Hadley, and the lake house.
⚜
“Papa, Daddy, masih lama ya sampainya?”
“Sebentar lagi sampe kok, sabar ya.”
Hari itu, cuaca tidak terlalu terik. Gumpalan awan yang seperti permen kapas menghias dibirunya atmosfer, angin berhembus tenang, jalanan tidak begitu ramai sehingga mobil hitam itu bisa melenggang lancar di atas aspal jalan.
Malvin duduk dibarisan ke dua, tepat di sisi jendela sehingga membuatnya bisa dengan leluasa melihat perkebunan-perkebunan disepanjang jalan. Hijau menghampar menyejukan mata. Ia tidak punya bayangan sama sekali kemana kedua orangtuanya mengajaknya pergi. Papa hanya bilang mereka akan pergi ke suatu tempat dimana Malvin bisa melihat sebuah rumah kayu dan danau yang begitu cantik.
The lake house.
Rumah kecil yang hampir seluruh bangunannya terbuat dari kayu-kayu kualitas terbaik itu kembali mereka singgahi. Rumah tepi danau yang penuh dengan kenangan saat kanak-kanak, yang menjadi tempat di mana Harvey pernah singgahi berdua dengan Natha guna memancing ingatan lelaki cantik itu kembali. Kali ini mereka datang kembali setelah sekian tahun lamanya, sudah tidak lagi berdua, namun bertiga bersama dengan Malvin.
Mobil berbelok memasuki area jalanan perkampungan, kebun-kebun sayuran menyambut dari sisi kanan kiri. Malvin yang terlihat begitu antusias, berulang kali menunjuk ke arah sayuran-sayuran yang sebentar lagi memasuki masa panen itu. Bertanya berulang-ulang, rasa keingintahuannya begitu tinggi, ia bahkan menyapa beberapa petani yang dijumpainya dengan begitu ramah lalu melambai memberi semangat.
Lima belas menit kemudian, mobil berbelok kembali memasuki jalanan yang lebih kecil. Sisi-sisinya banyak ditanami pohon pinus yang menjulang tinggi, suasananya begitu asri, banyak bunga-bunga liar serta kupu-kupu yang berterbangan di sepanjang jalan. Tak berselang lama, sebuah rumah kayu mulai tampak dari pandangan, mobil kemudian berhenti tepat di halaman depan rumah.
Natha melepas sabuk pengamannya terlebih dahulu sebelum membantu Malvin melepas sabuk pengamannya, ia menyuruh Malvin untuk keluar duluan dari dalam mobil sebelum menatap ke arah bagian pengemudi. Harvey masih terdiam. Pandangannya lurus menatap ke arah rumah yang dindingnya terdapat empat jejak telapak-telapak tangan kecil itu.
“Vey,” Suaranya lembut memanggil, Natha menyentuh bahu suaminya itu dan merematnya pelan. “Ayo turun.”
Helaan nafas terdengar, Harvey mengangguk dengan senyum kecil. Sabuk pengamannya dilepas dan ia beranjak keluar dari mobil. “It’s been a long time.” Bisiknya lirih.
“There’s a lake! There’s a lake!” Raut wajah Malvin terlihat begitu semangat ketika ia melihat sebuah danau tepat berada di depan matanya, kakinya bahkan melompat-lompat kecil. “Oh wow, banyak bunga di sini! Papa pasti suka ya?”
Senyum Natha mengembang, kakinya melangkah mendekat ke arah Malvin lalu mengusap kepalanya sekilas. “Banget! Bunganya cantik-cantik ‘kan?”
“Cantik. Seperti Papa.” Cengiran bocah enam tahun itu melebar. “Malvin boleh main di sini?”
“Boleh. Tapi jangan main terlalu jauh, jangan terlalu deket sama danau juga, oke? Di sekitar sini aja.”
“Okidoki!”
Kang Ujang datang bersama seorang anak laki-laki sepantaran Malvin datang beberapa menit setelahnya, lelaki paruh baya itu menaiki sepeda ontel andalannya lalu menyapa Harvey terlebih dahulu. Mereka berbincang sebentar, menanyakan kabar setelah sekian lama tidak bertemu. Kang Ujang memberitahu kalau ada beberapa bagian rumah yang sudah harus di renovasi karena kayunya sudah termakan oleh waktu, Harvey berikan kepercayaan sepenuhnya pada Kang Ujang untuk merenovasinya.
“Malvin! Kesini sebentar, sayang!” Natha memanggil putranya yang tengah berjongkok di depan sekumpulan tanaman bunga liar yang dikelilingi oleh banyak kupu-kupu. “Ada yang mau Papa kenalin sama kamu.”
Malvin mendekat, matanya menatap seorang anak laki-laki yang terlihat seumuran dengannya itu. Senyumnya mengembang kembali.
“Malv, kenalin ini namanya Kang Ujang, nah kalo ini cucunya Kang Ujang, namanya Rendi.”
Tangan terulur, Malvin memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. “Hallo, namaku Malvin.”
Anak laki-laki itu menyambut uluran tangan Malvin, cengirannya melebar. “Hai Malpin! Aku Rendi!”
“Malvin, tong. Malvin, bukan Malpin.” Kang Ujang mengoreksi perkataan cucunya itu. “Malvin.”
Rendi langsung merengut malu. “Ih Aki! Kan Rendi juga bilangnya Malpin!”
Mereka kemudian tertawa melihat interaksi Malvin dan Rendi yang langsung terlihat akrab itu. Ah, anak-anak memang cepat sekali berbaur ketika bertemu dengan teman sebayanya. Mereka seperti punya dunia sendiri yang begitu mengasyikan.
Kang Ujang lalu mengajak keduanya untuk berkeliling seraya melihat-lihat apa saja yang berada di sana, tentu saja, anak-anak itu begitu senang dengan ajakan Kang Ujang.
“Nath, gua ke dalem duluan.”
Natha yang baru saja akan turut ikut bersama kedua kanak-kanak itu menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Harvey yang masih berdiri di posisinya. Ia mengangguk, tetap terdiam sambil menatap punggung Harvey yang kini berjalan masuk ke dalam rumah. Satu helaan napas panjang berhembus, ia mungkin akan menyusul beberapa menit lagi agar Harvey bisa menghabiskan waktunya untuk sendiri dulu.
Mereka datang kembali mengunjuki lake house tentu bukan tanpa tujuan.
Kemarin sore, kondisi Tanjung semakin menurun. Lelaki paruh baya itu sudah tidak bisa banyak melakukan kegiatan, hanya terbaring di atas kasur atau jika ingin berkeliling harus dibantu dengan kursi roda. Kesehatannya memburuk. Mungkin efek terlalu banyak pikiran dan juga melemahnya kondisi tubuh seiring bertambahnya usia.
Sore itu juga, baik Harvey maupun Natha untuk pertama kalinya melihat sosok Tanjung yang begitu menyedihkan. Mama menangis bermenit-menit lamanya, sedangkan Dimitri hanya bisa menatap sedih ke arah sahabat terdekatnya yang terbaring lemah di atas kasur.
Lalu Tanjung dengan ucapannya yang terbata, meminta Harvey untuk mengambil seluruh barang peninggalan Hadley yang berada di lake house. Lelaki renta itu hanya ingin bernostalgia dengan putri kecilnya yang sudah lama sekali tidak datang menyapanya ke dalam mimpi. Gadis kecil yang senang sekali rambutnya di kepang dua itu pasti akan tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik jika waktu untuknya tak berhenti di saat itu.
Harvey terdiam begitu lama menatap pintu coklat dengan empat telapak tangan kecil berwarna-warni yang menghiasi bagian bawahnya. Ia tersenyum begitu tipis, hampir tak terlihat. Kunci akhirnya dimasukan ke dalam lubang dan diputar hingga terdengan bunyi klik, kenop ditekan ke bawah, udara pengap seketika menyambut Harvey ketika pintu terbuka.
Tidak terlalu banyak barang yang berada di dalam sana, hanya sebuah piano tua yang ditutupi oleh kain putih, sebuah lemari kecil, dan kotak-kotak berisikan mainan anak perempuan. Sulur laba-laba serta debu tebal menjadi bukti bahwa sudah begitu lama ruangan itu tidak dibuka. Mungkin belasan tahun lamanya sejak Hadley dikebumikan.
Kaki mendekat ke arah lemari kecil yang di atasnya terdapat banyak tumpukan bingkai-bingkai. Tangan terulur, meraih bingkai paling atas yang bagian kacanya ditutupi oleh debu. Harvey mengusapnya dengan telapak tangan. Di sana, potret seorang anak perempuan berkepang dua tengah tersenyum lebar ke arah kamera, berdiri tepat di ujung jembatan yang menjorok ke arah danau. Dengan sebuah dress berwarna merah muda yang begitu cantik.
Foto itu Harvey tatap begitu lama.
Kakaknya cantik sekali. Perempuan tercantik setelah Mama dengan senyum yang serupa miliknya. Menatap foto itu membuat Harvey menyadari jika waktu berlalu begitu cepat, andai saja Kakaknya masih ada, mungkin anak mereka kini tengah bermain bersama seperti Malvin dengan Sophia dan Hazel.
Tumpukan bingkai itu diraih seluruhnya. Harvey terduduk di atas lantai, tidak peduli dengan celananya yang mungkin kotor oleh debu. Di bersihkan seluruh bingkai menggunakan sapu tangan, lalu disusun berjejer tepat dihadapannya. Persis seperti seorang anak-anak yang tengah duduk menyusun mainan favoritnya.
Ada satu foto yang sengaja ia taruh tepat dihadapannya. Foto dimana Hadley tertawa lebar memeluk Harvey kecil yang tengah menangis dengan giginya yang tanggal satu dibagian depan. Hangatnya masih begitu terasa, bahkan setelah puluhan tahun berlalu. Rindu mencekiknya begitu kuat hingga membuat Harvey ingin sekali pergi ke masa lalu dan memeluk erat Kakak semata wayangnya itu.
Hadley Tanjung.
Gadis kecil yang juga pernah hadir di dalam bayangan Natha ketika Harvey mengajaknya ke lake house untuk pertama kali setelah sekian lamanya, yang secara tidak langsung membawa kembali ingatan Natha akan masa kanak-kanaknya yang sempat terlupakan. Gadis yang usianya akan tetap selamanya berada di angka sebelas. Gadis yang kerap kali menjahili Harvey sampai menangis seperti seorang kakak pada umumnya.
Mungkin kalau masih ada, Harvey tidak bisa membayangkan betapa lucunya mereka berdua memperebutkan Natha di masa sekarang. Terlebih jika mengingat kalau orangtua mereka memang ingin menjodohkan mereka berdua dengan si kembar Dimitri sejak mereka masih kanak-kanak. Yah, andaikan saja.
Sebuah bingkai diraihnya kembali, dimana foto wajah Hadley yang diambil begitu dekat tengah tertawa menatap ke arah kamera dengan sebuah bunga terselip di daun telingannya.
“It’s been very a long time kak, how’s heaven?” Harvey bertanya pada keheningan yang ada, hanya sayup-sayup suara tawa Malvin yang terdengar dari luar. “I hope you always doing good in there.”
Helaan nafas terdengar kembali.
“Papa sakit, kak. He told me that he missed you so much, why don’t you come to his dream again? Are you mad at him?” Tawa kecil Harvey terdengar lirih, “Please come to my dream too, ok? I wanna told you that I’ve been married with Natha hahaha, I won, right? You said that I look good with him, and I keep my promise. Oh you should know too that now, I have a son, his name is Malvin Tanjung. He’s six years old. Sorry I didn’t tell you earlier about Malvin, I hope you didn’t mad at me. But I think it’s fair because you didn’t come to my dream since that day.”
Harvey kemudian menunduk, matanya terasa begitu panas.
“Life … it’s been so fucking hard since you gone, Hadley. A lot of things happened since you left.” Tarikan nafas memberat, “Mama won’t stop crying everynights when she saw your pictures, that’s why we put all your stuffs in here. We didn’t mean to forget and leave you behind, we just … we just in pain, kak. My life was so lonely back then. You left, Dimitri’s family has going aboard to gave Natha a better treatment and medication for many years. I’m so fuckin’ alone. I never really made friends with anyone until I graduated. But then, I met Juna and Eric when I was in college. Those two idiots always support me in difficult times. They really know how jerk I am before meet Natha again, I played with some people and just dump them like a trash. They said, I don’t have a heart, kak. In fact, half of my heart is buried with you and Natha carrying the other half when he left. But don’t worry, I’m living a better life now since Natha is back. You should know how stubborn he is, hahaha, it gives me like I’m riding a rollercoaster everyday. And Papa … he held a lot of grudges in his heart, he always looking for that man everyday. Long short story, we found who is he. Papa’s old friend. He was so mad at Papa because of Papa’s betrayal. Life was so unfair, right?”
Di dalam bayangannya, Harvey melihat seorang gadis berkepang dua duduk terpat dihadapannya. Menatap ke arah dirinya dengan sorot sendu. Senyumnya merekah begitu tipis, seakan-akan memang melihat Hadley duduk menemaninya di sana.
“But, he’s dead. Natha killed him, kak. One shoot in the chest. Please, can you come to Natha’s dream and give him an applouse?” Harvey termenung menatap bingkai satu persatu, mengulanginya lagi dan lagi dari ujung ke ujung. Tanpa menyadari jika Natha sudah berdiri di ambang pintu dan menatap ke arahnya dengan sorot sendu. “I know this is so wrong, however its all because of Papa’s fault. If Papa didn’t do that, you still in here, right? You still with us. We can made a lot of childhood memories, playing along, and growing up together.”
Kali ini Harvey sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. Ia memang terlihat begitu kokoh di luar, tapi sekuat apapun ia mencoba untuk tetap berdiri tegak, kakinya juga punya waktu dimana ia menjadi rapuh. Umurnya baru sepuluh tahun saat itu. Sepuluh tahun tapi harus menerima fakta bahwa Kakak satu-satunya meninggal dengan begitu tragis, Ibunya menangis sepanjang malam, Ayahnya menyimpan dendam yang mendarah daging, dan ia ditinggalkan oleh Natha dan Nasha yang saat itu menjadi teman kecilnya.
Nyatanya Harvey juga sama hancurnya.
Bahkan mungkin lebih hancur dari semua orang dibalik sosoknya yang begitu kuat.
Ia menangis dalam diam, hanya bahunya yang terlihat bergetar. Kepalanya menunduk dengan jari-jarinya yang menggenggam erat sebuah bingkai. Membuka ruangan ini sama saja membuka luka lamanya yang sudah susah payah ia tutupi. Bahkan tidak hanya ruangan, rumah ini pun membuatnya kembali merasakan sesak dan ia ingin sekali berteriak kencang.
Mungkin, kalau bukan karena ingin memancing ingatan Natha kembali serta perintah Papa yang menyuruhnya untuk mengambil seluruh barang peninggalan Hadley, Harvey tidak akan datang ke sini. Tidak akan pernah lagi. Di balik keindahannya, lake house terlalu menyedihkan untuk dikunjungi. Setiap sudutnya menyimpan kenangan berwarna yang kini telah menjadi abu-abu.
Di ambang pintu, Natha masih terdiam. Dalam matanya yang ia lihat hanyalah seorang anak laki-laki yang tengah duduk seperti sedang mengadu pada Kakaknya. Menangis cengeng seperti anak-anak pada umumnya. Tidak pernah Natha bayangkan kalau ia akan melihat sisi rapuh suaminya semenyedihkan ini. Harvey memendamnya begitu apik selama bertahun-tahun.
Langkahnya mendekat dengan perlahan, tangannya terulur memeluk Harvey, bersimpuh disamping suaminya seraya menatap figura yang disusun itu satu per satu. Natha tidak mengatakan apapun, hanya terdiam menemani Harvey yang tengah menangis mengeluarkan seluruh luka yang ia sembuhkan sendirian.
Kalau bukan karena suara celotehan Malvin yang begitu bersemangat menceritakan kegiatannya selama di lake house, ruangan itu mungkin akan terasa sunyi senyap. Anak itu duduk di atas ranjang tepat di sebelah Tanjung yang terus tersenyum mendengar kata per kata yang keluar dari mulut cucunya itu.
Sebuah box berukuran sedang tetap berada di posisi yang sama, tidak bergeser sama sekali dari sejak Harvey menaruhnya di sisi ranjang. Box yang berisi foto-foto Hadley dan barang-barang kesayangannya.
Nyatanya yang menaruh seluruh kenangan Hadley ke dalam box adalah Natha, karena Harvey benar-benar tidak bisa menyentuh barang-barang milik Hadley kembali. Terlalu banyak luka. Ia tidak ingin terlalu lama menangis dan membuat matanya bengkak, karena takut Malvin akan menyadarinya dan ikut bersedih. Anak laki-lakinya itu, memang begitu perasa.
“—banyak ikan yang ekornya cantik! Tapi kata Papa gak boleh Malvin ambil, katanya nanti yang punya marah. Memangnya siapa yang punya, Granpa? Aki Ujang?” Malvin bertanya dengan rasa penasaran. Masih memikirkan ikan-ikan cupang dengan ekor cantik yang tidak boleh ia bawa pulang itu. “Tapi tadi Malvin dikasih mainan sama Rendi! Mainannya dari bambu, ada lubang kecilnya, nanti di isi sama kertas basah terus piu-piu-piu! Mirip pistol.”
“Terus dimana mainanya? Kok gak Malvin tunjukin ke Granpa?”
“Oh iya!” Malvin menatap Natha. “Mainannya di mana, Papa? Masih di mobil ya?”
“Hayo, tadi terakhir Malvin taruh di mana?” Natha justru balik bertanya. Sengaja ia melakukan itu agar Malvin lebih bertanggung jawab dengan apa yang menjadi miliknya. “Papa gak pegang loh.”
“Kayaknya ada di meja depan, tadi gak Malvin bawa ke sini.” Malvin kemudian beranjak dari atas kasur. “Sebentar ya, Granpa. Malvin ambil dulu mainannya!”
Anak laki-laki itu segera bergegas keluar dari kamar. Natha menoleh ke arah Harvey sejenak sebelum akhirnya ikut bangkit dari atas kursi dan berjalan menyusul Malvin. Hanya tersisa Harvey dan Tanjung yang berada di sana. Membuat ruangan terasa begitu senyap dan canggung.
“Harvey,” Tanjung memangil pelan, menatap putranya yang masih tidak bergeming itu. “Thank you.”
Tidak ada sahutan. Harvey masih terdiam seperti sejak pertama ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar orangtuanya ini. Tidak tahu apa yang harus ia bicarakan pada Papanya sendiri. Emosinya sedang tidak stabil, takut-takut justru ia malah meninggikan suaranya ketika berbicara pada Tanjung.
“Thank you for brings Hadley home.” Senyum di wajah rentanya terlukis. “Papa rindu sekali dengan gadis kecil Papa.”
“Kalo gak ada yang mau Papa bicarain lagi, aku mau keluar. Jangan buka boxnya kalau ada Mama, jangan bikin Mama nangis lagi untuk kesekian kali.”
Hanya itu kata-kata yang Harvey ucapkan sebelum ia bangkit dari posisi duduknya, hendak keluar dari kamar. Tapi baru beberapa langkah, Tanjung kembali membuka suaranya.
“I know it’s all my fault, Harvey.”
Langkah Harvey terhenti.
“I ruins everything, I’m so sorry.”
“Better you take some rest, Pa. Jangan terlalu banyak pikiran.”
Setelahnya Harvey benar-benar melangkah keluar dari dalam kamar. Di ambang pintu ia berpapasan dengan Mama yang baru saja hendak masuk ke dalam, “Take some rest too, Ma. Aku sama Natha pamit pulang, udah malem juga. Malvin besok harus ke sekolah.”
Putranya itu ditatap teduh. Mama mengangguk, mengusap pundak Harvey lembut. “Hati-hati di jalan. Makasih ya sayang.”
Harvey sunggingkan sebuah senyum tipis sebelum melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan Natha dan Malvin.
Waktu menunjukan pukul dua pagi ketika Natha terbangun dan tidak menemukan Harvey di sisinya. Dengan keadaan yang masih sangat mengantuk, Natha turun dari kasur, menguap dan meregangkan tubuhnya sejenak sebelum keluar dari kamar. Ia sempatkan untuk mengintip Malvin sebentar, tersenyum saat melihat putranya yang begitu pulas tertidur dengan memeluk boneka beruang coklat pemberian Hazel.
Di bawah temaramnya cahaya, Natha menuruni anak tangga dengan perlahan. Sedikit bergidik takut menatap ruangan serta sudut-sudut gelap di dalam rumahnya. Ketika Natha dapati pintu yang mengarah ke arah teras belakang terbuka dan siluet seseorang terlihat samar dibalik tirai, ia tahu kalau itu Harvey.
Natha mengintip terlebih dahulu, dan di dapatinya Harvey yang sedang terduduk di atas ayunan dengan sebatang rokok yang terselip di antara kedua jarinya. Pandangannya lurus menatap ke depan, Natha tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya itu sekarang.
“Vey,”
Panggilan lembut itu membuat Harvey sontak menoleh, didapatinya Natha berdiri dengan wajah mengantuk. Ah, si cantik itu pasti terbangun dan mencari keberadaannya yang tiba-tiba menghilang dari atas kasur.
“Come here,” Harvey menepuk-nepuk pahanya dengan sebelah tangan, mengisyaratkan Natha untuk mendekat dan duduk di atas pangkuannya. Senyumnya merekah kecil ketika Natha benar-benar mendudukan diri di atasnya dengan posisi menyamping, kepala bersandar pada pundak. “Kenapa bangun, sayang?” Tanya Harvey kemudian.
“Lo tiba-tiba gak ada,” Sahut Natha hampir seperti gumaman, kelopak matanya terpejam ketika rasa nyaman menyelimutinya. “Ngapain disini?”
“Nothing. Just smoking.” Batang nikotin itu terhisap kembali, setelahnya asap menyatu pada udara malam yang dingin. “Sebentar, gua abisin rokok dulu.”
“Peach,”
“Hm?”
Hening menyapa sesaat, Natha tidak langsung menjawab. Ia menikmati bagaimana telapak tangan Harvey mengelus pinggangnya dari balik piyama satin yang ia pakai. Suasana begitu tenang, dan Natha pikir ini waktu yang pas untuknya mengeluarkan kata-kata yang ia tahan sejak memeluk Harvey di lake house siang tadi.
“Show me your scars,” Bisik Natha.
Kening Harvey mengkerut bingung. “What?”
“Show me your scars. I want to see how many times you needed me and I wasn’t there.”
Ucapan Natha membuatnya mendengus, Harvey menghisap kembali batang rokoknya lalu membuang asapnya perlahan. “You already saw it, baby.”
Jari-jari Natha meraih sebelah tangan Harvey, menggengamnya penuh rasa hangat. “If the world does not understand the way you burn, do not hide yourself away.” Kelopaknya terbuka, Natha menatap Harvey teduh. “The things that hurt you may have left scars, but it did not destroy you. You survived, peach. Kita gak selamanya harus terus menerus dituntut buat jadi kuat, ada kalanya kita harus lepasin semua luka yang kita punya. Bukan karena kita lemah, tapi karena kita harus bertahan. There is a strength behind every scars.”
Hening menyelimuti. Hanya suara-suara hewan malam yang terdengar saling bersahutan. Satu tarikan panjang pada batang nikotin teraih kembali, helaan nafas terdengar begitu berat setelahnya. Harvey memilih untuk mematikan rokoknya dan menaruh penuh seluruh atensinya pada Natha.
“It’s okay to cry out loud. You don’t need to hold it every times the pain comes to hit you. Just remember, lo bisa bertahan sampe sejauh ini udah termasuk pencapaian luar biasa yang lo lakuin untuk berdamai sama rasa sakit lo. Dunia emang gak pernah adil buat siapapun, Vey.” Natha usap harus permukaan punggung tangan Harvey dengan ibu jarinya. “Tapi dengan lo yang terus bertahan, lo udah jadi pemenangnya.”
“Nath,” Pandangannya menunduk, menatap manik bulat yang terlihat sayu karena mengantuk. Sorotnya yang tadi begitu datar kini goyah dan berganti dengan penuh permohonan. “Please stay with me. Don’t you ever think to left me again. I don’t mind if you being grumpy, stubborn, rebels, and mad or anything else at me all the time, but please … stay.”
Natha mengangguk tipis. Berganti mengusap helaian rambut Harvey yang turun menutupi dahi. “I’ll always stay.”
“Cukup Hadley yang pergi ninggalin gua, lo jangan.”
“Gua gak akan kemana-mana, Vey. Selalu di sini, sama lo.”
Pertama kalinya di sepanjang hidup, Harvey meminta seseorang untuk bertahan dengan begitu frustasi. Ia rengkuh Natha masuk ke dalam pelukannya. Erat sekali seperti tidak ada hari esok. Kali ini, ia tunjukan kembali sisi dirinya yang tidak pernah dunia lihat, sisi di mana semua lukanya berada.
Natha mengusap belakang kepala Harvey dengan penuh kasih, membiarkan wajah suaminya itu bersembunyi pada perpotongan lehernya. Harvey terlalu banyak menyimpan beban di pundaknya sendirian selama bertahun-tahun lamanya. Sedihnya, orang lain tidak boleh tahu. Natha sendiri tentu tidak bisa memungkiri jika apa yang tengah terjadi kini juga membuatnya ikut terluka.
“I miss her.” Harvey tercekat, napasnya terasa begitu sulit. “I miss my sister, Natha.”
Helaan nafas berhembus, Natha hanya bisa menganggukan kepalanya seraya memberikan ketenangan ketika bisikan Harvey terdengar samar. Perpotongan lehernya terasa basah, suaminya kembali menangis dalam diam. Natha gigit bibir bawahnya agar tidak ikut meloloskan air matanya. Kali ini ia yang harus menjadi lebih kuat, dan membiarkan sosok anak kecil yang bersemayam jauh di dalam diri Harvey bersandar padanya.
No one knows how much he cried after that day.
“Gua bahkan lupa gimana suara dia, Nath. I always trying to remember, but I can’t.”
Bagian yang paling memilukan dari kehilangan seseorang adalah, saat di mana kita sampai pada tahap lupa bagaimana suaranya terdengar. Waktu di mana kita bisa mengedengar suara mereka dengan begitu jelas, kini berganti dengan bagaimana mengingat seperti apa suara mereka pernah terdengar.
“I really miss her so much. I miss Hadley. But there is nothing I can do.”
Lalu bagian yang paling menyedihkannya adalah, saat dimana kita merindukan seseorang yang sosoknya sudah tidak lagi berada di dunia. Rindu yang tidak pernah terbalas. Rindu yang hanya bisa dilampiaskan oleh jutaan untaian doa pada mereka yang telah berpulang lebih dulu.
Angin dingin perbukitan berhembus, menyapa kembali keduanya yang masih berpelukan erat di atas ayunan. Usapan lembut yang menangkan tetap Natha lakukan, sesekali ia berikan kecupan tipis pada pelipis Harvey sampai akhirnya pelukan terlepas, jejak air mata dihapus dengan ibu jari, dan bibir mereka bertemu dalam sebuah pagutan lembut.
Natha mengerti, Harvey lah yang selama ini menyimpan luka begitu menganga di dalam hatinya. Luka yang mungkin tidak bisa sepenuhnya sembuh hingga akhir hayatnya nanti. Tidak ada yang tahu seberapa banyak Harvey kecil menangis di tengah heningnya malam, seberapa banyak ia meraung putus asa akan keinginannya agar Hadley kembali. Batin kanak-kanaknya terluka lebih parah dari yang lain.
Karena kala itu, Harvey hanyalah seorang anak kecil yang belum sepenuhnya mengerti apa yang sudah terjadi, yang dirinya tau hanyalah … Hadley pergi, begitupun dengan Natha dan Nasha. Ia ditinggalkan sendirian.
Mungkin malam itu mereka tidak menyadari, dan mereka tidak bisa melihat kalau Hadley juga ada di sana, mengusap-usap kepala Harvey yang tengah menangis dengan lembut, seperti seorang Kakak yang sedang menenangkan adik kecilnya.
’Maaf.’
Ia berbisik sendu, namun suaranya tidak mungkin bisa Harvey dengar.
. . .
And maybe, Just maybe, In another universe, Those four kids still play together, Make handprints on the wooden walls in the lake house, And remember it together when they were grew up.