𝙈𝙀𝙇𝘼𝘽𝘼𝙉𝙂 𝘼𝙒𝘼𝙉
Biru membentang dengan gumpalan-gumpalan awan yang berarak pelan. Menjadi tudung yang nyaman bagi lapang dan ladang di bawahnya. Terik matahari samar-samar merayu, sengatannya hanya berlalu dari detik lantas teduh. Insan-insan Tuhan yang turut menjalankan kehidupan terus menunaikan aktivitas, termasuk Awan dengan kegiatannya nan luar biasa genting, tiada pilihan untuk tidak menunaikannya. Maka disinilah ia, dari atas atap dan penuh percaya menjadikannya pembaringan yang nyaman, seolah nyawa bisa dibelinya kembali ketika sang ibu melangkah ke pasar. Himawan duduk bersila dengan buku sketsa di pangkuan, melahirkan dunia baru yang banyak orang tak mengerti. Dengan usianya yang baru menginjak tujuh tahun, bagaimana alat berpikirnya bekerja suah lebih magis dari kawan sebaya. Coretan pensil di kertas menciptakan bentuk-bentuk awan: naga berapi, kapal layar, bahkan istana megah di atas langit.