Surat untuk Takdir

Takdir,
berapa kali aku harus mengatakan
bahwa aku bukan milikmu?

Aku menulis namaku sendiri
dengan luka yang ditanam penguasa,
menyusun hidupku sendiri
dituntun aturan kelam negara.

Aku ingin menjadi seseorang yang tidak takut hilang,
meski opini diredam, nyanyian dilarang dan teriakan dibungkam.

Terus bersuara meski benderang dunia kian padam.
Binatang jalang tak butuh arah,
Biarkan aku tulis namaku sendiri,
di halaman puisi yang tak seorang pun berani singgahi.

Nama yang Tidak Ingin Dihapus

Kau menulis namaku di tubuh malam,
di dinding-dinding kota yang lupa cara bermimpi,
di angin yang membawa kabar buruk
tentang mereka yang menyerah terlalu cepat.

Aku adalah sisa percakapan yang kau tinggalkan,
ketika ku berjalan dengan rindu yang tak pernah diberi alamat.
Kau menganggapku binatang jalang,
sebab tak ada satupun doa yang membuatku tunduk.

Namun aku tetap mengeja namamu dalam sunyi,
Aku terus mencintaimu seperti jalan pulang yang tidak pernah kutemukan.
Aku terus mencintaimu seperti puisi yang tidak selesai

Daylight

Aku tinggal di sebuah kota kejam yang tak mengizinkan cinta tumbuh lebih lama. Sekawanan NPD, Avoidant, Trauma, Anxiety mengubahku menjadi badai angin.

Aku butuh waktu menahun untuk menciptakan malam tanpa huru-hara

aku merangkul gelap sebagai kawan baik, karena ia satu-satunya yang tinggal saat semua suara dan angin memutuskan pergi.

Aku menahan diri di laut perasingan, tak pernah mengizinkan siapapun berlabuh. Sebab biasanya mereka langsung hilang saat selesai butuh.

Lalu tiba-tiba kau datang sebagai musim hangat yang mengetuk rumah paling dingin di muka bumi. Di tubuhmu, tidak ada janji-janji seperti syair. Aku bisa menjadi pagi dari matahari yang memilih tinggal lebih lama di pipi seseorang.

Dan aku, untuk pertama kali, belajar bahwa cinta bisa menjadi sunyi yang penuh gema. Tanpa peperangan, tanpa api yang mudah melahap kita.

Kusebut nama Tuhanku dan Tuhanmu dengan khusyuk, bersulang sebab langit tak lagi marah ketika kita saling menemukan. Entah warna merah, senja atau emas, you only see a daylight.

Detak di Bulan Mei

Hujan mengguyur hutan pinus sejak sore saat dadaku mulai penuh dihampiri rindu yang berdesir, tapi enggan aku usir.

Kita duduk di bangku kayu yang nyaris lapuk. Kau datang membawa susu coklat dan segelas kopi tanpa gula yang membawa kita pada percakapan-percakapan hangat, membuat lupa sejak kapan kita berhenti menjadi asing.

Tentang pekerjaan, tentang negara, tentang betapa seringnya suara rakyat dipinjam, lalu dilupakan. Tentang oligarki, tentang siapa yang paling sering membayar harga dari kekuasaan yang tak pernah cukup. Tentang seorang negarawan yang menggaungkan efisiensi untuk memotong harapan, bukan beban.

Lalu perlahan, kau bertanya tentang cinta. Tentang bagaimana keinginan dan keengganan bisa menghampiri lalu mengubahnya menjadi kenangan. Tentang mengapa kita jarang duduk diam bersama seseorang dan hanya membiarkannya ada tanpa kata……sesekali saja hanya untuk menghargai sunyi.

Kau bilang, cinta yang baik tidak selalu datang karena dikejar. Kadang ia datang setelah kita mulai jujur dan mencintai diri sendiri.

“Ya bentuknya itu adalah sepertimu”, ujarmu.

Aku diam cukup lama setelah itu. Karena kalimatmu tidak butuh jawaban. Ia hanya perlu tempat tinggal yang tenang.

Sebab kau dan aku tahu, bahwa segala keresahan dan ketidaksempurnaan itulah yang melapangkan jalan kita.

Malam mulai larut. Kuberikan suaraku sebagai lirik lagu pengantar tidurmu.
Lebih hangat dari bisik, dengan nada-nada kecil yang lebih berisik

Lidahmu, Laut Mataku

Kita tidak pernah menjadi sebuah pesta. Kita juga bukan bagian dari permulaan, apalagi cerita masa lalu.

Kita itu hanya halaman yang sering dibaca ulang dengan penuh bimbang.

Lidahmu, bencana raksasa yang membuat laut di mataku pecah.

Aku berdoa: semoga cinta tidak mempertemukan kita di perjumpaan yang lain. Tidak pula menempatkan aku dan kau di semesta yang sama, dan kesedihan ini tetap memperlakukan tubuhku dengan baik.

Musim dingin menyelimuti rumah yang tak pernah lagi kau cari. Kelak jika kau tak sengaja lewat, akankah kau jatuh cinta lagi?

Zona Istirahat

Masih tentang perjumpaan yang tepat di depanku. Hingar bingar tempat skena membosankan tapi digemari pencari keresahan.

Kita berbahasa saling. Perihal menganyam ambisi, berkencan tawa, dan merayakan puisi paling liar diantara lidahmu dan bibirku.

Kuselami laut martini aku termenung, “Apa benar, kehadiran kau yang pernah duduk di sebelahku dan aku mengira itu cinta?”

Sebab Aku Tidak Tahu Cara Tidak Mencintaimu

Aku menuliskan ceritamu sudah cukup lama,

dari resah yang kau tinggalkan, waktu yang kau biarkan pergi,
dan cinta yang apakah mulai tumbuh sejak Rabu.

Aku ingin lebih banyak menceritakanmu. Menemanimu di malam-malam tersesat, menggenggammu saat keraguan memelukmu.

Aku ingin menyelamimu. Sebab aku tak pernah diajarkan untuk menyerah, pada sesuatu yang rasanya benar.

“I’ll catch a flight, go to the moon. Lay on the floor of your living room, and talk about the things that make you cry”

Sepenggal lirik favoritku yang kukirimkan padamu. Agar kau tahu, bahwa kau pantas dirayakan dengan sebaik-baiknya.

Dulu, aku dan kau ada di masa yang berbeda. Lika-liku garis waktu pernah membuat kita tak berdaya. Tapi, cinta terus kubiarkan mekar

Sebab, dari semua hal yang bisa kupilih di dunia ini,
aku akan tetap memilihmu.

selalu, dan selalu begitu.

Luka yang Marah

Satu keluarga telah mati. Pemakamannya dihadiri angin, diiringi nyanyian kutukan.

Satu tahun sebelum mereka tiada, ada perempuan yang berusaha menciptakan hujan dari air matanya sambil berjalan menuju tortured poets department. Ia duduk merenung,

“Seharusnya aku tak pernah menulis puisi dari masa lalu.”

Suatu hari di laut lepas, ia membasuh wajahnya yang keruh. Lalu kembali mengirimkan banyak pesan cinta, namun hanya dibalas diam.

Hujan kembali turun deras dari sepasang mata perempuan itu. Kilat petir mengabadikan peristiwa, meletakkannya pada bingkai pasir. Sepotong langit menyerap air mata perempuan yang sedang merencanakan perpisahan.

Perempuan bermata biru terus berdoa, agar suatu hari tubuh lelaki itu menjadi ladang keresahan. Jiwanya terus mencari ketenangan, dan kepalanya berbuah kerikil.

Perempuan itu menuju laut pasang, menebar mahar. Pulang menuju Alonica untuk merayakan kematian kau, dan hidupnya aku.

P.S. “Everyone deserves for a better love, better life. Not being ghosted.”

Ledakan Tsunami

Ada yang belum selesai di kereta hari itu,

tak banyak bicara, khusyuk menatap dalam sunyi yang canggung.

“Katanya, Twin Flame itu nggak ada”

“Katanya, Gemini gengsinya tinggi”

“Katanya, jatuh cinta itu scary”

Angin tak lagi tahu cara berbisik pelan.

seperti tsunami yang tiba tanpa aba,

aku menemukan semesta baru.

Agar kau mendengarku, kutarik simpul senyum.

Diam-diam kuselipkan kata yang ingin kutulis

Pada jarak diam, hasratku bersemayam.

Yang lebih syahdu dari ciuman panjang

Yang lebih manis dari pelukan belakang

Dan lebih resah dari rasa yang lengang 

Panas dingin seperti orang mabuk

Runtuhlah wajahmu ke semestaku, kubernyanyi lirih

Fuck, I think i’m falling for you!”

Hilangnya Jingga

Do you think i have forgotten?

Do you think i have forgotten?

Suara yang terus bersemayam di kepalaku.

Melodi yang terus menggema di dalam dadaku.

Pecahan-pecahan dirimu yang sulit kutolak.

Ingatan tentangmu ada dimana-mana.

Ada di bayanganku yang letih. Bayanganku yang pulang. Atau bayanganku

yang sedang menyanyikan kemalangan.

Aku tertegun di laut biru.

Kuwartakan pencarianmu ke segala musim.

Konon katanya cinta perlu berkorban lebih lama,

meski remuk rindu dipeluk.

Aku terus berdoa di tahun-tahun panjang kelumpuhan akal,

“Semoga kali ini negara sulit menjegal cinta yang kekal.”