Natha masuk kembali ke dalam club dengan pakaian yang berbeda. Setelah ditinggalkan Deon dan Ellio berganti baju, Natha yang tadinya masih merasa bimbang akhirnya menyusul ke dua temannya untuk memakai pakaian yang lebih tetutup sedikit. Karena bagaimana pun, mereka datang di club baru yang belum pernah sama sekali mereka injak. Kalau kata Ellio, mencoba hal baru itu menyenangkan.

Lebih menyenangkan dari membuat kulit risol setiap hari.

Croptop kesayangannya Natha lempar ke atas sofa, lalu mendudukan dirinya kembali disana. Ekspresi wajahnya merengut masam, menatap Deon serta Ellio yang kini sudah mulai meneguk cairan putih digelasnya masing-masing.

Bungkus rokok terlempar ke arah Natha, Deon menatap sahabatnya yang belum menyentuh minumannya sama sekali. “Udah ilah, sekali doang. Besok kita ke club biasa aja biar lu bisa pake croptop-croptop kesayangan lu.”

Natha membuang nafasnya berat, ia mengambil gelasnya lalu meneguk cairan yang ada dalam satu shoot. Menyerahkan kembali bungkus rokok itu pada Deon. “Lagi gak mood.”

“Udah, minum aja kalo gitu. Enjoy aja sih, Nath. Lu malah lebih seksi pake kemeja kegedean gitu.” Puji Ellio, berusaha membuat suasana hati Natha kembali membaik.

“Ini kemeja siapa deh? Kok ada di mobil lo?” Tanya Natha, ia menuangkan isi dari dalam botol berwarna kuning keemasan itu. “Tumben banget soalnya lo bawa kemeja, masih baru lagi.”

Ellio menaikan bahunya acuh. “Lupa. Kayaknya waktu itu gua beli buat dikadoin, tapi gak jadi gua kasihin.”

Natha hanya menganggukan kepalanya. Satu gelas, dua gelas, hingga cairan di gelas ke lima sudah masuk ke dalam tubuhnya. Masih ada tiga botol lagi di atas meja, mereka memang sengaja memesan lebih banyak minuman malam ini hitung-hitung menghibur Ellio yang sedang patah hati.

Jangan khawatir, mereka bertiga memiliki toleransi yang lumayan pada alkohol. Namun tidak memungkinkan untuk Natha yang terkadang bisa langsung hangover di gelas ke tujuh atau sepuluh.

Mood Natha yang tadi sempat memburuk perlahan kembali membaik. Ia kini sudah mulai tertawa sambil bersulang dengan Deon serta Ellio. Kemeja hitam kebesaran yang dipakainya malah membuat Natha terlihat semakin mempesona, ditambah ia tidak mengancingkan dua kancing teratasnya.

Natha mungkin tidak mengetahui jika ada campur tangan Harvey disini, dan juga tidak mengetahui jika suaminya itu diam-diam memperhatikan setiap pergerakannya dari lantai dua club. Matanya bergerak seperti elang yang sedang memburu mangsa.

Harvey tidak akan membiarkan tubuh Natha kembali menjadi tontonan banyak orang lagi. Tidak akan pernah.

Semua pengunjung club memang sengaja Harvey beri perintah untuk memberikan tatapan tidak menyenangkan pada ketiganya, berharap Natha mengganti pakaiannya dengan yang lebih tertutup. Tentu saja itu hal mudah bagi Harvey. Club ini berada dibawah naungan namanya, bukan tidak mungkin ia bisa mengatur semua orang yang berada di dalam sini.

Termasuk Natha.

Jika dipikir bagaimana Harvey bisa tahu kalau Natha akan datang kemari, mungkin Deon dan Juna memiliki andil disini. Hanya dengan menyuruh Juna berbasa-basi dengan Deon, Harvey dapat dengan mudah mencari keberadaan Natha.

Punggungnya bersandar pada single sofa yang menghadap langsung pada lantai dasar club. Tentu saja hanya terhalangi oleh kaca film oneway yang membuat Natha tidak bisa menyadari keberadaanya. Lantai dua memang menjadi tempat yang cukup private, hanya orang-orang tertentu serta yang sanggup membayar harga lebih lah yang bisa naik kesini.

Beruntungnya lagi, Natha mengambil meja yang begitu strategis. Membuat Harvey bisa memantau pergerakan Natha sekecil apapun itu.

Harvey gunakan sebelah tangannya untuk membuka satu lagi kancing kemeja satin hitam yang dipakainya. Tidak terlalu ketat, namun mencetak jelas tubuh proposional Harvey dengan tatto tribal yang mengintip dari celah, serta lengan kemeja yang tergulung hingga siku seperti yang biasa ia lakukan. Dan jangan lupakan potongan rambut dengan model undercut menambah point plus Harvey malam ini.

“You falling too deep for him.”

Kepalanya menoleh, menatap salah satu pegawainya yang kini sedang menuangkan minuman pada gelasnya kembali.

“Of course,” Harvey mendengus geli. “That little brat, is my husband.”

Pegawai bernama Sarah itu tersenyum, sebelah tangannya mengelus pundak Harvey. “He's so pretty. The stunning doll.”

Senyum bangga Harvey tercipta. Ia menolehkan kepalanya lagi untuk menatap Natha yang kini sudah mengangat gelasnya tinggi-tinggi, lalu kembali tertawa bersama kedua temannya itu.

“What do you think about him?”

“Nothing. Just pretty at all.”

Lagi-lagi Harvey mendengus geli. “You get your holiday, Sarah. Tell Jonas do not impregnate you first, you still had your contract.”

Sarah terpekik senang, ia mengelus pundak Harvey sekali lagi sebelum mengucapkan terima kasih. Perempuan dengan dress merah yang begitu minim itu akhirnya berlalu, meninggalkan Harvey sendiri.

Gagang gelas Harvey raih, namun ia tidak langsung meminumnya. Ia naikan sebelah kakinya untuk bertumpu pada kakinya yang sebelah lagi, wajahnya terangkat angkuh, mata elangnya tetap memperhatikan Natha yang begitu menggairahkan di bawah sana.

“Natha Tanjung.” Gumam Harvey pelan, seringai tipis muncul diwajahnya. “It's better than Dimitri.”

Suara intro musik dimulainya 'It's time for the party' membuat Natha bangkit dari duduknya, begitu pula Deon serta Ellio. Seperti biasa, Natha selalu membawa gelasnya turut serta menuju dance floor, itu seperti sudah menjadi kebiasannya setiap saat.

Pinggul Natha mulai meliuk pelan, ia sibak rambutnya kebelakang kemudian tertawa sambil merangkul pundak Ellio. Semakin kakinya melangkah ke arah panggung utama, semakin tinggi juga rasa kesenangan dalam dirinya.

Namun kali ini, tidak ada satupun pengunjung lain yang mendekatinya. Tidak seperti ketika ia berada di club yang biasa ia kunjungi, satu atau dua penggunjung lain pasti mendekat ke arahnya jika Natha sudah mulai kehilangan kendali di atas dance floor.

Tentu saja Natha tidak akan menyadarinya, ia sudah berada terlalu tinggi akibat hampir satu botol alkohol yang diteguknya. Suara hik pelan sesekali mengalun dari bibir Natha. Tapi belum ada tanda-tanda Natha ingin menyudahi acara minumnya.

Ketiganya mulai menggila, meloncat-loncat mengikuti irama musik yang semakin menarik mereka untuk bergoyang. Lebih liar dari malam sebelumnya. Baik Natha, Deon, maupun Ellio hampir kehilangan kesadaran mereka masing-masing.

Menit ke menit berlalu, semua orang berteriak begitu DJ menyuruh mereka untuk bersorak. Natha sempat terjauh beberapa kali karena tersenggol pengunjung lain, namun ia hanya tertawa, dan kembali bangkit dengan tubuh yang sudah sempoyongan.

Menyadari Natha sudah berada diambang batasnya, Harvey menghentikan kegiatannya menonton Natha dari lantai atas. Ia bangkit dari kursinya, menaruh gelasnya terlebih dahulu sebelum kaki jenjangnya melangkah cepat menuju tempat dimana Natha berada.

Harvey sempatkan untuk memperintahkan salah satu bawahannya agar turut serta menarik dua teman Natha dari dance floor. Mungkin setelahnya, Harvey akan meminta tolong bantuan Juna dan Eric untuk mengurus Deon serta Ellio.

Begitu Harvey sudah mendekat ke arah panggung utama, pengunjung lain secara otomatis menyingkir, memudahkan Harvey untuk menarik Natha menjauh dari sana.

“Oh?” Natha tersentak dengan mata sayunya ketika Harvey menarik tangan kanannya, ia kemudian terkekeh. “Harvey's here!” Pekiknya girang.

“C'mon, baby.” Harvey merenguh tubuh suami cantiknya itu, kedua tangannya terselip di bawah ketiak Natha lalu mengangkat tubuh Natha dan menggendongnya sama seperti apa yang pernah ia lakukan. Satu tangannya menepuk sebelah pantat Natha. “Naughty doll.”

Natha terkekeh, kedua tangannya mengalung erat di leher Harvey. Kepalanya tersampir di pundak suaminya itu, dengan kelopak mata yang kini terbuka setengah. Pipinya begitu merah, aroma alkohol menguar begitu kuat. Kesadarannya tinggal beberapa persen lagi.

Tanpa membuang waktu lama, Harvey bawa Natha menuju salah satu kamar mandi. Ia harus membantu si cantik itu mengeluarkan alhokol dari dalam tubuhnya. Tidak ingin membuat Natha merasakan efek yang parah akibat terlalu banyak alkohol yang dicerna.

Natha terduduk di lantai kamar mandi yang kering, punggungnya bersandari pada tembok yang dingin. Ia berulang kali limbung, membuat Harvey menaruh tangannya di sisi kepala Natha untuk menahannya.

Sebelah tangan Harvey meraih tissue yang menggantung di dinding, mengelap permukaan toilet dan melapisinya dengan beberapa lembar tissue terlebih dahulu.

Rasa mual Natha tiba-tiba naik semua kepermukaan, namun tidak ada apapun yang keluar dari dalam mulutnya. Seperti itu berulang kali, diselingin dengan kekehannya yang mengalun pelan. Pipinya ditepuk pelan oleh Harvey, namun Natha hanya bisa terkekeh sebagai respon.

Harvey tarik kepala Natha mendekat ke arah pinggiran toilet. Satu tangannya mencengkram rahang Natha agar ia membuka mulutnya, lalu dua jarinya masuk ke dalam mulut Natha untuk memancing rasa mual Natha kembali.

“Throw up it, Nath.” Harvey berbisik dengan suara beratnya, matanya menatap wajah Natha yang memerah. “You're really wild.”

Metode itu berhasil membuat Natha mengeluarkan cairan alkohol yang berada di dalam tubuhnya. Harvey lakukan itu sebanyak hampir empat kali, memastikan Natha tidak terlalu banyak mencerna alkohol.

“Harvey, Harvey.”

Suara Natha mengalun begitu pelan, hampir berbisik. Ia mengangkat wajahnya, berusaha menatap Harvey dengan sepasang mata sayunya. Satu tangannya naik, berusaha meraih wajah Harvey, lalu Natha kembali terkekeh.

“Mau Harvey.”

Seringai di wajah Harvey tercetak begitu jelas, ia membersihkan mulut Natha terlebih dahulu. Mengelap bibir berkilauan milik Natha dengan tissue, lalu baru membersihkan tangannya.

“Apa? Mau apa, sayang?”

“Mau Harveyyyy!!” Suara Natha meninggi, alisnya mengkerut menatap Harvey dengan tatapan protesnya. Kedua tangannya terulur, berusaha meraih tubuh Harvey untuk dipeluk. “Gendonggg!!” rengeknya.

Harvey mengangkat kembali tubuh Natha, mendekapnya dalam pelukan. Kepala Natha kembali bertumpu pada pundaknya, wajah cantik itu terbenam di perpotongan leher Harvey.

Kekehan pelan kembali mengalun dari bibir Natha, ia mengecupi permukaan kulit leher Harvey lalu menggesekan ujung hidungnya disana. Terpekik senang seperti seorang anak kecil mendapatkan mainan baru.

“Ugh,” Natha meleguh pelan begitu Harvey meremas bongkahan pipi pantatnya gemas. Kaki jenjang Harvey berjalan keluar dari toilet. “Harveyyyy.”

“Yes, baby?” Pipi Natha dikecup dua kali oleh Harvey. Ia melangkah menuju salah satu lift yang berada di sudut tersembunyi, berniat langsung membawa Natha menuju bagian lantai atas gedung yang menjadi area pribadi miliknya.

Kepala Natha menggeleng, ia eratkan rengkuhannya pada leher Harvey, jangan lupakan kedua kakinya yang juga turut menjepit tubuh Harvey kuat. “Natha mauuuuu!!”

“Mau apa, cantik?”

“Mau Harvey, hehehe.”

Seringai Harvey kembali tercipta, ia kecup bibir Natha berulang kali selagi menunggu pintu lift terbuka. Membuat Natha terkekeh girang. Begitu box besi itu terbuka, Harvey langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift.

Bibirnya Harvey dekatan pada telinga Natha, berbisik lirik dengan suara beratnya. “I'm yours, Natha.”

Natha kembali terkekeh, ia mengusak ujung hidungnya pada leher Harvey lagi. Satu tangannya turun, ujung telunjuknya bergerak melingkar di atas punggung Harvey.

“Fuck you.” Bisik Natha lirih, senyum diwajahnya tetap mengembang. “Ugh, Natha suka dimarahin sama Harvey, Natha mau nakal aja.”

“Hm?” Harvey berdengung, melirik wajah Natha dengan ujung matanya. “Kenapa gitu?”

“Gatauuu.” Natha menggeleng, semakin merapatkan kakinya menjepit tubuh Harvey. Suara hik kembali terdengar. “Natha mau cerai!”

Alis Harvey setika mengkerut mendengar ucapan Natha barusan. Ia usap punggung Natha, ekspresi wajahnya langsung berubah datar. Menunggu Natha kembali melanjutkan racauannya.

“Natha mau cerai, soalnya, soalnya Harvey jelek! Harvey suka ngatur-ngatur Natha!” Punggung tegap itu Natha cubit pelan, dan ia malah terkekeh lagi. “Tapi, tapi Natha juga suka di atur-atur, hehehe.”

Tawa Harvey seketika menggema, membuat Natha menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Harvey dan menatap galak ke arah Harvey. Satu tangannya bergerak menutup mulut Harvey yang masih tertawa itu.

“Gaboleh ketawa! Siapa yang suruh ketawa?” Kata Natha galak dengan bibir bawahnya yang maju beberapa senti. “Jangan ketawa!”

“No, baby. Gak ada yang ketawa.” Sahut Harvey sambil menyingkirkan telapak tangan Natha dari depan mulutnya, lalu senyum tipisnya merekah. “Natha mau cerai sama Harvey?”

Natha mengangguk, tapi setelahnya ia menggeleng. “Mau! Tapi nanti, ugh, nanti aja selesai Ellio bikin kulit risol!”

“Ellio gak akan selesai bikin kulit risol, sayang.” Bisik Harvey lirih, lift berhenti pada lantai paling atas. Harvey bawa kakinya melangkah keluar dari lift. “Gak akan pernah selesai.”

“Kenapa? Kulit risolnya unlimited ya?”

Harvey tekan kepala Natha untuk mendekat kembali ke arah ceruk lehernya, dan Natha langsung menyamankan posisinya kembali disana.

“You can't stay away from me, Natha.” Seringai di wajah Harvey kembali tercipta, langkahnya berhenti di depan salah satu pintu, memasukan passcode lalu berjalan masuk ke dalam kamar. “Never.”

Kamar yang didominasi warna hitam ini menjadi ruangan pribadi milik Harvey. Tidak ada yang yang pernah Harvey bawa masuk kesini selain Natha. Bahkan mantan-mantan pacarnya dulu pun hanya bisa menginjakan kaki sampai di lantai dua.

Harvey mendekat ke arah ranjang, mendudukan dirinya di bagaian depan ranjang yang menghadap langsung pada kaca besar disebrangnya. Wajah Natha ia jauhkan dari ceruk lehernya, mata Harvey menatap setiap detail wajah Natha yang begitu cantik.

“Harvey suka sama Natha ya?” Tanya Natha, mata bulatnya yang berbinar terkena pantulan cahaya menatap lurus ke arah Harvey. “Iya, enggak?”

Tidak ada sahutan dari Harvey, hanya senyum tipisnya yang kembali tertarik. Satu tangan Harvey menekan tengkuk Natha, membawa kepala Natha mendekat ke arahnya.

Bibir Harvey tepat berada di samping telinga Natha, ia berikan satu kecupan ringan disana. “More than that, baby. I'm so into you.”

“Kenapa?”

“Kenapa apanya?”

“Kenapa Harvey suka sama Natha?” Satu tangan Natha naik menyentuh sisi kepala Harvey, suara hik kembali terdengar sebelum bibirnya mengerucut lucu. “Kan Natha nakal.”

“Kata siapa Natha nakal, hm?” Tanya Harvey lembut, ia benarkan posisi duduk Natha di atas pangkuannya.

Natha menggeleng. “Engga tau.”

Harvey mendengus geli, “Berarti Natha gak nakal, dan kalo mau nakal, nakalnya harus sama Harvey, gak boleh yang lain. Natha paham?”

“Ung, paham.” Kepala Natha mengangguk tipis, telunjuknya kemudian menyentuh bibir bawah Harvey. “Natha mau cium ini, boleh?”

“Of course, baby. I'm all yours.”

Pekikan girang Natha keluarkan, ia kemudian mengecup bibir di hadapannya berulang kali dengan senyum lebar. Pusing yang ia rasakan tumpah ruah bersama kesenangan yang membuncah. Dua tangannya kemudian mencengkram pundak Harvey sebelum dengan begitu tergesa mengulum bibir Harvey.

Harvey biarkan Natha yang mengambil kendali, hitung-hitung membuat Natha merasa senang dengan apa yang ia lakukan. Harvey hanya berusaha menyeimbangi pergerakan bibir Natha di atas bibirnya.

Kedua mata mereka terbuka, menatap satu sama lain dalam jarak yang begitu dekat. Ujung hidung masing-masing menggesek pipi, nafas beradu, tubuh saling menyentuh rapat.

Harvey bawa dua tangannya untuk menyentuh pinggul Natha yang bergerak tipis, selagi Natha mengulum bibir atasnya, Harvey bergerak mengulum bibir bawah Natha. Rasa alkohol masih begitu kuat disana, tapi itu yang malah membuat ritme permainan bibir mereka semakin meningkat.

Kepala Natha menjauh begitu nafasnya sudah mulai memendek, sebelah tangannya naik, mencengkram rambut bagian belakang Harvey sebelum akhirnya kembali mencium bibir suaminya itu.

Nafas Harvey memberat, ia tarik kepala Natha menjauh terlebih dahulu sebelum ia membuka kemejanya dengan cepat. Tubuh proposionalnya terpampang jelas dihadapan Natha, lalu Harvey sambar kembali bibir Natha yang mulai membengkak.

Pinggul Natha bergerak di atas pangkuan Harvey, menggesek bagian bawah tubuh keduanya, seakan-akan sedang bergoyang kembali di dance floor. Sebelah tangan Harvey menyusup masuk ke dalam kemeja kebesaran yang digunakan Natha, mengelus punggung Natha pelan.

Mulut keduanya terbuka, lidah saling membelit tidak mau kalah. Deru nafas berat mulai terdengar dari detik ke detik, karena mereka berdua memang mendamba sentuhan satu sama lain.

Disela-sela ciuman, Harvey sempatkan untuk membuka seluruh kancing kemeja yang Natha gunakan, namun tidak melepasnya. Membuat bagian depan tubuh mereka menempel tanpa halangan.

“Ugh,” Natha meleguh begitu Harvey meremas pantatnya kuat, wajahnya kemudian menjauh, membuat benang saliva memanjang dari bibirnya dan bibir Harvey. “Harvey, Harvey.”

Tangan Harvey yang berada di punggung Natha berpindah posisi, ia gunakan ibu jarinya untuk mengelap bibir Natha yang membengkak. “Yes, pretty? Need something?”

Natha menggeleng, ia lalu mendekatkan kepalanya ke arah leher Harvey, mencium aroma maskulin yang begitu kuat dari sana. Kecupan-kecupan ringan Natha berikan dipermukaan kulit Harvey.

Dua tangannya Harvey bawa untuk menyibak kemeja Natha hingga menampilkan pundak serta setengah punggungnya. Kepalanya bertumpu di pundak Natha selagi si cantik itu memberikan ruam-ruam merah di lehernya.

“Natha,” Harvey menggeram begitu Natha mengigit bagian bawah kupingnya, memberikan tanda disana. “Calm down, baby. Slowly.”

Bibir Natha memang langsung lebih pelan dari sebelumnya, namun pinggulnya tetap bergerak tidak mau diam. Membuat Harvey menaruh kembali kedua tangannya di masing-masing sisi pinggul Natha.

Kepalanya yang bertumpu pada pundak Natha membuat Harvey bisa melihat dengan jelas pantulan tubuh mereka dari dalam cermin besar. Matanya memperhatikan tubuh yang lebih kecil dari tubuhnya itu, bergerak begitu sensual seperti seorang penari strip.

Higabana milik Natha terpampang dengan jelas. Tinta berwarna merah itu begitu kontras dengan kulit Natha yang putih bersih.

Bunga kematian yang sangat cantik, sama seperti Natha.

Sebagai lelaki dengan kondisi tubuh yang sehat, bukan tidak memungkiri jika Harvey merasakan tubuh bagian selatannya memanas. Jadi sebelum itu semua terjadi, Harvey tahan pergerakan pinggul Natha. Membuat Natha menghentikan kegiatannya dan menatap lurus ke arah Harvey dengan mata mengantuknya.

Karena bagaimana pun, sekuat apapun Harvey mendamba tubuh Natha mendesahkan namanya kuat di bawah kukungan tubuhnya, Harvey tidak ingin mereka melakukannya dalam keadaan salah satu dari mereka tidak sadarkan diri. Semuanya harus jelas. Itu akan lebih sempurna.

“Doll.” Panggil Harvey pada Natha yang terdiam.

Tapi Natha tidak mengucapkan sepatah katapun, hanya menatap Harvey yang kini menampilkan ekspresi bingung. Kelopak matanya mengedip lambat, seperti seseorang yang sebentar lagi akan jatuh ke alam mimpi.

“Kenapa, sayang?” Tanya Harvey lembut, tangannya kemudian mengusap pipi Natha pelan.

Natha menggeleng, kemudian menaruh kepalanya kembali di pundak Harvey, kelopak matanya terpejam. “Ngantuk.”

Mata Harvey melirik jam yang berada di meja nakas samping kaca, menampilkan pukul setengah tiga pagi. “Natha ngantuk?”

Anggukan Natha berikan sebagai jawaban, ia menyamankan posisinya di atas pangkuan Harvey. Sebelah tangan Harvey kemudian Natha ambil, ia taruh pada bagian belakang tubuhnya.

“Usap-usap lagi.” Rengeknya.

Harvey mendengus geli, ia menuruti apa yang Natha inginkan. “Kayak gini?”

“Hu-uh.” Natha kembali mengangguk. “Jangan berhenti sampe Natha bobo.”

“As you wish, pretty.”

Usapan tangan Harvey terus ia lakukan hingga ia bisa rasakan nafas Natha mulai berhembus teratur. Bobot tubuh Natha bertumpu sepenuhnya pada Harvey, dengan dengkuran pelan yang mengalun dari celah bibir Natha yang terbuka kecil.

Harvey ubah posisi Natha dengan perlahan, benar-benar sangat pelan karena takut Natha terbangun kembali. Ia membaringkan tubuh Natha di atas kasur, ikut menyamankan dirinya di sisi Natha lalu menarik selimut hingga sebatas pinggang.

Posisinya Harvey hadapkan pada Natha, tangan kanannya menopang kepala. Matanya kembali memperhatikan setiap inchi wajah Natha, iseng, Harvey sentuh ujung hidung Natha dengan telunjuknya.

“Natha,” Harvey kecup pipi Natha singkat. “Dimitri has gone. You've been changed your last name to Tanjung forever.”

Natha meleguh pelan ketika Harvey berganti menyentuh kelopak matanya. “Gua cuman pengen nikah sekali seumur hidup gua, Nath. Dan kalo lo kira pernikahan ini cuman main-main, ayo gua liat sampe sejauh mana lo mau bermain.”

Tangan Harvey kemudian menjauh dari wajah Natha, bergerak merengkuh pinggang Natha dan kemudian menyamankan posisinya sebelum menyusul suami cantiknya itu masuk ke alam mimpi.

Lalu ketika jam di nakas sudah berganti menunjukan angka sepuluh lewat enambelas, Natha terbangun dengan teriakannya yang menggema memenuhi penjuru kamar. Membuat Harvey tertawa sambil memperhatikan Natha yang kalang kabut sendiri.

Terlebih ketika Natha menyadari ada beberapa ruam merah di leher Harvey bekas ketidaksadarannya pagi buta tadi.