Sebelum Nikah: Ide Pertanyaan untuk Calon Pasangan

Persiapan nikah itu penting! Ini ide pertanyaan untuk mengenali visi, nilai, dan harapan calon suami/istri. Bangun fondasi pernikahan yang kuat sejak awal.

Interaksi Ruang Kopi TambahBaik.com

Hi Pembaca yang baik hati, terima kasih telah mengunjungi TambahBaik.com.

Saat menulis tulisan ini, saya telah melalui usia pernikahan ke-7.

Menurut saya usia 7 tahun pernikahan bukanlah usia yang cukup untuk bisa bicara banyak tentang pernikahan.

Masih terlalu hijau, masih belum banyak pengalaman.

Akan tetapi hal tersebut tidak mengurangi semangat saya untuk berbagi apa yang saya temukan di sepanjang perjalanan pernikahan saya.

Dalam kesempatan ini saya ingin berbagi ide beberapa pertanyaan yang dapat ditanyakan seseorang yang sedang mencari calon suami atau istri.

Keinginan untuk menulis daftar pertanyaan ini muncul ketika saya memperoleh kabar dari sepupu laki-laki bahwa dia sedang dekat dengan seorang perempuan yang sepertinya cocok dengannya dan berharap untuk maju ke tahap selanjutnya yaitu pernikahan.

Saya pun segera menyusun beberapa daftar pertanyaan dan mengirimkannya ke sepupu saya untuk menjadi bahan diskusi keduanya.

Ketentuan Tulisan Ini

Sebelum membaca lebih lanjut, harap maklum bahwa tulisan ini memiliki ketentuan sebagai berikut:

Pertama, tulisan ini saya buat untuk orang yang punya visi membentuk keluarga sakinah sehidup sesurga dan dia bertekad sungguh-sungguh untuk melakukan tindakan yang diperlukan untuk itu.

Saya pernah dengar seseorang bilang, buat saya pernikahan itu yang paling penting adalah laki-laki menikah dengan perempuan, hal-hal lainnya tidak perlu diperumit, tak perlu banyak pikiran.

Saya juga pernah baca komentar di medsos, bahwa pernikahan itu jalani saja, nanti kalau kandas, ya, sudah move on dan menikah lagi.

Jika ada orang yang punya pandangan demikian, maka tulisan ini bukan untuknya.

Jika ada orang berpandangan menikah itu ya mengalir saja, maka tulisan ini juga bukan buat dirinya.

Kedua, seperti saya bilang di awal, saya merasa tidak punya kapasitas untuk menjadi seorang penasehat pernikahan.

Akan tetapi saya menulis daftar pertanyaan ini sebagai bentuk kepedulian saya kepada teman, sahabat, keluarga, yang sedang mencari pasangan hidup.

Sekadar kepedulian, tidak lebih dari itu.

Ketiga, adapun sumber tulisan ini selain dari berbagai referensi juga karena saya mengamati apa yang tidak work atau berpeluang tidak work.

Saya tidak punya rumus sukses pernikahan.

Hanya saja saya mencatat apa saja yang penting untuk diperhatikan agar risiko kegagalan dapat lebih diminimalisir.

Keempat, daftar pertanyaan ini menurut saya sebaiknya segera memperoleh jawabannya di awal, sebelum memutuskan untuk ke tahap yang serius yaitu menikah.

Dalam pernikahan, akan dijumpai berbagai permasalahan. Dan itu wajar banget.

Nah, pertanyaan ini, harapannya, sih, bisa mengurangi berbagai permasalahan tadi sehingga masalah yang muncul benar-benar masalah baru yang memang apa boleh buat mesti dihadapi.

Jadi harapannya pertanyaan-pertanyaan yang saya tulis ini dapat menjadi pengurang masalah.

Ide Pertanyaan untuk Ditanyakan kepada Calon Suami/Istri

Baiklah, setelah menguraikan keempat ketentuan barusan, inilah beberapa daftar pertanyaan yang bisa ditanyakan saat mencari calon suami atau calon istri.

Urutan penulisan pertanyaan ini tidak mencerminkan mana yang paling penting.

(1) Bagaimana cara dia belajar agamanya.

Pertanyaan ini didasari hadits tentang memilih pasangan hidup, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

“Perempuan itu dinikahi karena empat hal yaitu:

(1) hartanya,

(2) keturunannya,

(3) kecantikannya, dan

(4) agamanya.

Maka pilihlah yang baik agamanya, niscaya kamu akan beruntung.”

(Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasai, dan Ibnu Majah)

(2) Apa yang dibacanya.

Buat saya pribadi, membaca bukanlah hobi, melainkan kebutuhan hidup sama seperti makan dan tidur.

Saya butuh makan, saya butuh tidur, saya butuh membaca.

Jadi seseorang mestilah punya bacaan yang dibacanya.

Katakanlah, dia benar-benar jarang membaca, maka sekalinya membaca apakah yang dia baca, itu bisa digali.

(3) Apa atau siapa tokoh idolanya.

Apakah seseorang merasa nyaman ketika pasangannya menyukai sesuatu, katakanlah sepatu merk Kucing Terbang (bukan nama sebenarnya) kemudian dia mengolok-olok penggemar sepatu merk lain?

Saya pernah melihat perdebatan dengan kata-kata kasar untuk sebuah.. film super hero.

Jika seseorang merasa penting untuk tidak mengidolakan secara berlebihan hal yang tidak ada urusannya dengan kehidupan akhirat, maka pertanyaan ini perlu ditanyakan.

(4) Bagaimana cara dia mencari rezeki.

(5) Cari tahu apakah mudah percaya kabar-kabar hoax dan informasi yang tidak memiliki landasan atau dasar.

Bagi orang yang ingin mendidik anak-anaknya kelak dengan ilmu yang benar dan informasi yang valid, maka dia akan kesulitan jika pasangannya tidak dapat diajak bekerja sama untuk sama-sama mencari ilmu yang benar dan informasi yang valid.

(6) Kalo suami pergi ke tempat lain, apa berkenan ikut?

Ada orang yang bisa LDM-an (Long Distance Marriage), ada yang tidak.

Jika seseorang termasuk orang yang tidak bisa LDM, maka pertanyaan ini mesti ditanyakan sejak awal.

(7) Apa saat ini ada tanggungan hutang, berapa, dan ke siapa?

Perlu diketahui apa sebab hutangnya, apakah memang kebutuhan, ataukah karena kebiasaan.

Jika seseorang tidak menyukai kebiasaan berhutang untuk hal-hal yang tidak penting, misalnya membeli mobil baru karena merasa “panas” ketika melihat tetangga sebelah membeli mobil baru padahal dia sedang tidak punya uang sehingga terpaksa mencicil atau berhutang, maka pertanyaan ini perlu diketahui jawabannya di awal.

(8) Apakah ada penyakit menahun.

(9) Kalau tinggal bareng mertua mau apa nggak.

(10) Apakah dia merokok?

Pertanyaan ini perlu ditanyakan jika seseorang tidak ingin pasangannya merokok.

Kalau dia menjalin hubungan dengan seorang perokok, kemudian dia benar-benar menikah dengannya, dia tidak perlu kaget jika ternyata pasangannya suka merokok. Karena dia mestinya sudah mencari tahu atau bertanya kepadanya.

Bagi orang yang punya visi rumah tanpa asap rokok, sudah pasti mesti mencari pasangan yang tidak merokok.

(11) Kalau sang laki-laki mencari calon istri yang bersedia stay at home apabila situasi mengaruskannya, ini harus ditanya di awal apakah calonnya keberatan kalau suatu saat diminta stay at home.

(12) Bersediakah mendaftarkan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA).

Mendaftarkan pernikahan di KUA mudah dan murah, suatu hal yang bisa diusahakan bagi orang-orang yang serius untuk menikah.

Ketidakinginan mendaftarkan pernikahan di KUA menurut saya merupakan hal yang perlu digali penyebabnya.

(13) Dan pertanyaan lainnya yang mungkin akan saya tambahkan di sini.

Kesimpulan Tulisan Ini: Tuntaskan di Awal Apa yang Bisa Dituntaskan di Awal

Ide dasar tulisan ini adalah daftar pertanyaan-pertanyaan yang mungkin terlewat saat orang ingin mencari calon pasangan hidup.

Menurut pengamatan saya yang masih hijau, biasanya orang tidak lupa untuk bertanya berapa penghasilan dan di mana bekerja atau kerja apa, namun bisa jadi melupakan pertanyaan lainnya yang juga penting untuk ditanyakan.

Pada prinsipnya saya menyarankan agar hal-hal yg perlu diclearkan atau dituntaskan di awal sebaiknya segera diclearkan atau dituntaskan, sehingga ketika sudah menikah diharapkan tidak ada kejutan-kejutan yang semestinya sudah terang di awal, karena sudah pernah dibahas di masa penjajakan.

Sekian tulisan ini, kepada Allah saya berdoa agar tulisan ini bermanfaat.

Pembaca punya daftar pertanyaan lainnya?

Silakan tulis komentar, ya!

Featured Image: iStock.com / onurdongel (Standard License)


Discover more from Tambah Baik

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Discover more from Tambah Baik

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading