamitan.

“Hape? Tas? Dompet? Aman semua?” tanya Jendra, Orish segera mengecek isi tasnya lalu mengangguk, “aku aman, kamu gimana?”

Jendra merogoh kantong depan celananya, ponsel aman, lalu kantong belakang, dompet aman. Semua oke, tapi rasanya masih ada yang mengganjal, Jendra merogoh saku depan kemejanya lalu mengeluarkan amplop putih.

“Yang, lupa salamin amplop ke Keenan,” katanya sembari tersenyum konyol. Orish menggeleng, “gimana sih kamu kok lupa, buruan kasih mumpung masih disini.”

Jendra membuka pintu mobil, “bentar ya aku lari kok, kamu di mobil aja.” Perintah Jendra Orish tanggapi dengan anggukan kepala lalu laki-laki itu melesat masuk kembali setelah menutup pintu.

Beberapa detik dari kepergian Jendra, kaca mobil dari sisi Orish diketuk, perempuan yang baru saja menundukkan kepala untuk mengecek ponsel itu terpaksa mendongak. Cukup terkejut saat melihat Edo ada diluar pintu mobil, laki-laki itu seperti meminta Orish untuk menurunkan kaca mobil. Jujur Orish sebenarnya takut, tapi rasa sungkan mengelabuhi hati dan pikirannya.

Berusaha menepikan pikiran buruk pada akhirnya Orish menurunkan sedikit kaca mobil, senyum tipis Edo mengembang.

“Kenapa ya?”

“Cowok lu kemana, cantik?” Orish meremat ujung dress yang dia pakai mendengar kalimat itu.

“Ehm... Jendra lagi balik kedalam sebentar, dia lupa sesuatu.”

Edo Putra mengangguk-anggukan kepala, kemudian menatap Orish kembali, “ini kaca apa gak bisa di turunin lagi? Lu kayak lagi ngobrol sama pengamen dah”

Demi Tuhan, Orish takut dan bingung jadi satu, perempuan itu berakhir bungkam dan menunduk. “Oiy kenapa sih? Takut lu ama gua? Yaelah cantik.”

Yang Orish dengar, laki-laki itu mendesah kesal, kemudian menunduk lagi ke sela kaca yang terbuka, “gua gak ada niat buruk kok, malah yang ada kasih lu tau hal penting. Lu udah kenal baik buruknya si Jendra?”

“E-edo m-maaf banget, kalo n-nggak ada yang penting, aku harus tutup kacanya.”

“Ck, gua heran sama cewek jaman sekarang, apalagi lu nih, lu cuma mainan doang buat cowok lu tuh, jangan jual kemahalan, abis sepah nih, abis dipake lu kayak Stella juga bakal dibuang lu.”

Orish buru-buru menaikkan kaca mobil, kedua tangannya bergetar. Ingin sekali tuli sementara hingga suara dari luar mobil tidak terdengar. Edo mengumpatinya karena menutup kaca mobil tiba-tiba, tidak bisa Orish tahan lagi, air mata yang sedari tadi menggenang akhirnya lolos.

Orish menangis pelan didalam mobil yang gelap, bahkan saat Edo sudah mulai berjarak dengan mobil sama sekali nggak mengurangi perasaan takut Orish. Bukan, perempuan itu nggak percaya apalagi terpengaruh dengan apa yang Edo ucapkan.

Orish percaya Jendra.

Beberapa hal yang membuatnya takut adalah bagaimana Edo bersikap, caranya bicara yang menyudutkan, keras dan cenderung merendahkannya. Pikiran Orish terus terdistraksi dengan berbagai kemungkinan buruk yang bisa Edo lakukan jika Jendra nggak kunjung kembali.

‘Tok tok, tok tok.’ Ketukan kaca mobil lagi.

Orish semakin menundukkan kepala, dua tanggannya dia gunakan untuk menutup telinga. “P-please pergi.”

'Klek'

P-please pergi! Pergi.”

“ORISH?”

Orish mendongak begitu mendengar suara Jendra, perempuan itu langsung memeluk cepat Jendra dengan gemetar, menangis sesenggukan. Sayangnya, Jendra melepas diri, laki-laki itu bingung. Nggak mungkin Orish tiba-tiba menangis dan gemetar ketakutan tanpa sebab yang memicu.

“Aku tanya baik-baik, jawab yang jujur. Kamu kenapa?” tanya Jendra, pelan namun penuh penekanan. Respon Orish hanya gelengan kepala, tangannya yang berada di punggung Jendra mencoba menarik pelan tubuh itu untuk dia dekap, tapi Jendra malah manahan kedua sisi lengan Orish.

“Orish, BILANG!”

Pecah, tangisan Orish makin tak terbendung, perempuan itu memilih menarik tangannya dari tubuh Jendra, pikirannya semakin kacau.

“Sayang maaf, kenapa? Tolong bilang ke aku, aku bisa gila kalo kamu nggak ngomong.” Pinta Jendra, laki-laki itu membawa Orish kembali untuk dia dekap, perasaan bersalah hinggap begitu saja setelah bentakan itu.

“J-jendra... E-ed E-edo k-kes-sini.”

Rahang Jendra mengeras. Meski hanya itu yang Orish katakan, bisa dia menyimpulkan apa yang sudah terjadi, mengenal watak dan pribadi sampah Edo. Tangannya semakin mengepal kuat apalagi saat melihat Edo berdiri di depan mobilnya sendiri.

He d-did nothing b-bu—,”

“—Sst, gapapa Orish,” Jendra manarik dirinya lagi, matanya menelisik netra Orish, sepeti sedikit demi sedikit menepikan ketakutan Orish. “Tarik napas.”

“Lagi, tarik napas.”

Edo.

Edo must take responsibility for what he has done.

“Tunggu bentar disini,” titah Jendra berusaha melepas diri dari Orish.

“N-no no p-please pu-pulang.”

Jendra masih keukeuh melepas tangan Orish yang meremat lengannya. “Iya kita pulang. Bentar aja ya, tunggu jangan keluar mobil.”

Itu kata Jendra sebelum pergi meninggalkan Orish lagi di dalam mobil. Jendra melepas jas biru tua dari setelan yang dia pakai, langkah kakinya melangkah lebar agar semakin dekat dengan Edo yang sudah melihatnya. Emosi Jendra semakin memuncak saat Edo dengan konyol tersenyum ke arahnya.

Jendra meletakkan jasnya di kap mobil Edo, kemudian berdiri tepat di depan Edo yang sebenernya baru akan memasuki mobil, “kenapa nih? Ngadu ya cewek lu?” sindirnya diselingi tawa.

“Heran aja gua dari yang sepanas Stella ganti ke cewek model baik baik gitu tujuan lu apa? Udah bosen ya lu make Stella?”

Puas mendengar kalimat panjang Edo, Jendra tanpa sepatah-kata melayangkan kepalan kuat tangannya pada perut atas Edo sampai laki-laki itu jatuh merintih. Tentu membuat keduanya jadi pusat perhatian tampat parkir para tamu undangan, Jendra nggak perduli. Laki-laki itu berjongkok, tangan kanannya menarik kuat rambut belakang Edo, melihat air muka yang masih dihias senyum. Jendra membenturkan kepala Edo ke pintu mobil cukup keras, belum ada darah, pelipis Edo terluka, terlihat memar.

Belum sempat memberontak, Jendra kembali mengeratkan tarikan rambut belakangnya, “Edo, gue udah dari lama pengen ajarin lo etika biar gak jadi manusia sampah. Lo bilang apa ke cewek gue?”

Edo hanya diam, membuat Jendra geram dan membenturkan kepala Edo lagi, “jawab kalo gue tanya.”

Sekitar mereka sudah penuh dikerubungi manusia~manusia kurang hiburan yang ingin tontanan gratis, beberapa mencoba melerai Jendra yang dengan cepat dia tampis. Jendra benci urusannya di campuri orang lain.

“Cewek lu aneh, gua cuma bilang dia mainan, dia gak ada bedanya ama Stella. Emang gua salah?”

Jendra beralih mencengkram leher Edo, menariknya berdiri kemudian menghantam sisi kanan wajah Edo hingga tersungkur kembali.

“Bangun, gak bisa ribut lo? Jangan mulut aja dipake, kalo otak udah oblong coba otot lo dipake buat ngelawan.”

Edo tertawa, “gua main hukum aja dah, lu liat nih banyak saksi.” Edo berkata, menunjuk orang-orang yang bergerombol untuk menyaksikan mereka. Jendra masih belum puas tapi aksinya terhenti karena kehadiran Haris dan beberapa temannya yang tiba-tiba datang, membelah keramaian untuk melerainya.

“Udah Jen, lo gendeng? Udah Dam, bawa Jendra pergi gue urus Edo.” Ujar Haris, tapi Jendra nggak menurut, laki-laki itu dengan gesit melepas diri dari Adam dan Riko yang menahannya, kali ini hampir menghajar Edo lagi tapi Adam dan Riko menyeretnya hingga ke tempat dimana mobil yang Jendra bawa berada.

Pintu mobil itu terbuka, atau lebih tepatnya Sarah yang entah dari mana itu membuka pintu mobil agar Orish yang dia temukan menangis sesenggukan di dalam mobil tetap memiliki udara untuk bernapas. Mata Sarah memicing benci melihat Jendra tapi tangannya masih menggenggam tangan Orish.

“Katrok lu, balik sana lu anjing.” Kata Riko sambil mendorong tubuh Jendra ke arah mobil.

“Urus tuh bangsat daripada gue bunuh.”

“Iye sana balik anjing kasian cewek lu tuh, gila lu asli Jen.” Jendra spontan menoleh ke arah Orish, perempuan itu membuang muka begitu netra mereka bertemu.

“Kita pulang ya?” Orish bergeming nggak menjawab, “lo balik aja Sar, makasih udah nemenin cewek gue.”

Sarah melepas tangan Orish, lalu mundur selangkah, “lo sanggup anterin cewek lo? Dia bahkan juga takut sama lo, mending gue tolong.”

“Gak.”

Detik itu juga setelah menutup pintu Orish dan masuk ke dalam mobil Jendra langsung menyalakan mobil, melesat keluar dari area rumah Keenan.

Selama perjalanan Orish hanya diam, meski tangisnya sudah berhenti tapi pikiran dan perasaannya di dalam begitu kacau. Jendra beberapa kali mencoba untuk mengajak berbicara namun perempuan itu malah membuang muka. Orish bahkan menepis tangan Jendra yang berusaha mengenggam. Nggak ada hal bisa Jendra lakukan malam itu selain ikut diam.

Jendra tau betul apa yang jadi salahnya saat itu, tapi laki-laki itu nggak ambil pusing karena orang semacam Edo memang perlu dihajar. Sekiranya begitu pemikiran Jendra.

Tanpa Jendra pahami, dari sinilah awal masalah hubungan mereka. Ibarat lantai kaca, Jendra telah menapaki pijakannya terlalu keras, menimbulkan keretakan parah yang nggak perlu memakan waktu lama untuk pecah.