⚜
Stir mobil berputar ke arah kiri, Harvey menolehkan kepalanya mencari keberadaan bengkel yang Natha maksud. Begitu menemukan apa yang dicari, lampu sen kiri menyala, mobil hitam itu menepi di sebrang jalan tepat di depan bengkel.
Harvey mendengus geli begitu melihat Natha yang kini sedang asik duduk di depan tukang rujak buah, terlalu sibuk mentap ke arah potongan buah segar tanpa menyadari jika Harvey kini sudah berada di sebrang jalan.
Mesin mobil dimatikan, Harvey menolehkan kepalanya ke belakang sebelum membuka pintu mobil. Begitu keadaan cukup aman, ia baru keluar dari mobil dan menolehkan kembali kepalanya ke kanan dan ke kiri sebelum menyebrang. Kakinya kemudian berjalan mendekat ke arah Natha yang belum sama sekali menyadari keberadaannya.
“Natha.”
Plastik mika yang berisi potongan buah-buahan itu hampir saja terjatuh jika Natha tidak memiliki refleks yang bagus. Kepalanya mendongkak, menatap ke arah Harvey yang sudah berdiri di sisinya dengan pipi yang menggembung.
“Mau ini?” Tawarnya pada Harvey dengan wajah polos, seakan-akan melupakan kejadian marah-marahnya dengan Harvey. “Enak.”
Potongan buah mangga masuk ke dalam mulutnya. Natha berdehem pelan untuk menghindari rasa gugupnya akibat tatapan Harvey yang begitu datar. Mengabaikan hawa-hawa tidak mengenakan yang menguar dari tubuh Harvey.
'Ini orang kayaknya marah sama gua deh' batin Natha.
Harvey tersenyum singkat, kepalanya menggeleng tipis. “Thanks. Mobil lo apanya yang rusak?”
“Gatau, belum di cek sama mekaniknya.” Natha menolehkan kepalanya sekilas ke arah bengkel. “Masih rame, tapi kayaknya kena alternatornya deh. Pas mogok tadi bau karet kebakar.”
“Udah bilang sekalian diservis?” Tanya Harvey lagi, ia menggeser tubuhnya sedikit ke depan Natha agar Natha tidak langsung berhadapan dengan jalanan yang sedang ramai. Natha menggelengkan kepalanya. “Bilang sekalian. Minta cek semua komponen biar dipakenya enak.”
“Nanti dulu, mau abisin ini.” Natha menunjuk rujaknya yang masih sisa setengah. “Lama gak ya kira-kira?”
“Mau pulang dulu aja?” Tawar Harvey. “Kalo emang gak memungkinkan selesai malem ini, besok pagi diambil.”
“Terus gua ke toko gimana besok?” Tanya Natha, kepalanya menunduk karena pegal. Terlalu lama menatap wajah Harvey yang berada di atasnya. “Mana harus pagi-pagi soalnya banyak pesenan.”
“Gua anter.” Sahut Harvey singkat. “Get up, Natha.”
“Hah?”
“Get up. Tell the mechanic you'll pick up your car tomorrow.”
“Belum abis, sabar sih!”
“Natha.”
Natha berdecak, Harvey ini benar-benar keras kepala. Ia kemudian bangkit dari duduknya dengan wajah masam, mika yang berisi rujak buah itu ia tutup terlebih dahulu.
Namun sebelum kakinya melangkah, sebelah tangan Harvey terulur dan membenarkan posisi kaos v-neck yang digunakan Natha agar tidak terlalu mengekspos dadanya. Natha sedikit tertegun tapi ia tidak mengucapkan sepatah katapun. Begitu Harvey menarik tangannya kembali, barulah Natha melangkahkan kakinya ke arah bengkel.
Tidak butuh waktu lama untuk Harvey menunggu Natha berbincang dengan mekanik. Kaki Natha menghentak-hentak setiap langkahnya, mungkin masih merasa kesal. Ia kemudian berdiri di hadapan Harvey masih dengan wajah masam.
Belum sempat ia membuka mulut, Harvey langsung meraih sebelah tangannya. Menggenggamnya erat hingga Natha tiba-tiba panik sendiri.
“Mau ngapain?”
“Pulang.” Kata Harvey sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, bersiap untuk menyebrang.
“Bentar! rujaknya belum dibayar!”
Harvey menoleh sekilas ke arah Natha yang kini meringis. Tanpa melepas genggamannya, Harvey mendekat ke arah penjual buah, mengeluarkan selembar uang pecahan limapuluh ribu lalu memberikannya pada pedagang rujak.
“Sebentar mas, kembaliannya.”
“Gapapa pak, gak usah. Buat bapak aja.” Harvey tersenyum ke arah pedagang buah, ia kemudian langsung menarik Natha begitu jalan dirasa aman untuk menyebrang.
Natha berulang kali mencoba melepaskan genggaman tangan Harvey namun sepertinya sia-sia. Harvey tidak membiarkan tangannya untuk lepas, membuat Natha langsung di serang rasa takut.
“Harvey! Lepas!” Katanya berusaha galak. Namun begitu Harvey menoleh singkat ke arahnya, Natha langsung menelan ludahnya gugup. “M-maksudnya jangan kenceng-kenceng megangnya! Sakit!”
Genggaman tangannya sedikit Harvey kendurkan. Begitu ia sampai di sisi mobil bagian penumpang, pintu mobil langsung dibukanya, genggaman tangan mereka terlepas.
“Masuk, Nath.”
Natha mendengus jengkel. “Bawel.”
Gerutuan kecil masih saja keluar dari bibir Natha, bahkan ketika Harvey sudah duduk dikursi kemudi. Mesin mobil kembali menyala, sen sebelah kanan mengedip, begitu jalanan sudah cukup lenggang baru Harvey memutar balik mobilnya dan berjalan pulang.
Selama perjalanan yang memakan waktu hanya 10 menit, Harvey dan Natha sama-sama terdiam. Atmosfer di dalam mobil berubah menjadi tidak mengenakan. Baik Natha maupun Harvey seakan-akan mengibarkan bendera perang tak kasat mata.
Kali ini pintu gerbang rumah di buka oleh asisten rumah tangga baru, seorang ibu-ibu yang mungkin berada di usia kepala empat. Mungkin belum sempat pulang tepat waktu karena ini hari pertamannya bekerja.
Begitu mobil sudah berhenti di garasi, Natha langsung membuka pintu mobil, namun tidak bisa terbuka karena Harvey masih menguncinya.
“Buka pintunya.” Kata Natha dengan nada jutek. “Harvey!”
Harvey menoleh ke arah Natha, sorot matanya menatap tajam Natha yang masih saja berusaha membuka pintu. “Pintu mobil gua bisa rusak kalo terus lo gituin.”
“Ya makanya buka!” Sentak Natha, “Kenapa sih elah, jangan ngeselin deh.”
“Ada kaca di atas kepala lo.” Suara Harvey mengalun datar. “Lain kali, kalo emang mau pake derek, kabarin. Jangan bikin orang khawatir.”
Sebelah alis Natha naik, alisnya mengkerut. “Inget kita cuman temen.”
“Bukan masalah temen atau apa,” Harvey hadapkan tubuhnya ke arah Natha. “Kalo lo kenapa-kenapa dijalan, yang ditanya duluan sama orangtua kita pasti gua, Natha, yang tanggung jawab pasti gua.”
Natha terdiam, ia alihkan pandangannya ke arah lain yang penting tidak menatap ke arah Harvey. Tangannya yang masih memegang handle pintu perlahan di lepasnya.
“Jangan karena kita emang sepakat buat jadi temen lo bisa seenaknya, Natha Dimitri.” Harvey membuang nafasnya berat, “Lo juga harus sadar sama sikap lo, sama kelakuan lo. Gua gak pernah pengen lo dapet musibah atau hal buruk apapun itu, tapi kalo semisalkan lo lagi gak beruntung gimana? Akhirnya gua juga yang harus tanggung jawab karena gimana pun gua suami lo.”
Kepala Natha menunduk, mulutnya tiba-tiba kelu. Giginya bergemeletuk, ujung kukunya bertemu dengan ujung kuku lainnya. Masih bingung harus mejawab ucapan Harvey dengan apa.
“Liat gua.”
Nada suara Harvey mengalun seperti perintah, tapi Natha tak kunjung menolehkan kepalanya. Membuat tangan Harvey terulur untuk menjepit dagu Natha, lalu menariknya agar Natha menatap ke arahnya.
“Paham, Natha?” Tanya Harvey. “Paham sama apa yang gua omongin barusan?”
Kepala Natha kemudian mengangguk tipis. “Sorry.”
“Paham, gak?”
“Paham.”
“Goodboy.” Harvey melepas dua jarinya di dagu Natha. “Semoga rasa paham lo bertahan seterusnya, gak cuman saat ini aja.”
“Bisa buka pintunya gak?” Tanya Natha, mengabaikan ucapan Harvey barusan. “Harvey.”
“Beg me.”
Alis Natha langsung menukik tajam, namun ia akhirnya menghela nafasnya berat. “Please, Harvey.”
Harvey kemudian membuka kunci mobil dengan pandangan yang tetap menatap ke arah bola mata Natha. Begitu kunci berbunyi, Natha langsung membuang pandangannya. Ia membuka handle pintu dan keluar dari dalam mobil.
Raut wajahnya langsung berubah masam begitu ia sudah tidak lagi berada di dalam mobil, kakinya menghentak di setiap langkah. Membuat Harvey yang sama sekali tidak melepas pandangannya pada Natha kemudian terkekeh geli.