sweettynsaltt

Hadley, and the lake house.

“Papa, Daddy, masih lama ya sampainya?”

“Sebentar lagi sampe kok, sabar ya.”

Hari itu, cuaca tidak terlalu terik. Gumpalan awan yang seperti permen kapas menghias dibirunya atmosfer, angin berhembus tenang, jalanan tidak begitu ramai sehingga mobil hitam itu bisa melenggang lancar di atas aspal jalan.

Malvin duduk dibarisan ke dua, tepat di sisi jendela sehingga membuatnya bisa dengan leluasa melihat perkebunan-perkebunan disepanjang jalan. Hijau menghampar menyejukan mata. Ia tidak punya bayangan sama sekali kemana kedua orangtuanya mengajaknya pergi. Papa hanya bilang mereka akan pergi ke suatu tempat dimana Malvin bisa melihat sebuah rumah kayu dan danau yang begitu cantik.

The lake house.

Rumah kecil yang hampir seluruh bangunannya terbuat dari kayu-kayu kualitas terbaik itu kembali mereka singgahi. Rumah tepi danau yang penuh dengan kenangan saat kanak-kanak, yang menjadi tempat di mana Harvey pernah singgahi berdua dengan Natha guna memancing ingatan lelaki cantik itu kembali. Kali ini mereka datang kembali setelah sekian tahun lamanya, sudah tidak lagi berdua, namun bertiga bersama dengan Malvin.

Mobil berbelok memasuki area jalanan perkampungan, kebun-kebun sayuran menyambut dari sisi kanan kiri. Malvin yang terlihat begitu antusias, berulang kali menunjuk ke arah sayuran-sayuran yang sebentar lagi memasuki masa panen itu. Bertanya berulang-ulang, rasa keingintahuannya begitu tinggi, ia bahkan menyapa beberapa petani yang dijumpainya dengan begitu ramah lalu melambai memberi semangat.

Lima belas menit kemudian, mobil berbelok kembali memasuki jalanan yang lebih kecil. Sisi-sisinya banyak ditanami pohon pinus yang menjulang tinggi, suasananya begitu asri, banyak bunga-bunga liar serta kupu-kupu yang berterbangan di sepanjang jalan. Tak berselang lama, sebuah rumah kayu mulai tampak dari pandangan, mobil kemudian berhenti tepat di halaman depan rumah.

Natha melepas sabuk pengamannya terlebih dahulu sebelum membantu Malvin melepas sabuk pengamannya, ia menyuruh Malvin untuk keluar duluan dari dalam mobil sebelum menatap ke arah bagian pengemudi. Harvey masih terdiam. Pandangannya lurus menatap ke arah rumah yang dindingnya terdapat empat jejak telapak-telapak tangan kecil itu.

“Vey,” Suaranya lembut memanggil, Natha menyentuh bahu suaminya itu dan merematnya pelan. “Ayo turun.”

Helaan nafas terdengar, Harvey mengangguk dengan senyum kecil. Sabuk pengamannya dilepas dan ia beranjak keluar dari mobil. “It’s been a long time.” Bisiknya lirih.

“There’s a lake! There’s a lake!” Raut wajah Malvin terlihat begitu semangat ketika ia melihat sebuah danau tepat berada di depan matanya, kakinya bahkan melompat-lompat kecil. “Oh wow, banyak bunga di sini! Papa pasti suka ya?”

Senyum Natha mengembang, kakinya melangkah mendekat ke arah Malvin lalu mengusap kepalanya sekilas. “Banget! Bunganya cantik-cantik ‘kan?”

“Cantik. Seperti Papa.” Cengiran bocah enam tahun itu melebar. “Malvin boleh main di sini?”

“Boleh. Tapi jangan main terlalu jauh, jangan terlalu deket sama danau juga, oke? Di sekitar sini aja.”

“Okidoki!”

Kang Ujang datang bersama seorang anak laki-laki sepantaran Malvin datang beberapa menit setelahnya, lelaki paruh baya itu menaiki sepeda ontel andalannya lalu menyapa Harvey terlebih dahulu. Mereka berbincang sebentar, menanyakan kabar setelah sekian lama tidak bertemu. Kang Ujang memberitahu kalau ada beberapa bagian rumah yang sudah harus di renovasi karena kayunya sudah termakan oleh waktu, Harvey berikan kepercayaan sepenuhnya pada Kang Ujang untuk merenovasinya.

“Malvin! Kesini sebentar, sayang!” Natha memanggil putranya yang tengah berjongkok di depan sekumpulan tanaman bunga liar yang dikelilingi oleh banyak kupu-kupu. “Ada yang mau Papa kenalin sama kamu.”

Malvin mendekat, matanya menatap seorang anak laki-laki yang terlihat seumuran dengannya itu. Senyumnya mengembang kembali.

“Malv, kenalin ini namanya Kang Ujang, nah kalo ini cucunya Kang Ujang, namanya Rendi.”

Tangan terulur, Malvin memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. “Hallo, namaku Malvin.”

Anak laki-laki itu menyambut uluran tangan Malvin, cengirannya melebar. “Hai Malpin! Aku Rendi!”

“Malvin, tong. Malvin, bukan Malpin.” Kang Ujang mengoreksi perkataan cucunya itu. “Malvin.”

Rendi langsung merengut malu. “Ih Aki! Kan Rendi juga bilangnya Malpin!”

Mereka kemudian tertawa melihat interaksi Malvin dan Rendi yang langsung terlihat akrab itu. Ah, anak-anak memang cepat sekali berbaur ketika bertemu dengan teman sebayanya. Mereka seperti punya dunia sendiri yang begitu mengasyikan.

Kang Ujang lalu mengajak keduanya untuk berkeliling seraya melihat-lihat apa saja yang berada di sana, tentu saja, anak-anak itu begitu senang dengan ajakan Kang Ujang.

“Nath, gua ke dalem duluan.”

Natha yang baru saja akan turut ikut bersama kedua kanak-kanak itu menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Harvey yang masih berdiri di posisinya. Ia mengangguk, tetap terdiam sambil menatap punggung Harvey yang kini berjalan masuk ke dalam rumah. Satu helaan napas panjang berhembus, ia mungkin akan menyusul beberapa menit lagi agar Harvey bisa menghabiskan waktunya untuk sendiri dulu.

Mereka datang kembali mengunjuki lake house tentu bukan tanpa tujuan.

Kemarin sore, kondisi Tanjung semakin menurun. Lelaki paruh baya itu sudah tidak bisa banyak melakukan kegiatan, hanya terbaring di atas kasur atau jika ingin berkeliling harus dibantu dengan kursi roda. Kesehatannya memburuk. Mungkin efek terlalu banyak pikiran dan juga melemahnya kondisi tubuh seiring bertambahnya usia.

Sore itu juga, baik Harvey maupun Natha untuk pertama kalinya melihat sosok Tanjung yang begitu menyedihkan. Mama menangis bermenit-menit lamanya, sedangkan Dimitri hanya bisa menatap sedih ke arah sahabat terdekatnya yang terbaring lemah di atas kasur.

Lalu Tanjung dengan ucapannya yang terbata, meminta Harvey untuk mengambil seluruh barang peninggalan Hadley yang berada di lake house. Lelaki renta itu hanya ingin bernostalgia dengan putri kecilnya yang sudah lama sekali tidak datang menyapanya ke dalam mimpi. Gadis kecil yang senang sekali rambutnya di kepang dua itu pasti akan tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik jika waktu untuknya tak berhenti di saat itu.

Harvey terdiam begitu lama menatap pintu coklat dengan empat telapak tangan kecil berwarna-warni yang menghiasi bagian bawahnya. Ia tersenyum begitu tipis, hampir tak terlihat. Kunci akhirnya dimasukan ke dalam lubang dan diputar hingga terdengan bunyi klik, kenop ditekan ke bawah, udara pengap seketika menyambut Harvey ketika pintu terbuka.

Tidak terlalu banyak barang yang berada di dalam sana, hanya sebuah piano tua yang ditutupi oleh kain putih, sebuah lemari kecil, dan kotak-kotak berisikan mainan anak perempuan. Sulur laba-laba serta debu tebal menjadi bukti bahwa sudah begitu lama ruangan itu tidak dibuka. Mungkin belasan tahun lamanya sejak Hadley dikebumikan.

Kaki mendekat ke arah lemari kecil yang di atasnya terdapat banyak tumpukan bingkai-bingkai. Tangan terulur, meraih bingkai paling atas yang bagian kacanya ditutupi oleh debu. Harvey mengusapnya dengan telapak tangan. Di sana, potret seorang anak perempuan berkepang dua tengah tersenyum lebar ke arah kamera, berdiri tepat di ujung jembatan yang menjorok ke arah danau. Dengan sebuah dress berwarna merah muda yang begitu cantik.

Foto itu Harvey tatap begitu lama.

Kakaknya cantik sekali. Perempuan tercantik setelah Mama dengan senyum yang serupa miliknya. Menatap foto itu membuat Harvey menyadari jika waktu berlalu begitu cepat, andai saja Kakaknya masih ada, mungkin anak mereka kini tengah bermain bersama seperti Malvin dengan Sophia dan Hazel.

Tumpukan bingkai itu diraih seluruhnya. Harvey terduduk di atas lantai, tidak peduli dengan celananya yang mungkin kotor oleh debu. Di bersihkan seluruh bingkai menggunakan sapu tangan, lalu disusun berjejer tepat dihadapannya. Persis seperti seorang anak-anak yang tengah duduk menyusun mainan favoritnya.

Ada satu foto yang sengaja ia taruh tepat dihadapannya. Foto dimana Hadley tertawa lebar memeluk Harvey kecil yang tengah menangis dengan giginya yang tanggal satu dibagian depan. Hangatnya masih begitu terasa, bahkan setelah puluhan tahun berlalu. Rindu mencekiknya begitu kuat hingga membuat Harvey ingin sekali pergi ke masa lalu dan memeluk erat Kakak semata wayangnya itu.

Hadley Tanjung.

Gadis kecil yang juga pernah hadir di dalam bayangan Natha ketika Harvey mengajaknya ke lake house untuk pertama kali setelah sekian lamanya, yang secara tidak langsung membawa kembali ingatan Natha akan masa kanak-kanaknya yang sempat terlupakan. Gadis yang usianya akan tetap selamanya berada di angka sebelas. Gadis yang kerap kali menjahili Harvey sampai menangis seperti seorang kakak pada umumnya.

Mungkin kalau masih ada, Harvey tidak bisa membayangkan betapa lucunya mereka berdua memperebutkan Natha di masa sekarang. Terlebih jika mengingat kalau orangtua mereka memang ingin menjodohkan mereka berdua dengan si kembar Dimitri sejak mereka masih kanak-kanak. Yah, andaikan saja.

Sebuah bingkai diraihnya kembali, dimana foto wajah Hadley yang diambil begitu dekat tengah tertawa menatap ke arah kamera dengan sebuah bunga terselip di daun telingannya.

“It’s been very a long time kak, how’s heaven?” Harvey bertanya pada keheningan yang ada, hanya sayup-sayup suara tawa Malvin yang terdengar dari luar. “I hope you always doing good in there.”

Helaan nafas terdengar kembali.

“Papa sakit, kak. He told me that he missed you so much, why don’t you come to his dream again? Are you mad at him?” Tawa kecil Harvey terdengar lirih, “Please come to my dream too, ok? I wanna told you that I’ve been married with Natha hahaha, I won, right? You said that I look good with him, and I keep my promise. Oh you should know too that now, I have a son, his name is Malvin Tanjung. He’s six years old. Sorry I didn’t tell you earlier about Malvin, I hope you didn’t mad at me. But I think it’s fair because you didn’t come to my dream since that day.”

Harvey kemudian menunduk, matanya terasa begitu panas.

“Life … it’s been so fucking hard since you gone, Hadley. A lot of things happened since you left.” Tarikan nafas memberat, “Mama won’t stop crying everynights when she saw your pictures, that’s why we put all your stuffs in here. We didn’t mean to forget and leave you behind, we just … we just in pain, kak. My life was so lonely back then. You left, Dimitri’s family has going aboard to gave Natha a better treatment and medication for many years. I’m so fuckin’ alone. I never really made friends with anyone until I graduated. But then, I met Juna and Eric when I was in college. Those two idiots always support me in difficult times. They really know how jerk I am before meet Natha again, I played with some people and just dump them like a trash. They said, I don’t have a heart, kak. In fact, half of my heart is buried with you and Natha carrying the other half when he left. But don’t worry, I’m living a better life now since Natha is back. You should know how stubborn he is, hahaha, it gives me like I’m riding a rollercoaster everyday. And Papa … he held a lot of grudges in his heart, he always looking for that man everyday. Long short story, we found who is he. Papa’s old friend. He was so mad at Papa because of Papa’s betrayal. Life was so unfair, right?”

Di dalam bayangannya, Harvey melihat seorang gadis berkepang dua duduk terpat dihadapannya. Menatap ke arah dirinya dengan sorot sendu. Senyumnya merekah begitu tipis, seakan-akan memang melihat Hadley duduk menemaninya di sana.

“But, he’s dead. Natha killed him, kak. One shoot in the chest. Please, can you come to Natha’s dream and give him an applouse?” Harvey termenung menatap bingkai satu persatu, mengulanginya lagi dan lagi dari ujung ke ujung. Tanpa menyadari jika Natha sudah berdiri di ambang pintu dan menatap ke arahnya dengan sorot sendu. “I know this is so wrong, however its all because of Papa’s fault. If Papa didn’t do that, you still in here, right? You still with us. We can made a lot of childhood memories, playing along, and growing up together.”

Kali ini Harvey sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. Ia memang terlihat begitu kokoh di luar, tapi sekuat apapun ia mencoba untuk tetap berdiri tegak, kakinya juga punya waktu dimana ia menjadi rapuh. Umurnya baru sepuluh tahun saat itu. Sepuluh tahun tapi harus menerima fakta bahwa Kakak satu-satunya meninggal dengan begitu tragis, Ibunya menangis sepanjang malam, Ayahnya menyimpan dendam yang mendarah daging, dan ia ditinggalkan oleh Natha dan Nasha yang saat itu menjadi teman kecilnya.

Nyatanya Harvey juga sama hancurnya.

Bahkan mungkin lebih hancur dari semua orang dibalik sosoknya yang begitu kuat.

Ia menangis dalam diam, hanya bahunya yang terlihat bergetar. Kepalanya menunduk dengan jari-jarinya yang menggenggam erat sebuah bingkai. Membuka ruangan ini sama saja membuka luka lamanya yang sudah susah payah ia tutupi. Bahkan tidak hanya ruangan, rumah ini pun membuatnya kembali merasakan sesak dan ia ingin sekali berteriak kencang.

Mungkin, kalau bukan karena ingin memancing ingatan Natha kembali serta perintah Papa yang menyuruhnya untuk mengambil seluruh barang peninggalan Hadley, Harvey tidak akan datang ke sini. Tidak akan pernah lagi. Di balik keindahannya, lake house terlalu menyedihkan untuk dikunjungi. Setiap sudutnya menyimpan kenangan berwarna yang kini telah menjadi abu-abu.

Di ambang pintu, Natha masih terdiam. Dalam matanya yang ia lihat hanyalah seorang anak laki-laki yang tengah duduk seperti sedang mengadu pada Kakaknya. Menangis cengeng seperti anak-anak pada umumnya. Tidak pernah Natha bayangkan kalau ia akan melihat sisi rapuh suaminya semenyedihkan ini. Harvey memendamnya begitu apik selama bertahun-tahun.

Langkahnya mendekat dengan perlahan, tangannya terulur memeluk Harvey, bersimpuh disamping suaminya seraya menatap figura yang disusun itu satu per satu. Natha tidak mengatakan apapun, hanya terdiam menemani Harvey yang tengah menangis mengeluarkan seluruh luka yang ia sembuhkan sendirian.


Kalau bukan karena suara celotehan Malvin yang begitu bersemangat menceritakan kegiatannya selama di lake house, ruangan itu mungkin akan terasa sunyi senyap. Anak itu duduk di atas ranjang tepat di sebelah Tanjung yang terus tersenyum mendengar kata per kata yang keluar dari mulut cucunya itu.

Sebuah box berukuran sedang tetap berada di posisi yang sama, tidak bergeser sama sekali dari sejak Harvey menaruhnya di sisi ranjang. Box yang berisi foto-foto Hadley dan barang-barang kesayangannya.

Nyatanya yang menaruh seluruh kenangan Hadley ke dalam box adalah Natha, karena Harvey benar-benar tidak bisa menyentuh barang-barang milik Hadley kembali. Terlalu banyak luka. Ia tidak ingin terlalu lama menangis dan membuat matanya bengkak, karena takut Malvin akan menyadarinya dan ikut bersedih. Anak laki-lakinya itu, memang begitu perasa.

“—banyak ikan yang ekornya cantik! Tapi kata Papa gak boleh Malvin ambil, katanya nanti yang punya marah. Memangnya siapa yang punya, Granpa? Aki Ujang?” Malvin bertanya dengan rasa penasaran. Masih memikirkan ikan-ikan cupang dengan ekor cantik yang tidak boleh ia bawa pulang itu. “Tapi tadi Malvin dikasih mainan sama Rendi! Mainannya dari bambu, ada lubang kecilnya, nanti di isi sama kertas basah terus piu-piu-piu! Mirip pistol.”

“Terus dimana mainanya? Kok gak Malvin tunjukin ke Granpa?”

“Oh iya!” Malvin menatap Natha. “Mainannya di mana, Papa? Masih di mobil ya?”

“Hayo, tadi terakhir Malvin taruh di mana?” Natha justru balik bertanya. Sengaja ia melakukan itu agar Malvin lebih bertanggung jawab dengan apa yang menjadi miliknya. “Papa gak pegang loh.”

“Kayaknya ada di meja depan, tadi gak Malvin bawa ke sini.” Malvin kemudian beranjak dari atas kasur. “Sebentar ya, Granpa. Malvin ambil dulu mainannya!”

Anak laki-laki itu segera bergegas keluar dari kamar. Natha menoleh ke arah Harvey sejenak sebelum akhirnya ikut bangkit dari atas kursi dan berjalan menyusul Malvin. Hanya tersisa Harvey dan Tanjung yang berada di sana. Membuat ruangan terasa begitu senyap dan canggung.

“Harvey,” Tanjung memangil pelan, menatap putranya yang masih tidak bergeming itu. “Thank you.”

Tidak ada sahutan. Harvey masih terdiam seperti sejak pertama ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar orangtuanya ini. Tidak tahu apa yang harus ia bicarakan pada Papanya sendiri. Emosinya sedang tidak stabil, takut-takut justru ia malah meninggikan suaranya ketika berbicara pada Tanjung.

“Thank you for brings Hadley home.” Senyum di wajah rentanya terlukis. “Papa rindu sekali dengan gadis kecil Papa.”

“Kalo gak ada yang mau Papa bicarain lagi, aku mau keluar. Jangan buka boxnya kalau ada Mama, jangan bikin Mama nangis lagi untuk kesekian kali.”

Hanya itu kata-kata yang Harvey ucapkan sebelum ia bangkit dari posisi duduknya, hendak keluar dari kamar. Tapi baru beberapa langkah, Tanjung kembali membuka suaranya.

“I know it’s all my fault, Harvey.”

Langkah Harvey terhenti.

“I ruins everything, I’m so sorry.”

“Better you take some rest, Pa. Jangan terlalu banyak pikiran.”

Setelahnya Harvey benar-benar melangkah keluar dari dalam kamar. Di ambang pintu ia berpapasan dengan Mama yang baru saja hendak masuk ke dalam, “Take some rest too, Ma. Aku sama Natha pamit pulang, udah malem juga. Malvin besok harus ke sekolah.”

Putranya itu ditatap teduh. Mama mengangguk, mengusap pundak Harvey lembut. “Hati-hati di jalan. Makasih ya sayang.”

Harvey sunggingkan sebuah senyum tipis sebelum melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan Natha dan Malvin.


Waktu menunjukan pukul dua pagi ketika Natha terbangun dan tidak menemukan Harvey di sisinya. Dengan keadaan yang masih sangat mengantuk, Natha turun dari kasur, menguap dan meregangkan tubuhnya sejenak sebelum keluar dari kamar. Ia sempatkan untuk mengintip Malvin sebentar, tersenyum saat melihat putranya yang begitu pulas tertidur dengan memeluk boneka beruang coklat pemberian Hazel.

Di bawah temaramnya cahaya, Natha menuruni anak tangga dengan perlahan. Sedikit bergidik takut menatap ruangan serta sudut-sudut gelap di dalam rumahnya. Ketika Natha dapati pintu yang mengarah ke arah teras belakang terbuka dan siluet seseorang terlihat samar dibalik tirai, ia tahu kalau itu Harvey.

Natha mengintip terlebih dahulu, dan di dapatinya Harvey yang sedang terduduk di atas ayunan dengan sebatang rokok yang terselip di antara kedua jarinya. Pandangannya lurus menatap ke depan, Natha tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya itu sekarang.

“Vey,”

Panggilan lembut itu membuat Harvey sontak menoleh, didapatinya Natha berdiri dengan wajah mengantuk. Ah, si cantik itu pasti terbangun dan mencari keberadaannya yang tiba-tiba menghilang dari atas kasur.

“Come here,” Harvey menepuk-nepuk pahanya dengan sebelah tangan, mengisyaratkan Natha untuk mendekat dan duduk di atas pangkuannya. Senyumnya merekah kecil ketika Natha benar-benar mendudukan diri di atasnya dengan posisi menyamping, kepala bersandar pada pundak. “Kenapa bangun, sayang?” Tanya Harvey kemudian.

“Lo tiba-tiba gak ada,” Sahut Natha hampir seperti gumaman, kelopak matanya terpejam ketika rasa nyaman menyelimutinya. “Ngapain disini?”

“Nothing. Just smoking.” Batang nikotin itu terhisap kembali, setelahnya asap menyatu pada udara malam yang dingin. “Sebentar, gua abisin rokok dulu.”

“Peach,”

“Hm?”

Hening menyapa sesaat, Natha tidak langsung menjawab. Ia menikmati bagaimana telapak tangan Harvey mengelus pinggangnya dari balik piyama satin yang ia pakai. Suasana begitu tenang, dan Natha pikir ini waktu yang pas untuknya mengeluarkan kata-kata yang ia tahan sejak memeluk Harvey di lake house siang tadi.

“Show me your scars,” Bisik Natha.

Kening Harvey mengkerut bingung. “What?”

“Show me your scars. I want to see how many times you needed me and I wasn’t there.”

Ucapan Natha membuatnya mendengus, Harvey menghisap kembali batang rokoknya lalu membuang asapnya perlahan. “You already saw it, baby.”

Jari-jari Natha meraih sebelah tangan Harvey, menggengamnya penuh rasa hangat. “If the world does not understand the way you burn, do not hide yourself away.” Kelopaknya terbuka, Natha menatap Harvey teduh. “The things that hurt you may have left scars, but it did not destroy you. You survived, peach. Kita gak selamanya harus terus menerus dituntut buat jadi kuat, ada kalanya kita harus lepasin semua luka yang kita punya. Bukan karena kita lemah, tapi karena kita harus bertahan. There is a strength behind every scars.”

Hening menyelimuti. Hanya suara-suara hewan malam yang terdengar saling bersahutan. Satu tarikan panjang pada batang nikotin teraih kembali, helaan nafas terdengar begitu berat setelahnya. Harvey memilih untuk mematikan rokoknya dan menaruh penuh seluruh atensinya pada Natha.

“It’s okay to cry out loud. You don’t need to hold it every times the pain comes to hit you. Just remember, lo bisa bertahan sampe sejauh ini udah termasuk pencapaian luar biasa yang lo lakuin untuk berdamai sama rasa sakit lo. Dunia emang gak pernah adil buat siapapun, Vey.” Natha usap harus permukaan punggung tangan Harvey dengan ibu jarinya. “Tapi dengan lo yang terus bertahan, lo udah jadi pemenangnya.”

“Nath,” Pandangannya menunduk, menatap manik bulat yang terlihat sayu karena mengantuk. Sorotnya yang tadi begitu datar kini goyah dan berganti dengan penuh permohonan. “Please stay with me. Don’t you ever think to left me again. I don’t mind if you being grumpy, stubborn, rebels, and mad or anything else at me all the time, but please … stay.”

Natha mengangguk tipis. Berganti mengusap helaian rambut Harvey yang turun menutupi dahi. “I’ll always stay.”

“Cukup Hadley yang pergi ninggalin gua, lo jangan.”

“Gua gak akan kemana-mana, Vey. Selalu di sini, sama lo.”

Pertama kalinya di sepanjang hidup, Harvey meminta seseorang untuk bertahan dengan begitu frustasi. Ia rengkuh Natha masuk ke dalam pelukannya. Erat sekali seperti tidak ada hari esok. Kali ini, ia tunjukan kembali sisi dirinya yang tidak pernah dunia lihat, sisi di mana semua lukanya berada.

Natha mengusap belakang kepala Harvey dengan penuh kasih, membiarkan wajah suaminya itu bersembunyi pada perpotongan lehernya. Harvey terlalu banyak menyimpan beban di pundaknya sendirian selama bertahun-tahun lamanya. Sedihnya, orang lain tidak boleh tahu. Natha sendiri tentu tidak bisa memungkiri jika apa yang tengah terjadi kini juga membuatnya ikut terluka.

“I miss her.” Harvey tercekat, napasnya terasa begitu sulit. “I miss my sister, Natha.”

Helaan nafas berhembus, Natha hanya bisa menganggukan kepalanya seraya memberikan ketenangan ketika bisikan Harvey terdengar samar. Perpotongan lehernya terasa basah, suaminya kembali menangis dalam diam. Natha gigit bibir bawahnya agar tidak ikut meloloskan air matanya. Kali ini ia yang harus menjadi lebih kuat, dan membiarkan sosok anak kecil yang bersemayam jauh di dalam diri Harvey bersandar padanya.

No one knows how much he cried after that day.

“Gua bahkan lupa gimana suara dia, Nath. I always trying to remember, but I can’t.”

Bagian yang paling memilukan dari kehilangan seseorang adalah, saat di mana kita sampai pada tahap lupa bagaimana suaranya terdengar. Waktu di mana kita bisa mengedengar suara mereka dengan begitu jelas, kini berganti dengan bagaimana mengingat seperti apa suara mereka pernah terdengar.

“I really miss her so much. I miss Hadley. But there is nothing I can do.”

Lalu bagian yang paling menyedihkannya adalah, saat dimana kita merindukan seseorang yang sosoknya sudah tidak lagi berada di dunia. Rindu yang tidak pernah terbalas. Rindu yang hanya bisa dilampiaskan oleh jutaan untaian doa pada mereka yang telah berpulang lebih dulu.

Angin dingin perbukitan berhembus, menyapa kembali keduanya yang masih berpelukan erat di atas ayunan. Usapan lembut yang menangkan tetap Natha lakukan, sesekali ia berikan kecupan tipis pada pelipis Harvey sampai akhirnya pelukan terlepas, jejak air mata dihapus dengan ibu jari, dan bibir mereka bertemu dalam sebuah pagutan lembut.

Natha mengerti, Harvey lah yang selama ini menyimpan luka begitu menganga di dalam hatinya. Luka yang mungkin tidak bisa sepenuhnya sembuh hingga akhir hayatnya nanti. Tidak ada yang tahu seberapa banyak Harvey kecil menangis di tengah heningnya malam, seberapa banyak ia meraung putus asa akan keinginannya agar Hadley kembali. Batin kanak-kanaknya terluka lebih parah dari yang lain.

Karena kala itu, Harvey hanyalah seorang anak kecil yang belum sepenuhnya mengerti apa yang sudah terjadi, yang dirinya tau hanyalah … Hadley pergi, begitupun dengan Natha dan Nasha. Ia ditinggalkan sendirian.

Mungkin malam itu mereka tidak menyadari, dan mereka tidak bisa melihat kalau Hadley juga ada di sana, mengusap-usap kepala Harvey yang tengah menangis dengan lembut, seperti seorang Kakak yang sedang menenangkan adik kecilnya.

’Maaf.’

Ia berbisik sendu, namun suaranya tidak mungkin bisa Harvey dengar.

. . .

And maybe, Just maybe, In another universe, Those four kids still play together, Make handprints on the wooden walls in the lake house, And remember it together when they were grew up.

🕊

Ini pertama kalinya Oliver datang berkunjung. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan ujung sepatu, menunggu Archie membukakan pintu apartemennya, dengan sebelah tangannya menenteng sebuah paperbag berisi puding seperti yang Archie pinta. Ia menunggu cukup lama sebelum akhirnya pintu coklat itu terbuka, dan menampilkan Archie dengan rambut setengah basahnya yang mengintip dari balik pintu.

“Ver,” Bola mata bulat itu menyipit, senyum manis tersungging bersamaan dengan pintu yang terbuka lebar mempersilahkan Oliver untuk masuk. “Dari tadi ya? Sorry.”

“No problem, baru juga lima menit.” Sahut Oliver sambil mengusap helaian setengah kering milik Archie. “Pudding yang lo mau.” Katanya sambil menyodorkan paperbag yang ia bawa.

Begitu jelas sorot mata Archie terlihat senang, ia mengambil paperbag yang diberikan Oliver lalu mengintip ke dalam isinya. “Beli banyak banget.”

“Gapapa. Kan lo suka manis.”

Archie tersenyum, bergumam terima kasih lalu berjalan riang menuju sofa di ruang tengah. Ia duduk, mengambil satu cup puding lalu melipat kedua kakinya di atas sofa, otomatis membuat celana pendek yang ia pakai semakin tertarik ke atas. Paha mulus itu kembali terpampang begitu jelas.

Oliver berdehem singkat, melegakan tenggorokannya yang terasa sedikit gatal. Matanya melirik sekilas ke arah pada Archie sebelum mendudukan dirinya tepat di samping lelaki cantik itu. Mendengus geli melihat bagaimana Archie begitu senang dan semangat menghabiskan pudding pemberiannya itu.

Matanya mengalih, Oliver menatap ke arah sekeliling memperhatikan seluk beluk apartemen Archie yang lelaki cantik itu tinggali bersama Kakaknya. Begitu banyak barang namun semuanya tersusun dengan rapih, pandangannya cukup lama terkunci pada sebuah foto keluarga yang berada di atas meja buffet samping tivi. Wajah Archie kecil dan sekarang tidak ada bedanya, mata bulat yang begitu khas serta senyumannya yang manis sedikit membuat Oliver terpana.

Semuanya tampak biasa saja, sebelum akhirnya pandangan Oliver terkunci kembali pada sebuah patung angsa kecil yang terpajang di lemari hias. Matanya menyipit, alisnya mengkerut, begitu familiar dengan bentuk angsa putih yang memakai mahkota itu.

“Ver?” Archie menatap Oliver bingung. Ia menatap ke arah dimana pandangan Oliver tertuju, dahinya turut mengerut bingung. “Kenapa malah ngeliatin patung angsa?”

“Oh!” Oliver tersentak, ia telihat gelagapan lalu kepalanya menggeleng. “Engga kenapa-kenapa. Patungnya bagus.”

Archie mengangguk seirama dengan bahunya yang naik sekilas, lalu ia kembali fokus menghabiskan puddingnya yang tinggal setengah cup itu. Sedangkan Oliver kembali memperhatikan patung angsa seraya mengingat-ingat kembali dimana ia pernah melihat patung itu sebelumnya.

Namun akhirnya Oliver tidak ambil pusing, patung angsa itu tidak diproduksi hanya satu saja di dunia ini. Mungkin ia pernah melihatnya di lain tempat, sebab itu terasa familiar. Tapi mengingat kembali sebuah jam tangan yang berada di atas meja nakas ruang rawat Athena, yang kemarin ia lihat melalui ponsel Archie cukup membuatnya penasaran. Ia tahu persis siapa yang memiliki jam tangan seperti itu juga, terlebih bagian strap-nya juga memiliki warna serta corak yang begitu mirip.

“Ver? Kok lo malah bengong? Apart gua kumuh banget ya, makanya lo gak nyaman?” Tanya Archie. Ia sebetulnya merasa begitu aneh melihat Oliver yang sedari tadi hanya termenung itu. “Sorry ya, gua emang lagi males banget beresin apart.”

Oliver gunakan kedua jarinya untuk menjepit ujung hidung bangir Archie sekilas. “Siapa yang bilang apart lo kumuh? Rapih gini kok.”

“Abis lo diem aja. Gua mikirnya lo gak nyaman di sini. Kalo apa yaudah ayo ke apart lo aja,” Kata Archie seraya menaruh cup kosong sisa puddingnya itu di atas meja. “Gua ganti baju dulu deh.” Sambungnya kemudian.

“Engga usah, di sini aja.” Oliver menahan pergerakan Archie yang ingin beranjak itu, “Enak di sini kok, apart lo hawanya lebih anget.”

“Maksudnya panas? Emang sih soalnya AC udah lama gak di service. Lo kegerahan ya?” Tutur Archie polos.

Oliver tertawa, “Bukan gitu, Chie. Gua gak bilang apart lo panas kok. Hawanya yang anget, gak kayak apart sama rumah gua yang dingin itu.”

“Oh,” Archie kini mengerti ke mana arah pembicaraan Oliver. “Ya karena gua di sini tinggal sama kakak gua mungkin?”

“Gua tinggal di rumah ramean juga tetep dingin tuh hawanya.” Timpal Oliver seraya menarik pinggang Archie, membuat tubuh lelaki cantik itu lebih menempel padanya. “Lo wangi deh, Chie.”

“Ya kan gua baru mandi, liat,” Archie menunjuk rambutnya. “Masih setengah kering.”

Tanpa aba-aba Oliver mengecup pipi kemerahan itu sekilas. “Kakak lo gimana akhirnya? Di rawat di sana dulu buat sementara waktu?”

Archie menyandarkan kepalanya pada pundak Oliver, lalu mengangguk. “Ya palingan seminggu di rawat di sana sampe kondisinya pulih. Untung kantornya juga enak, biaya ditanggung semua. Cuman gua masih khawatir aja, Kak Thena di sana gak ada yang nungguin. Ver, apa gua ke London aja ya?”

“Ya terserah lo itu. Cuman pertanyaannya, emang Kakak lo ngizinin lo ke sana?”

“Udah pasti engga sih,” Archie mendengus. “Emang dasar anak pertama, pengennya keliatan kuat sama mandiri mulu. Padahal aslinya dia cengeng, kena gores piso aja hiperbolisnya kayak apaan tau.”

“Dia tuh cuman pengen lo gak khawatir, Archie.” Ganti pipi kemerahan itu Oliver cubit dengan gemas. “Kakak lo gak bener-bener sendiri kan di sana? Maksud gua pasti ada temen kantornya yang ikut juga.”

“Ada sih. Dia ramean kok pergi ke London. Cuman gua khawatir aja, siapa sih yang gak khawatir kalo keluarga lo satu-satunya kena musibah?” Archie cemberut. “Apalagi posisinya jauh, beda benua.”

“I know,” Sebelah tangannya Oliver gunakan untuk merangkul pundak Archie. “Laura juga pernah kayak gitu. Jadi gua ngerti perasaan lo, Chie. I didn’t mean to blame your feelings, sorry.”

Archie tak menyahut, ia terdiam sejenak sebelum akhirnya kepalanya mendongak, menatap wajah Oliver yang lebih tinggi sedikit darinya itu. “Oliver,”

“Apa?”

“Mau peluk boleh gak?”

Sebelah alisnya terangkat, lalu Oliver terkekeh. “Mau dipangku sekalian?”

“Boleh?”

Dibanding menyahut, Oliver langsung mengangkat tubuh Archie agar duduk di atas pangkuannya. Tangannya meraih kepala Archie, menariknya agar bersandar di atas pundaknya kembali. Setelah itu ia memeluk erat tubuh Archie. “Feel better?” Tanyanya, dan sebuah anggukan tipis Oliver rasakan sebagai jawaban.

Archie memejamkan matanya, merasakan kehangatan tubuh Oliver yang melingkupinya begitu erat. Begitu nyaman hingga ia menghela napasnya dengan senyuman tipis. Meskipun dikelilingi oleh rasa dingin, tapi hal itu tidak membuat sosok yang tengah memangkunya ini ikut menjadi dingin. Oliver begitu hangat seperti mentari dipenghujung hari, ataupun seperti perapian di musim gugur.

“Oliver.” Panggil Archie pelan.

Oliver menyahut dengan gumaman tipis.

“Kalo semisalkan gua nyaman sama lo, gimana?”

“Maksudnya?” Tanya Oliver bingung. Pasalnya, pertanyaan Archie begitu rancu, salah-salah ia menjawab, mungkin akan berimbas pada hubungan mereka kedepannya.

“Iya, kalo semisalkan gua nyaman sama lo, gimana?”

“Nyaman dalam artian?”

“Dalam artian sama kayak lo waktu bilang lo suka sama gua.”

Bibirnya seketika mengantup rapat. Oliver sendiri bingung jika harus mengartikan rasa nyaman yang Archie sebutkan seperti perkataannya jika ia menyukai lelaki cantik itu. Masalahnya, ia bahkan tidak mengerti rasa suka seperti apa yang ia rasakan pada Archie.

“Chie,” Oliver menelan ludahnya. “Gua sendiri bahkan gak ngerti rasa suka gua ke lo itu gimana.” Sahutnya jujur. Berusaha tidak ingin membuat rumit hubungan keduanya yang hanya sebatas mencari untung pada satu sama lain.

“Sama kalo gitu.” Archie justru terkekeh. “Gua juga gak ngerti rasa nyaman gua ke lo itu kayak gimana.”

“So?”

“We still an employee and the boss, right?”

Diam-diam Oliver menghela napasnya lega. “Right.” Sahutnya tegas.

Archie menjauhkan tubuhnya, kedua tangannya tersampir di pundak Oliver dengan tatapan yang mengarah lurus pada pupil kecoklatan dihadapannya itu. “Kenapa lo keliatan nervous?”

Sebelah alisnya terangkat, dengusan geli Oliver mengalun lalu ia menyentuh sekilas ujung hidung Archie dengan telunjuknya. “Justu lo yang keliatan nervous, Deandra Archie.”

Hidungnya mengkerut seirama dengan bahunya yang naik sekilas. Archie tidak mengatakan apapun lagi selama beberapa menit lamanya, hanya menatap Oliver dalam diam. Begitu juga Oliver yang membalas tatapan Archie, seakan-akan mereka tengah bertarung siapa yang lebih dahulu kalah dan memalingkan wajah.

Tidak ada yang tahu apa isi pikiran satu sama lain, baik Oliver maupun Archie begitu rapat menyimpannya dibalik tatapan yang mengarah lekat itu. Tapi akhirnya, mereka berdua sama-sama tergelak dan diakhiri dengan suara tawa yang memenuhi ruangan.

“Kita kenapa lagi kayak lomba melotot sih?” Tanya Archie diiringi tawanya yang renyah.

“Mata lo kayak mau keluar, Chie.”

Sebuah pukulan Oliver rasakan di bahunya.

“Sembarangan!” Sentak Archie tak terima.

Tawa Oliver mengalun semakin kencang, kedua tangannya secara tak sadar merengkuh kedua pinggang Archie. “Lo lucu deh.”

“Emang.” Sahut Archie bgitu percaya diri, ia menjulurkan lidahnya sekilas guna meledek Oliver. “Ver, lo gak mau nyium gua apa?” Tanyanya langsung ke inti.

“Hm?” Posisi duduknya sedikit Oliver benarkan, dan hal itu justru menjadi kesempatan untuk Archie melancarkan kebiasaannya yang senang sekali duduk merapat pada bagian kejantanannya. “Lo cium gua duluan coba.”

Tanpa basa basi, Archie langsung memajukan wajahnya. Ia raih belahan bibir Oliver yang terasa begitu lembut, mengulum bagian bawahnya seperti tengah mengemut permen. Tak lama, ia jauhkan kembali wajahnya. “Udah.”

“Bentar banget?” Oliver bertanya heran.

“Takut yang ini bangun,” Kata Archie seraya menurunkan sebelah tangan, lalu menyentuh tepat apa yang tengah didudukinya. “Lo keberatan gak kalo Bigel ke sini?”

“Dia mau ke sini?”

Kepala Archie mengangguk. “Dia mau mampir ke sini sebentar. Just checking me up. Dia emang udah nganggep gua kayak anaknya sendiri, jadi ya gitu.”

“Bigel suka sama lo kali.”

“Ver,” Archie menangkup wajah Oliver, lalu mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. “Mau tau rahasia gak?”

“Apa?” Bisik Oliver begitu pelan.

Bola mata Archie bergerak menatap sepasang manik teduh Oliver. “Abigail gak suka cowo.”

“Oh, lesbiola?”

“Hah?”

“Hah?”

“Apa sih, Oliver!” Archie menggerung kesal, terlebih ketika mendapati Oliver malah terkekeh. “Kok malah les biola? Bigel gak bisa main biola, dia bisanya main gitar listrik!”

Sebuah sentilan pelan Oliver berikan pada dahi Archie. “Perhatiin kata-kata gua, Archie.”

Archie yang awalnya terlihat bingung langsung melotot dan kembali menepuk pundak Oliver. “Oh! Bilang yang jelas dong! Iya.”

“Gua kira dia selama ini suka sama lo, Chie.” Akhirnya Oliver mengungkapkan apa yang ia rasakan terhadap hubungan Archie dan sahabatnya Abigail itu. “Soalnya sejak lo pingsan waktu itu, gua ngerasa sikap Abigail beda banget ke lo.”

“Bedanya?”

Kaos yang digunakan Archie diangkatnya, Oliver menyentuh pinggang Archie kembali namun kini tanpa penghalang apapun. “Ya cara dia khawatir sama lo tuh beda.”

“Dia emang gitu, Ver.” Archie menghela napasnya, tidak habis pikir dengan isi kepala Oliver. “Bigel perhatian ke gua karena dia dari dulu pengen banget punya adek cowo, tapi orangtuanya gak ngasih. Wait, sebenernya agak penting juga sih gua ngasih tau ini ke lo. Yah, gua jadi oversharing deh.”

“Gapapa, gua suka ngeliat lo ngoceh.” Oliver tersenyum manis, “Lo lucu kalo lagi bawel. Bibir lo manyun-manyun kalo lagi ngomong.”

“Ok? Thank you?” Sahut Archie. “Ngomong-ngomong, lo kayaknya suka banget ya sama pinggang gua?”

Oliver mengangguk semangat. “Ya. Pinggang lo lembut, gua suka ngusapnya. Kecil—Maksud gua pinggang cowok emang kecil, tapi punya lo tuh udah kecil, ramping juga.”

“Oh thank you so much, lo tau aja kalo gua suka dipuji.” Wajah Oliver kembali ditangkupnya, Archie memberikan beberapa kecupan di sana, terutama dibagian lesung pipi Oliver. “Tapi sorry, orang ke sekian yang bilang kayak gitu.”

“Siapa orang pertamanya?”

“Gak tau. Lupa.”

Jawaban polos Archie itu akhirnya membuat Oliver menggelitik pinggang Archie hingga sang empu mengaduh.

“Ahahaha! Oliver, stop it!”

“I love that laugh,” Oliver menghentikan pergerakan jarinya, menatap Archie yang terengah. “It’s really cute. But I’m sad.”

Archie langsung terdiam dengan kening mengkerut. “Kenapa tiba-tiba bilang sedih?”

“Terlalu banyak jejak orang lain di sini,” Jari-jarinya sedikit meremat pinggang Archie, “If i can go back to the past, I wish I met you earlier.” Bisik Oliver lirih. Ia mengelus pinggang Archie kembali, wajahnya ia dekatkan pada perpotongan leher lelaki cantik itu lalu menghirup wangi yang menguar dari sana. “So soft, like a ton of cottons.”

Kedua tangannya bergerak memeluk kepala Oliver, kekehan Archie menguar ketika lelaki itu menciumi lehernya tipis-tipis hingga tulang selangka. Archie tidak melakukan perlawanan apapun, hanya jari-jarinya yang menari membelai surai tebal Oliver, ia begitu terbuai, bahkan hingga tidak menyadari jika sebelah tangan Oliver semakin naik dan menyenggol putingnya.

“Ver,” Suara Archie memberat, napasnya berhembus tak teratur. “Bigel mau ke sini, we don’t have enough of time for that.”

Oliver hanya berdehem singkat, ia tetap memberikan afeksinya pada tubuh Archie. “Quickly?”

“No,” Archie menggeleng. “I didn’t mean to reject you but kalo Bigel tiba-tiba dateng gimana?”

“She’s not—”

Ting! Tong!

Pergerakan keduanya terhenti.

“Kan,” Archie akhirnya tertawa, ia menatap wajah Oliver yang sedikit tertekuk. “Gua bilang juga apa.” Sebagai gantinya, ia mencium Oliver kembali. “Nanti ya, kalo Bigel udah pulang.”

Setelahnya Archie turun dari pangkuan Oliver guna membukakan pintu. Oliver? Hanya bisa menghela napasnya panjang.

Babies Got Sick

Malvin, kanak-kanak yang senang sekali bermain dibawah guyuran hujan itu terkena demam.

Natha mengosongkan semua jadwalnya, sepanjang hari setia menemani Malvin yang masih meringkuk di bawah selimut tebal. Raka, suami kembarannya yang berprofesi sebagai dokter itu mengatakan jika Malvin hanya terkena demam biasa. Mungkin besok atau lusa Malvin sudah mulai sehat dan bisa beraktivitas seperti biasa, tapi itu tetap saja membuat Natha khawatir akan kondisi Malvin yang terkadang masih mengigil disertai dengan batuk.

“Papa, pusing.”

Rengekan putranya itu membuat Natha dengan sigap mengusap kepala Malvin. “Pusing, cepet pergi dari Malvin ya, biar Malvin bisa main lagi.”

“Daddy masih lama ya pulangnya?”

“Mungkin masih di jalan. Malvin kalo mau tidur duluan, tidur aja. Gak usah nungguin Daddy.”

Malvin mengerang kecewa, “Kalo Malvin tidur duluan, nanti Malvin gak ketemu Daddy hari ini. Tell Daddy that I miss him so much.”

Natha mengangguk. “Nanti Papa bilangin. Sekarang Malvin tidur aja ya.”

Pipi putih bulat seperti bakpao itu berwarna kemerahan, Malvin berulang kali menggosok hidungnya yang gatal dengan punggung tangan, kelopak matanya terpejam seiring dengan lembutnya tangan Natha membelai helaian rambutnya.

Mata melirik pada jam yang berada di atas nakas, sudah hampir pukul setengah sebelas malam tapi Harvey belum menunjukan batang hidungnya di rumah. Terakhir suaminya itu mengabari ketika sore tadi, mengeluh karena banyak sekali meeting yang harus dihadirinya.

“Nanti kalo Malvin kebangun dan butuh apa-apa, panggil Papa, oke?”

Malvin mengangguk pelan, senyumnya mengembang tipis ketika Natha mencium pelipisnya. Alam mimpi menyambutnya dengan cepat seiring lantunan lulaby yang Papanya dendangkan.

Natha memastikan Malvin sudah tertidur dengan nyenyak sebelum ia keluar dari kamar putranya. Merasa khawatir karena Harvey belum menghubunginya sama sekali sejak pesan terakhirnya, jadi ia dengan cepat keluar dari kamar Malvin untuk mengambil ponselnya yang berada di dalam kamarnya.

Baru saja ia menutup pintu, sosok Harvey berjalan menaiki tangga dengan wajahnya yang menunduk lesu. Natha mendekat, pandangan mata mereka bertemu.

“Vey?”

Harvey menjatuhkan jas yang dipegangnya, merengkuh tubuh Natha dan menaruh kepalanya di pundak yang lebih pendek. Nafasnya berhembus berat, ia butuh mengisi ulang energinya sebentar. Harinya begitu melelahkan, Harvey bahkan sempat melupakan makan siangnya karena jadwal meetingnya yang begitu padat.

“Everythings, oke?” Natha membalas pelukan suaminya itu, mengusap-usap bagian belakang kepala Harvey seperti ia mengusap kepala Malvin tadi. “Vey?”

“Sebentar, Nath.”

Suaranya terdengar serak, membuat Natha mengeryitkan alis bingung. Ia juga merasakan jika suhu tubuh Harvey lebih hangat dari biasanya, membuat tangannya turun menuju tengkuk, merabanya, kemudian ganti Natha yang menghela nafasnya panjang.

“Badan lo anget, cape banget ya hari ini?” Tanya Natha.

Anggukan diberikan sebagai jawaban. Tidak lupa sebuah kecupan tipis Harvey berikan pada perpotongan leher Natha. Nafasnya tertarik panjang, menghirup wangi khas Natha yang manis seperti perpaduan buah-buahan dan vanilla.

“I just wanna lying in bed and hugging you so tight.”

Senyum Natha merekah, “Alright.”

Pelukan terlepas, sorot mata tegas itu menatap bulatnya manik Natha. “Malvin udah mendingan?”

“Panasnya udah mulai turun waktu abis gua kasih obat, tapi dia masih ngeluh kepalanya pusing.” Jari-jari Natha bergerak menyentuh kerah kemeja Harvey, dan bermain di sana. “He told me that he miss you, bisa agak sedikit longgarin jadwal lo gak buat Malvin?”

Harvey tidak langsung menjawab, ia terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Gua usahain.”

Manik bulat itu bergerak, menatap ke dalam sorot tajam yang berada di hadapannya. “Harvey, did everything alright? Don’t you dare buat bohong sama gua.”

“Everything alright, Darl.” Senyum merekah tipis, Harvey sampirkan rambut Natha yang mulai memanjang ke belakang daun telinganya. “Don’t worry.”

Tapi Natha tak percaya begitu saja dengan ucapan Harvey, terlebih penampilan suaminya itu terlihat kusut dan sinar matanya yang lelah. Pasti ada sesuatu yang sengaja ditutup-tutupi Harvey agar ia tidak ikut merasa khawatir.


Pagi menyambut, riuhnya kicauan burung serta sinar matahari yang masuk melalui celah-celah gorden membuat Natha terbangun. Mulutnya menguap lebar, tubuhnya mengulet, kelopak matanya terbuka perlahan.

Sebelah tangannya terulur, menepuk-nepuk tubuh Harvey yang masih tertidur disebelahnya. “Vey, wake up.”

Namun berulang kali Natha menepuknya, Harvey sama sekali tidak memberikan respon. Kelopak matanya terbuka penuh, ia langsung menoleh ke arah suaminya yang masih memejamkan mata. Natha perhatikan dengan seksama, deru nafas Harvey begitu berat, bulir-bulir keringat membasahi rambut area pelipis, serta suhu badannya yang panas ketika Natha menyentuh dahinya.

“Vey! Harvey!” Nadanya meninggi, Natha langsung mengambil ponselnya yang berada di atas nakas guna menelfon Raka. “Ah shit!”

Natha langsung bergegas turun dari kasur ketika mengingat Malvin yang juga masih dalam kondisi sakit. Sendal rumahnya ia pakai dengan tergesa, kakinya melangkah dengan cepat keluar dari kamar dengan poselnya yang masih menempel di sebelah telinga.

Langkahnya sempat terhenti begitu pintu kamar Malvin terbuka dan putranya itu sedang duduk tenang sambil memangku sebuah botol kosong yang semalam Natha isi penuh dengan air mineral. Senyum lebar merekah, ia mendekat ke arah Malvin dan putranya itu langsung menyapa riang.

“Good morning, Papa.”

“Good morning, baby. Kepalanya masih pusing?” Tanya Natha seraya mengecek suhu tubuh Malvin. Masih terasa hangat. Pangilan telfonnya tidak terjawab, membuat Natha kembali menekan tombol dial. “Did you feel better?”

Malvin mengangguk, ia memperhatikan Natha dengan bingung. “Papa kenapa? Daddy mana?”

“Daddy masih di kamar, Papa bangunin gak bangun, jadi Papa lagi telfon uncle Raka. Kayaknya Daddy sakit.”

Mendengar penuturan Natha, dengan langkah seribu Malvin langsung turun dari atas kasur. Mengabaikan pusing yang langsung mendera kepalanya kembali, ia berlari keluar dari kamar seraya berteriak.

“Daddy! Ah! Ouch!”

“Malvin!”

Anak-anak itu bangkit kembali ketika ia terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. Mengabaikan Natha yang juga bergegas menyusul langkahnya, Malvin mendorong lebih lebar pintu kamar kedua orangtuanya itu. Mata bulat serupa milik Natha menyendu ketika mendapati Harvey masih tertidur di atas kasur.

“Daddy.” Lirih Malvin begitu pelan.


“Kecapean, Nath.”

Raka melepas stetoskop miliknya lalu menyampirkannya di leher, senyumnya terkulum ketika menatap Natha yang masih menunjukan ekspresi khawatir. “It’s oke, Harvey cuman butuh istirahat yang cukup. Nanti gua resepin obat sama vitaminnya. Lo gak usah khawatir.”

“This brat, dia emang lagi sibuk banget akhir-akhir ini.” Natha menghela nafas panjang, lalu mendudukan diri di sisi kasur. Matanya menatap Harvey yang masih tertidur. “Berangkat pagi banget, pulang larut. Gitu terus hampir dua mingguan. Kalo gua tanya ada masalah apa engga, dia selalu bilang gak ada.”

“Nanti kalo Harvey udah membaik, coba lo obrolin lagi aja. Mungkin dia gak pengen lo ikutan khawatir.”

“Tabiatnya emang jelek banget ini orang. Apa gunanya nikah sama gua kalo apa-apa masih dipendem sendiri. Anjing emang.” Gerutu Natha kesal, emosinya sedikit memuncak mengingat Harvey kerap kali menyembunyikan masalah jika terjadi sesuatu pada perusahaanya. “Ah, nanti tolong cek Malvin juga ya, Rak? Demamnya udah turun sih, cuman sering ngeluh hidungnya mampet sama masih sering batuk.”

“Obat yang kemaren gua resepin masih diminum rutin kan?” Tanya Raka, ia membereskan kembali peralatannya dan memasukannya ke dalam tas.

“Masih sih, cuman kata Malvin obatnya pahit, gua juga gak bisa maksain jadi gua kasih setengah-setengah. Itu pun suka dia muntahin lagi.”

“Buat batuknya, mungkin lo bisa nyoba alternatif pake buah pir kalo Malvin emang susah buat minum obat, maklum namanya juga anak-anak kan. Kukus buah pir, jahe, sama madu. Satu buah pir lo kerok tengahnya, terus dimasukin setengah ruas jahe sama madu, abis itu dikukus sekitar 20 menitan. Nanti air yang ada ditengah buahnya lo kasih ke Malvin.”

Natha mengangguk paham dengan penjelasan Raka. “Nanti gua coba. Thanks a lot, Rak.”

“You’re welcome.” Raka tersenyum. “Lo disini aja nemenin Harvey, biar gua ke kamar Malvin buat periksa dia.”

Putranya itu memang sengaja Natha bawa masuk ke kamarnya kembali karena terus menangis ketika tahu jika Daddynya sedang sakit, untung saja Raka datang bersama dengan Nasha, jadi kembarannya itu lah yang menemani Malvin sekarang.

Helaan nafasnya kembali terdengar, manik bulat menatap seksama wajah tenang Harvey ketika Raka sudah keluar dari kamar. Gemas, Natha mencubit kecil punggung tangan Harvey. Membuat sang empu mengeryit ditengah tidurnya.

Kalau memang suaminya itu tidak mau memberi tahu, maka Natha sendiri yang akan mencari tahu.


“85 MILLIAR?!”

Sekertaris Harvey mengangguk takut-takut menatap Natha yang mulai berapi-api. Keduanya tengah berada di gazebo halaman belakang. Natha yang menyuruhnya untuk datang dan memaksa Sabrina untuk memberitahu apa yang tengah terjadi di perusahaan hingga membuat Harvey sampai jatuh sakit seperti itu.

“Eh gila ya itu orang, mau mati apa gimana?”

“T-tapi kasusnya lagi di usut kok, Mas. Makanya Bapak akhir-akhir ini sibuk banget, kemaren juga gak sempet makan siang soalnya bolak-balik meeting sama bagian keuangan.” Sabrina terseyum kikuk ketika Natha melotot ke arahnya. “Udah saya ingetin buat makan, udah saya bawain juga makannya. Tapi Bapak yang gak mau.”

“Pukul aja kepalanya kalo dia gak mau makan!” Natha mendengus.

Sabrina meringis. “Aduh, bukannya apa, Mas. Saya takut dipecat kalo mukul kepala Bapak.”

“Backingan lo gua, gak usah takut.” Tutur Natha kembali. “Sialan banget, ada masalah segede itu tapi dia bilang gak kenapa-kenapa.”

“Mungkin Bapak gak mau Mas Natha ikutan khawatir.”

Natha berdecak, ia melipat kedua tangannya di depan dada. “Ketemu itu orang sama gua, gua pukulin sampe sujud-sujud. Dikasih kepercayaan malah korupsi, meleduk tuh perutnya makan duit haram.”

“Perutnya emang gede banget, Mas. Ngalahin Ibu-ibu hamil.”

“Bentar lagi juga palingan meleduk.”

Gadis dengan kemeja soft brown dan rok span hitam itu hanya mengangguk. Dibanding dengan Harvey, Sabrina sebenarnya lebih takut berhadapan dengan Natha yang memang sedikit bar-bar itu.

Natha menghela nafasnya kembali, tidak habis pikir dengan Harvey yang memilih untuk menutupi lagi masalah perusahaan padanya, yang mana justru membuat lelaki itu terlalu banyak pikiran dan berakhir tumbang. Suaminya itu, masih begitu tertutup tentang masalah-masalah yang datang padanya bahkan di tujuh tahun usia pernikahan mereka. Terlebih sejak kesehatan ayah mertuanya semakin menurun dua tahun belakangan ini, Harvey menjadi pribadi yang tidak pernah bercerita apapun lagi menenai kesulitannya.


Seperti sebuah biji karambol yang berpindah dari sudut ke sudut dengan sangat cepat, sudah dua hari terakhir Natha sibuk merawat Harvey dan Malvin yang jatuh sakit di waktu yang bersamaan. Ia dibuat benar-benar sibuk. Tidak sempat sama sekali untuk mengurus tokonya dikarenakan Daddy dan putranya itu begitu manja ketika sakit.

Sebentar-sebentar, Natha berlari masuk ke dalam kamar Malvin. Sebentar-sebentar, Natha berlari masuk ke dalam kamarnya dengan Harvey.

“Nath, boleh ambilin air minum?”

“Papa, hidung Malvin mampet, gak enak!”

“Nath, minta tolong gedein acnya, bisa? Gua kedinginan.”

“Papa, temenin Malvin! Kepalanya pusing!”

Rasanya seperti ingin membelah diri menjadi dua.

Natha hanya bisa bernafas lega ketika keduanya sudah tertidur pulas. Sebetulnya Nasha sudah menawarkan bantuan agar ikut merawat Malvin dan ia cukup fokus merawat Harvey saja, tapi Natha menolaknya. Tidak enak karena Nasha kini juga punya keluarga kecilnya sendiri yang butuh diurusnya. Untungnya selama keduanya sakit, Bibi memilih untuk tidak pulang dan membantu Natha mengurus keperluan mereka. Ingatkan Natha untuk menaikan gaji Bibi bulan ini dan membelikannya sepeda motor baru karena milik Bibi sudah terlalu tua untuk digunakan.

Bulir keringat yang menetes di dahinya Natha usap dengan punggung tangan, sebelah tangannya masih menepuk-nepuk pantat Malvin yang masih setengah tertidur itu. Perutnya tiba-tiba berbunyi, dirabanya perut yang terakhir Natha isi siang hari tadi, ia bahkan belum sempat makan malam karena Malvin begitu rewel. Demamnya memang sudah mereda, tapi pusing serta hidungnya yang mampet masih belum mau pergi.

Begitu sudah memastikan Malvin tertidur dengan pulas, Natha berjalan mengendap keluar dari kamar putranya untuk membersihkan diri. Ia akan mandi terlebih dahulu karena tubuhnya terasa begitu lengket sebelum turun untuk makan malam.

Pintu dibuka, hal yang pertama kali dilihatnya ketika memasuki kamar adalah Harvey yang masih terjaga, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar, namun seketika menoleh ketika Natha masuk dan menutup pintu kembali. “Nath,” Panggilnya pelan.

Tidak ada sahutan. Natha memang sengaja mendiami Harvey selama suaminya itu sakit karena masih kesal kenapa Harvey tidak terus terang padanya, hitung-hitung ajang balas dendam karena jika posisinya dibalik, Harvey pasti akan mendiaminya juga. Jadi Natha berpura-pura sibuk dengan membersihkan wajahnya di depan kaca seakan-akan eksistensi Harvey di kamar itu tidak ada.

“Nath?”

“Hah, abis mandi baru makan, terus tidur. I’m so tired, oh God.” Keluh Natha, ia kemudian berjalan menuju sisi karsur untuk menyimpan ponselnya terlebih dahulu di atas nakas. “My bones was cracking.”

“Natha.”

Pergerakannya terhenti, manik bulat itu menatap pergelangan tangannya yang ditahan oleh Harvey. “Lepas, gua mau mandi.”

Harvey yang paham jika ia memang didiami oleh Natha hanya bisa menghela nafasnya, tahu jika ia salah dan tidak menceritakan apa yang terjadi pada suami cantiknya itu. “I’m so sorry not telling you earlier, really.”

“Bisa lepasin gak? Gua mau mandi, gua juga belum makan. Nanti aja kalo mau ngobrol.” Sahut Natha ketus. “Lo tidur aja duluan. Lagi sakit kan.”

“Gua tau gua salah, Nath. Maaf.”

“Nanti aja, bisa kan?”

“Sayang.”

Natha menarik tangannya, dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Ia benar-benar lelah luar biasa dan tidak sedang di dalam suasana hati untuk mengobrol terkait masalah perusahaan, yang dibutuhkannya sekarang hanyalah mandi, makan, lalu tidur untuk mengisi energinya.

Tapi Harvey lebih memilih untuk tetap menunggu Natha selesai dan naik ke atas kasur. Sudah cukup ia didiami oleh Natha selama dua hari terakhir, walaupun itu merupakan buntut dari sikapnya yang tidak berterus terang dengan apa yang terjadi. Harvey hanya ingin Natha tidak ikut khawatir tentang penggelapan dana puluhan milliar yang dilakukan oleh project manager yang sudah ia percaya untuk menangani proyek baru di perusahaanya.

Menit-menit berlalu, dibalik kelopak matanya yang tertutup Harvey bisa merasakan jika kasur sedikit bergoyang pelan saat Natha naik dan merebahkan dirinya. Ia mengintip sedikit, dan mendapati Natha yang tidur memunggunginya. Posisinya Harvey ubah menyamping, bergeser lebih mendekat ke arah Natha dengan sebelah tangannya yang menyusup masuk ke dalam piyama satin suami cantiknya, memeluk pinggang ramping favoritnya itu.

“Nath,”

“Tidur, Harvey.”

“Sorry.”

Harvey menaruh wajahnya tepat dibelakang leher Natha, menghirup aroma khasnya yang menguar dari sana. “Really sorry. I'm just thinking that I can handle it alone, I don't want to make you worry too, but ... this is beyond my expectation. Too much to handle and I'm overwhelmed.”

“Whatever, urus aja 85 milliar lo itu sendiri. Gua mau tidur.”

“Baby,” Tubuh yang lebih kecil darinya itu Harvey tarik lebih mendekat, hingga tubuh keduanya menempel tanpa celah. “Gua cuman gak mau nambah beban pikiran lo. Lo udah sibuk ngurus Malvin sama toko, kalau ditambah gua cerita soal masalah kantor sama lo, takutnya lo yang malah kepikiran dan berakhir sakit kayak gua sekarang.”

Natha memilih untuk tidak menyahut.

“Gua sadar kalo gua terlalu sibuk akhir-akhir ini, sampe Malvin sakit pun gua jarang ada di rumah. I’m so sorry, oke?”

“Hoamm … gua ngantuk, mending tidur aja deh dari pada ngomong gak jelas gini.” Ucap Natha sambil berusaha menyingkirkan lengan Harvey yang melingkari tubuhnya. “Gua capek banget ngurus kalian berdua hari ini. Please I just want to go to sleep.”

“Just give me a second to explain.”

“Masih ada besok.”

“Dan besok lo pasti bakalan sibuk ngehindar lagi. Kapan lo ngasih waktu buat gua ngejelasin, Nath?”

“Gak perlu lo jelasin juga gua udah tau.” Ketus Natha kembali. “Gua gak butuh penjelasan dari orang yang kalo ada apa-apa lebih milih buat nyimpen sendirian sampe sakit. Mana tuh yang katanya nikah bisa jadi buat tempat bersandar satu sama lain? Bullshit! Suami gua sendiri aja milih buat nutup-nutupin.”

Harvey mengerti dengan jelas kekesalan Natha akan dirinya, dan ia tidak akan memadamkan api menggunakan bensin malam ini. Jadi ia mencoba untuk meraih Natha perlahan, mengingat emosi si cantik yang suka meledak-ledak jika sudah diambang kekesalannya.

“Hei,” Dengan perlahan, Harvey coba balik tubuh yang memunggunginya itu. Untung saja Natha tidak menolak, namun raut wajahnya yang tertekuk dengan sorot mata tajam itu lah yang menyambutnya. “I’m so sorry, really sorry.”

“Apa pembelaan lo kali ini?”

“Gak ada. I don’t have one because I know this is my fault.”

Sebelah alis Natha terangkat, “So?”

“I just want to apologize and explain what happen in our company. Nothing much.”

“So you don't want to apologize for ignoring Malvin when he needs you? Need his Daddy to take care when he was sick?”

Senyum Harvey merekah sangat tipis. “That's my business with Malvin, not you. I will apologize to him too later.”

“Go on.” Natha memejamkan kelopak matanya. “Keburu gua tidur beneran.”

Sebuah kecupan Harvey berikan dengan singkat, berhasil membuat Natha membuka matanya kembali dengan alis yang mengkerut protes.

“Kalo lagi diajak ngomong itu tatap lawan bicaranya, Dimitri.”

“Bacot.” Bola mata Natha berputar malas. “Cepetan!”

“Where should I start? Well, long short story, project manager yang gua kasih kepercayaan buat pegang proyek baru yang bulan lalu gua cerita sama lo … dia mainin anggaran dananya buat masuk ke kantong pribadi dia sama kepala administrasi.” Jari-jari Harvey bermain diatas permukaan kulit pinggang Natha. “Gua dari awal proyek jalan udah tau kalo orang ini ‘bermasalah’ tapi gua mau liat sampe mana dia mau main. I was too relaxed sampai kepala divisi keuangan laporan ke gua kalau anggarannya terlalu gak masuk akal buat proyek yang baru awal dimulai itu. And then, I just find out that dia korupsi uang anggaran sampe segitu banyak.”

“Dan lo akhirnya kepikiran sampe sakit kan? Rasain!” Natha menyentil jidat Harvey. “That’s all your fault for taking things too lightly. As always. And you always thought you were smarter than me but … cih, sama aja ternyata. Bego.”

Harvey tertawa, “I know, baby. Makanya gua bilang itu salah gua.”

“Sidang pertamanya dimulai kapan?” Tanya Natha. Nada suaranya masih terdengar jutek namun kini ia sudah bisa lebih santai. “Gua gak mau tau ya, Harvey. Kita udah sepakat ngeluangin waktu buat Malvin sesibuk apapun itu. Gua gak mau ngedenger Malvin sampe ngerengek lagi minta ditemenin Daddynya. Minta maaf lo besok pagi sama dia.”

“Alright, darl.” Wajah dimajukan, ujung hidungnya menggesek halus ujung hidung Natha. “So … do you still mad at me?”

“Gua tanya, sidang pertamanya di mulai kapan?”

“Why?”

“Tinggal jawab aja apa susah sih, njing!” Emosi Natha memuncak kembali, ia mendorong wajah Harvey menjauh. “Gak usah bertele-tele soalnya gua udah ngantuk!”

Bahu naik sekilas, “Mungkin dua minggu lagi.”

“Tck, lama banget.” Keluh Natha, “Bisa dipercepet gak? Seminggu lagi deh.”

“Ya gimana dari pengadilannya, Nath. Mungkin bisa. Kenapa jadi lo yang ngebet?”

“Mau gua gebukin itu orang sampe sujud-sujud soalnya udah bikin suami gua sakit! Enak aja dia cuman dipenjara setelah makan duit sampe perutnya kayak ibu-ibu hamil!”

Tawa Harvey meledak, ia kemudian merengkuh tubuh Natha untuk masuk ke dalam pelukannya. Satu ciuman mampir di dahi Natha selama beberapa detik.

“Thank you, and love you.”

“Besok minta maaf sama Malvin!”

“Iya.”


“Dokumen yang dari finance mana, Sab?”

“Ini, Pak.”

Sabrina menyerahkan sebuah map berisi rincian anggaran proyek yang bermasalah itu pada Harvey. Bola matanya bergerak gelisah, jari-jarinya saling bertaut gugup. “Pak, maaf, tapi ini udah waktunya makan siang. Bukannya lebih baik Bapak makan siang dulu?”

Seperti sebuah angin lalu, Harvey tidak menggubris perkataan Sabrina. Fokusnya tertuju pada rentetan angka dan huruf yang berada di sebuah kertas itu. “Dokumen yang sebelumnya mana?”

“Makan siang dulu, Pak.”

Harvey mengangkat wajahnya, menatap Sabrina datar. “Dokumennya, Sab.”

‘Huh, oke, tenang, Sabrina. Backingan lo Mas Natha. Tenang. Santai. Lo gak akan dipecat. Kalaupun dipecat lo bisa kerja sama Mas Natha, ngurus kembang lebih gampang dibanding ngurus bapak-bapak anak satu yang keras kepala.’

Sabrina membatin di dalam hati, sebelum akhirnya ia layangkan satu map yang masih dipegangnya ke arah atas kepala Harvey. Membuat Harvey tiba-tiba terdiam. Sabrina membungkukkan tubuhnya berkali-kali.

“Pak, maaf. Jangan pecat saya ya pak, saya di suruh Mas Natha buat ngegeplak Bapak kalau gak mau makan!” Tutur Sabrina setengah berteriak lalu dengan cepat berlari keluar dari ruangan Harvey. Diambang pintu, ia berhenti sejenak untuk kembali menatap atasannya yang masih terdiam di tempat itu. “Dokumennya saya kasih kalo Bapak udah makan siang! Selamat istirahat, Pak!”

Begitu Sabrina hilang dibalik pintu, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Harvey.

Natha Tanjung Eat your lunch, asshole.

Harvey Did you ask Sabrina to hit me?

Natha Tanjung Yeah, and?

Harvey Did you mind to come over?

Natha Tanjung For what? You're not Malvin. I don't have to feed you.

Harvey Pretty rose, you're my lunch.

Natha Tanjung Fuck you. And fuck your big dick.

Kiki melaju dengan begitu cepat.

Motor vario hitam itu melesat menyalip bak pembalap profesional mendahului mobil-mobil serta truk yang berjalan lambat. Tidak bisa dibiarkan. Deva tahu kekasihnya itu memang kerap kali cuek bebek terhadap siapapun yang mendekatinya, tapi walaupun begitu, rasa cemburu tetap saja ada menyelimuti Deva seperti awan hitam gelap dengan petir yang menyambar-nyambar.

Deva bahkan tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di tempat tujuan. Tapi ia memarkirkan motornya tidak tepat di depan warung, namun di depan tempat fotocopy yang sedang ramai, yang jaraknya hanya terhalang oleh dua toko sembako dan sebuah toko servis ac.

Matanya memincing, ia melihat dengan jelas bagaimana gadis dengan rambut sepinggang itu duduk mepet pada Evan yang sepertinya tidak menanggapi kehadiran adik tingkatnya itu. Tenggorokannya ia legakan sejenak, sebelum berjalan mendekat dengan wajah angkuh.

Orang pertama yang menyadari kehadiran Deva adalah Arghi. Lelaki dengan poni panjang hampir menutupi mata itu langsung tersedak es teh susu yang sedang dinikmatinya, seketika ia langsung menyenggol Jave yang duduk tepat disebelahnya. Matanya memberikan isyarat, beruntung Jave dengan cepat menangkapnya dan sedikit mengeser posisinya dari Evan.

“Lu yang ngasih tau Deva ya?” Tanya Arghi tanpa suara.

Jave mengangguk, bibirnya bergerak membalas tanpa suara juga. “Daripada itu cewe ngomul mulu tapi kagak ditanggepin sama Evan, berisik tau.”

Evan yang menyadari dua temannya heboh sendiri itu melirik dari ujung mata, belum sempat ia bertanya, suara Deva sudah terdengar jelas tepat dibelakangnya.

“Eh Jave, Arghi, duduknya mepet banget? Lagi naik angkot ya?”

Perkataan Deva itu sukses menyentak gadis yang sedari tadi sedang mencari perhatian dari Evan itu, kepalanya menoleh ke belakang, dan nyalinya ciut seketika saat Deva meliriknya begitu tajam. Posisi duduknya langsung ia ambil jauh dari Evan, tidak seperti tadi yang begitu mepet.

“Ay,”

Sapaan itu tidak Deva hiraukan, ia langsung mengambil posisi duduk pada bagian kosong di antara Evan dan Jave. Lalu senyumnya mengembang begitu manis menatap ke arah Evan, yang justru malah Evan tangkap dengan maksud lain.

“Hai,” Bola mata Deva bergulir, menatap adik tingkatnya yang terlihat kikuk itu. “Eh, Belleza, tumben nongkrong di sini?”

Evan paham detik itu juga kenapa Deva tiba-tiba datang menyusul. Pasti salah satu temannya mengadu pada kekasihnya itu.

“Eh anu iya, Kak. Lagi mampir aja, tuh sama temen-temen yang lain.” Cengiran kikuk Belleza terlihat aneh, ia menunjuk ke arah teman-temannya yang beda meja dengannya itu. “Ini lagi nanya soal materi kuis mekanika fluida sama Kak Evan, kebetulan kan Kak Evan asdos Bu Yeni juga.”

“Oh lagi nanya materi,” Deva mengangguk. “Yaudah lanjut-lanjut.”

Belleza berdecak, ia menggaruk kepalanya bingung harus bagaimana merespon Deva karena kekasih dari crushnya itu mendadak datang. “Ini udah kok Kak nanyanya, hehehe, kalo gitu Belleza pamit buat gabung sama temen-temen ya. Makasih Kak Evan, Kak Deva.”

Gadis itu dengan cepat bangkit dan membawa tasnya. Masih dengan jelas merasakan jika Deva mengikuti pergerakannya dengan tatapan tajam, bulu kuduknya meremang, sebisa mungkin langsung bergerak menjauh dari sekertaris himpunan yang seperti hendak mengulitinya hidup-hidup.

“Buset, bangkunya sempit banget ya, pantes mepet. Ya gak, Jav? Udah kayak duduk di angkot. Eh angkot aja kayaknya gak sesempit ini.”

Jave yang ditanya oleh Deva itu mengangguk patah-patah, “Ya gitu, Dev. Namanya bangku muat cuman tiga orang, didudukin empat orang ya pasti mepet.”

“Seharusnya diusir aja tuh yang bikin sempit.” Tutur Deva sambil melirik sinis ke arah Evan. “Aneh, udah tau sempit, masih aja dibiarin duduk.”

Selain menyerempet tukang dagang, salah satu ciri-ciri kalau Deva cemburu berat ya seperti sekarang ini. Membuat Evan hanya bisa menghela napas siap disalahkan dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Ay,” Tangan Evan menyentuh paha Deva dari bawah meja. “Katanya mau ada Sandra sama Rayyan ke kost, kok malah ke sini?”

“Emang kenapa? Gak boleh?!” Deva langsung menoleh dengan wajah kesal. Ia langsung menepis tangan Evan yang menyentuh pahanya itu. “Suka-suka gua lah, mau ke sini kek, mau ke sana kek.”

“Ya maksudnya tadi kalo mau ke sini juga kan bisa gua jemput.” Kata Evan dengan nada lembut, berusaha memadamkan kobaran api yang menyala-nyala itu. “Parkir motor di mana? Apa jalan kaki?”

“Kepo.” Sahut Deva ketus. “Gak usah sok akrab. Gua ke sini mau nongkrong sama Jave, Arghi.”

“Ribut, ribut, ribut, ribut.” Sorak Arghi dengan suara yang begitu pelan, langsung mendapat templengan dari Jave yang melotot ke arahnya.

“Devara,” Panggil Evan dengan nada memelas. “Kenapa sih, ay?”

“Lu yang kenapa!” Deva menyentak sebal. “Lagian demen banget dipepet begitu, kalo emang gak nyaman ya usir kek, apa kek.” Lanjutnya dengan nada pelan namun kesal.

“Astaga.” Lagi-lagi Evan menghela napasnya, ia menatap ke arah Jave dan Arghi yang langsung memalingkan pandangan mereka ke arah lain. “Iya gua salah. Maaf.”

“Gak. Gak mau maafin.”

“Beli tejus deh ayo.”

“Gak.”

“Ice cream?”

“Ogah.”

“Citul.”

Deva dengan cepat menoleh kembali ke arah Evan. “Deal, citul ya?”

“Iya ayo kita beli jajan apapun, asal jangan ngambek lagi.” Evan merogoh kantung celananya, menyerahkan kunci mobilnya pada Jave. “Bawa mobil gua, Jav.”

“Lah? Udahan lu nongkrong?” Tanya Jave heran, tapi tangannya tetap menerima uluran kunci dari Evan itu. “Balik?”

“Nemenin ni bocah dulu, daripada ngambek kagak jelas.”

Alis Deva seketika menukik. “Ya lu lagian-”

“Stt, iya udah ayo jajan.” Dengan cepat Evan meraih tangan kekasihnya itu, membuat keduanya langsung berdiri dari posisi duduk. “Bayarin dulu teh tarik gua sekalian, nanti gua ganti.”

Deva melambaikan tangannya ke arah Jave dan Arghi yang kompak menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


“Lagian udah tau si Belleza tuh naksir sama lu! Masih aja diladenin. Gak inget emang abis perkara dia tiba-tiba nembak lu di kantin waktu itu gimana? Untung aja Jave-”

Perkataan Deva seketika terhenti ketika Evan dengan cepat mengecup bibirnya.

“Dengerin dulu kalo gua lagi ngomong!” Deva yang kesal langsung menepuk kuat paha Evan yang duduk berhadapan dengannya itu. Ia merengut kembali ketika kekasihnya itu lagi dan lagi mencium bibirnya. “Jangan diciumin terus, Evan!”

“Bawel sih lagian.” Evan terkekeh, “Belleza juga gak gua tanggepin, ay. Dia ngoceh ini itu cuman gua iyain doang.”

“Di usir kan bisa?”

“Gak enak, di tempat umum, banyak orang. Kecuali kalo gua cuman berdua doang sama dia, baru gua usir.”

Mata Deva memincing curiga. “Jadi lu berharap bisa berduaan sama itu bocah?”

“Engga gitu, ay. Astaga.” Evan meringis frustasi, “Kalo langsung gua usir kan kasian, nanti dia yang malu. Jadi mending gak usah gua tanggepin aja.”

“Gua gak nerima apapun alesan lu.” Kedua tangannya Deva lipat di depan dada, ia memalingkan wajahnya. “Sana pulang! Sandra sama Rayyan mau ke sini.”

Evan terdiam sejenak, lalu akhirnya ia bangkit, berjalan menujuk ke arah pintu yang terbuka.

Sedangkan Deva melirik dari ujung matanya, wajahnya seketika tertekuk, tidak menyangka jika Evan benar-benar memilih untuk pergi. Tapi beberapa detik kemudian dugaannya meleset, yang dilakukan kekasihnya itu adalah menutup pintu dan menguncinya.

Seringai di wajah Evan terlihat, dengan cepat ia mendekat ke arah Deva lalu mengangkat tubuh yang lebih ringan darinya itu ke atas kasur. Diam-diam tertawa geli di dalam hati melihat raut wajah terkejut Deva.

“Sini lu gua cium sampe sesek.”

“Argh! Evan! AAAA TOLON-hmpttt!!”

🕊

Archie melambaikan tangannya ketika Rachel menyapanya dari seberang jalan. Gadis dengan cardigan berwarna pink pastel itu menunjuk ke arah dalam minimarket, memberitahu jika Oliver masih berada di dalam. Archie mengangguk, ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri guna memastikan jalanan sudah aman untuknya menyebrang.

Langkahnya mendekat ke arah sebuah mobil bmw berwarna putih, bersamaan dengan Rachel yang juga mendekat ke arahnya.

“Oliver masih di dalem, beli minum sama jajan katanya.” Tutur Rachel ketika ia sudah berdiri tepat di depan Archie. Gadis itu memperhatikan Archie dengan senyum tipis, “Mau ketempat Oliver?”

Archie terkekeh, “Engga, dia mau nganterin gua pulang aja. Sekalian sama lo katanya.”

Mata Rachel memincing, menatap curiga pada Archie. “Idung lu kembang kempis tuh, bohong pasti! Udah sejauh mana nih perkara minjem e-toll?” Kekehannya menguar, “Padahal lu bisa deket sama yang lebih baik dari Oliver, hati-hati aja, dia cemcemannya dimana-mana udah kayak gerai mixue.”

“Yailah, Chel. Gak akan sejauh itu gua sama Oliver.” Tutur Archie sambil ikut terkekeh, “Kita cuman temenan doang.”

“Temenan tapi keluar dari kamar yang sama.” Sindir Rachel lalu tertawa ketika melihat pipi Archie yang bersemu. “Iya, kan? Iya lah.”

“Sttt, diem ah. Ada yang ngedenger nanti.”

“Archie!”

Pandangannya terangkat, matanya seketika merefleksi sosok Oliver yang baru keluar dari dalam minimarket dengan membawa satu kantong belanjaan. Archie memperhatikan penampilannya sesaat. Kaki jenjang itu dibalut skinny jeans dengan kemeja hitam bergaris coklat gelap, dengan sebuah kacamata yang bertengger di hidung bangirnya.

Oh, ini pertama kalinya Archie melihat Oliver menggunakan kacamata. Kalau boleh jujur, Oliver terlihat lebih tampan dari biasanya.

“Ngomongin apa kalian?' Tanya Oliver ketika ia sudah berada di sisi Rachel dan Archie. Matanya memincing menatap Rachel dengan penuh curiga.

“Apaan, gak ngomongin apa-apa. Pede banget pengen gua sama Archie gibahin?” Rachel melengos, ia kemudian membuka pintu depan bagian penumpang. “Udah ah ayo jalan. Masih banyak drakor yang harus gua liat.”

“Lah lo kenapa di depan? Pindah belakang, biar Archie yang di depan.”

“Udah gapapa, biar gua aja yang dibelakang,” Archie menahan lengan Oliver yang hendak menarik Rachel, senyumnya mengembang tipis. “Lagian kan Rachel emang tempatnya disitu.”

Alisnya mengeryit, Oliver baru saja hendak membuka suaranya kembali tapi Archie lagi-lagi lebih dulu membuka pintu penumpang bagian belakang dan langsung masuk ke dalam mobil. Jadi ia hanya bisa menghembuskan napasnya berat, melirik Rachel sekilas yang jusru dibalas oleh ekspresi meledek gadis itu.


Selama perjalanan, Archie bukannya tidak menyadari kalau Oliver berulang kali meliriknya dari kaca spion tengah. Tapi ia bersikap acuh, berusaha tidak peduli dan memilih untuk sibuk berselancar di media sosial.

Bukan tanpa alasan, tapi ucapan Rachel tadi perihal kalau dirinya tahu jika Archie menginap di apartemen Oliver sedikit membuat Archie merasa kesal. Saga pasti memberitahu teman-teman dekatnya soal itu, membuat Archie merasa sedikit was-was karena takut jika hubungannya dengan Oliver menyebar hingga terdengar oleh penggosip kampus.

“Chie, kata lu ini bagusan mana?”

Pertanyaan dari Rachel seketika menyentak lamunan Archie, matanya langsung menatap ke arah ponsel yang layarnya ditunjukan padanya itu. Ada dua buah sepatu dengan model yang sama namun berbeda warna. Archie berpikir sejenak.

“Yang putih polos bagus sih, tapi gua sendiri lebih tertarik sama yang pink.” Jawab Archie jujur, yang mana langsung membuat senyum di wajah Rachel melebar cerah. “Warna pinknya soft, jadi kesannya lembut terus lucu.”

“Lu suka warna pink ya?” Tanya Rachel penasaran, ia menatap Archie dengan seksama. “Pupil mata lu ngelebar soalnya.”

“Ya lumayan,” Archie terkekeh, kepalanya mengangguk tipis. Sekali lagi, matanya menangkap basah Oliver yang sedang memperhatikannya dari kaca spion tengah, Archie buru-buru menghindar. “Beli aja yang pink kalo gitu, Chel.”

“Tadi Bigel juga ngomong gitu, oke deh gua beli yang pink.” Senyumnya mengembang lebih lebar, ia mencubit pipi Archie sekilas lalu membenarkan posisi duduknya kembali. Ujung mata melirik ke arah Oliver yang raut wajahnya terlihat datar, menyadari jika laju mobil lebih cepat dari sebelumnya. “Nyantai aja, Ver.”

Tapi Oliver seakan tuli. Perasaannya mendadak aneh ketika tak sengaja melirik Rachel yang tengah mencubit pipi Archie tadi. Tidak, ia tidak cemburu. Hanya kurang suka jika Archie menjalin hubungan terlalu dekat dengan sahabatnya itu.

Selang sepuluh menit kemudian, laju mobil akhirnya melambat lalu berhenti tepat disebuah rumah bergaya arsitektur klasik dengan gerbang hitam yang menjulang tinggi. Archie memperhatikan sekilas bangunan yang berada di depan matanya itu, ini pertama kalinya ia melihat kediaman Rachel.

“Thanks Ver udah mau nganterin gua pulang,” Rachel membuka sabuk pengaman yang ia gunakan, lalu menyampirkan kembali totebagnya di pundak. Kepalanya menoleh ke arah belakang, menatap Archie sebentar. “Gua duluan ya, Chie. Semoga nanti Oliver nganterin lu sampe rumah, hehehe.”

Archie hanya bisa mengangguk lalu melambaikan tangannya ketika Rachel beranjak keluar dari mobil. Pintu tertutup kembali, kursi penumpang samping pengemudi telah kosong. Bahkan ketika Rachel sudah menghilang ke balik pagar hitam itu, Oliver belum kembali menginjak pedal gasnya.

Keduanya sama-sama terdiam, sebelum akhirnya Archie mengangkat wajah dan menatap sepasang mata tajam itu dari kaca spion tengah.

“Apa?” Tanya Archie datar, “Mau pulang kan? Kenapa masih diem aja?”

“Pindah ke depan, Archie. Gua bukan sopir lo.” Nada kelewat datar itu mengalun, telinga Oliver bisa mendengar dengan jelas hembusan napas Archie yang berat. “Pindah ke depan sekarang.”

Archie akhirnya menuruti perintah Oliver. Ia pindah dari kursi belakang ke kursi depan, memakai sabuk pengaman, lalu kembali terdiam sambil fokus pada ponselnya. Mengacuhkan Oliver yang menatapnya dengan sorot sedikit jengkel.

“Archie.” Oliver lagi-lagi menghela napasnya, “Lo kenapa sih?”

Kepalanya menoleh sekilas, lalu menggeleng tipis. “Gak kenapa-kenapa, biasa aja.”

Sebelah tangannya dengan cepat terulur, Oliver meraih dagu lelaki cantik itu agar ia bisa menatap wajahnya. “Hargain lawan bicara kalo lagi diajak ngomong.”

“Apa sih, Ver? Kenapa?”

“Lo yang kenapa.”

“Udah gua bilang, gua gak kenapa-kenapa,” Dengan perlahan Archie turunkan tangan Oliver yang masih menyentuh dagunya. “Ayo pulang.”

“Kalau emang lo gak suka kita pulang bareng sama Rachel, ngomong yang jujur, Chie. Di chat lo bilang gak keberatan kalo gua sekalian nganter Rachel, tapi apa?”

“Gua emang gak keberatan kok kalo lo sekalian nganter Rachel, kan emang udah biasa. Lagian hak gua apa buat ngelarang, Ver? Gak ada.” Archie tertawa kecil, ia mendekatkan wajahnya ke arah Oliver. “Gua cuman gak suka kalau temen-temen lo tau apa yang kita lakuin. Oke, Saga mungkin emang gak sengaja, tapi lo bisa menjamin Saga gak bakalan ember sama yang lain?”

Alis Oliver mengeryit bingung. “Rachel bilang apa?”

“Dia tau kalo gua nginep di tempat lo semalem.” Sahut Archie cepat.

“Nanti gua kasih tau mereka buat gak bocor soal kita. Lo gak usah khawatir.”

Archie terdiam sesaat, lalu senyum tipisnya mengembang. “Gua pegang omongan lo.”

Melihat raut wajah Archie yang sudah berseri kembali, Oliver tidak bisa menahan diri untuk tidak memberikan satu kecupan pada bibir ranum Archie yang begitu manis. Ia mengusap sekilas helaian rambut lelaki cantik itu sebelum menginjak pedal gas.

“Mau langsung balik atau lo mau makan dulu?” Tanya Oliver, ia melirik Archie sekilas dari ujung mata. “Gua beli banyak jajanan soalnya gua sadar lo suka ngemil.”

“Engg ... langsung balik aja kayaknya? Gua juga belum terlalu laper. Lo punya mie kan di apart?” Nada suaranya sudah berubah riang dari sebelumnya, “Gua makan mie aja nanti kalo semisalkan laper.”

“Engga, yakali lo makan mie.” Tolak Oliver, “Pesen makanan online aja nanti.”

“Emangnya kenapa? Enak tau makan mie malem-malem.”

“Kalo lagi sama gua, gua usahain lo selalu makan enak.”

Kalau Archie sejak awal memang berniat mendekati Oliver karena ingin menjalin hubungan yang lebih romantis, pipinya mungkin akan bersemu merah dan merasa tersanjung dengan hal kecil yang Oliver lakukan. Namun Archie kini hanya bisa tersenyum tipis, ‘menghargai’ sikap Oliver yang mungkin berusaha membuatnya nyaman ketika berada di dekat lelaki itu.

Padahal, Archie yang bekerja untuk Oliver sebagai 'teman' paruh waktu yang menemani Oliver kala malam menyambut. Tapi justru ia yang malah mendapat perlakuan lebih dari sekedar seorang pekerja. Jadi Archie bertanya-tanya, kapan Oliver akan memperkerjakannya sebagai mana mestinya?

“Seharusnya lo memperkerjakan gua sebagai mana mestinya, Ver. Bukan malah lo kasih treatment like I'm your boyfriend,” Archie terkekeh ketika menyuarakan isi hatinya. “However we're just a boss with his employee.”

Oliver mendengus geli, “Gua bukan tipe orang yang kayak gitu, Archie,” Tangannya memutar stir ke sebelah kiri, mobil berbelok pada jalur lambat. “Meskipun lo kerja sama gua, gua juga harus ngasih rasa nyaman buat lo. Gua bukan tipe orang yang langsung nyuruh lo ngangkang dan ngedesah. I'm the type of person who always build the chemistry with my partner eventhough it was only for a job purpose or something like that.”

“Jadi lo gak pernah ONS?” Tanya Archie penasaran, ia menatap Oliver dengan seksama. Sebuah gelengan tipis yang menjadi jawaban atas pertanyaannya membuat Archie mengerjap takjub. “Sama sekali?”

“Nope, sama sekali engga.” Oliver tersenyum tipis, “Gua lebih suka sesuatu yang passionate. ONS cuman bikin kita terkesan buru-buru dan gak menikmati waktu sama partner kita.”

“Jadi itu alesannya Rachel bilang cemceman lo dimana-mana udah kayak gerai mixue.” Kepalanya mengangguk tipis, Archie mengerti jelas sifat lawan mainnya ini. “Mereka semua naro perasaan lebih ke lo yang nyatanya cuman mau main-main.”

Oliver hanya tersenyum kembali, mengusak rambut Archie sekilas lalu mencubit pipi kemerahan itu dengan gemas. “Dan gua bakalan berhenti ketika mereka udah naro rasa lebih dalam hubungan kayak gini.”

Archie mendengus, “Brengsek juga ya lo.”

“Well, gua cuman gak mau ribet.” Sein kiri dinyalakan, mobil putih itu berbelok masuk ke halaman gedung apartemen, berjalan lurus ke arah parkiran basement dengan laju pelan. “Mungkin kedengerannya emang brengsek, tapi gak semua orang gua ajak masuk ke hubungan kayak gini, Chie. Ke yang lain, gua cuman bersikap selayaknya gimana memanusiakan manusia, no hard feeling, mungkin di mata yang lain gua kesannya kayak ngebaperin ke sana sini. Persis apa yang kata Nayes bilang, makanya cemceman gua dimana-mana.”

“Lo cuman berusaha bersikap baik, tapi mereka yang anggep kebaikan lo lebih dari sekedar itu.” Archie menatap deretan mobil yang berjejer diparkiran, lalu menunjuk ke arah bagian kosong yang belum terisi. “Disana, Ver. Eh, terlalu pojok ya? Kejauhan gak?”

Oliver menggeleng. “Engga kok.”

“Gua jadi penasaran,” Archie menatap Oliver kembali, ia terdiam sejenak seraya memperhatikan bentuk wajah lelaki itu dari samping. “Berapa banyak orang yang lo ajak buat hubungan kayak gini?”

“Lo mau jawaban bohong atau jujur?”

“Menurut lo?”

Mobilnya Oliver parkirkan terlebih dahulu. Ketika ban belakang hampir menyentuh garis pembatas, pedal rem diinjak, rem tangan ditarik, tapi mesin mobil sengaja tidak dimatikan terlebih dahulu. Kedua tangannya turun dari stir, Oliver menoleh ke arah Archie yang masih menatapnya.

“Lo tebak, kira-kira berapa?” Bukannya menjawab, Oliver malah melemparkan pertanyaan balik pada Archie. “Kalo lo bener, gua bakalan nurutin apapun mau lo malem ini. Kalo lo salah, lo yang harus nurutin apapun yang gua mau malem ini. Gua kasih tiga kesempatan buat ngejawab.”

Archie tertawa, ia berubah posisi duduknya jadi sedikit menyamping ke arah Oliver. “Sepuluh?”

Oliver menggeleng tipis. “Kebanyakan, gua gak se-playboy itu, Archie.”

“Tujuh?”

“Nah, masih salah.” Sudut bibir Oliver mulai tertarik, jok dimundurkan hingga mencapai limitnya sebelum ikut menyampingkan posisi duduknya agar berhadapan dengan Archie. “Lo punya satu kesempatan lagi, pikirin baik-baik.”

Hening menyapa sesaat, Archie terlihat berpikir sambil menatap bola mata Oliver yang juga menatapnya. Tidak mungkin lelaki seperti Oliver memiliki mantan partner kurang dari lima, kalau tujuh bukan sebagai jawaban, maka mungkin angka diantara tujuh dan lima menjadi jawabannya.

“Enam.”

Senyum Oliver mengembang lebar, lalu kepalanya menggeleng. “Salah. Jawabannya empat, dan itu udah termasuk sama lo.”

“The fuck?” Archie menatap tidak percaya, “Bohong ya lo.”

“Apa untungnya gua bohong sama lo, Archie.” Kekeh Oliver pelan. “So, gua menang kan?”

Archie mendengus, sudut bibirnya tertekuk ke bawah dengan kepalanya yang mengangguk pelan. “Lo mau apa?”

Tiga susunan kata itu membuat senyum diwajah Oliver berubah menjadi sebuah seringai tipis. Ia menepuk pahanya sendiri, “Sini, naik ke pangkuan gua.”

Tidak ada alasan untuk menolak. Archie melepas sabuk pengamannya dan merangkak naik ke atas pangkuan Oliver, kepalanya sedikit menunduk karena langit-langit mobil yang cukup rendah. Lalu seakan mengerti jika Archie terlihat kurang leluasa, Oliver mundurkan sandaran kursinya hingga kepala Archie bisa terangkat tegak.

“Liat seberapa kecil pinggang lo, Chie.” Oliver menatap kedua tangannya yang hampir melingkari pinggang Archie sepenuhnya. “Gua suka.”

Raut wajahnya berubah senang, Archie menyentuh lengan Oliver dengan kedua tangannya. “Duduknya boleh majuan lagi gak?”

Lebih maju lagi, berarti Archie tepat menduduki kejantanan Oliver.

“Kenapa lo suka duduk lebih maju lagi?” Tanya Oliver penasaran, sebelah tangannya terlepas dari pinggang Archie dan bergerak menuju ke sisi wajah lelaki cantik itu. Helaian rambut blonde yang memanjang itu Oliver selipkan ke belakang telinga Archie. “Lo tau bakalan ngedudukin apa kan?”

“Tau,” Archie sedikit majukan wajahnya. “Gak boleh ya?”

“Boleh. Tapi ada syaratnya.”

“Apa?”

Ibu jari Oliver ganti mengusap bibir bawah Archie perlahan, dan hanya dari gerakan itu Archie tahu jawabannya.

Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan parkiran dalam keadaan aman. “Gapapa di sini?”

“Gapapa. Kaca film mobil gua lumayan gelap kalo dari samping.” Oliver masih melihat sedikit keraguan di wajah Archie, senyumnya tersungging begitu teduh, ia mengusap bibir ranum itu kembali. “Ayo, sayangku.”

“Ini belum jam ker—”

“Liat sekarang jam berapa.”

Archie meraih ponselnya terlebih dahulu guna memastikan, dan ia dapati angka tujuh berada di layar ponselnya. Napasnya terhela pelan, jam kerjanya sudah dimulai, dan kini Archie mengerti kenapa Oliver begitu lambat melajukan mobilnya tadi.

“Udah jam kerja lo kan?” Tanya Oliver, sebelah alisnya terangkat naik.

Ponselnya ditaruh kembali, Archie sejenak menatap lelaki itu sebelum akhirnya ia memajukan posisi duduknya, merunduk, dan dengan cepat meraih bibir Oliver.

Kedua tangan Oliver kembali menyentuh pinggang Archie, merasakan betapa kecilnya tubuh lelaki cantik itu sekaligus menahan pergerakan pinggul Archie yang mulai bergerak jahil di atas bagian pusat tubuhnya. Kelopak matanya terpejam, menikmati bagaimana Archie mencoba untuk mendominasi ciuman mereka kali ini. Terkesan masih sedikit amatir, namun ranum manis itu sukses membuat Oliver menginginkannya lagi dan lagi.

Archie tangkup wajah Oliver dengan jari-jarinya yang dingin, sedikit gugup ketika menyadari dirinya lah yang harus memimpin kali ini, sadar kalau ia tidak bergitu mahir untuk mendominasi karena Archie lebih suka didominasi. Bibirnya bergerak halus, memberi lumatan pada bibir bawah Oliver yang lembut seperti sepotong gummy bear.

“Mmhhh.” Tubuhnya berjengit ketika tangan Oliver menyelusup masuk ke dalam sweater yang dipakainya. Pinggang Archie diusap perlahan, menyentuh dari kulit ke kulit, yang mana sukses membuat bulu kuduk Archie seketika meremang. “Oliver, geli.” Bisiknya pelan.

Namun yang Oliver lalukan justru semakin membuat Archie menggeliat di atas pangkuannya. Dengan sengaja sebelah tangannya terus mengusap naik hingga menyenggol tonjolan kecil yang berada di dada Archie, ia tersenyum disela ciuman, merasakan napas Archie yang perlahan memberat karena sentuhannya.

Ruang terbatas yang menjadi tempat mereka berbagi cumbu itu dengan cepat menghantarkan hawa panas akibat tensi keduanya yang naik begitu drastis. Oliver sedikit turunkan jendela mobilnya agar mereka tidak mati keracunan di dalam sana, lalu tangannya kembali mengusap halus pinggang Archie yang ramping.

“Jangan gitu, Oliver.” Archie merengek, merasa jengkel ketika Oliver justru menggodanya dengan berulang kali menyentuh putingnya ditengah usapan pada dadanya. “Geli.”

“Terus gimana, sayang?” Bisik Oliver lembut, ia meraih bibir Archie kembali dan memberikan beberapa lumatan dibibir bawah. “Kasih tau maunya gimana.”

Archie menurunkan tangan Oliver yang masih berada di dadanya itu, kelopak matanya terbuka, bulat pupil hitam itu menatap lurus ke dalam manik mata Oliver yang tegas. “Di sini banget?”

“Kenapa? Gak nyaman ya?” Tangannya turun, Oliver kembali menyentuh pinggang Archie dengan kedua tangannya.

Kepala mengangguk tipis, sudut bibir lelaki cantik itu tertekuk ke bawah. “Gua juga belum mandi, masih bau keringet.”

“Engga bau kok,” Oliver menegakkan kembali posisi duduknya, tersenyum manis pada Archie yang masih menatapnya dengan kitten eyes yang begitu lucu. “Gua suka wangi lo. Manis.”

Archie mendengus geli, ia kalungkan kedua lengannya di leher Oliver lalu memeluknya erat. “Pengen peluk sebentar, boleh gak?”

Tawa kecil Oliver menguar, ia ganti rengkuh pinggang Archie bergitu erat hingga tubuh mereka menempel tanpa sekat. “Lo suka kalo ada orang lain yang manjain lo, ya?”

Archie mengangguk.

“So clingy,” Wajahnya menunduk, Oliver menciumi pundak Archie yang masih tertutupi sweater. “Chie,”

“Hm?”

Hening menyapa sesaat. Archie eratkan rengkuhannya pada leher Oliver ketika sebelah tangan lelaki itu turun menyentuh pantatnya, lalu meremasnya pelan.

“Gua bukan tipe orang yang lemah lembut.”

Perkataan Oliver itu sukses membuat dua alis Archie mengeryit, ia kendurkan rengkuhannya lalu menatap Oliver dengan raut wajah bingung, “Maksudnya?”

Oliver tersenyum teduh, sebelah tangannya naik menangkup pipi Archie yang masih terlihat jelas kemerahannya walapun berada di tempat yang minim penerangan. Diusapnya pipi halus bak porselen itu perlahan, “Gua bukan orang yang lemah lembut,” Ulangnya kembali. “Dan gua juga tau, lo bukan tipe orang yang pasif di ranjang.”

Kini Archie mengerti.

“Kok tau? Kebaca jelas ya?” Kekehannya mengalun, Archie susuri pahatan wajah Oliver dengan telunjuknya, menyentuh dari ujung ke ujung. “Kan udah gua bilang, makanya gua gak marah waktu lo nyebut gua binal.”

“I like you,” Bisik Oliver kembali.

Lagi-lagi Archie mengeryit bingung, raut wajahnya berubah begitu cepat. “Huh?”

“I like you, but not in romantic way, just ... I like you.”

Sangat tipis, seringai itu muncul di wajah Archie sebelum akhirnya ia memeluk Oliver kembali. Dagunya tersampir di pundak Oliver dengan matanya yang melirik ke arah lelaki itu. Tak lama, senyum liciknya mengembang penuh.

🕊

Pagi itu Archie terbangun di dalam pelukan hangat Oliver yang sudah melingkupinya sepanjang malam. Kelopak matanya mengerjap berusaha menegaskam pandangannya yang buram. Ponsel yang berada di atas nakas masih terus berdering, Archie mengulet, ia bergeser sedikit guna meraih ponselnya yang sudah berisik pagi-pagi itu.

Nama kak Thena tertera di sana, membuat Archie seketika terduduk dan menggeser tombol hijau ke arah kanan. “Hallo, kak?” Sahut Archie dengan suara serak khas bangun tidur. “Maaf gua baru bangun, kak Thena udah sampe?”

Athena sedikit mengomel di ujung sana karena khawatir akan Archie yang lama sekali menjawab panggilannya itu, membuat Archie mengerutkan kening dan menghela napasnya berat. Ia rebahkan kembali tubuhnya di atas kasur dengan posisi membelakangi Oliver. Ponselnya ia taruh begitu saja di sisi wajah, kedua tangannya kembali memeluk guling.

“Ngerjain tugas semalem, sampe jam dua baru selesai.”

Alibi yang bagus, Archie. Nyatanya ia dan Oliver sibuk berbagi kehangatan seraya menonton film bersama, ditemani sebotol alkohol dan dua loyang pizza. Bahkan mungkin Archie tidak menyadari bibirnya yang masih membengkak akibat ulah Oliver semalam.

How’s London? Masih sama?”

Pertanyaan itu membuat nada suara Athena melembut, Archie bisa dengan jelas membayangkan kakak perempuannya itu tersenyum manis seraya menatap kota yang punya kenangan tersendiri untuk Athena itu.

“Jangan lupa makan, kak. Set reminder. Gua gak mau kalo lo balik-balik nanti sakit soalnya lupa makan terus.”

“Yaelah, engga. Tenang aja. Kerjaan gua di sini juga lebih—”

“Chie.”

“—Suara siapa itu?!”

Archie refleks menyikut Oliver yang baru saja memanggilnya itu. Ia terduduk kembali, raut wajahnya terlihat panik karena Oliver justru menariknya masuk ke dalam pelukan.

“Hah? suara apa, kak?” Archie membuat gestur agar Oliver tidak bersuara terlebih dahulu, yang mana hanya dibalas dengusan geli oleh Oliver. “Salah denger kali, gua aja di apart sendirian kok. Masih pagi di sini, jangan bikin takut deh.”

Athena berdecak di ujung sana, mungkin ia memang salah dengar.

“Ada kelas sesi dua nanti. Hmm, iya. Istirahat aja kak, jangan lupa makan. Oke, iya siap, hati-hati kak. Kabarin gua kalo senggang ya. See ya, kak.”

Panggilan telfon dimatikan, Archie menghela napasnya panjang seraya menaruh kembali ponselnya di atas nakas walaupun sedikit kesusahan karena Oliver memeluknya erat. Setelahnya ia berbalik, menatap wajah lelaki yang tersenyum tipis walaupun kedua kelopak matanya itu terpejam.

“Gila ya lo!” Archie memukul pelan dada Oliver dengan kepalan tangannya. “Mau gua mati?”

“Bukannya kakak lo santai aja?” Kelopak matanya terbuka dan langsung menatap tepat ke dalam indahnya bola mata Archie. “Kenapa panik?”

“Lo liat ini masih jam berapa, Oliver?”

Oliver mengangkat kepala, menopangnya dengan sebelah tangan yang bertumpu pada bantal. “Emang sebelumnya belum pernah?”

Archie berdecak, merasa sedikit kesal karena pertanyaannya sedari tadi justru dibalas oleh pertanyaan lagi. Alisnya mengkerut, matanya memincing. “Belum. Kenapa? Mau bilang gua cupu?”

Tawa Oliver seketika mengalun, tangan yang sedari tadi berada dipinggang Archie perlahan merambat turun menyentuh paha mulus nan ramping itu. “Siapa yang mau bilang lo cupu, sayang?”

“Oliver, jam kerja gua udah selesai.” Tegur Archie, “Cukup panggil gua Archie.”

“Oh, maaf.” Senyumnya merekah tipis. Pinggang ramping itu ditarik agar semakin merapat. “Siapa yang mau bilang lo cupu, Archie? Gua cuman nanya aja.” Ulang Oliver dengan mengubah kata panggilan sesuai dengan permintaan Archie.

“Jangan kayak gitu lagi, oke? Gua gak mau punya urusan soal ini sama kakak gua.” Lagi-lagi Archie menghela napas, tapi tidak protes ketika lelaki yang berada dihadapannya itu mulai mengelus perlahan kulit pahanya dari dalam selimut. “Jangan mancing, Ver.”

“Hm? Mancing apa?” Tanya Oliver pura-pura polos, sengaja menggoda Archie yang raut wajahnya perlahan terlihat memelas. “Gua engga.”

“Tangannya.” Archie tiba-tiba merengek, telapak tangan hangat itu hampir saja menyentuh pangkal pahanya. “Oliver, please?

Alright, cutie.” Menuruti permintaan Archie, Oliver jauhkan tangannya dari paha mulus itu lalu memeluk pinggang ramping Archie kembali. “Kalo boleh, gua mau sandwich buatan lo lagi. Keberatan gak?”

Kepalanya menggeleng tipis, “Bahannya ada? Yang gua liat semalem di kulkas cuman ada roti tawar, telor, sama ham doang.”

“Nanti gua beli di minimarket bawah sisanya. Selada, tomat, keju slice, sama apa lagi?”

“Saos pedes, mayonaise.”

“Oke.”

Archie terdiam sejenak, memperhatikan wajah Oliver sesaat. Sebuah ide jahil melintas dikepalanya. Ia tatap wajah itu kembali dengan matanya yang membulat lucu, pupilnya terlihat lebih membesar dan berkilau seperti anak kucing kecil. “Gua mandi dulu deh kalo gitu, abis itu bikinin lo sarapan, baru balik ke apart.”

“Jangan.”

“Apanya yang jangan?”

“Ck,” Oliver berdecak, ia menjatuhkan kembali kepalanya di atas bantal dengan mata terpejam. “Don't look at me with those eyes.

What eyes?” Tanya Archie jahil, raut wajahnya berubah sumringah karena berhasil membuat Oliver memalingkan wajah dengan raut frustasi. “What eyes, Oliver?”

Pertanyaanya tidak terjawab, jadi Archie memilih untuk lebih berani lagi menggoda Oliver. Selimut tersibak hingga setengahnya menjuntai di sisi kasur. Dalam sepersekian detik, Archie bergerak cepat naik ke atas tubuh Oliver.

“Akh!” Oliver terpekik dengan alis yang menukik terkejut ketika Archie tiba-tiba bergerak menduduki tubuhnya. Kedua tangan lelaki cantik itu bertumpu pada dadanya. Pantatnya yang tidak mau diam mencari posisi itu membuat Oliver langsung bergerak mengcengkram paha Archie kuat. “Jangan gerak-gerak, Archie!”

“Kenapaaaa?” Tanya Archie dengan nada suara anak-anak, tawanya begitu jahil menguar melihat Oliver yang menatapnya tajam. “Boleh gak duduknya munduran lagi?”

“Engga.”

Bukannya apa, tapi kalau Archie mundurkan lagi posisi duduknya, bukan tidak mungkin Oliver kecil tepat berada dibawah bagian selatan tubuh Archie. Matahari bahkan sebelum sepenuhnya naik, dan Oliver juga tidak ingin langsung mengeksekusi Archie detik itu juga. Masih begitu awal untuk memasuki hal yang lebih intim dari sekedar ciuman penuh gairah yang beberapa kali mereka lakukan itu.

“Kenapa engga?” Bagai seorang anak kecil yang baru mengenal dunia, Archie kembali bertanya pertanyaan yang sudah jelas ia tahu jawabannya. Seru sekali melihat Oliver memasang raut wajah frustasi seperti itu. “Jawab, Oliver.”

Oliver ganti pindahkan cengramannya pada pinggang ramping Archie menggunakan kedua tangan. Berusaha menahan tubuh yang masih bergerak mencari posisi nyaman itu. Sial, pantas saja Archie tidak marah ketika ia menyebutnya binal.

“Nunduk, Archie. Sekarang.”

“Nunduk?” Lelaki cantik itu dibuat bingung, clueless, tidak mengerti kenapa Oliver tiba-tiba menyuruhnya untuk menunduk. Tapi sedetik kemudian ia paham, seringainya mengembang tipis lalu telunjuknya menyentuh bibir bawah Oliver. “Mau cium ya?”

“Gua mau cium lo sampe kehabisan napas. Nunduk sini.”

“Gak mau ah!” Archie memalingkan wajahnya, kedua tangannya bersedekap di depan dada. Ia melirik Oliver dengan ujung matanya dan mendapati lelaki itu hanya bisa menghembuskan napas berat. Archie terkekeh kecil. “Gak enak kan digoda? Makanya jangan mulai duluan.”

Tanpa Oliver duga, Archie dengan sengaja memundurkan pantatnya hingga tepat menduduki kejantanan Oliver yang masih tertidur. Cengraman jari-jarinya mengerat, dengan cepat Oliver angkat tubuh Archie lalu membalik posisinya dalam hitungan detik.

Suara debuman pelan terdengar ketika tubuh Archie terlentang di atas kasur. Kedua tangannya berada di sisi kepala, pergelangannya dicengkram oleh Oliver yang kini tepat berada di atasnya dengan bandul gembok yang hampir menyentuh dagunya itu.

Mata mereka saling menatap, baik Oliver ataupun Archie bisa melihat refleksi wajah masing-masing dari pupil satu sama lain.

“Jangan nguji kesabaran gua, Deandra Archie.”

Archie menyeringai. “Glad to hear that you calling me with my full name, Oliver Geovano.”

Oliver memajukan wajahnya, matanya turun ke bawah menatap ranum merah yang sedari tadi ingin sekali ia sumpal dengan bibirnya karena mengoceh terlalu banyak. Hanya dalam hitungan beberapa detik lagi, kedua bibir mereka kembali bertemu.

Ting! Tong!

Keduanya kompak telonjak kaget dan seketika menatap ke arah pintu kamar.

“Siapa?” Tanya Archie bingung, pasalnya masih terlalu pagi untuk seorang tamu berkunjung. Terlebih ia juga tahu hanya beberapa orang saja yang mengetahui kediaman Oliver sekarang.

Oliver menggeleng. “Gak tau,” Ia kemudian beranjak dari atas tubuh Archie, turun dari kasur dan berjalan menuju pintu dengan bertelanjang dada. “Diem di situ, Chie. Jangan keluar.”

Archie menurut, duduk di atas kasur selagi Oliver keluar dari kamar untuk mengecek siapa yang memencet bell barusan. Sedikit cemas kalau-kalau itu adalah Laura yang datang berkunjung.

Alisnya menukik tajam, Oliver berjalan menuju ke arah pintu apartemennya dan melihat dari intercome terlebih dahulu. Alisnya semakin menukik ketika mendapati Saga yang tengah mengorek-ngorek lubang hidungnya tepat di depan kamera intercom.

Tanpa membuang-buang waktu, Oliver membuka pintu apartemennya dan sebuah sapaan kelewat ceria langsung menyambutnya detik itu juga.

“Woeyyyy!! Good morning, Oliver!” Saga tersenyum lebar, matanya menatap Oliver dari bawah sampai atas. “Baru bangun ya lo?”

“Ngapain lo ke sini?” Tanya Oliver bingung, nada suaranya sedikit meninggi karena takut Saga menerobos masuk sedangkan Archie masih berada di dalam. Ia menyadari jika penampilan Saga terlihat seperti orang yang baru saja selesai bersepeda.

“Buta mata lo? Jelas-jelas gua pake helm buat sepedahan! Ya gua sekalian mampir lah.” Sungut Saga sebal, ia kemudian mendorong pintu apartemen Oliver, berniat untuk masuk, namun dengan cepat pintu itu ditahan oleh Oliver. “Eh, gua nih mau namu, mau liat-liat isi apart lo yang katanya si paling mewah ini. Pelit amat!”

“Engga! Gua lagi gak nerima tamu!” Oliver berusaha menahan Saga yang terus memaksa untuk masuk. “Besok aja besok!”

“Panik amat boss? Kenapa?” Saga tertawa, “Nyimpen ani-ani ya lo di dalem? Wah anjir!” Badannya kembali berusaha menerobos masuk, sukses membuat Oliver kesusahan karena menahan pintu sekaligus menahan tubuhnya. “Woy! Ani-ani Oliver! Keluar lo!”

“Sag! Apaan sih! Gak lucu sumpah.” Sentak Oliver, takut-takut malah tingkah Saga berakhir membuat keributan di lantai unitnya. “Udah pulang aja deh lo sana!”

“Gak! Let meee—” Saga mendorong lebih kuat lagi, “—innnn!!

Usaha Saga tidak sia-sia, ia hampir saja membuat Oliver terjungkal ke belakang. Pintu apartemen terbuka lebar, helaan napas lega berhembus, Saga bertolak pinggang dengan mata yang menatap sekeliling. “Lo punya minum gak? Gua mau minum dong haus banget coy.”

“Engg—”

“Oliver, ada siap—” Pintu kamar terbuka, menampilkan Archie dengan raut wajah khawatir karena mendengar keributan kecil. Tapi tubuhnya mendadak mematung ketika mendapati Saga yang tengah ternganga menatap ke arahnya. “Saga...” Ringis Archie begitu pelan.

“Ar-Archie?” Kelopak mata Saga mengerjap dengan begitu cepat, kaget bukan main ketika mendapati justru Archie lah yang keluar dari dalam kamar Oliver. “Kok... Kok lo ada di sini?”

Saga menolehkan kepalanya, menatap Oliver yang hanya bisa berdecak lalu kembali menatap Archie. Ia berulang kali menatap dua manusia yang berada di hadapannya itu, menyadari jika Archie hanya mengenakan setelan piyama bagian atas yang terlihat kebesaran di tubuhnya, sedangkan Oliver yang mengenakan setelan piyama bagian bawah.

“Lo... Lo berdua?” Kepalanya tiba-tiba mendadak pening. Astaga, jadi yang barusan ia sebut dengan ani-ani Oliver adalah Archie! Tangannya bergerak kaku mencari pegangan, kakinya mendadak lemas. Benar-benar tidak menyangka jika ia justru bertemu dengan Archie yang keluar dari kamar Oliver. Garis bawahi, kamar Oliver. “Lo berdua abis ngent—”

“Saga!”

Tubuh lelaki yang baru saja selesai bersepeda itu tiba-tiba melemas, jatuh menghantam lantai hingga membuat Oliver dan Archie seketika dilanda rasa panik luar biasa.

“Kok pingsan sih!” Archie menepuk-nepuk pipi Saga, berusaha membuat sang empu tersadar kembali. “Oliver! Gimana ini?! Aneh banget temen lo!”

“Yaelah pagi-pagi udah ngerusuh aja lo, Sag!” Keluh Oliver sambil bantu menepuk pipi Saga, namun tersirat dendam pribadi di dalam tepukannya itu. “Bawa ke sofa aja, Chie.”

“Aishh! Nyusahin aja nih satu!”


Dari ribuan hari yang telah dilaluinya, Saga taruh hari ini sebagai hari paling sial dalam hidupnya.

Ia benar-benar menyesal karena mengide dengan datang berkunjung ke apartemen Oliver selepas bersepeda karena jarak rumahnya dan apartemen sahabatnya itu tidak terlalu jauh, yang justru malah membuatnya harus menatap pemandangan paling membuat matanya iritasi.

“Di aduk gini aja, Chie?”

“Iya gitu, nah oke! Bagus! Keep going.”

Saga mendengus tak senang, bibirnya berulang kali mendecih ketika menatap Oliver yang tipis-tipis mencari kesempatan pada Archie yang tengah membuat sarapan pagi itu. Demi neptunus, ia paling tidak menyukai sesuatu bergenre romance yang selalu membuat perutnya mual itu.

“Bisa gak yang normal-normal aja?” Perkataannya langsung dihadiahi oleh dua tatapan bingung, Saga lagi-lagi mendengus. “Maksud gua lo berdua kalo emang mau masak yaudah masak aja, jangan pake acara saling toel lah, modus lah, senyam senyum lah.”

“Fakir asmara diem aja.” Sahut Oliver dengan nada datar, “Lagian siapa suruh dateng ke sini.”

“Emang salah gua berkunjung ke apartemen seorang Oliver Geovano yang baru ini? Shit men, udah gua duga nih apart bakalan lo pake kumpul kebo sama Archie.”

Archie yang mendengarnya justru tertawa, ia mengerling pada Saga yang langsung melotot kaget. “Ya lo ajak cemceman lo kesini juga dong, biar double date, atau mau gua ajakin Nanda?”

“AMIT-AMIT! Mending gua pacaran sama pot taneman daripada sama Nanda.” Saga melengos, dendamnya sejak masih maba karena dimuntahi oleh Nanda masih begitu membara. “Lagian sabahat lo itu kan naksir si Yordan, dihh, naksir kok sama pacar orang.”

Oliver hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Julid banget mulut lo. Jadi admin lamtur aja sana.”

“Nanda gak seburuk itu tau,” Archie terkekeh. “Lo aja yang masih nyimpen dendam kesumat sama dia.”

“Yah Chie, sekarang gua tanya sama lo. Siapa sih yang kagak kesel kena muntah orang? Meskipun Nanda udah minta maaf juga gua harus ngebuang sepatu kesayangan gua karena kena muntah dia.” Jawab Saga sedikit berapi-api, ia menegak air putih dingin yang masih tersisa di dalam gelas dengan penuh emosi. “Oke, gua gak memungkiri kalo Nanda emang cantik—”

“Nah kan! Lo aja bilang Nanda cantik.” Archie menyela cepat, “Tandanya apa? Lo tuh masih denial!”

“Denial apanya setannnn! Aduh, aduh,” Kepalanya yang mendadak pening itu membuat Saga refleks memijit pelipisnya. “Chie, udah deh. Sampe kapan pun gua gak akan mau genjatan senjata sama Nanda.”

“Jodoh aja lo baru tau rasa.” Celetuk Oliver sambil menatap Archie dengan menahan tawanya, yang dibalas Archie dengan kekehan kecil. “Gua sama Archie ketawa paling kenceng nanti.”

“Lo sama Archie? Eh sorry ya bro, gua tanya sekarang. Hubungan lo sama Archie apaan? Hts kok bangga.” Cemooh Saga, tidak terima jika didoakan berjodoh dengan Nanda.

“Menurut lo,” Oliver menarik tubuh Archie yang masih memotong-motong tomat itu mendekat ke arah meja counter, berdiri tepat di hadapan Saga yang menatapnya dengan menaikan sebelah alis. “Menurut lo hubungan apa yang lagi gua jalanin sama Archie kalo gua bisa kayak gini?”

Kedua bola mata Saga melotot sempurna ketika Oliver mengangkat dagu Archie lalu mencium bibirnya tepat di depan mata. Saga tersedak ludahnya sendiri, raut wajah terkejutnya benar-benar membuat Archie yang melirik ke arahnya tersenyum kecil ditengah ciuman yang Oliver berikan.

“Arghh!! No!! My eyes!!” Saga ambruk dari kursinya, berguling-guling di lantai sambil menutup kedua matanya dengan tangan. Menjerit-jerit seperti telah menonton adegan paling horror yang pernah ada. “Stop ciuman!! Arghhhhh!! Mata gua ternodai!!”

Oliver menjauhkan wajahnya, menimbulkan suara decakan pelan ketika bibirnya dan bibir Archie terlepas. Ia menatap Saga dengan tatapan aneh, heran kenapa sahabatnya itu begitu berlebihan.

“Temen lo tantrum tuh.” Tutur Archie sambil meringis, kepalanya menggeleng menatap Saga prihatin. “Gak pernah ngeliat orang ciuman ya?”

Oliver mendengus. “Emang dia aja yang lebay.”

Keduanya memilih untuk membiarkan dan mengabaikan Saga yang masih berguling-guling sambil berteriak seperti cacing kepanasan itu.

🕊

Ini hari pertamanya bekerja.

Archie dengan celana training hitam dipadukan dengan hoodie hijau tua itu melangkahkan kakinya menyurusi lorong tempat dimana unit Oliver berada. Dipunggungnya tersampir tas gendong yang berisi laptop dan pakaian ganti untuk berjaga-jaga.

Langkahnya terhenti tepat dihadapan sebuah daun pintu berwarna putih gading, jarinya menekan sandi apartemen yang sudah Oliver beritahu sebelumnya melalui pesan. Sandi berhasil dimasukan, gagang pintu ditekan ke bawah seraya didorong untuk terbuka lebih lebar. Archie mengerutkan keningnya. “Oliver?”

Tak ada sahutan. Ruangan terlihat gelap karena lampu-lampunya yang dimatikan, hanya ada suara musik dari turntable yang terdengar begitu pelan. Archie melangkah masuk, menutup pintu kembali seraya memanggil nama Oliver berulang kali.

Jendela besar yang berada di ruang tengah terbuka lebar sehingga menampilkan lampu-lampu ibu kota yang bergitu cantik. Archie melangkah mendekat ke arah sofa ketika menyadari kalau Oliver tertidur di sana, mungkin itu juga yang menyebabkan panggilannya sedari tadi tidak terjawab.

Archie taruh tasnya terlebih dahulu di atas karpet, sebelum mendekat ke arah Oliver yang tampak terlihat begitu tenang dalam tidurnya. “Oliver?” Panggilnya kembali, kali ini penuh hati-hati karena takut jika lelaki itu malah tiba-tiba tersentak bangun.

Sebelah tangannya terulur dengan telunjuk yang menyentuh pipi putih Oliver yang seperti tahu susu, menusuknya sebanyak tiga kali. Archie bersimpuh tepat di sisi sofa, tangannya ganti melambai beberapa kali di hadapan wajah Oliver namun lelaki itu tidak bergeming sama sekali. Tidurnya begitu lelap. Jadi Archie menyerah, napasnya terhela panjang seraya ia mendudukan dirinya di atas karpet.

Tas hitamnya diraih kembali, resletingnya menimbulkan suara renyah ketika Archie menariknya. Ia keluarkan laptopnya dan ditaruh pada meja yang berada tepat dihadapannya. Matanya menatap sekeliling selagi menunggu laptopnya menyala dan menampilkan layar utama, ditemani oleh suara musik dari turntable yang masih mengalun menenangkan.

Tanpa Archie tahu, sebenarnya Oliver menyadari kedatangannya sedari tadi tapi ia memilih untuk pura-pura tertidur. Oliver hampir saja meloloskan tawanya saat Archie bermaksud membangunkannya dengan cara menusuk-nusuk pipinya. Entah, tingkah Archie terkadang kerap kali membuatnya merasa gemas sendiri.

Kelopak matanya terbuka perlahan seraya melirik Archie diam-diam. Oliver terdiam cukup lama seraya memperhatikan Archie yang bersenandung kecil mengikuti lirik lagu dengan jari-jarinya yang menari di atas keyboard, sebelum akhirnya ia mengulurkan tangannya ke arah wajah Archie dari sebelah kanan, begitu cepat menolehkan kepala Archie dan memajukan wajahnya hingga lelaki cantik itu bahkan tidak sempat untuk terpekik kaget.

Bola mata bulat Archie terbuka sepenuhnya ketika Oliver menarik wajahnya dan memberikan satu ciuman seringan kapas pada permukaan bibir. Tidak ada lumatan, hanya sekedar menempelkan belahan ranum mereka. Mungkin Oliver ingin memberikan ucapan selamat datang di malam pertama Archie bekerja.

Kekehan Oliver mengalun ketika mendapati Archie masih mematung dengan wajah kagetnya saat ia menjauhkan wajahnya kembali. Telunjuknya menyentuh ujung hidung Archie sekilas hingga sang empu akhirnya tersadar. “Kaget ya?” Tanyanya iseng.

Raut wajah Archie dengan cepat berubah merengut, tangannya langsung menarik telinga Oliver hingga lelaki itu mengaduh. “Jail banget lo!”

“Ah! Chie!” Oliver meringis ketika Archie semakin menarik daun telinganya. Tangannya berusaha melepas jeweran Archie yang justru malah semakin mengerat. “Ok, ok, sorry!”

Archie mendengus jengkel, ia melepas jewerannya pada daun telinga Oliver yang memerah itu. “Diem. Gak usah ganggu, gua mau kerja.”

Usapannya pada telinganya terhenti, senyum jahil Oliver mengembang seraya menatap figur samping wajah Archie. “Kerja? Kerja ngapain?”

“Nemenin Oliver tidur.” Sahut Archie cepat, berusaha fokus pada tugasnya yang hampir selesai ia kerjakan itu. Masih merasa sebal karena Oliver menciumnya tiba-tiba seperti tadi. “Jadi jangan ganggu!”

Tawa renyah Oliver mengalun kembali, kali ini lebih kencang hingga Archie meliriknya sinis dari ujung mata. Ia bangun dari posisi tidurannya, terduduk di atas sofa.

“Bukan begitu caranya buat nemenin gua tidur, Archie.” Sebelah tangan Archie ditariknya, mengisyaratkan agar lelaki cantik itu bangkit dari atas karpet. “Gini caranya.”

Archie tidak memberikan penolakan sama sekali ketika Oliver menarik tubuhnya agar ikut berbaring di atas sofa—ralat, berbaring di atas tubuh lelaki itu dengan tubuhnya tepat berada di tengah kedua kaki Oliver yang terbuka. Matanya menatap lugu, berusaha tidak peduli dengan perut bagian bawahnya yang tepat berada di atas pusat tubuh Oliver.

“Gimana?” Tanya Archie.

“Gini, sayang.”

Mata bulat itu sedikit memincing mendengar panggilan yang Oliver berikan kepadanya barusan. Archie masih terdiam ketika Oliver membuka tudung hoodienya, membuat helaian rambut berwarna pirang itu terlihat mencolok ditengah temaramnya pencahayaan. Oh, Archie harus berhati-hati. Oliver mungkin adalah tipe lelaki yang pandai bermain dengan perkataannya untuk melemahkan musuh.

Pipi dengan rona kemerahan itu diusap halus oleh telapak tangannya yang hangat. Oliver tersenyum manis, tapi dibalik senyumnya ia menyadari jika raut polos yang Archie tunjukan hanya sebagai tameng. Jangan tanya kenapa Oliver tahu tentang itu, pengalaman memberikannya banyak sekali pelajaran untuk tetap tenang menghadapi sosok-sosok seperti Archie.

“Jadi, kerjaan gua gini aja?” Tanya Archie ketika tangan Oliver bergerak membelai halus rambutnya. “Nemenin Oliver, sukarela bibirnya dicium, tidur dipelukannya, terus apa lagi?”

“Maunya apa?” Bukannya menjawab, Oliver justru malah balik bertanya. Mencoba memancing sejauh mana Archie akan bertindak.

Archie menyeringai, ia bawa tubuhnya sedikit naik hingga letak bibirnya tepat berada di bawah dagu Oliver. “Up to you. Kan gua disini kerja sama lo, jadi lo yang nentuin, iya kan?”

Tangan Oliver mengusap kembali rambut Archie gemas. “Pinter.” Setelahnya ia peluk tubuh lelaki cantik yang lebih kecil darinya itu. “Gini dulu, Archie. Just a minutes. Nanti lo boleh lanjut ngerjain tugas lo lagi.”

Tidak ada lagi yang bisa Archie lakukan selain mengangguk. Ia taruh wajahnya dengan posisi menyamping di atas dada Oliver, membuat Archie bisa mendengar jelas ritme detak jantung lelaki itu yang begitu teratur. Otaknya mendadak kosong seketika, lingkup hangat yang menyelimuti tubuhnya membuat Archie justru merasa kelopak matanya memberat tiba-tiba.

Sejujurnya, ini aneh.

Bukan sekali dua kali Archie berada pada hubungan seperti ini, dan Oliver juga bukan orang pertama yang berusaha menjadi pemenang dalam setiap pertandingan yang Archie lakukan. Tapi kali ini rasanya berbeda. Ada sesuatu yang cukup membuat Archie merasa gelisah dengan setiap perlakuan yang Oliver berikan kepadanya.

Perasaannya mengatakan kalau … ini tidak akan semudah seperti yang sebelum-sebelumnya. Ia harus lebih berhati-hati.

Oliver pemain ulung. Archie tahu bagaimana sikap lelaki ini yang sering kali membuat orang-orang yang berada di dekatnya perlahan jatuh, bahkan ia pun tahu jika Rachel pernah hampir menjadi salah satu korbannya. Berakhir dengan membuat gosip di kampus yang sudah menjadi rahasia umum kalau Oliver dan Rachel memiliki hubungan lebih dari sekedar teman.

Perutnya tiba-tiba tergelitik, bagaimana orang-orang menganggap Oliver dan Rachel memiliki hubungan serius sampai saat ini kalau justru dirinya lah yang berada di dalam pelukan Oliver sekarang.

“Lo udah makan, Chie?” Oliver bertanya ketika keheningan sudah cukup lama menyelimuti keduanya. Sebelah tangannya bergerak mencari jari-jari Archie untuk ia genggam. “Kalau belum, lo mau makan apa?”

“Apapun. Kalo bisa, lo juga gua makan.” Gurau Archie dengan kekehannya yang mengalun pelan, wajahnya mendongak, berusaha menatap manik tegas milik Oliver yang mungkin tidak putus menatapnya itu.

Oliver tertawa, ia memutar tubuhnya sehingga Archie tepat terjepit diantara diriny dan punggung sofa. “Did you really don’t mind about sexual things in your part time agenda?” Tanya Oliver, suaranya lembut berbisik dengan intonasi rendah. “Gua bisa aja nyentuh lo lebih dari ini, Archie.”

“Lo ngomong kayak gitu malah bikin lo seakan-akan takut buat nyentuh gua lebih jauh.” Archie menyahut cepat, tatapannya lurus jatuh pada sorot Oliver. “If we together, feel free to touch me wherever. Physical touch is my love language. And anyway, bisa agak geseran dikit? Jujur gerah, gua belum lepas hoodie.”

Dengusan geli menguar, Oliver sedikit mundurkan posisi tubuhnya hingga menyentuh sisi pinggir sofa agar Archie bisa melepaskan hoodienya dalam posisi tiduran, tentu saja dengan sedikit bantuan dari Oliver. Kelopak mata lelaki itu seketika terpejam begitu aroma manis vanila yang lembut menguar kuat.

You smell like a cupcake.”

“Hng?” Archie tersenyum, ia jatuhkan hoodienya ke arah belakang tubuh Oliver dan membuatnya mendarat mulus di atas karpet. “Suka gak?”

Sebuah anggukan tipis Oliver berikan sebagai jawaban, ia rengkuh kembali tubuh Archie masuk ke dalam pelukannya lebih erat dari sebelumnya. “Suka? Nah, Chie, I love it.”

I love your smell too,” Senyum Archie mengembang lebih lebar ketika Oliver berikan satu kecupan kecil pada ujung hidung bangirnya. “Lo juga suka ya nyiumin 'partner' lo?”

“Engga juga,” Oliver menggeleng. “Sejauh yang pernah gua lakuin cuman pelukan, gak lebih.”

“Kenapa?” Tanya Archie penasaran, ia benarkan sedikit posisinya agar lebih nyaman dan bisa menatap wajah Oliver tanpa harus terlalu mendongak. “Tapi gua gak percaya, lo dari awal aja udah nyiumin gua terus. Jadi gak mungkin sama sebelum-sebelumnya cuman sekedar pelukan doang.”

Oliver menarik pinggang Archie agar semakin mengikis jarak yang ada. “Karena lo lucu. Makanya gua bilang sama lo kan, buat jangan lucu-lucu.”

“Kalo gitu gua bakalan lucu terus.”

Sahutan Archie barusan justru membuat Oliver semakin paham kalau Archie akan semakin berani ketika dirinya semakin dipancing. Oh, ia benar-benar suka mendapatkan lawan seperti Archie.

“Biar bisa gua cium terus?” Tanya Oliver, tangannya dengan perlahan merambat masuk ke dalam kaos putih Archie guna menyentuh kulit pinggangnya secara langsung.

“Iya.”

“Binal.”

“Emang.”

Archie mengangkat kedua alisnya, memasang raut wajah menggoda selama beberapa detik sebelum akhirnya tawanya menguar memenuhi ruangan saat melihat ekspresi Oliver yang terlihat bingung itu. “Kenapa? Lo kira gua bakalan kesel dibilang binal? Engga, Oliver.” Sebelah tangannya bergerak naik menyentuh dada lelaki itu, Archie menatap bibir Oliver sejenak sebelum kembali menatap kedua matanya. “Ayo cium gua lagi, yang lama.”

“Gua harap lo gak akan nyesel karena udah ngomong kayak gitu, Chie.” Seringainya mengembang tipis. Oliver mengecup bibir Archie sekilas, “Tapi sebelum itu, lo harus isi perut lo dulu. Mau makan apa?”

“Terserah.”

“Jangan terserah, Archie.” Dibawanya naik sebelah tangannya merayap pada punggung Archie yang hangat. “Gua gak terima jawaban terserah.”

“Ya gimana gua gak bilang terserah, lo sendiri gak ngasih opsi.” Sahut Archie tidak mau kalah.

Senyum kemenangan Archie merekah ketika Oliver menarik tangannya yang berada di punggung lelaki cantik itu untuk bergerak mengambil ponsel yang berada di atas meja. Benda hitam pipih itu diberikan pada Archie.

“Pesen apapun yang lo mau.”

Archie tentu senang-senang saja ketika Oliver mengatakan jika ia bisa memesan apapun. Sepertinya, pekerjaan sambilan menjadi Oliversitter tidak lah buruk. Banyak sekali keuntungan yang Archie dapatkan selain upah harian yang Oliver berikan padanya.

Selagi Archie fokus pada ponsel Oliver dengan ibu jarinya yang bergerak menggulir layar—mencari menu yang cocok, Oliver sendiri justru malah sibuk mengendusi helaian rambut Archie yang wanginya tak kalah manis itu. Sekelebat pemikirian konyol tentang bagaimana-jika-semut-menggerayangi-Archie karena wanginya yang terlalu manis hadir di benak Oliver.

“Pizza?” Archie mendongak sekilas. Meminta persetujuan Oliver terlebih dahulu. “Boleh?”

Oliver mengangguk, “Pesen aja.”

Senyum Archie merekah riang, ia membeli dua loyang pizza dengan ukuran sedang. Ponsel berwarna hitam itu ia serahkan kembali pada Oliver ketika status pesanan sudah diterima oleh restaurant.

“Lo punya minum kan?” Tanya Archie lagi, “Gak mungkin kita minum air keran soalnya.”

“Ya punya lah, Archie.” Oliver lagi-lagi menyentuh sekilas ujung hidung Archie sekilas dengan telunjuknya. Gemas sendiri dengan Archie yang bolak balik bertanya itu. “Ada di kulkas, nanti lo cek sendiri aja.”

“Okidoki.”

“Enak kan part time sama gua?” Tubuh Archie kembali direngkuhnya, Oliver menyandarkan sisi wajahnya pada pucuk kepala Archie. “Lo dapet banyak benefit, kerjanya fleksibel, dan gak ada tuntutan sama sekali.”

“Ayo cium.”

“Hm?”

“Ayo cium gua.” Ulang Archie tanpa ragu. “Gua udah dapet banyak keuntungan dari kerja sama lo, jadi lo juga harus dapet yang setimpal.”

Oliver mendengus geli, ganti dikecupnya pucuk kepala Archie sekilas. “Which kind the kisses do you like?

Anything. Just eat my lips out. Gua sepenuhnya punya lo selama jam kerja gua berlangsung.”

“Kalo di luar jam kerja?”

We’re just friend. Be professional.”

Tubuh Archie dibawanya naik kembali ke atas tubuhnya. Kedua tangannya melingkari pinggang Archie yang ramping dan kecil, terasa begitu pas sekali berada di dalam pelukannya. “So there is no kiss or hug or any phisical touch when you’re not in your time?

“Emm,” Archie terlihat berpikir sejenak, bola matanya yang besar dan bulat itu bergerak beberapa kali. “A kiss or hug is still allowed, yang penting gak ketauan yang lain aja.”

You wanna keep this thing in private?

“Yup.”

“Kenapa emangnya?”

“Gua gak mau ngasih makan ke para penggosip di kampus soal ini. Cukup mereka tau kalo lo sama Rachel aja yang pacaran. Gua gak suka jadi pusat perhatian.”

Jawaban tegas dari Archie membuat Oliver mengangguk. Ini akan menjadi semakin lebih menantang. Oliver sangat menyukai bagaimana hubungan terlihat seperti tidak ada apa-apa di hadapan publik, namun dibalik itu semua dirinya dan Archie bertukar saliva satu sama lain dalam sebuah pagutan penuh gairah.

Tanpa menyahut kembali, Oliver raih ranum merah yang sedari tadi berulang kali menyita perhatiannya. Lumatan-lumatan tipis langsung diberikannya pada bibir Archie, menimbulkan suara decakan pelan yang menyatu dengan suara musik yang masih berputar. Senyum tipis merekah ditengah ciuman ketika ia menyadari jika Archie juga berusaha membalas lumatannya walau masih terasa sedikit pasif.

“Anghh.”

Desahan tipis Archie keluar ketika Oliver tiba-tiba meremas sebelah pipi pantatnya, bersamaan dengan gigitan kecil yang ia terima di bibir bagian bawah. Jarinya bergerak, mencari pegangan dengan meremas kuat pundak Oliver sebagai pelampiasan.

Lidah mulai bermain, mengetuk halus belahan bibir agar senantiasa terbuka. Tidak peduli dengan saliva yang mulai bercampur satu sama lain, Oliver ambil seluruh kendali hingga Archie tidak punya kesempatan untuk membalas. Lidah panasnya bergerak memimpin, membelit seperti ular pada lidah Archie yang kelabakan, mengabaikan cengkraman jari-jari Archie yang menguat pada pundaknya.

Dalam sepersekian detik, Oliver putar posisi tubuh mereka. Kini ia mengukung penuh tubuh yang lebih kecil darinya itu tanpa melepas pagutan kedua bibir mereka. Archie mengerang, suaranya halus menyentuh gendang telinga ketika Oliver berusaha melebarkan kedua kaki Archie dengan kakinya.

Archie mulai mengambil nafas dengan tersendat ketika Oliver benar-benar memakan habis bibirnya tanpa memberi celah. Ia kalungkan kedua tangannya pada leher Oliver sehingga membuat wajah mereka benar-benar tidak berjarak seperti tubuh mereka yang hanya dibatasi oleh benang pakaian.

“Oliver—ahh,” Archie meringis ketika Oliver menyedot kuat bibir bawahnya, jari-jarinya merambat, ganti mencengkram helaian rambut tebal Oliver guna mencari pelampiasan. “Angghh.”

Sebelah tangannya Oliver gunakan untuk mengusap rambut Archie, memberi afeksi lembut ketika bibirnya bergerak penuh gairah. Sedangkan sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk sedikit menopang tubuh agar ia tidak menindih dan menaruh tumpuan bobotnya pada Archie secara keseluruhan.

Begitu tarikan nafas semakin tersendat, Oliver jauhkan wajahnya hingga untaian benang saliva memanjang dari bibirnya dan bibir Archie. Matanya mengerjap kagum, menatap bagaimana berantakannya bibir lelaki cantik yang berada di dalam kukunganya itu. Sangat cantik. Mengkilat merah merona seperti buah apel segar yang baru saja dipetik.

“Chie,” Suara seraknya memanggil pelan. Oliver dekatkan ujung hidungnya pada ujung hidung Archie dan menggeseknya lembut. “Malem ini tidur sama gua.”

Archie yang terengah menyunggingkan senyumya lebar. “Ada opsi buat nolak?”

“Itu pernyataan, bukan pertanyaan.”

Tawa menguar tipis. Archie satukan kembali kedua bibir mereka sebagai sebuah jawaban tanpa kata.

🕊

Keadaan perpustakaan sore hari itu terlihat cukup sepi, banyak meja-meja kosong tak terisi, tidak sepadat biasanya. Mungkin salah satu efek dari awan hitam pekat yang sudah menyelimuti langit kota, membuat para mahasiswa enggan menghabiskan waktu berlama-lama di kampus dan memilih untuk pulang ke kost atau rumah. Hujan mungkin akan mengguyur dengan begitu lebat setelah musim kemarau beberapa minggu terakhir.

Oliver melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai dua seirama dengan langkah gadis yang berjalan disebelahnya. Tidak ada percakapan yang terjadi, hanya suara srrkk srrkkk khas dari cup berisi slushie yang tengah Rachel sedot penuh penghayatan.

Setibanya di lantai dua, beberapa pasang mata yang berada di sana langsung melirik ke arah keduanya. Oliver bersikap acuh, begitu juga dengan Rachel yang terlihat tidak peduli. Keduanya memang kerap kali menjadi bahan gosip kampus karena sering kali terlihat berpergian berdua tanpa Saga maupun Yordan.

“Mau duduk di man—”

Belum sempat Oliver menyelesaikan perkatannya, tangannya tiba-tiba ditarik Rachel menuju deretan meja pojok ruangan yang bersebelahan dengan jendela besar. Ia baru saja hendak protes, namun mulutnya dibungkan seketika ketika melihat sosok yang sudah tidak asing baginya itu tertidur di salah satu meja.

Senyum tipis Oliver merekah, fokusnya hanya pada Archie yang terngah tertidur dengan hanya kepalanya saja yang bertumpu pada meja. Mulutnya terbuka sedikit, pipinya yang kemerahan itu terlihat cukup membuatnya ingin mencubitnya kembali. Ia sama sekali tidak menghiraukan sapaan Abigail yang jelas-jelas duduk di samping Archie itu.

“Gelinding tuh bola mata lo.” Sindir Rachel yang sudah mengambil kursi tepat dihadapan Abigail. Ia menarik kaos yang dipakai Oliver, “Duduk pojok situ, depannya Archie. Gua males di pojok.”

Oliver tersentak, ia mengerjapkan kelopak matanya cepat sebelum menyapa Abigail. “Hai, Bigel.”

“Gua udah nyapa lo dari tadi, btw.” Abigail tertawa, ia menggeser barang-barang Archie yang terlalu memakan banyak tempat agar Oliver bisa menaruh laptop atau bukunya di sana. “Tumben lo berdua ke perpus, mana Saga sama Yordan?”

“Saga balik duluan, dia diare. Kalo Yordan tau deh kelar kelas udah ngilang aja.” Sahut Rachel sambil mengeluarkan laptopnya dari dalam totebag. “Lo tumben juga berdua doang sama Archie, jodohnya si Saga kemana?” Rachel ganti bertanya.

“Gak ada kelas dia hari ini.”

Rachel hanya mengangguk, belum sempat laptop dinyalakan, ia tiba-tiba tersentak. “Gel, anterin gua ke toilet dulu yuk! Pengen pipis.”

Fokus Abigail yang tadi mengarah pada layar laptopnya itu teralih, ia mengangguk, “Ayo, gua juga dari tadi pengen pipis. Cuman Archie tidur, takut kagak ada yang jagain barang-barang jadinya gua tahan.”

“Yaudah ayo,” Rachel bangkit kembali dari duduknya, ia menatap ke arah Oliver yang masih terdiam memperhatikan Archie. “Ver, nitip bentar ya, gua sama Bigel mau ke toilet.”

Oliver menoleh, lalu mengangguk tipis. “Oke.”

Dua tatapan heran yang mengarah padanya, Oliver abaikan. Sebenarnya ia penasaran sejak kapan Rachel dan Abigail terlihat begitu dekat karena dua orang gadis itu jarang menghabiskan waktu bersama, interaksi keduanya yang Oliver lihat sejauh ini hanya sekedar bertegur sapa ketika berpapasan di kampus. Namun ia lebih memilih untuk fokus menatap kepala Archie yang tertumpu di atas meja.

Begitu dua gadis itu pergi, Oliver menaruh tasnya di sisi kursi dan menopang dahunya menggunakan sebelah tangan. Ia mendengus, dengan iseng menyentuh helaian rambut Archie menggunakan ujung telunjuk. “Archie,” Panggilnya pelan.

Archie tentu saja tidak menyahut, lelah karena sejak pagi berada di kampus sudah membawanya jauh memasuki alam mimpi. Bahkan usapan halus jari-jari Oliver pada rambutnya pun tidak membuatnya terganggu sama sekali.

“Archiee,” Suara lembut Oliver kembali memanggil. “Ngantuk banget ya?”

Hanya dengkuran halus yang menyahuti panggilan Oliver sedari tadi. Suara gemuruh yang terdengar tiba-tiba dibarengi dengan jatuhnya ribuan tetes air hujan itu membuat Oliver menoleh sejenak ke arah jendela, napasnya terhela pelan, bersyukur karena mungkin kemarau akan segera berganti sebentar lagi.

Berkat suara hujan itu pula, Archie akhirnya meleguh, tapi tidak sampai terbangun. Ia hanya memutar arah wajahnya yang tadinya membelakangi jendela, kini menghadap ke arah jendela besar yang tepat berada di sisinya.

Oliver terkekeh, Archie benar-benar jatuh terlelap sampai tidak terusik sama sekali bahkan mungkin tidak merasakan pegal karena posisi tidurnya itu. Ia memperhatikan penampilan lelaki cantik berambut pirang itu sejenak sebelum akhirnya membuka jaket denim yang ia kenakan, lalu menyampirkannya pada punggung Archie yang hanya ditutupi oleh kaos lengan panjang bergaris hitam putih itu.

“Izin pakein lo jaket gua ya, Chie. Takut kedinginan.” Tutur Oliver karena mungkin suhu ruangan akan semakin turun akibat pengaruh hujan lebat di luar. Dirinya benar-benar tidak peduli dengan tatapan beberapa mahasiswa yang melihat tingkahnya barusan.

Abigail dan Rachel datang sepuluh menit setelah Oliver menyalakan laptopnya dan mulai mengerjakan tugas. Ia begitu fokus hingga tidak menyadari jika dua gadis itu saling menyikut sambil memasang raut wajah meledek—menyadari jika jaket denim yang sebelumnya dipakai Oliver itu sudah berpindah tempat.

“Sorry lama,” Kata Abigail sambil berdehem pelan, tangannya terulur menyentuh pundak Archie. “Chie, lo tidur apa mati sih!”

“Udah jangan diganggu.” Sahut Oliver cepat tanpa mengalihkan fokusnya dari layar.

Rachel terkekeh tanpa suara. “Udah jangan, nanti marah.” Bisiknya halus sambil menunjuk Oliver diam-diam. Posisi duduknya ia benarkan terlebih dahulu sebelum menoleh sekilas ke arah Oliver. “Gel, gua baru inget waktu itu sepupu gua lagi nyari orang buat kerja part time. Kira-kira Archie mau gak? Gajinya gak gede sih, tapi lumayan lah kalo cuman buat dua mingguan.”

“Nanti tanya langsung ke Archie aja kalo dia udah bangun.” Abigail melirik Archie dari ujung matanya. “Hah, padahal kakaknya selalu ngelarang Archie buat kerja dulu. Tapi anak ini agak susah dibilanginnya.”

Jari-jari Oliver yang bergerak di atas keyboard terhenti. Ia mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arah Abigail. “Archie mau kerja?”

Part time doang,” Kedua alis Abigail terangkat, dan Rachel langsung pura-pura berhedem sambil menutup mulutnya. “Kakaknya lusa ada kerjaan di luar negeri dua minggu, jadi Archie mau cari lowongan part time buat nambah-nambah jajannya. Soalnya dia ngerasa gak enak kalo minta terus ke kakaknya.”

Rachel meringis, antara enggan bertanya tapi ia juga penasaran. “Gel, sorry kalo sensitif tapi bokap nyokapnya Archie kemana deh? Kayaknya dia apa-apa sama kakaknya terus. Dulu juga pas jaman ospek gua liat dia dianter kakaknya mulu.”

“Udah gak ada.” Abigail terkekeh, tangannya menepuk kepala Archie beberapa kali. “Nyokapnya meninggal waktu Archie SMP, terus bokapnya nyusul waktu dia baru masuk SMA. Makanya bocah ini apa-apa sama kakaknya mulu, kakaknya juga rada protektif sama Archie, di sayang banget dia tuh.”

Oliver yang sedari tadi menyimak ucapan Abigail seketika mengarahkan pandangannya ke arah Archie. Sesuatu tidak nyaman seketika menyelimuti hatinya, membuat perasaannya menjadi tidak enak.

“Archie biasa ngambil part time kapan? Maksud gua, jamnya.” Tanya Oliver.

“Biasanya sih ngambil malem dia, biar pagi sampe sore kuliahnya gak keganggu.” Jelas Abigail. “Dia biasa ngambil di cafe-cafe gitu, kadang jadi barista, kadang jadi pelayannya. Eh tapi jangan bilang Archie ya gua cerita begini, anaknya suka ngamuk, takut dikasihani. Mungkin kalo lo berdua ada tau loker buat part time gitu, kasih tau gua aja, nanti gua bilangin Archie.”

“Dia ngedenger gak sih kita ngobrol gini?” Tanya Rachel, “Takutnya dia ngedenger.”

“Engga.”

Bukan Abigail, tapi Oliver yang menjawab.

“Dia kalo udah tidur bisa pules banget.” Lanjut Oliver.

Bola mata Abigail membulat, dan gadis itu terkekeh setelahnya. “Eh? Kok tau, Ver?”

“Kalian juga pasti tau kalau gua udah pernah tidur sama Archie.” Oliver mendengus geli, menatap Abigail dan Rachel bergantian sebelum kembali menatap layar laptopnya. “Tapi bukan tidur yang kayak lo berdua pikirin, cuman tidur biasa.”

Abigail dan Rachel kompak mengulum bibir mereka ke dalam, berusaha menahan tawa dengan hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. Agak kaget juga melihat Oliver begitu terang-terangan mengatakan kalau dirinya pernah tidur dengan Archie di publik seperti ini.

“Lo bilang gitu gak bermaksud buat matahin gosip kalo kita pacaran kan?” Tanya Rachel sambil tertawa, sekilas menatap ke sekeliling dimana orang-orang sibuk dengan dunia mereka masing-masing. “Atau emang pengen yang lain tau?”

“Engga dua-duanya,” Oliver terkekeh, “Cuman pengen ngelurusin aja, takut lo berdua mikir yang engga-engga.”

Abigail tidak bisa lagi menahan tawanya, “Yaelah, toh kalo lo sama Archie berbuat yang engga-engga juga kita santai aja.”

“Sttt, udah jangan berisik, nanti kita diomelin yang lain.” Kata Rachel sambil berbisik, tapi ia juga tidak bisa menahan tawanya. Jadi sebisa mungkin Rachel menutup mulutnya rapat-rapat agar tawanya tidak meledak. “Khem, khem, oke ayo lanjut nugas.”

“Bigel... mau makan... lo jangan ambil kulit ayam mekdi gua!”

Ketiganya sontak menaruh fokus pada Archie yang tiba-tiba mengigau itu.

“Shit, Archie masih aja ngungkit itu bahkan di dalem mimpinya.” Keluh Abigail sambil berbisik, mengingat ia memang sering kali jahil mengambil kulit ayam milik Archie. “Chie? Lo sadar gak?” Tanya Abigail.

Tak berselang lama, Archie menguap lebar seraya memutar kembali arah wajahnya. Bola matanya terlihat bergerak dari balik kelopak, sebelum akhirnya kelopak matanya terbuka dengan perlahan. “Jam berapa?” Tanyanya dengan suara serak.

“Setengah lima. Mau balik?”

Archie tidak langsung menjawab, ia meregangkan kedua tangannya terlebih dahulu sebelum menegakkan posisi duduknya. Tapi hal itu langsung membuatnya tersentak ketika menyadari sesuatu terjatuh dari belakang punggung, dengan pandangan yang masih buram dan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Archie membungkuk ke sisi kursi untuk mengambil jaket denim yang ia tidak tahu siapa pemiliknya.

“Eh? Jaket siapa ini?”

“Gua.”

Kelopak mata yang tadinya masih menyipit itu seketika terbuka lebar. Raut wajah kaget Archie sukses membuat Oliver dan Rachel yang duduk di hadapannya itu tertawa kecil.

“Sejak kapan kalian berdua di sini?” Tanya Archie bingung, ia menoleh ke arah Abigail seakan-akan meminta jawaban. Tapi Abigail malah terkekeh dan tetap fokus pada laptopnya, jadi Archie kembali menatap Oliver dan Rachel bergantian.

“Dari tadi,” Sahut Rachel sambil tersenyum lebar. “Tidur lagi aja kalo masih ngantuk, Chie.”

Archie menggeleng seraya menyerahkan kembali jaket denim itu kepada pemiliknya. “Lo ngapain makein gua jaket?”

“Di luar hujan soalnya, takut lo kedinginan.” Oliver memberikan kode agar Archie menatap ke arah jendela luar. “Tidur lagi aja kalo masih ngantuk, Chie. Jaketnya dipake aja.”

Archie menolehkan kepalanya ke samping, menatap lebatnya hujan yang turun hingga membuat aliran air dimana-mana. Menyadari jika ia tertidur begitu lelap hingga tidak sadar kalau hujan sudah turun sedari tadi.

“Perasaan waktu itu pernah deh kita berempat keujanan di halte tapi lo engga ngasih jaket lo ke gua, Ver.” Rachel pura-pura memasang raut sedih, berniat menggoda Oliver yang justu hanya meliriknya sekilas. “Padahal waktu itu gua kedinginan.”

“Beda dong, Chel. Ah lu gimana sih.” Celetuk Abigail sambil terkekeh.

Archie meringis, ia tiba-tiba bangkit dari posisinya. “Gua mau ke toilet dulu, pengen pipis!”

Jaket denim yang sedari tadi masih berada digenggamannya itu Archie sampirkan terlebih dahulu pada kursi, sebelum berlari menuju toilet yang berada di sisi lain lantai dua perpustakaan. Pergerakannya tentu saja diperhatikan Oliver dari bola mata lelaki itu yang bergerak mengikuti kemana Archie pergi.

Lama terdiam, Oliver tiba-tiba langsung mendorong mundur kursinya dan bangkit dari posisi duduk, membuat Abigail dan Rachel sontak menoleh ke arahnya dengan raut wajah bingung. Oliver berdehem singkat, “Gua juga mau ke toilet.”

Baik Abigail dan Rachel sama-sama mengikuti pergerakan Oliver yang pergi menyusul Archie. Begitu sosok Oliver sudah tidak terlihat oleh jangkauan mata, kedua gadis itu saling bertatapan, kelopak mata mengedip kompak.

“Lo mikir apa yang gua pikirin kan?” Tanya Rachel.

Abigail mengangguk tanpa ragu, wajahnya sedikit ia majukan agar bisikannya bisa didengar Rachel. “Gak mungkin quickly kan?”

Rachel meringis, kepalanya menggeleng. “Gak tau. Fuck, Oliver sama Archie emang gila.”

“Kita tetep biarin aja mereka?” Tanya Abigail lagi. “Maksud gua abis ini kalo Archie sama Oliver ... berlanjut, apa gak bahaya sampe mereka tau?”

“Ck, terus gimana?” Helaan napas berat Rachel hembuskan, ia berdecak kembali. “Kita tuh serba salah, Gel. Kalo kita biarin mereka terus pas hubungan mereka udah serius, apa gak kebakar semua? Kalo kita kasih tau sekarang, apa alesan kuat yang harus kita kasih ke mereka biar mereka gak berlanjut? Kita waktu itu aja lupa buat bukti.”

Gantian Abigail yang menghembuskan napasnya berat, punggungnya ia sandarkan pada kursi. Terdiam sejenak sebelum akhirnya menatap Rachel kembali.

“Kita pastiin dulu deh, itu bener mereka atau engga. Nanti kalo kita kasih tau Archie atau Oliver tapi ternyata salah orang, gimana?”

“Iya juga sih.” Wajahnya menunduk, bibir bawahnya maju beberapa senti, Rachel berdecak kembali. “Lebih baik kita cari tau dulu.”

“Semoga aja bukan.” Sahut Abigail sambil menghela napas panjang.


“Hahhh.”

Archie menghela napasnya panjang, ia menekan tombol flush dan membenarkan resleting celananya kembali. Tubuhnya berbalik, menggeser kunci dan membuka pintu bilik toilet. Kakinya melangkah ke arah wastafel guna mencuci tangannya terlebih dahulu.

Suara flush air dari bilik toilet paling pojok membuat Archie menolehkan kepalanya sejenak, lalu bahunya naik sekilas tanda tidak peduli. Keran ditekan, air mengalir membasahi kedua tangan Archie selagi ia menatap pantulan wajahnya dari cermin.

“Kumuh banget muka gua.” Bisiknya pelan.

Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di bawah keran lalu membasuh wajahnya sebanyak beberapa kali. Telinga Archie bisa dengan jelas mendengar suara pintu bilik yang terbuka ketika ia masih mengusap wajahnya dengan air, begitu ia mengangkat wajah dan menatap pantulan dalam cermin, bola matanya membulat ketika Oliver sudah tepat berada di sisinya.

Archie menoleh, “Loh, lo di sini juga?”

Oliver mengangguk, ia membasuh tangannya seraya menatap pantulan wajah Archie dari dalam cermin, senyumnya mengembang tipis. “Gak lama lo pamit ke toilet, gua nyusul.”

“Oh.”

Hening menyapa sesaat, hanya suara gemercik air sebelum tanpa sengaja mereka mematikan keran dengan kompak.

“Chie,” Oliver memanggil pelan, ia menaruh tangannya dibawah pengering sebelah kanan. “Lo lagi nyari loker part time?

Archie yang juga tengah mengeringkan tangannya di pengering sebelah kiri itu menoleh kembali dengan cepat, alisnya mengkerut bingung. “Lo tau dari mana?”

“Abigail.”

Suara hembusan napas gusar Archie terdengar. “Duh ember bocor dasar.”

“Gua ada.” Oliver menyisir helaian rambutnya ke belakang, kakinya melangkah mendekat ke arah Archie yang langsung memasang wajah bingung. “Kerjanya nyantai, mulai dari jam 7 malem sampe terserah lo maunya sampe jam berapa, gaji? Bisa di nego.”

Sebelah alis Archie terangkat, tubuhnya mengadap sepenuhnya ke arah Oliver. “Kerjanya ngapain?”

Oliver ambil satu langkah mendekat ke arah Archie, senyum tipisnya menggembang menciptakan lesung pipi yang samar terlihat. “Nemenin gua.”

“Hah?” Archie membeo, “Maksudnya?”

“Ya nemenin gua.” Ulang Oliver, kedua bola matanya menatap dalam sepasang legam hitam milik Archie. “Gua tau kakak lo ngelarang lo buat ambil kerja part time, tapi lo ... bandel,” Ujung hidung Archie disentuhnya sekilas dengan telunjuk. “So, dari pada lo ketauan kerja part time di luar sana, mending sama gua. Kalo kakak lo nanya kan lo bisa alesan dengan nugas bareng.”

Archie terdiam, ia memikirkan kembali ucapan Oliver yang justru terlihat seperti desisan ular. Ia harus berhati-hati jika ingin keluar sebagai pemenang.

Dagunya sedikit terangkat, Archie menyeringai tipis dibalik senyumnya yang manis. Dengan cepat tangannya terulur, menarik leher Oliver lalu mengecup bibirnya sekilas.

“Liat nanti.” Jawabnya sambil menyeringai tipis.

🕊

Oliver menekan sandi apartemennya terlebih dahulu dan membuka pintunya lebar sebelum mempersilahkan Archie masuk. Dus-dus berwarna coklat itu ditaruhnya di atas meja makan. Pandangannya mengedar menatap ruang unit apartemen barunya yang masih cukup berantakan.

Ia hanya sempat menata pakaiannya karena jadwal kuliahnya yang cukup padat akhir-akhir ini, banyak sekali tugas yang harus dikerjakannya sehingga belum sempat untuk menata seluruh barang-barang yang dibawanya pindah kemari.

“Kata lo, gua harus mulai dari mana?” Tanyanya meminta pendapat pada Archie yang tengah menghidupkan pendingin ruangan. “Gua baru sempet ngeberesin pakaian doang kemarin.”

Archie memperhatikan sekeliling, Oliver tidak membawa banyak barang dan apartemen yang dipilihnya termasuk full-furnish. “Kamar lo udah selesai semua? Selain pakaian?”

“Belum,”

“Lo beresin barang-barang di kamar sama di dapur, gua beresin barang-barang buat di ruang tamu. Gimana?” Tawar Archie. “Soalnya barang lo sedikit sih, jadi gak perlu terlalu dipusingin.”

Tawa Oliver menguar. “Iya juga,” Dua dus yang berada di atas meja diraihnya kembali. “Lo kalo mau pesen makan, pesen aja, Chie. Biar abis beres-beres kita makan.”

“Okidoki.” Archie mengacungkan dua jempolnya. “Lo mau makan apa?”

“Apa aja, gua ngikut.”

“Kalo gua makan rumput, lo juga ikut makan dong?” Canda Archie, ia mulai membuka dus lalu mengeluarkan barang dari dalam sana satu per satu. “Yang gak ribet dan ngenyangin tapi bisa dijadiin cemilan ... menurut lo apa?”

Oliver terdiam sejenak, berpikir. “Sushi?”

“Oke sushi.”

“Lo kalo mau pesen yang lain juga gapapa. Kalo gak pesen dari hp gua aja, biar langsung ke debet di sini.” Oliver mengeluarkan ponselnya dari kantung celana, kemudian menyerahkannya pada Archie. “Passnya ultah gua.”

Archie menghela napasnya. “Gua gak tau lo lahir kapan, Oliver.”

Valentine's day.” Setelah itu Oliver langsung mengangkat dua dus yang sebelumnya sudah ia tumpuk masuk ke dalam kamar. “Pesen kopi juga, Chie. Americano.” Sambungnya sambil sedikit berteriak dari dalam kamar.

Archie menarik kursi meja makan terlebih dahulu sebelum mendudukan dirinya di sana. Jarinya dengan cepat memasukan sandi ponsel Oliver dan langsung membuka aplikasi pesan makanan online. “Oliver! Lo mau bomboloni gak?”

“Boleh!”

“Oke, bomboloni setengah lusin aja kali ya.” Monolog Archie, ia menambahkan pesanannya lagi dengan setengah lusin donat. Begitu selesai, ponsel Oliver ditaruhnya di atas meja makan dan ia mulai bergerak untuk menyusun barang-barang Oliver.

Seperti time lapse, mereka berdua pindah dari tempat ke tempat dengan cepat. Menyusun barang-barang agar terlihat rapih dan apik. Dus-dus yang tadinya terisi penuh kini kosong melongpong berganti dengan sudut-sudut ruangan yang diisi oleh berbagai macam barang.

Hanya membutuhkan waktu setengah jam, barang-barang di dalam unit apartemen Oliver sudah tersusun rapih. Turntable beserta koleksi LP yang Oliver bawa ditaruh pada meja kecil samping jendela besar yang mengarah ke balkon. Salah satu piringan dikeluarkan dari dalam album dan diputar, membuat suasana ruangan tidak sehening tadi.

Ting!

“Makanannya udah di bawah nih!” Ucap Archie setelah melihat notifikasi di ponsel Oliver. “Gua turun deh bentar.”

“Gak usah, biar gua aja.”

Oliver yang tengah mengelap meja kabinet dapur langsung mencuci tangannnya dan keluar dari dalam unit. Membuat Archie menatap kepergiannya dengan alis terangkat dan bahu yang naik sekilas. Pandangannya mengedar, memperhatikan sudut demi sudut ruang apartemen sebelum akhirnya menganggukan kepala, perfect, semua sudah tersusun tanpa terkecuali.

Tubuhnya ia dudukan di atas sofa, nafasnya terhela, kakinya diluruskan ke bawah. Archie memejamkan kelopak matanya ketika samar-samar merasakan dinginnya angin yang berasal dari pendingin ruangan. Cuaca di luar benar-benar terik hingga sinar matahari telihat begitu menusuk. Kemarau memang sedang berada di titik puncaknya beberapa hari terakhir.

Suara pintu apartemen yang terbuka membuat Archie membuka kelopak matanya, ia kemudian mendapati Oliver yang berjalan mendekat seraya membawa tiga kantung plastik dan langsung ditaruhnya di atas meja tepat dihadapan sofa.

Yang pertama kali dikeluarkan dari dalam plastik adalah dua buah americano dingin, Oliver memberikannya kepala Archie terlebih dahulu sebelum mengambil miliknya. Ia ikut mendudukan dirinya di samping Archie dan mulai menyedot cairan berwarna coklat kehitaman itu.

“Gua mau makan bomboloninya satu, boleh gak?” Tanya Archie.

Oliver terkekeh, “Ya boleh-boleh aja. Kan lo yang mesen, Chie. Masa lo yang gak boleh makan sih.”

“Hehehe,” Kotak diraih, tutup dibuka, bola mata Archie sekerika bersinar menatap bomboloni yang terlihat begitu menggoda. Bentuknya bulat gendut terisi penuh dengan selai coklat dan strawberry yang mengintip dari lubang kecil pada sisi donat ala Italia itu. Archie mengambil satu gigitan besar dan raut wajahnya langsung berubah senang. “Damn, this is so good.”

Kepala Archie kemudian menoleh ke arah Oliver, mengarahkan bomboloni yang dipegangnya pada lelaki itu. “Coba deh. Enak!”

“Manis banget?”

Archie menggeleng.

Oliver akhirnya mengambil satu gigitan tepat disamping sisi yang sudah Archie gigit sebelumnya. Raut wajahnya tidak menunjukan respon apapun selama beberapa saat sebelum akhirnya berubah riang. Kunyahannya pada potongan bomboloni di dalam mulut semakin cepat.

“Iya enak.” Komentarnya, lalu mengambil satu gigitan lagi pada bomboloni yang dipegang Archie, sukses membuat lelaki dengan wajah cantik itu merengut. Iseng, Oliver mencolek isi bomboloni yang keluar lalu ujung telunjuknya menyentuh hidung Archie. “Hahaha.”

“Oliver!” Archie merengut, ia membalas perbuatan Oliver sama seperti apa yang lelaki itu lakukan padanya. “Hahaha, rasain!”

Belum sempat Oliver kembali membalas, Archie sudah lebih dahulu menghindar dengan berlari menjauh. Tawa renyahnya mengalun memenuhi ruangan, ia mengejek Oliver dengan memeletkan lidahnya.

Catch me if you can!” Seru Archie.

Satu tarikan Oliver raih terlebih dahulu pada americanonya sebelum beranjak dan mengejar Archie yang berusaha menghindar. Membuat keduanya berlari mengitari ruang tamu dengan tawa Archie yang terdengar semakin nyaring.

“Archie!”

“Wleee! Gak kena!”

Archie menggoyangkan tubuhnya seraya memeletkan lidahnya kembali. Raut wajahnya begitu mengejek menatap Oliver yang masih berusaha menangkapnya itu, dengan gesit ia menghindar tiap kali Oliver hampir meraih tubuhnya.

Namun Oliver juga tak kalah gesitnya, ia berusaha meraih tangan Archie yang terus-terusan menghindar. Nafasnya mulai terengah begitu juga dengan Archie, dan moment itu langsung dimanfaatkan oleh Oliver agar bergerak lebih cepat untuk meraih lengan si cantik nan jahil itu.

“Archie!”

Dapat!

“Hahahaha, aduh, iya, iya gua minta maaf.”

Oliver tertawa seraya semakin erat memeluk tubuh Archie dari belakang. “Makanya jangan iseng!”

“Gua gak iseng! Gua cuman …”

“Cuman apa?”

“Jail—AH!”

Tanpa Archie duga, Oliver mengangkat tubuhnya seperti tidak ada beban dan langsung mendudukannya kembali di atas sofa. Tapi tetap, Oliver tidak melepas pelukannya pada tubuh yang lebih kecil darinya itu.

Namun Archie tetaplah Archie, ia masih berusaha melepas pelukan Oliver dengan menggelitik tubuh lelaki yang tengah memeluknya itu. Membuat keduanya malah terlihat seperti bergelut di atas sofa. Pinggang dibalas pinggang, perut dibalas perut. Jari-jari mereka berusaha menggelitik satu sama lain.

Napas semalin terengah, keduanya sama-sama mengatur deru yang memburu. Kekehan masih mengalun dari satu sama lain walaupun tidak sekencang tadi. Mata bertemu dengan mata. Di atas sofa berwarna cream itu, Oliver memeluk tubuh Archie dengan posisi menyamping dengan sebelah kaki Archie yang naik ke atas pahanya. Membuat celana yang dipakai Archie semakin tertarik ke atas dan hampir menunjukan seluruh bagian pahanya.

“Capek.” Bisik Archie sambil terengah.

Oliver berhedem singkat guna melegakan tenggorokannya yang kering. “Lumayan.”

Kepalanya Archie sandarkan pada pundak Oliver, kelopak matanya terpejam, dadanya naik turun meraih oksigen disekitarnya yang bercampur dengan wangi tubuh Oliver. “Lo pake parfum berapa botol sih? Wanginya nusuk banget.”

“Huh?” Oliver mengeryit bingung, lalu ia terkekeh. “Gua mandi aja belum, Chie. Mungkin sisa parfum semalem.”

“Apa?” Kelopak mata Archie terbuka, menatap sangsi ke arah Oliver yang justru tertawa. “So basically this is how your natural scent smell?

Maybe. Is it bad?

No, but the smell likeI don’t know how to describe it but it’s like you really choke me until I’m running out my breath.”

Just say, ‘Oliver, you smell so good’. That’s enough, Archie.”

Archie menaikan bahunya sekilas. “Ya intinya gitu deh.”

Tangannya menarik tubuh yang lebih kecil darinya itu agar semakin merapat, kepalanya ia sandarkan pada kepala Archie. “Seharusnya gua yang nanya, lo pake berapa botol parfum sampe wanginya manis banget gini? Bahkan kalo lo abis naik mobil gua, wanginya tahan di dalem mobil sampe beberapa jam tau.”

Archie tidak menjawab, tapi ia hanya tertawa dan lebih menyamankan kembali posisi tubuhnya. Dirinya baru menyadari jika separuh bomboloni yang tadi masih dipegangnya sudah menghilang dari genggaman tangan. Mungkin terjatuh saat ia kejar-kejaran dengan Oliver tadi.

Keduanya terdiam, hanya suara musik yang mengalun dari turntable lah yang terdengar memenuhi ruangan. Tangan Archie bergerak, menyentuh lengan Oliver yang masih melingkar memeluk tubuhnya. Wajah mendongak guna mencari sepasang pupil coklat dengan sorotnya yang tajam, sedangkan yang satu lagi sedikit menunduk untuk membalas tatapan mata bulat hitam legam itu.

Jarak mereka benar-benar dekat, sedekat bagaimana mereka bisa merasakan hembusan napas satu sama main. Sorot begitu kuat menatap, menimbukan kobaran yang perlahan-lahan menyala dari sudut terdalam. Archie berulang kali menatap bergantian antara mata dan bibir Oliver, begitu juga sebaliknya. Seulas senyum tipis hadir bersamaan, mengerti jika keduanya memang sama-sama mendamba.

Ketika alunan musik melambat dan wajah perlahan semakin mendekat mengikis ruang bersamaan dengan kelopak mata yang terpejam, bibir mereka bertemu. Sentuhannya begitu lembut menekan satu sama lain. Ujung hidung bangir itu saling menggesek halus sebagaimana lumatan-lumatan tipis mulai tercipta.

Oliver maupun Archie mengerti, mereka sama-sama melempar umpan sejak awal dan berakhir dalam lingkupan ketertarikan seksual satu sama lain. Api bermain dengan api. Tinggal menunggu bagaimana kobaran itu membesar dan menghanguskan salah satu dari mereka, atau mungkin juga keduanya.

Suara renyah yang terdengar ketika bibir mereka perlahan menjauh membuat Archie terkekeh dan Oliver kembali tersenyum. Tatapan mereka terkunci pada satu sama lain. Rengkuhan dan cengkraman menguat secara bersamaan. Panasnya suhu di luar kini mulai merambat masuk dan melingkupi keduanya.

Do you have any problem with this?” Tanya Oliver memastikan.

Archie tidak langsung menjawab, ia memperhatikan kembali bibir Oliver selama beberapa saat sebelum berpindah pada matanya. “Yes,” Lalu ia mencuri satu kecupan dari bibir Oliver. “My problem is ... after one kiss, I want ninty-nine more.

Kekehan mengalun, Oliver sama sekali tidak terkejut ketika Archie meraih bibirnya kembali. Dengan senang hati ia membalas, melumat bergantian bibir bawah dan bibir atas Archie yang begitu ranum. Kedua tangannya membalik tubuh Archie dan mengangkatnya agar duduk tepat di atas pangkuan.

Tidak ada penolakan sama sekali, Archie justru menyamankan posisi duduknya di atas pangkuan Oliver. Kedua kakinya terlipat di sisi tubuh, mengapit tubuh bagian bawah Oliver dengan pahanya yang terekspos bebas. Sedikit merasa tergelitik ketika sebelah tangan Oliver merengkuh pinggangnya dan sebelahnya lagi bergerak perlahan mengelus permukaan kulit pahanya.

You lips taste so good,” Tutur Oliver ditengah ciuman mereka, berulang kali memberi kecupan pada bibir Archie yang mengkilat menggoda. “Damn, you make my dopamine levels go all silly.

Shut up, just kiss me more.

Sebuha pagutan lembut kembali tercipta, kali ini lebih terlihat begitu antusias untuk saling memberi afeksi. Archie menggerakan jari-jarinya untuk bermain dihelaian rambut tebal Oliver, merematnya sesekali sebagai balasan ketika Oliver mengulum kuat bibirnya.

Deru nafas memberat, suhu semakin terasa begitu panas saat usapan Oliver mulai merambat ke paha bagian dalam. Archie tentu tidak tinggal diam, sebelah tangannya ikut bergerak mengelus garis rahang serta leher Oliver hingga tengkuk belakangnya.

“Shhh,” Archie mendesis ketika Oliver mengigit kecil bibir bawahnya, lalu kepalanya mengdongak saat bibir itu bergerak turun mengecupi dagu, leher, dan perpotongan lehernya yang mana sukses membuat bulu kuduknya berdiri. “Oliver.”

Bibir Archie yang terlihat sedikit membengkak dan berkilap itu kembali diraihnya. Warnanya merah ranum seperti kelopak mawar yang baru saja merekah. Oliver tidak peduli dengan saliva mereka yang mungkin sudah menyatu akibat pagutan basah yang tengah mereka lakukan itu, yang ia pedulikan hanyalah bagaimana membuat Archie berakhir memakan umpan yang dilemparnya dan ia keluar sebagai pemenang.

“Angh,” Archie berjengit ketika Oliver tiba-tiba meremat kuat pahanya, sontak secara tidak sengaja ia malah memajukan tubuhnya dan duduk tepat pada bagian pusat tubuh Oliver.

Napasnya memberat, Oliver mendesis saat merasakan hentakan Archie pada bagian pusat tubuhnya. Bibirnya semakin rakus melumat bibir Archie sebagai balasan, sedangkan tangannya tetap bergerak mengelus paha ramping yang sudah membuatnya hampir kehilangan akal sehat sejak pertama kali melihatnya itu. Oliver benar-benar salut akan kepintaran Archie yang selalu bisa mencari celah untuk menggodanya.

Ketika napas mulai memendek dan suhu ruang semakin memanas, keduanya sama-sama bergerak menjauhkan wajah masing-masing. Tahu jika saat ini adalah waktu yang tepat untuk mereka berhenti sebelum bergerak terlalu jauh. Mata kembali menatap, menyadari jika mereka dapat begitu jelas melihat kobaran yang menyala-nyala di dalam manik satu sama lain.

Archie tersenyum, namun tak lama senyumnya berubah menjadi kekehan kecil. “Gua laper.”

Tubuh yang berada di atas pangkuannya itu Oliver angkat dan mendudukannya kembali di atas sofa, senyumnya mengembang lebar hingga kedua lesung pipinya terlihat begitu jelas. Ia mengusap bibir bawah Archie terlebih dahulu menggunakan ibu jarinya lalu mengusak rambut Archie gemas, terakhir mencubit pipi dengan semburat kemerahan itu sekilas.

“Gua juga, ayo makan.”

Kantung plastik yang berada di atas meja dibuka, Oliver mengeluarkan tiga porsi sushi terlebih dahulu dan menatanya secara sejajar sebelum memberikan satu pasang sumpit pada Archie. Kekehannya mengalun ketika mendapati bola mata Archie berbinar menatap makanan yang berada dihadapannya.

Itadakimasu!!!” Seru Archie girang sebelum mengambil satu potong sushi dan memakannya dalam satu suapan. “Oh dear, I love food more than anything.”

Oliver menyenggol pundak Archie pelan. “Telen dulu, baru ngomong. Nanti keselek lagi.”

Wajahnya merengut tak senang, tapi tentu saja Archie melakukannya dengan pura-pura. Ia kemudian mengambil satu potong sushi kembali dan menyuapkannya pada Oliver. “Makan! Biar gak bawel!”

Lalu keduanya menghabisakan potong demi potong sushi seraya bertukar bercerita mengenai kegiatan perkuliahan masing-masing. Faktor perbedaan jurusan yang mereka tempuh membuat bahan obrolan seperti tidak ada habisnya, terlebih saat Archie ataupun Oliver juga bercerita soal teman-teman mereka.

Keduanya tidak terlihat seperti dua orang yang telah menghabiskan beberapa menit untuk melumat bibir satu sama lain. Ciuman panas tadi bagaikan hanya sebuah angin lalu yang tiba-tiba hilang begitu saja.

🕊

Hari itu matahari bersinar sangat terik. Panasnya menusuk hingga ke dalam kulit, membuat orang-orang enggan berlama-lama berada dibawah sinarnya. Debu berterbangan menyatu dengan polusi ibu kota, menurunnya curah hujan dalam beberapa minggu terakhir menciptakan sebuah perisai berwarna abu-abu pekat di atmosfer.

Archie keluar dari dalam gedung apartement dengan hoodie yang menutup rapat bagaian tubuh atasnya hingga kepala, sedangkan kakinya dibiarkan terbuka begitu saja. Langkahnya begitu cepat mendekat ke arah sebuah mobil yang terparkir tepat di bawah pohon sisi jalan, tempat yang sama seperti pertama kali mobil itu terparkir di sana.

Jendela diketuk sebanyak beberapa kali, menyadarkan lamunan Oliver yang tengah mengirimkan pesan pada kakaknya. Jarinya menekan tombol kunci, pintu sisi penumpang terbuka lalu Archie masuk ke dalam mobil dengan nafasnya yang terhela berat.

“Sumpah panas banget, lo gak ngerasa panas?” Tanya Archie sambil menyeka beberapa bulir keringat yang membasahi dahinya, tangannya terulur untuk mengarahkan angin pendingin mobil tepat ke arahnya. “Gua bahkan udah tiga kali minum es karena saking panasnya. Ahhhh... adem.”

Bukannya menjawab, Oliver malah tertegun menatap penampilan Archie. Matanya fokus menatap paha yang terpampang begitu jelas di hadapan matanya itu. Begitu ramping, kecil, dan mulus. Ia kira celana pendek yang Archie maksud adalah celana pendek yang menutupi hingga sebatas lutut, namun dugaannya salah, celana yang dipakai oleh Archie sekarang malah hampir memperlihatkan seluruh bagian pahanya terlebih saat Archie duduk.

“Paha lo cantik.” Celetuk Oliver spontan.

“Eh?” Archie tersentak, ia kemudian bergerak menutupi pahanya seraya terkekeh malu. “Celananya kependekan ya? Duh gua ganti celana dulu deh kalo gitu, udah bener tadi gua pake celana panjang aja. Tunggu sebentar, ya. Lima menit. Gapapa kan?”

Handle pintu baru saja akan ditariknya namun tangan Oliver dengan cepat menahan, membuat Archie kembali menoleh dengan raut wajah bingung. Ia dapatkan Oliver menggeleng tipis seraya tersenyum.

“It's oke, gak usah diganti.” Bola mata Oliver bergulir menatap paha Archie kembali. “I love seeing your pretty thighs.”

Tawa mengalun renyah, Archie tersipu malu dengan pipinya yang berubah kemerahan. Oliver tentu saja menyadarinya. Sebuah tarikan pada pipi Archie diberikan sebagai bentuk rasa gemasnya.

“Tapi beneran nih gapapa gua pake celana sependek ini?” Tanya Archie memastikan kembali. “Maksud gua, kalo gak sopan ya gua ganti sekarang.”

“Bokap nyokap gua gak di rumah, kak Laura juga lagi keluar. Lagian kita gak akan lama kok di sana, gua cuman mau ngambil beberapa barang aja.” Jelas Oliver. “So it's okay, you can wear whatever you want to wear.”

Ucapan Oliver hanya dibalas senyuman tipis. Archie melirik Oliver dari ujung matanya sekilas ketika mobil mulai berjalan, dengusan kecil dan seringai tipis hadir di wajahnya tanpa Oliver ketahui.

Perjalanan hanya menempuh waktu empat puluh lima menit dari tempat tinggal Archie. Mobil masuk pada kawasan perumahan yang Archie tahu jika hanya orang-orang menengah ke atas lah yang rata-rata tinggal di sana. Lingkungannya begitu asri, banyak pepohohan yang menghiasi halaman rumah, serta tembok-tembok pagar yang ditempeli oleh tanaman daun dollar.

Mobil berbelok sebanyak sepuluh kali sebelum akhirnya lajunya melambat dan berhenti tepat di depan gerbang rumah berwarna coklat gelap. Pagarnya begitu tinggi dan di cat dengan warna putih gading. Dari luar, Archie bisa melihat dua pohon kamboja besar yang berada di sisi gerbang pagar mengintip ke luar.

“Tunggu bentar, gua buka gerbang dulu.” Oliver keluar dari dalam mobil, berlari kecil menuju pintu gerbang lalu membukanya lebar. Halaman rumahnya yang luas dan asri bisa terlihat ketika gerbang kayu itu terbuka. Ia kemudian masuk kembali ke dalam mobil dan tersenyum pada Archie. “Relaks, kenapa mukanya keliatan tegang gitu?”

“Uh? Engga.” Archie mengelak, matanya menatap sekeliling rumah Oliver ketika mobil abu-abu itu berjalan masuk. “Rumah lo luas juga, bisa dipake buat lapangan futsal nih halamannya.”

Oliver tertawa, “Dulu sebelah sana emang bekas lapangan futsal kecil. Cuman dibongkar sama nyokap terus dijadiin kebun.”

Archie hanya mengangguk, ia kemudian memperhatikan rumah Oliver yang terlihat seperti rumah-rumah keluarga old money bertipe klasik dengan warna putih dan coklat tua pada kusen-kusennya. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama, mesin dimatikan, sabuk pengaman dilepas terlebih dahulu sebelum akhirnya Archie beranjak keluar dari dalam mobil.

“Kecium banget wanginya,” Celetuk Archie, ia menapaki beberapa anak tangga di depan teras. Mengekori Oliver dari belakang.

“Wangi apa?”

“Wangi duit.”

Kekehan Oliver menguar, ia membuka pintu rumah dan mempersilahkan Archie untuk masuk terlebih dahulu. Aroma khas teh melati yang dipadukan dengan kayu cendana masuk ke dalam indera penciuman. Bola mata Archie berbinar ketika memperhatikan isi rumah Oliver yang begitu klasik.

Ada sebuah piano berwarna hitam di dekat ruang tamu, ornamen-ornamen yang terbentuk dari kayu-kayu kokoh, serta banyaknya foto yang menghias dinding rumah. Archie terdiam sesaat memperhatikan sebuah foto yang dicetak dalam ukuran super besar yang terpajang di dinding samping pintu masuk. Sebuah keluarga yang terdiri oleh empat orang anggota. Ada Oliver, kakaknya, serta kedua orangtuanya disitu.

“Foto waktu masih adem ayem.” Tutur Oliver seraya menatap foto keluarganya. “Sekarang mana bisa kayak gitu lagi.”

“Eh?” Archie menggusap belakang lehernya tak enak hati. “Sorry.

Senyum Oliver merekah. “Ngapain minta maaf,” Katanya sambil menyentuh ujung hidung Archie dengan telunjuknya sekilas. “Ayo ke atas.”

Kakinya melangkah kembali mengekori Oliver, menapaki tangga satu per satu sebelum berjalan pada lorong rumah yang mengarah ke kamar pribadi Oliver. Archie bisa dengan jelas merasakan kalau rumah ini begitu tenang dan dingin seperti tidak pernah ditinggali.

Welcome to Oliver's room.

Pintu kayu yang tingginya hampir dua meter itu terbuka. Aroma khas Oliver seketika memenuhi indera penciuman Archie, membuatnya merasa seperti sedang dipeluk erat oleh Oliver. Sesak, tapi nyaman disaat yang bersamaan.

“Wow, lo ngoleksi LP?” Tanya Archie ketika melihat lemari yang penuh dengan album LP dan sebuah turntable yang berada tepat disebelahnya. “Gak lo bawa ke apart tuh?”

“Ya ini mau diambil buat dibawa ke sana.”

“Semua?”

“Sebagian aja, yang sering gua dengerin.”

Archie mengangguk, ia kemudian menatap dus-dus kosong yang belum terisi. “Ini dusnya gak kurang? Emang cukup barang-barang lo masuk ke sini?”

“Kan gua bawanya juga sedikit, Chie.” Oliver memasukan beberapa buku bacaannya ke dalam dus. Matanya kemudian menatap Archie yang masih berdiri tepat di depan lemari koleksinya. “Sebenernya, tanpa lo bantu gua juga bisa sendiri.”

“Terus kenapa lo minta tolong ke gua buat bantu ngepack barang?”

“Karena gua pengen ngeliat lo lebih lama aja.”

What?

Oliver tertawa kecil, memilih untuk tidak menanggapi ucapan Archie barusan karena ia yakin Archie juga tahu maksudnya. Lelaki dengan celana pendek sepaha itu masih terdiam ketika Oliver menatapnya kembali, tawanya menguar lebih kencang, lalu mendekat ke arah Archie dan mengusak rambutnya.

“Lo duduk aja juga gak apa-apa. Gak usah bantu beres-beres.” Tutur Oliver seraya mengambil beberapa album LP yang berada di samping Archie. “I dont know, I just love to seeing you around me. Makanya gua minta tolong sama lo buat bantuin gua pindahan.”

Kelopak mata Archie mengedip cepat selama beberapa saat sebelum akhirnya berdecih pelan, ia mengambil tiga langkah mendekat ke arah Oliver yang tengah memasukan barang-barangnya ke dalam dus lalu meninju lengan atasnya. “Modus lo, ada aja ya.”

“Hm? Gua gak modus.” Elak Oliver, “Kan gua juga udah bilang minggu lalu, kalo kita tiap weekend bakalan jalan-jalan. So, anggap aja ini permulaan.”

Archie benar-benar mendudukan dirinya di sisi ranjang Oliver. Memperhatikan lelaki itu yang sibuk memasukan sisa barang yang akan dibawanya ke dalam dus. Jarinya mengetuk-ngetuk kasur dan ujung kakinya bergoyang kecil, seringainya kembali terlihat. “You just love seeing me around you or you wanna makes me the first person who visit your new apart?

Both.”

Why?

There’s no spesific reason.” Oliver menaikan bahunya acuh. Kotak turntable yang berada di lemari bagian bawah ia raih, lalu memasukan turntable berwarna hitam itu ke dalamnya sebelum ia masukan ke dalam dus. “I mean, di antara temen-temen gua gak akan ada yang bener kalo gua minta tolong buat ngepak barang atau bantuin gua nyusun barang di apart. They’re just buch of mess and noisy. Kalo ngajak lo kan engga.”

“Oh ya?” Archie terkekeh. “Padahal gua juga cerewet. Or maybeare you just obsessed with me?

Oliver menghentikan pergerakannya, ia menoleh ke arah Archie dan menatap tepat ke dalam mata bulat besar itu. Hening menyapa ruangan. Mereka berdua sama-sama terdiam sebelum Oliver mendekat ke arah Archie, berdiri tepat di hadapannya sehingga membuat Archie sedikit mendongak untuk balas menatapnya.

Obsessed with you?

“Hm.”

Archie tidak menduga jika selanjutnya Oliver akan mengangkat dagunya agar ia mendongak sempurna. Wajah lelaki itu mendekat, membuat Archie mengepalkan jari-jarinya yang menopang tubuh di atas kasur. Ia tidak goyah sama sekali bahkan ketika jarak wajah Oliver hanya tinggal beberapa senti lagi dari wajahnya.

Yes.” Bisik Oliver pelan. “Gua kira lo udah sadar sejak awal.”

Do you think I'm stupid?

Of course, no.

Perlawanan tak terduga juga di dapatkan oleh Oliver ketika Archie justru malah menarik kerah kaosnya agar wajahnya semakin dekat. Hidung mereka hanya berjarak dua jengkal sehingga keduanya bisa merasakan deru nafas satu sama lain. Archie mengerling, menatap kedua pupil mata Oliver secara bergantian dengan senyum jahilnya.

What do you think if I do feel the same?” Tanya Archie pelan.

Riuh tepuk tangan terdengar dalam isi kepala Oliver. “Emang seharusnya gitu kan?”

Suhu ruangan tiba-tiba memanas ketika Oliver mendorong pelan pundak Archie hingga tubuh yang lebih kecil darinya itu terlentang di atas kasur. Kalung dengan bandul gembok itu menjuntai begitu saja tepat di hadapan wajah Archie ketika Oliver merunduk untuk mengukungnya.

“Inget waktu gua bilang kalo gua pengen tau gimana rasanya waktu kalung lo ada di atas gua?”

Now you feel it.”

Archie tertawa.

But your necklace didn’t move.”

Oliver mengerutkan dahinya. “What?

This,” Archie meraih bandul kalung lalu mengenggamnya. “This thing is not moving.

Butuh waktu beberapa saat sebelum Oliver mengerti kemara arah pembicaraan Archie. Sial, baru kali ini ia mendapatkan lawan yang sama-sama kuat dengannya.

Are you sure about this one?” Tanya Oliver memastikan.

Kedua alis Archie terangkat. “Why not?

For God’s sake, Archie. Lo bikin gua pengen nyium lo sekarang juga.” Keluh Oliver, tiba-tiba merasa begitu frustasi untuk menahan dirinya sendiri ketika bibir Archie tepat berada dekat di hadapannya.

Do it.” Jawab Archie tanpa ragu. “Ayo cium gua.”

Fuck—

Tok! Tok! Tok!

“Dek, lo di dalem?”

Mereka berdua sama-sama tersentak ketika mendengar suara perempuan dari arah luar. Oliver tahu betul jika itu merupakan sang kakak. Buru-buru ia bangkit dari posisinya begitu juga dengan Archie yang terlihat gelagapan, dan langsung pura-pura menyusun barang-barang Oliver yang berada di dalam dus.

Kedua daun telinga Oliver terlihat begitu merah, sama dengan bagaimana semburat kemerahan pekat menghiasi pipi Archie. Telat lima detik, mereka mungkin akan tertangkap basah hendak melakukan tindakan tak senonoh oleh Laura.

Pintu terbuka menampilkan sesosok wanita cantik dengan rambut panjangnya yang dibiarkan terurai. Telihat sedikit tersentak kaget dengan kehadiran sosok lain selain adiknya itu. “Eh? Ada tamu ya.”

“Hallo.” Archie tersenyum kikuk, menatap wanita yang mungkin seusia Athena itu.

Oliver melegakan tenggorokannya terlebih dahulu. “Ini Archie, yang pernah gua ceritain sama lo.”

Laura tersenyum, menatap Archie yang terlihat malu-malu membalas tatapannya. Pandangan Laura kemudian mengarah pada paha Archie yang terbuka, lalu tawanya menguar, ia ganti menatap Oliver yang tengah sibuk memasukan sisa barangnya itu.

Kakinya melangkah mendekat ke arah sang adik. Laura berdiri tepat disamping Oliver yang tengah memilah-milah album LP miliknya. Kepala mendekat, bibir berbisik pelan.

“Ver,”

“Hm.”

You have a good eyes.

Oliver melirik ke arah Laura yang tersenyum jahil. Dengusannya keluar bersamaan dengan kepalanya yang menggeleng tidak habis pikir dengan godaan kakaknya itu. Raut wajahnya berubah bingung ketika Laura justru malah ganti mendekati Archie yang masih berusaha pura-pura sibuk menyusun barang di dalam dus.

“Archie, right?” Laura tersenyum lebar. “Oliver pernah cerita kalo dia lagi deket sama seseorang. Akhirnya dibawa juga ke rumah.”

Archie melirik ke arah Oliver terlebih dahulu sebelum menatap Laura yang berada dihadapannya. “Hehehe, iya kak Laura. Baru deket akhir-akhir ini.”

“Wow, pupil mata lo gede banget ya,” Laura mendekatkan wajahnya, berusaha melihat lebih jelas pupil mata Archie yang seperti legam biji leci itu. “Softlens?”

“Mata asli,” Archie tertawa renyah. “Emang banyak yang ngira pake softlens.”

Laura menoleh ke arah Oliver. “Buat gua aja ya?”

“Gila lo.” Sahut Oliver cepat, kembali mendengus ketika Laura malah tertawa puas. “Udah ah, jangan ganggu Archie.” Ia kemudian menarik Laura agar menjauh dari Archie lalu mendorongnya keluar dari kamar.

Je sais que tu veux tellement le baiser.” Laura tertawa seraya menatap ke arah Archie sekilas lalu ke arah Oliver kembali. “Ne le dis pas à Mama et Papa, ils vont t'en tuer un tout de suite.”

You talk to much, Laura.” Oliver berusaha menutup pintu kamarnya ketika Laura masih saja menggodanya. “Ils s'en fichaient si je le baisais ou pas.”

No one knows, Oliver.”

“Udah ah sana!”

Raut wajah Oliver mengerut kesal, ia menutup pintu kamarnya lalu mendapati Archie yang menatapnya bingung.

“Kakak lo bilang apa tadi?” Tanyanya penasaran.

Oliver terkekeh, kepalanya menggeleng. “Bukan apa-apa.”

Tentu, Archie tidak akan mungkin percaya begitu saja.