Before, Now & Then
★★★★★ Liked

Watched 27 Apr 2023

Dais: "Kunaon nya, ari istri mah rambutna kedah panjang waè? Kunaon deui, unggal dinten kedah digelung? Malah sok disanggul."
Nana: "Pan istri mah kedah pinter ngajaga rusiah. Naon waè anu kasorang dina rumah tanggana, disimpen di penggeran rambutna."
Dais: "Mamih.. kagungan rusiah kitu?"

Duh Gusti, saè pisan geuning ieu pilem 🥹

"Badè kukumaha ogè, abdi mah rumaos urang kampung, bau lisung." —Nana

Oh wow, In the Mood for Love vibes here, but Sundanese version. Sinematografi, scoring, hingga karakter yang disajikan dalam film ini benar-benar memukau. Dan ya, menonton ini seolah nonton film Wong Kar Wai, musiknya bahkan hingga ke adegannya benar-benar khas.

Baru kali ini rasanya nemu film berbahasa Sunda penuh yang penuturan katanya benar-benar hampir sempurna. Sebagai orang Sunda rasanya nyaman mengikuti dialog per dialog yang ada di film ini, apalagi bahasa yang digunakan masuk dalam kategori bahasa Sunda halus.

Film ini sejatinya mengungkapkan keresahan para wanita yang kala itu punya banyak keterbatasan, seorang perempuan yang digambarkan sebagai sosok seorang istri, ibu, sekaligus pekerja keras. Setelah 15 tahun pernikahannya dengan pak Lurah, Nana kemudian menemukan hal-hal yang mengarah pada adanya perempuan lain. Di satu sisi, dirinya masih dihantui akan keberadaan suami pertamanya yang tak pernah ada kabar.

Film ini juga menyindir bagaimana gambaran mertua yang menyalahkan seorang istri karena enggan mempercantik diri, sehingga suaminya sering keluar. Masih agak bingung juga awal kehadiran Ino sebenarnya sebagai apa, tapi kemudian persahabatannya justru membuat Nana lebih percaya untuk memantaskan diri.

Dais: "Geuning tos teu digelung?"
Nana: "Apan tos teu aya deui rusiah."

Block or Report

puloh liked these reviews

All