Story Line

Cheizar Braga Osborne

Nama "Braga" memang tidak mencerminkan kualitas pribadinya, namun memiliki nama yang bagus akan membantu seseorang menjadi lebih percaya diri, dan lebih bersemangat untuk menjadi pribadi yang positif, serta selalu berusaha agar hidupnya dapat bermanfaat untuk banyak orang.

PROFILENama: Cheizar Braga Osborne
Tempat, tanggal lahir: Bandung, 25 Desember 1995.
MBTI: INFP
Tinggi: 180cm
Hobby: Riding dan Workout
Orangtua: Leonardo Darren Osborne & Maria Dharma Kusuma
Saudara: Anak ke dua dari empat bersaudara
Tempat Tinggal: PIK2
———

CURRENT ACTIVITY

• Ketua geng motor Evildoer

• CEO of Evildoer Corp

Fams

SL / Background singkat :Bragaa Osborne lahir di tengah gemuruh mesin dan hembusan angin padang. Keluarganya adalah salah satu nama besar dari Australia hingga Korea—keluarga Osborne, dinasti yang sudah lama menanamkan akar dalam industri perkebunan dan peternakan sapi kelas dunia. Hidup Braga seharusnya mudah. Dari kecil ia mengenal aroma tanah basah di lahan luas milik keluarganya, dan suara gemuruh ribuan sapi yang bergerak seirama seperti orkestra. Ia tumbuh di tengah kemewahan yang tak pernah ia minta, dan tak pernah ia banggakan.Namun di balik jas Armani dan sepatu kulit buatan tangan, Braga punya mimpi lain. Ia merasa darahnya mengalir lebih cepat bukan saat memegang laporan keuangan keluarga, tapi saat menyentuh kemudi motor tuanya di Jakarta. Ia tak ingin menjadi warisan; ia ingin menjadi cerita baru. Ia tahu namanya besar—Osborne—tapi ia ingin membangun sesuatu tanpa menggantungkan diri pada nama itu.Ia datang ke Jakarta bukan dengan koper penuh uang warisan, tapi dengan semangat membuktikan diri. Ia memilih hidup sebagai orang biasa. Menyamar, menyusup dalam sunyinya jalanan kota, menjadi staf IT di sebuah perusahaan kecil. Tak banyak yang tahu siapa dia. Dan itu membuatnya bebas.Di sela pekerjaan kantoran, ia tetap menjadi dirinya yang sejati—anak motor. Nongkrong di warkop, memperbaiki motor teman, tertawa tanpa beban. Dari jalanan, ia mulai membangun ide. Tentang bengkel impian. Tentang tempat di mana orang-orang motor bisa saling menguatkan. Tentang ruang yang tak menghakimi siapa kamu, dari mana kamu berasal, tapi menerima siapa kamu ingin menjadi.Dan dari jalanan itu lahirlah Evildoer—sebuah gerakan yang menyamar sebagai perusahaan. Ia bukan sekadar bengkel, showroom, atau cafe & bar. Ia adalah rumah bagi siapa saja yang tak ingin dikotak-kotakkan. Ia adalah nafas baru dari dunia otomotif Indonesia. Didirikan oleh pria berdarah konglomerat, tapi berhati jalanan.Braga membangun semua dari bawah. Ia menyisihkan bantuan keluarga, menolak kemudahan, dan memanggil teman-teman baru untuk berjalan bersama. Bukan sebagai anak kaya yang menyamar, tapi sebagai pemuda yang benar-benar ingin memahami arti berjuang.Kini, Braga telah menikah. Ia membangun rumah tangga sederhana namun hangat bersama wanita yang mencintainya karena keberaniannya menolak warisan, bukan karena namanya. Ia kini ayah dari anak kembar yang akan tumbuh dengan cerita tentang ayah mereka—seorang Osborne yang tidak memilih duduk di tahta, tapi membangun tahtanya sendiri dari aspal, keringat, dan tekad.Evildoer hari ini berdiri tegak karena keberanian Braga menolak mudah. Karena ia tahu: nama besar tak ada artinya jika tak diberi makna oleh perjuangan. Dan Jakarta akan selalu jadi saksi bagaimana seorang anak konglomerat memilih menjadi rakyat biasa, demi menjadi dirinya sendiri—Braga.Sebagai CEO dari Evildoer Corp, Braga telah berhasil membangun perusahaannya dari awal hingga menjadi salah satu pemimpin di industri otomotif. Keberhasilannya ini tidak hanya mendapatkan pengakuan dari teman-temannya tetapi juga dari ibunya yang awalnya ragu terhadap pilihannya untuk hidup mandiri.Di samping kesuksesan profesionalnya, Braga juga dikenal sebagai ketua geng motor Evildoer di Jakarta. Bagi Braga, Evildoer bukan hanya sekadar sebuah geng, tetapi seperti keluarga kedua baginya. Meskipun mereka sering bercanda dan menggoda satu sama lain, mereka saling menghargai dan saling mendukung dalam setiap situasi.Braga adalah sosok yang setia kepada teman-temannya. Dia selalu siap membantu dan mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa menghakimi. Meskipun terkadang ia merasa tidak percaya diri dan meragukan kemampuannya sebagai ketua, Braga memiliki teman-teman yang selalu mendukungnya dan mendorongnya untuk lebih percaya diri.