scintillare

prime-numbered

she used to think her life would be stars. twinkling at night, but also flaring bright at every single day of her life. cold and far away, but also warm. full of adjustments, you see. and adaptable, she said.

“why?” you asked. had she always envisioned her living days as someone with much light in her eyes? and warmth in her soul? well, funny that you asked.

at the first prime-numbered birthday of her life she learned the difference between pains. she didn’t know the names of them yet, but she felt them anyway. pains she felt inside, like for instance not getting what she wanted, and physical pain, like those of getting a door slammed on one of her fingernails. let me tell you a secret, sometimes she still feels phantom pain on her thumb. she can’t remember which thumb it is without asking her mother though, that’s why she feels it alternately between her right and her left.

she kept on learning. how to twirl prettily, on her fourth prime-numbered birthday. she liked her pink (or was it turquoise blue?) ruffled tulle skirt, and she enjoyed her classes. she had to get glasses though, and maybe adults hate glasses but for someone this young, she loved it.

she hated almost everything by the time she reached sixth prime-numbered birthday. “teenagers,” you might sigh and shake your head. and you’re right. she picked fights with a lot of people, and she kept feeling like she knew all the things in the world. snob. what a smartass.

she enjoyed the life she was given and the one she was living, but the stars were a tad bit dimmer. it was like the clouds were everywhere, at days where she should be feeling like the sun, and at night too. she eventually got tired of it all and simply stopped looking for things to be lit up.

it changed a bit on her seventh, her friends surprised her by turning off the lights and lighting up candles inside their classroom, which had see-through windows. she could see the silhouette of the candles from classes away! but when they started to sing, she teared up anyway. that year was one of the most memorable years of her life. she can remember everything almost vividly, like the sky and clouds above schiphol (yes the airport) and nights spent in a pretty hotel in the only monarchical city in the country.

the next one, she just started her life in college. that year was also memorable. a lot of moments were spent on the college ground, from breakups to new love interests, from timidness to her first stage and first ever official match. she grew from it all, decently if i may say.

and now it all comes down to her ninth prime-numbered birthday. everything tastes like quarter life crisis now, she said, and i haven’t even reached twenty-five yet!

its a little tricky to make people think she’s acting her age. she wishes its still the 00s and she doesn't have to worry about stable job, tax, or if someday she wants to own a house. she feels tired all the time and her head hurts way too often. she doesn't have a hundred mill in her bank account, nor a life where she isn't scared of catching a deadly virus that is still around after more than 2 years and has somehow brought its siblings and cousins from the frat house.

but she still has things to be thankful for, thank the gods above. her temper isn’t as nasty as it used to be, she can surprisingly feel things in moderation now, good books are once again her friends (she really tries hard to concentrate, you know. not an easy journey), her sister is lovely even when she never listens, her parents are kind and understanding, and her friends are simply amazing. she is grateful to the person who created bubble tea and the one who invented chocolate mint flavour. her coffee tastes great almost every day, she has a cute array of glasses and mugs she can choose from thanks to her friends, the songs she listens to vary, and maybe everything isn’t so bad.

she still thinks her life could be stars, but maybe not the ones up in the sky. there are people that are born into it and there are ones who simply aren’t, like her. she doesn’t mind though, not at all, because the stars she means now are the ones that are close to the people around her, like shiny glittery paper stars we fold when we’re down, or tiny metallic stars among the edible glitter on cakes, and the list goes on. this metaphorical journey isn’t going to end if you ask her because she would always find some things to compare herself with. or things. or people she’s going to write about.

so i want to personally wish her a happy birthday. 23 isn’t gonna be easier than last year, or the year before that, but she’ll survive. like she always does. ⭐

Empat Botol Air

Aku melayangkan pandangan ke langit malam berbintang samar. Polusi di kota ini menutup cerahnya konstelasi, membuatku sedikit kecewa. Aku sering mengucap harap di bawah langit-langit kamarku untuk dapat melihat rasi bintang-bintang dengan jelas, tapi sampai detik ini pun mereka masih menutup indah kerlipnya dariku.

Angkringan hari ini ramai, pemuda-pemudi makan bersama dengan latar kendaraan bermotor yang lalu lalang. Debu bertebaran dari arah jalan raya, hinggap di piring rotan berlapis kertas coklat, tapi toh makanan di sini murah dan enak, jadi tidak ada yang merasa terganggu. Dari sebelah kanan aku mendengar suara bising teman-temanku, menertawakan sebuah gambar di sosial media yang entah sudah berapa kali lewat hari ini.

“Mau pulang?” tanya salah seorang temanku pelan. Aku mengecek jam tangan untuk memastikan. Baru jam sembilan lewat tiga puluh lima, rasanya masih terlalu dini untuk kembali ke kamar kosan yang sepi dan hening.

“Nanti aja,” aku menjawab, “Masih seru di sini. Kosan sepi, males.” Jawabanku hanya dibalas oleh anggukan kepala oleh yang lain, lalu mereka kembali melihat salah satu ponsel yang layarnya masih menyala.

Menit demi menit berlalu, sudah ada kira-kira 6 orang datang memainkan alat musik yang bermacam-macam sambil mengulurkan segelas air mineral kosong. Uang recehku sudah habis, jadi terpaksa aku menggeleng sopan ketika orang ke-6 datang membawa biola. Biolanya sudah penyok di beberapa sisi, dan suara dawainya juga tidak sejernih yang sebelum-sebelumnya. Tapi pemain biola ini bermain lebih baik daripada yang lainnya. Ia memainkan sebuah lagu yang tidak aku kenali judulnya, tapi melodinya akrab di telinga. Kemudian ia memainkan satu lagu lagi, lagu klasik ‘Gymnopedie’ yang merupakan lagu favoritku. Senyumku pecah. Aku tidak bisa tidak memberikan apa-apa kepada pemain biola ini. Selembar lima ribuan akhirnya berpindah tempat dari tasku ke gelas transparan kosong yang ia sodorkan pada kami.

Pasca kepergian pemusik dengan biola penyok, wajah-wajah pengunjung sudah mulai berganti dengan wajah-wajah baru. Hanya kami yang tetap setia di sini sejak beberapa jam yang lalu, dan mungkin untuk beberapa jam ke depan. Arus kendaraan perlahan mulai berkurang, tanda malam sudah semakin larut. Meski orang-orang kerap berkata bahwa Margonda Raya tidak pernah sepi, Jumat malam ini sepertinya adalah suatu pengecualian.

“Ada yang punya minum?” Salah seorang temanku bersuara setelah sesi tertawa setengah menangis menjelaskan kelakuan aneh teman jurusannya.

“Gak ada, mau beli dulu? Deket sini ada warung, kayaknya,” jawabku selaku penghuni tetap jalan Margonda. Memang hanya kosanku yang terletak dekat sini, sisanya harus menempuh jarak yang jauh untuk kembali ke kosan dan rumah masing-masing.

“Ayo, deh!” Ia berdiri sempoyongan, kakinya kesemutan setelah digunakan duduk berjam-jam.

“Eh, titip dong!” seru teman-teman yang lain, malas bangkit dari posisi duduk mereka.

“Ya udah, air mineral beli empat aja, ya.” Aku mencatat pesanan titipan.

Sambil menyusuri jalanan raya yang makin lengang, aku bisa menghirup udara bekas asap knalpot kendaraan di sekitar sini. Udara jam satu pagi yang cukup dingin menusuk hidung, membuat aku mengerutkan dan menggosok-gosokan hidung. Teman di sebelahku menyiulkan lagu ‘Pelangi-pelangi’, senang karena akhirnya minggu ujian sudah selesai. Di dekat warung yang aku maksud, ia melompati selokan yang menganga lebar di tengah jalan, sedangkan aku memilih turun dari trotoar untuk menghindari selokan itu. Ia membeli empat botol air mineral dan segelas minuman manis dengan jelly.

Ketika kami kembali, teman-teman yang lain melambai-lambaikan tangan sambil berseru, “Ayo cepet! Seret nih seret!” Rasa hangat meliputiku secara tiba-tiba. Tahun ini adalah tahun terakhir kami di sini, siapa yang tahu kapan kami bisa seperti ini lagi? Nongkrong sampai malam tanpa harus memikirkan hari esok?

Senda gurau kami masih terdengar jauh setelah waktu menunjukan tengah malam. Upik Abu harus pulang sebelum tengah malam, tetapi kami bukan Upik Abu. Kami hanyalah mahasiswa tahun terakhir yang bercengkrama di hari Sabtu subuh.

dua puluh, sabtu siang.

“aku mau coba baking.” bunyi pesan dari pepi pada sabtu siang yang panas.

otak nina kosong membaca empat kata tersebut. pepi yang memiliki segudang kemahiran dalam kehidupan memiliki satu cela fatal. cela tersebut lah yang membuat fire alarm apartemen temannya berbunyi tidak henti terakhir kali pepi masak sesuatu. pepi gak punya rasa dalam memasak. sama sekali.

mudah buat pepi untuk mengerjakan essay atau bahkan presentasi di hadapan banyak orang jika menyangkut bidang yang ia geluti. akademis? check. pepi juga kadang diminta bantuan menggenjreng gitar untuk mengiringi teman-temannya lomba menyanyi. kesenian? check. olahraga juga pepi gak buruk-buruk banget.

tapi masak?

“emang kakak ada oven?” tanya nina lugu, berusaha menggagalkan rencana tersebut.

”.. nggak. kan aku di kosan. makanya mau pinjem oven kamu,” jawab pepi 2 menit kemudian.

nina separuh lega, separuh tambah khawatir. lega karena paling tidak pepi tidak akan menimbulkan keributan di apartemen orang lagi. khawatir karena sekarang rumahnya yang jadi sasaran.

yah, paling tidak dia bisa mengawasi pepi dan tangannya yang memiliki nol keberuntungan dalam menangani kompor dan oven.

“oh maksudnya kakak ngechat mau minjem oven? bolehh,” balas nina.

“boleh? asik. bahannya aku yang beli kok, mau minjem oven aja.” balasan pepi masuk beberapa puluh menit kemudian.

“abis ngapain kak?”

“beli bahan brownies. setengah jam lagi aku ke rumah kamu yaa.”

“hah.. hari ini banget kak?” nina bingung. 'mampus, gue ngomongnya gimana sama mami..' batinnya.

“iya.. gapapa kan? kamu lagi pergi ya?”

“gapapa sih.. aku di rumah kok.” nina memang sulit bohong di hadapan pepi, ketika berhadapan mau pun secara tertulis.

“oke deh!”


pepi dan omongannya yang selalu bisa dipegang benar-benar sampai di depan pagar putih rumah nina dua puluh delapan menit kemudian. dan ternyata nina gak perlu ngomong sama mami, soalnya justru mami yang sadar pepi sudah di depan. mami yang hapal mobil pepi langsung memanggil nina turun dari lantai atas, gak tanya kenapa ada pepi, tapi malah tanya-

“pepi gantengan deh, nin. pepi ngegym gak sih?” komentar mami sambil melongok dari pintu kaca depan saat pepi turun dari mobil.

“mami gak boleh jelalatan itu pacar aku.” nina memberengut.

dinamika mami dan anaknya (yang super posesif terhadap pacarnya) harus disudahi dengan suara teduh, “sore tanteee,” dari pepi yang masuk setelah mengetuk gembok depan.

“ehhh pepi.. udah lama gak ke sini. sibuk ngapain pepi sekarang?” tanya mami.

“hehe iya tantee, lagi magang sih akhir-akhir ini. tante ganti layout ruang jahit ya?” jawab pepi, dilanjut dengan tanya lagi.

nina beneran memberengut karena gak disapa, “excuse mee! kok aku dianggurin sih…. kakak pacaran sama mami apa gimana,” ia bersedekap bersungut-sungut.

pepi mencubit pipi nina gemas, bertatapan dengan mami yang matanya jahil, lalu keduanya tertawa. pepi menggamit lengan nina sambil berkata, “tante, anaknya sama oven belakang aku pinjem dulu, ya.” mami cuma cekikikan, lanjut sibuk dengan benang dan kainnya.

begitu pepi membongkar belanjaannya, nina langsung menahan tawa karena, “kak, mau bikin brownies kan? tepungnya kok yang ini..”

“baru mulai udah salah.” pepi garuk-garuk kuping belakang, posturnya santai.

“aku masih punya tepung sisa sih, kayaknya. coba tolong liatin lemari yang itu, kak.” nina menunjuk lemari di dapurnya.

berkebalikan dengan pepi, nina jago masak. nina bahkan jualan brownies buatannya bersama adiknya. jadi sebenarnya nina bingung banget saat pepi bilang mau bikin brownies, karena hampir setiap minggu, nina selalu bikin satu loyang lebih buat dikasih ke pepi dan teman-temannya.

acara baking dimulai dengan nina yang menyuruh pepi untuk ambil timbangan, karena bahannya harus ditimbang satu-satu terlebih dahulu, lalu diletakkan di wadah yang beda-beda. biar nanti tinggal tuang.

“aku aja yang ngerjain, kamu nontonin dari situ aja ya,” pepi bilang dengan pede.

“iyaa.”

nyatanya, setiap mau menuang bahan atau mau mengaduk, pepi secara refleks menengok ke arah nina, kayak minta persetujuan. lama-lama nina gemes sama pacarnya itu dan akhirnya bantuin juga.

saat akan menuang tepung, nina tiba-tiba ngeloyor pergi. niatnya mau mencari saringan buat tepungnya.

pepi tau-tau bilang, “nyari apa nin?”

“saringan, buat tepung.”

“tepungnya harus banget disaring?... ini barusan aku tuang… kirain nggak perlu…” pepi yang sok tau terlihat bersalah.

nina bengong, abis itu sadar salah dia juga perginya gak ngomong. terus pepi disenyumin, senyumnya maklum gitu. tapi abis itu pepi dicubit.

“sotoy, untung sayang. tapi nggak sih. nggak harus, tapi lebih gampang aja ngaduknya kalo disaring.”

setelah acara tumpah-tumpah, pepi menuang garam kebanyakan (ditulisnya a pinch, tapi yang dituang setengah sendok makan), ribet mengaduk, dan menuang adonan ke loyang, akhirnya browniesnya masuk juga ke dalam oven yang sudah dipanaskan nina sebelumnya.

pepi setengah jongkok di depan oven hijau yang agak pendek itu sambil mengulum senyum. browniesnya miring-miring tapi dia terlihat senang dan bangga. nina deg-degan melihat pemandangan begitu. lebih-lebih saat pepi memergokinya, berdiri tegak, lalu menghampirinya.

“makasih, ya, nin,” pepi memeluk nina erat, “aku seneng banget bikinnya. walaupun hari ini kamu banyak ngomelnya.”

“iya aku juga seneng kok ngomelin kakak hehe. kapan lagi, coba?”

keduanya diam dalam posisi masih pelukan. mami mengintip dari ruang jahitnya, tapi karena dua sejoli ini gak ngapa-ngapain yang delapan belas plus jadi mami diam saja.

“emang kakak kenapa tiba-tiba mau bikin brownies?” nina baru penasaran.

“pengen tau rasanya jadi kamu.”

“maksudnya?”

pepi melepas pelukannya dan melihat muka nina yang bingung. “abis kayaknya kamu seneng kalo lagi masak. pengen aja ngerasain senengnya itu.”

nina, walaupun malu diliatin intens kayak gitu, masih bisa-bisanya ketawa. “sumpah kak nggak usah masak juga kali. aku sama kakak juga seneng terus kok?”

giliran pepi yang tertawa dikasih gombalan. terus dia menunduk dan mengecup pipi kanan nina. abis itu balik ke depan oven, menunggu anaknya matang.

masih dengan mata tertuju ke loyang di dalam oven, pepi buka mulut. “tapi kalo gak gini kan tanggal duapuluhnya gak spesial. sekali-kali beda lah.”

… ya ampun.

nina baru ingat di tanggal ini delapan bulan yang lalu, ia dan pepi resmi pacaran setelah ngobrol setiap hari selama setahun.

nina beringsut mendekati pepi, nyengir bersalah. “astaga, aku lupa,” katanya sambil memeluk pepi lagi, tapi slow motion.

“tau kok. makanya aku ingetin sekarang.” balasnya pendek. nina gak bisa lihat muka pepi tapi suara pepi kayak nahan senyum.

“hehe. selamat tanggal dua puluh kakak sayang.”

hasil browniesnya asin banget dan agak gosong, tapi toh yang makan senyum-senyum terus sambil liat-liatan.

cowok baru

story instagram itu lah yang kian lihat terakhir sebelum ia menatap pantulan dirinya sendiri di hitam layar ponselnya. ia menarik napas panjang, dua kali. terdapat sejuta pertanyaan di pikirannya (—beserta sedikit penyesalan yang enggan ia akui) dan ia tau pertanyaan ini akan mendekam di benaknya untuk waktu yang cukup panjang.

pikirannya melayang kembali ke beberapa minggu yang lalu, ingatan mengenai mobil, jess yang menangis dalam diam, dan terutama mengenai usainya sebuah hubungan yang telah mereka jalani beberapa tahun ke belakang. sampai sekarang ia masih mengutuk keadaan yang memaksa mereka untuk menjalani hubungan jarak jauh. tapi kian tidak bisa bohong. ia menyukai pekerjaan magangnya sekarang, dan meskipun disayangkan, kian tidak bisa bersama jess di keadaan seperti ini.

“keputusan bersama,” batinnya berkali-kali. “tapi.. chat gak ya?” tanyanya berkali-kali juga.

matahari hampir terbenam, tapi kian masih belum berhasil memutuskan. menghubungi jess, atau tidak. sepele rasanya, jika ia menghubungi mantannya tersebut hanya karena story instagram milik leon. kian tersentak sedikit saat sadar dirinya menyebut jess dengan sebutan mantan. dua tahun memang singkat, namun tidak cukup singkat untuk menghilangkan bayangan jess sebagai pacar di pikiran kian secepat itu.

setelah helaan napas ke-seribu hari ini, ia mengeluarkan rokoknya yang tinggal 2 batang. dinyalakannya dengan korek hadiah dari jess tahun lalu.

“cepet banget sama leon..” gumam kian tanpa sadar sambil menyesap rokoknya. pada akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan dengan nada bertanya ke jess, karena toh.. sudah bukan urusannya, kan?

perenungan dan kenangan memang berbahaya. kian yang tenggelam dalamnya baru sadar ia merasakan panas di antara jarinya. buru-buru ia mematikan rokoknya yang cuma sempat ia nikmati satu hisap sebelum rokoknya dianggurkan.

makin kesal, kian menyalakan rokoknya yang terakhir. ia menatap layar ponselnya yang menunjukan jam tujuh malam, menarik napas sekali lagi, lalu memutuskan untuk pulang.