evakithy 😍loved

Listens: Arashi-P.A.R.A.D.O.X

Ichihoshi-7

Title: Merry Christmast
Cast: Ichihoshi, Ninomiya Kazunari, Aiba Masaki
Author: evakithy
Language: Bahasa and a bit of English and Japanese


[I can't believe that I wrote this story]-----------------------------------------------------------------------------------------------

Waktu begitu cepat berlalu, sekarang sudah musim dingin lagi di Jepang. Ini musim dingin kedua yang aku alami dan masih saja aku belum terbiasa dengan cuaca seperti ini. Aku juga menyadari bahwa sudah setahun lebih aku mengenal Nino dan sudah 7 bulan juga kami menjalani hubungan yang disebut pacaran.
Hubungan pacaran kami biasa-biasa saja, bahkan bisa dibilang seperti bukan sepasang kekasih. Sebab kami jarang bertemu karena kesibukan masing-masing atau lebih tepatnya aku yang menolak habis-habisan untuk sering bertemu.
"Kenapa sih? Kamu ngga kangen sama aku?” Selalu itu yang Nino katakan kalau aku menolak untuk bertemu.
"Bukan ngga kangen. Tapi aku ga mau ganggu jadwal kamu yang super sibuk itu."
"Aku ngga sibuk-sibuk banget lah. Toh kalau sedang kosong, kerjaanku juga cuman main game di rumah.."
"Nah justru bukannya itu jadwal yang paling penting di hidupmu jauh sebelum kenal aku? Jadi nikmati saja hari-harimu seperti biasa...."
"Tapi kamu kan bisa temenin aku main game. Atau membereskan apartemenku."
"Sudahlah aku malas berantem! Lagian aku juga harus kerja kan buat biaya hidupku!"
"Tapi....."
"Kamu ngerti aku ngga sih???!"
Begitulah percakapan yang terjadi jika Nino mulai memaksa untuk bertemu. Demi menghindari pertengkaran, biasanya Nino langsung mengalah. Aku membatasi pertemuan kita maksimal 2 kali dalam 1 bulan. Kecuali pada bulan Juni dimana kita bertemu 4 kali sebab pada bulan itu, aku dan dia sama-sama berulang tahun.

Desember ini kami belum pernah bertemu, padahal ini sudah tengah bulan. Jadwal Arashi memang sangat padat, mulai dari konser, acara TV, dan lain-lain. Aku juga belum bisa menonton konser mereka tahun ini. Tabunganku belum cukup serta jadwal konser yang tidak cocok menjadi alasan terbesar. Aku sendiri tidak mau memaksa Nino untuk mendapatkan tiket gratis walaupun dia sudah beberapa kali menawarkan.
'Lakukan yang terbaik!' itu pesanku. Tapi faktanya banyak orang bilang dia berkali-kali lupa lirik lagu solonya.
"Kan kamu yang buat lagu itu. Kok bisa lupa sih?" tanyaku kepada Nino lewat telepon.
"Habisnya kamu juga ngga nonton...."
"Alesaaaaan... Pokoknya jangan sampai lupa lagi."
"Iya..... Bagaimana kegiatan sehari-hari?"
"Aku kesepian... Tidak ada yang menemaniku.." Tepat sekali. Stephanie dan Chris sama-sama kembali ke negara asal mereka, Korea dan Inggris.
"Makanya udah aku bilang nonton konser Arashi aja.. Atau jadi staff deh.."
"Ngga mau! Aku juga banyak show tau di cafe."
"Wah asik dong ya... Soalnya abis itu kamu bisa jalan-jalan bareng anggota band lainnya... Para lelaki itu.."
"Kazu, mulai deh...." Beginilah Nino yang selalu curiga kalau aku terlalu sering bermain bersama laki-laki lain, kecuali Chris pastinya.
"Kamu tau ga sih kalau aku ngga suka! Sama aja kayak kamu yang ngga suka kalau aku terlalu ramah atau bersikap dekat dengan wanita lain!"
"Kenapa kamu jadi marah sih?! Harus berapa kali aku bilang, mana berani aku jalan-jalan sama para lelaki itu kalau cuman aku perempuannya. Pasti ada pacar mereka juga. Kebanyakan udah pada punya pacar kok!"
"Tetap saja aku ngga suka! Kamu bisa bertemu dan jalan-jalan bersama mereka hampir setiap hari sementara aku cuman boleh 2 kali!"
" Ya tapi kan hampir setiap hari kita berkomunikasi....."
"Kamu bahkan kayaknya ngga sadar kalau kita belum ketemuan bulan ini. Gimana rasanya? Enak lah ya, bebas..." balas Nino dengan nada sedikit menyindir.
"Kok kamu jadi main asal nuduh begini! Aku juga pengen ketemu sama kamu tapi selama inI aku ngalah supaya kamu ga usah khawatir dan kerja seperti biasa! Sudah aku mau tidur! Oyasumi!" Begitulah percakapan terakhir kami awal Desember lalu. Seperti biasa kami bertengkar. Tapi kali ini aku benar-benar marah karena perkataannya itu. Sampai sekarang tidak ada satupun dari kami yang berusaha menghubungi satu sama lain.
-----
Hari ini sudah Christmast Eve. Artinya hari ini Aiba-chan dan ayahku berulang tahun. Aku sudah mengirimkan ucapanku kepada mereka berdua. Aiba-chan membalas emailku dengan satu kalimat saja.
'ada apa antara kau dan nino?'
Aku menjawab dengan singkat.
'kami bertengkar dan belum berkomunikasi lagi.'
Tentu saja Aiba-chan prihatin dan mengajakku untuk berbaikan dengan Nino. Sebelum Aiba-chan menasehatiku pun aku tahu bahwa aku harus menyelesaikan masalah ini. Tapi aku bingung apa yang harus aku lakukan. Tanpa menunggu balasan, Aiba-chan kembali mengirimkan email kepadaku.
'Sepertinya hari ini dan besok Nino ada di apartemennya. Tentunya malam hari. Bagaimana kalau kau mengunjunginya? Kau tahu kan alamat apartemennya?'
Akupun membalas.
'Begitupun yang aku pikirkan Aiba-chan. Tahu kok aku pernah kesana sekali. Terima kasih buat idenya ya.'
Aku tahu sampai sejauh mana aku harus bertahan dengan sifat keras kepalaku. Dan perasaan di dalam hatiku sangat jelas kalau aku harus bertemu dengannya terutama sebelum Natal. Langsung aku bergegas ke Harajuku membeli sesuatu di toko aksesoris unik. Di tempat itu, aku bisa memesan berbagai aksesoris sesuai keinginanku. Aku memutuskan untuk membuat couple phone strap. Gantungan handphone untuk Nino berbentuk melonpan yang bisa menyala dalam gelap lalu memunculkan tulisan I love you. Sementara gantungan untukku berbentuk gitar dengan tulisan belong to a hardcore gamers. Sungguh aku tak menyangka akan melakukan hal ini.
"Untuk pacarmu?" tanya sang penjaga toko kepadaku.
"Ya bisa dibilang begitu..." Aku menjawab dengan malu-malu.
"Hubungan kalian romantis sekali. Hadiah Natal ya?"
"Ini mah biasa saja. Iya hadiah Natal dadakan.."
"Berarti warnanya merah dan hijau saja?"
"Jangan. Yang melonpan tetap warna kuning tapi tulisannya warna biru. Kalau yang gitar sebaliknya."
"Baiklah. Warna kalian berdua ya?"
"Kalau biru sih warna favoritku..."
"Pasti pacarmu senang menerimanya..."
"Kenapa kamu yakin begitu?"
"Bukan masalah barang dan harga, tapi siapa yang memberi dan makna dibalik benda yang dikasih. Tunggu sebentar ya." Aku menunggu sambil sedikit mengantuk. Setengah jam kemudian gantungan handphone tersebut selesai dibuat dan aku kembali ke asrama untuk istirahat.
-----
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam ketika aku pergi dari asramaku. Aku langsung bergegas menuju apartemen Nino, berharap dia sudah berada disana. Setibanya di apartemen, aku tidak langsung menuju kamarnya melainkan menunggu di pintu masuk karena aku masih belum yakin kalau Nino sudah pulang. Aku mengetik nomor ponsel Nino lalu menghapusnya. Hal tersebut terus aku lakukan selama 15 menit sampai akhirnya aku melihat Nino dari kejauhan berjalan ke arah dimana aku menunggu. Dengan tergesa-gesa bercampur panik, aku langsung bersembunyi di balik pagar. Untungnya Nino memutar arah ke parkiran lalu pergi dengan mobilnya. Aku keluar dari persembunyianku dengan kepala bingung.
'Mau kemana dia malam-malam begini? Jangan-jangan dia mau pesta bersama teman-temannya....' pikirku dalam hati. Aku memutuskan untuk menunggunya pulang sampai batas kesabaranku habis.

"Cepatlah kembali, Kazu!!!" kataku sambil mengusap-usap kedua tanganku yang mulai kedinginan. Tepat setelah salju turun, mobil Nino kembali. Aku langsung bersembunyi sambil memastikan kalau Nino sudah masuk ke kamarnya.
"Yosh, kamu pasti bisa! Semangat Ichi!" aku menyemangati diriku sendiri sembari melangkahkan kaki ke arah kamar Nino.
'ting tong' Aku menekan tombol bel yang menempel di samping pintu apartemennya.
"Hai!" Nino menjawab singkat. Terdengar suara langkah kaki berjalan ke arah pintu. Semakin langkahnya mendekat, jantungku semakin berdegup kencang.
"Siapa ya?" kata Nino sesudah membuka pintu.
"Konbanwa. Melonpan deeeesuuu..." Aku menjawab sambil membungkuk.
"Hoo.. Masuklah..."
"Tidak. Aku cuman mau ngasih ini saja. Merry Christmast!" Kemudian memberikan hadiah yang sudah disiapkan tadi.
"Kau pikir aku pria macam apa yang akan membiarkan pacarnya pulang sendirian malam-malam begini. Masuklah." Kali ini Nino menarikku dan aku menurut.
"Ini slippermu. Jaket, topi, sarung tangan semua dibuka saja lalu kamu ganti baju. Pasti semuanya sudah basah dan dingin karena kamu sudah menunggu lama di luar kan?"
"Tapi aku pakai baju siapa? Sepertinya bajumu tidak akan muat aku pakai."
"Aku punya kok. Sudah aku siapkan semua. Sekarang mandi dulu sana pakai air panas." Aku terdiam karena sikapnya.
"Ayo bergegas! Kamu ngga sadar kalau bibirmu sudah biru begitu karena kedinginan?"
"Aah. Iya ya? Kayaknya aku udah mati rasa karena kedinginan. Baiklah aku mandi dulu. Awas kalau kau mengintip!"
"Kunci saja pintunya. Ayo cepetaaaan!!!" Karena tak sabar, Nino sampai mendorongku ke kamar mandi.
"Pakai air hangat ya."
"Iyaaa. Bawel..." Aku mandi dan tiba-tiba terdengar suara sedikit berisik dari luar.Karena khawatir, aku mempercepat mandiku. Saat keluar dari kama mandi, aku bingung karena ruangan gelap dan semua lampu dimatikan.
"Kazu, kamu dimana? Jangan bilang kamu meninggalkan aku sendirian."
"Sini melonpan." Aku melihat ada cahaya lilin dari arah ruang tengah tepat di depan televisi besarnya. Terihat Nino melambaikan tangannya.
"Apa-apaan ini?" aku tertawa melihat sebuah kue tart lengkap dengan lilin serta hiasan 'Merry Christmast' menempel di dinding.
"Ini namanya pesta malam Natal. Ayo duduk disini!"
"Untuk apa ini semua? Kapan kamu menyiapkannya?" Kataku sambil duduk di lantai, tepat di samping Nino bersenderkan sofa.
"Sebenernya aku mau pergi ke acara teman tadi. Tapi Aiba-san bilang supaya aku jangan pergi kemana-mana karena siapa tahu ada kejutan kecil. Ternyata benar, pas keluar aku menemukan Melonpan yang sedang berusaha ngumpet dengan badan mengigil. Langsung aku beli ini semua, termasuk bajumu itu."
"Oh.. Untung kamu lihat aku. Kalau ngga, aku bisa jadi manusia salju..."
"Aku berpikir agak tega juga membiarkan kamu menunggu di luar. Tapi Melonpanku cukup kuat lah ya melawan suhu dingin seperti ini. Hehe..."
"Iya intinya kamu puas lah ya ngerjain aku hari ini..."
"Lain kali kabarin dulu baru datang. Ayo tiup lilin."
"Mulai deh aneh-aneh. Kan ngga ada yang ulang tahun."
"Ya sudah kita makan kuenya saja. Ini minuman paling sehat buatmu, air putih."
"Hmm sebenarnya tujuanku kesini..."
"Mau minta maaf dan bilang kangen sama aku kan?" Ya jawabannya 1000% tepat.
"Jangan ke-GR-an deh. Aku mau kasih hadiah Natal buatmu."
"Sampai mengantarnya langsung kesini? Segitunya.... Ayolah jujur saja Ichi. Kamu itu pacar aku jadi sudah sewajarnya untuk lebih terbuka untuk mengatakan isi hatimu."
"Baiklah aku akan bilang semuanya. Kamu kenapa ngga hubungin aku sama sekali? Kamu marah? Kamu ngga tahu aku khawatir?"
"Kalau memang khawatir, kenapa ngga kamu duluan yang hubungin aku?" Nino bertanya sambil menyuapkan kue yang sudah dia siapkan.
"Aku kan..... Malu tahu!!! Uhuk uhuk!"
"Hahaha Melonpaaan.. Habisin dulu kuenya baru ngomong!" Lalu Nino mengusap-usap punggungku.
"Kazu, serius aku belum pernah melakukan ini semua. Selama ini ya harus pacarku dulu yang hubungin aku. Mana pernah aku sampai bela-belain melakukan ini semua tahu."
"Iya aku tahu. Makanya aku ini spesial kan?"
"Kazu, kamu itu ya selalu..." Lalu tiba-tiba Nino memelukku erat.
"Aku ngerti kok. Maafin aku juga ya..." Aku membalas pelukan Nino. Air mataku menetes tak terhentikan.
"Aku kangen kamu, Kazu."
"Aku juga Ichi." Nino melepaskan pelukannya lalu menyentuh wajahku. Dengan lembut, dia menyerka sisa air mataku. Tatapan matanya yang dalam dan hangat kembali membuatku terdiam. Semakin lama wajah Nino semakin dekat dengan wajahku.
"Merry Christmast." Ucapannya ditutup dengan ciuman lembut di bibirku. Ini adalah ciuman pertama di bibir yang aku alami seumur hidupku. Aku menutup mataku karena aku tidak tahu harus berbuat apa dan tidak berani membukanya walaupun Nino sudah berhenti menciumku.
"Hei, buka matamu. Kamu ngantuk?"
"Eh? Aaa iya lah ngantuk ini sudah jam berapa!" Aku sedikit mendorong Nino karena malu.
"Tidur disini saja." Katanya sambil membuka kadoku tadi.
"Maksudnya di kursi?"
"Bukan, di kamarku."
"Tidak mau!!!" Lalu aku memukulnya.
"Hahaha, aku cuman bercanda Melonpan! Ini kamu ngasih apa? Kok bentuknya...."
"Jangan bilang kamu lupa bentuk melonpan!"
"Melonpanku cuman kamu. Hahahaha."
"Bisa tidak kamu berhenti ngegombalin aku?!"
"Aku serius. Jangan ngambek dong Melonpaaaaan. Sankyu buat kadonya." Nino mencubit pipiku.
"Coba lihat baik-baik. Ada tulisan yang muncul kalau kamu lihat di dalam gelap."
"Mana? Aku ngga lihat apa-apa."
"Masa sih? Sini aku lihat..." Tiba-tiba Nino menarik kepalaku, membisikkan sesuatu di telingaku.
"I love you too." Tentunya dengan logat Jepang.
"Hmm, dasar bohongin aku lagi."
"Mana gantungan punyamu? Pasti ini couple phone strap kan."
"Sudah aku pakai dong..." Kataku sambil mengeluarkan ponselku. Nino melihat gantunganku erat-erat, mencoba membaca tulisan yang muncul.
"Ah begitu doang tulisannya."
"Sudah ah aku mau tidur. Ngantuk!"
"Iya deh. Sini ikut aku ke kamar tamu."
"Tapi kamu tahu kenapa aku pilih gantungan handphone?"
"Karena kita paling sering 'bertemu' lewat ponsel kan?"
"Tepat sekali. Apa ideku semudah itu ditebak?"
"Sudah istirahatlah Ichi. Besok kamu harus bangun pagi kan?" Aku masuk kamar berukuran sedang dengan sebuah single bed. Aku mengecek pintu kamar apakah bisa dikunci.
"Kuncinya tidak ada?" tanyaku serius.
"Iya sudah lama hilang. Aku mau ganti tapi lupa terus karena sibuk."
"Lalu aku bagaimana? Awas ya kalau tiba-tiba kamu masuk menyeragapku!"
"Aku bukan lelaki seperti itu ya. Sudah tidurlah. Oyasumi."
"Pegang janjimu ya! Oyasumi, Kazu." Aku menutup pintu dan langsung mematikan lampu. Sesekali aku melihat gantungan ponselku.
"I'm glad that I had this idea. No regret Ichi. Oyasumi!" Tanpa butuh waktu lama, aku langsung tertidur. Hari ini, bukan, perayaan Natal tahun ini sangat menyenangkan dan tidak akan aku lupakan seumur hidupku.
-----
Aku tidak bisa tidur. Mungkin karena terus memikirkan Melonpan yang sekarang sedang tidur di kamar sebelah. Aku memutuskan untuk pergi ke kamarnya sambil menunggu kantuk. Semoga dia sudah tidur, kalau tidak aku bisa habis dipukuli subuh-subuh begini. Aku membuka pintu kamar pelan-pelan lalu aku menemukan Melonpan sudah tertidur pulas.
"Syukurlah..." Kataku berbisik sambil menutup pintu kamar. Dengan penuh hati-hati, aku membaringkan tubuhku di sisi kosong tempat tidur. Untungnya dia tidur menyamping ke arahku jadi aku bisa melihat wajahnya yang manis dengan jelas.
"Otsukare~" Kata tersebut secara otomatis terucap. Aku sangat menghargai usahanya hari ini dan mencoba membalasnya. Aku mencium jidatnya lalu turun ke hidungnya. Takut Melonpan bangun, aku melihat apakah ada reaksi atas ciumanku barusan. Ternyata dia tetap tidur lelap.
"Kamu pasti capek sekali..." Aku kembali menciumnya. Kali ini aku mencium kedua pipinya. Terakhir, aku mencium bibirnya lumayan lama sampai aku sendiri jatuh tertidur pulas.
Pagi harinya aku terbangun karena omelan Melonpan. Sungguh hal menarik di pagi hari.
"Kenapa kamu tidur disini?!! Kamu nggak macem-macem kan semalem?!!!"
"Ngga koook... Jangan ngamuk dong, masih pagi nih.."
"Gimana ngga ngamuk orang kamu melanggar janji!!!"
"Maaf... Udah jangan marah lagi ya. Harusnya kamu bilang 'ohayou~'." Lalu aku memeluknya.
"Ohayou! Sekarang lepaskan aku! Aku mau pulang!"
Melonpan segera bergegas membereskan barang-barangnya disaat aku masih mengumpulkan nyawaku.
"Aku pulang dulu. Antar aku sampai pintu dong." Melonpan merengek.
"Iya. Sebentar."

Kami sudah di depan pintu. Melonpan sedang sibuk memasang sepatunya.
"Bajumu aku cuci dulu baru aku kembalikan."
"Oke. Itu artinya kamu bakal ke apartemen lagi kan? Aku tunggu ya..."
"Good luck buat semua pekerjaanmu sampai akhir tahun ini ya, Kazu." Lalu Melonpan mencium pipiku.
"Bye-bye!" Melonpan menepuk pundakku lalu segera membuka pintu dan pergi sebelum aku sempat membalas ucapannya.
'Jangan lupa kembalikan bajuku!' aku mengirimkan email kepadanya.
'Hai. Jangan kangen dulu ya sama aku :p' isi balasan email dari Melonpan.
'Oh ya. Terima kasih ya semalam. Tidak akan pernah aku lupakan. XD’
Ponselku langsung berdering. Ternyata Melonpan meneleponku.
“Moshi-moshi...”
“Memangnya semalam ada apa??” Suaranya terdengar panik.
“Tidak ada apa-apa....”
“Yang bener???”
“Bener kok! Sudah aku mau bersiap-siap kerja. Mata ne~”
Aku menutup telepon. Entah akan ada kejadian apa lagi di depan. Yang pasti aku menunggunya dengan senang hati, pertemuan berikutnya dengan Melonpanku.
***