<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pondok Pesantren An-Nur II Al-Murtadlo</title>
	<atom:link href="https://annur2.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://annur2.net</link>
	<description>Pesantren Wisata</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Apr 2026 06:58:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://annur2.net/wp-content/uploads/2019/03/cropped-favicon-1-32x32.png</url>
	<title>Pondok Pesantren An-Nur II Al-Murtadlo</title>
	<link>https://annur2.net</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Temu Kangen: Anak Butuh Bimbingan, Berikut Tata Caranya</title>
		<link>https://annur2.net/temu-kangen-anak-butuh-bimbingan-berikut-tata-caranya/</link>
					<comments>https://annur2.net/temu-kangen-anak-butuh-bimbingan-berikut-tata-caranya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Annur2]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2026 06:57:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[alvers]]></category>
		<category><![CDATA[annur2]]></category>
		<category><![CDATA[annur2malang]]></category>
		<category><![CDATA[ayomondok]]></category>
		<category><![CDATA[ayongaji]]></category>
		<category><![CDATA[ngajihadits]]></category>
		<category><![CDATA[ngajikuy]]></category>
		<category><![CDATA[ngajionline]]></category>
		<category><![CDATA[pesantrenwisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://annur2.net/?p=30792</guid>

					<description><![CDATA[Kajian Kitab Bugyatul Ikhwan fi Riyadhatil Shibyan Oleh: Kiai Ahmad Zainuddin, M.M. annur2.net &#8211; Mendidik dan membimbing anak dari kecil itu suatu keharusan bagi orang tua. Hal itu akan menjadi perkara penting untuk perjalanan hidup si anak. Karena anak adalah amanah bagi para orang tua. Anak kecil itu seperti halnya lilin atau plastisin yang bersih dan mudah dibentuk. Maka orang tua harus membentuk karakter baik pada diri anak mulai usia dini, sebab pada masa itu lebih dapat menerima daripada saat dewasa. ٱلتَّعْلِيمُ فِي ٱلصِّغَرِ كَٱلنَّقْشِ عَلَى ٱلْحَجَرِ Artinya: “Belajar (didikan) di waktu kecil itu seperti mengukir di atas batu (sangat kuat dan membekas).” Memiliki anak salih dan berbakti kepada kedua orang tua merupakan nikmat paling mulia yang Allah Swt., berikan di antara semua kenikmatan yang ada. Harta yang sangat melimpah pun tidak dapat menandingi kenikmatan punya anak salih. مِنْ أَعْظَمِ نِعَمِ اللَّهِ عَلَى الْعَبْدِ وَلَدٌ صَالِحٌ Artinya: “Di antara nikmat Allah yang paling agung bagi seorang hamba adalah anak yang saleh.” Keuntungan mendidik anak sejak kecil adalah menambah kebaikan dan keberuntungan si anak ketika ia sudah dewasa. Jaga Sandang, Papan, dan Pangan si Anak Mulailah membimbing anak dari makanan dan minumannya. Berikan yang menyehatkan dan halal. Kemudian ajarkan tata cara makan dan minum yang benar; mengawali dengan membaca basmalah, menggunakan tangan kanan, dan lain sebagainya. Bagi para orang tua jangan selalu memberi makanan yang mewah dan enak. Tetapi berikan yang sederhana untuk mendidiknya menjalani hidup sederhana. Supaya nantinya lebih sabar dalam menghadapi kesulitan. Ini juga sudah berlaku di berbagai lembaga pendidikan pondok pesantren. Santri tidak setiap hari mendapat makanan mewah dan enak. Melainkan ada jadwalnya supaya terbiasa hidup sederhana. Seperti anak Ustaz Solmed, sebelum dia mondok, makanan yang dia makan harus grade A tidak mau selainnya. Tetapi itu berubah setelah mondok. Makanan apapun dia tetap mau. Selain makanan dan minuman, orang tua juga harus berhati-hati dalam memberi pakaian kepada anaknya. Berikan yang sederhana tidak bermewah-mewah. Jangan berikan pakaian yang mencolok kepada anak laki-laki karena itu untuk anak perempuan. Intinya orang tua harus mencegah anaknya dari kehidupan yang selalu enak. Tetapi juga perlu mengajarkan hidup yang sederhana tidak dimanjakan seperti tidur di kasur yang tebal nan empuk. Berikan Pergaulan yang Terbaik Pendidikan dari usia dini memang dibutuhkan. Tetapi jangan berlebihan terutama pada anak yang masih seusia TK atau MI. Berikan mereka waktu jeda untuk bermain agar hati mereka tidak mati. Selain itu, lingkungan pergaulan anak sangat butuh pengawasan yang ketat dari orang tua. Pergaulan itu dapat mengubah watak dan perilaku si anak. Maka berikan pergaulan teman-teman yang baik dan salih jauhkan mereka dari orang-orang yang jahat dan fasik. Seorang anak juga butuh mendapat apresiasi dan hadiah atas kebaikan dan prestasinya. Supaya dia senang dan optimis untuk selalu berbuat baik dan menggapai berbagai prestasi. Tetapi saat ia melakukan kesalahan orang tua juga harus memberikan hukuman terhadap anaknya. Dengan cara menegurnya di tempat privat dan tidak banyak bicara melainkan langsung ke inti nasihat. Tata cara ini agar mental si anak tidak turun dan lebih dapat memahami kesalahan yang sudah ia perbuat. Pendidikan Lebih Penting daripada Harta  Hal yang terpenting harus para orang tua tanamkan pada diri si anak. Menanamkan kecintaan kepada ilmu daripada harta kekayaan. Ilmu sesuatu yang bermanfaat selama hidup hingga mati dan tidak akan pernah habis. Sedangkan harta kekayaan itu akan habis dan ditinggalkan ketika sudah mati. Seseorang akan mulia dengan ilmunya meski dia orang miskin atau orang yang dijauhi masyarakat seandainya tidak memiliki ilmu. Masyarakat dari berbagai kalangan bahkan pejabat akan menemuinya sebagai rujukan permasalahan. “Kemuliaan ada pada ilmu dan amal.” Jelas Kiai Zainuddin. Jangan Membanggakan Nasab Dalam mendidik anak, orang tua juga harus menanamkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada nasab atau keturunan, melainkan pada iman dan ketakwaan. Banyak orang terjatuh dalam kesombongan karena merasa berasal dari keluarga terpandang. Allah Swt., berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13) Ayat ini menjadi dasar bahwa anak tidak boleh dibiasakan membanggakan dengan keturunan, karena hal itu dapat merusak akhlaknya. Orang tua harus mengarahkan anak agar bangga dengan amal saleh, bukan asal-usul keluarga. Dunia Sementara, Akhirat Tujuan Utama Anak juga perlu ditanamkan sejak dini bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara, sedangkan akhirat adalah tujuan utama dan tempat yang kekal. Dengan pemahaman ini, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak silau oleh kemewahan dunia, serta lebih fokus pada amal ibadah dan kebaikan. Pada akhirnya, mendidik anak adalah kewajiban besar bagi orang tua, terutama seorang ayah sebagai pemimpin dalam keluarga. Semua itu akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Allah Swt., berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6) Ayat ini menegaskan bahwa orang tua tidak hanya bertugas memenuhi kebutuhan duniawi anak, tetapi juga wajib membimbing mereka menuju keselamatan akhirat. Maka dari itu, seorang ayah khususnya, harus bersungguh-sungguh dalam mendidik, membimbing, dan mengarahkan anak-anaknya kepada kebaikan. Karena kelak, bukan hanya anak yang ditanya, tetapi juga orang tua tentang bagaimana mereka menjalankan amanah tersebut. (Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://annur2.net/temu-kangen-anak-butuh-bimbingan-berikut-tata-caranya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Temu Kangen Alumni: Pokoknya Harus Kumpul</title>
		<link>https://annur2.net/temu-kangen-alumni-pokoknya-harus-kumpul/</link>
					<comments>https://annur2.net/temu-kangen-alumni-pokoknya-harus-kumpul/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Annur2]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Apr 2026 13:21:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KILAS AN-NUR]]></category>
		<category><![CDATA[alvers]]></category>
		<category><![CDATA[annur2]]></category>
		<category><![CDATA[annur2malang]]></category>
		<category><![CDATA[ayomondok]]></category>
		<category><![CDATA[ayongaji]]></category>
		<category><![CDATA[ngajihadits]]></category>
		<category><![CDATA[ngajikuy]]></category>
		<category><![CDATA[ngajionline]]></category>
		<category><![CDATA[onedayonehadith]]></category>
		<category><![CDATA[pesantrenwisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://annur2.net/?p=30787</guid>

					<description><![CDATA[annur2.net &#8211; “Kumpulnya (alumni) tok itu sudah menjadi semangat, menjadi ghirah untuk menjaga status menjadi santri.” Itulah ucapan Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., dalam tausiyahnya. Ahad, 5 April 2026, Temu Kangen dan Tahlil Akbar Santri Alumni Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” menjadi reuni besar-besaran. Ribuan alumni dari tahun awal pendirian hingga kini berkumpul di depan Masjid An-Nur II. Temu Kangen merupakan acara rutinan tahunan yang diadakan oleh IKSAN (Ikatan Santri Alumni An-Nur II) sebagai tempat Halal Bihalal. IKSAN mengajak semua alumni, dari Sabang sampai Merauke, muda sampai tua, untuk hadir di satu tempat yaitu Pondok Pesantren An-Nur II. “Sing penting kumpul,” begitulah pesan Kiai Fathul Bari. Apalagi terdapat pengajian yang tentu akan menambah ilmu para alumni. Bagi Kiai Fathul Bari, acara alumni tidak boleh mengadakan iuran wajib sebab bisa menjadi beban. Hanya sumbangan yang boleh diterima. Kiai Fathul Bari mengungkapkan, “Kalau ada acara, tidak iuran, teko tok, beliau senang.” Bahkan Almaghfurlah KH. M. Badruddin Anwar dulu telah membuat aturan untuk acara rutinan yang tempatnya berpindah-pindah seperti Zaadil Maad, tidak boleh memberi makanan kecuali jajanan sederhana. Beliau khawatir tuan rumah berikutnya tidak bisa memberi hidangan yang sama mewah dengan sebelumnya. Ada salah satu ucapan Kiai Badruddin yang mengajak agar tidak merepotkan para alumni. “Alumni iku ojok direpoti. Alumni iku kaet urip ndek masyarakat (Alumni itu jangan direpotkan. Alumni itu baru saja berbaur di masyarakat).” Kiai Fathul Bari juga berharap meskipun tidak iuran, para alumni tetap mengusahakan menghadiri acara. Alasan untuk mencari nafkah dan maisyah sudah bisa mereka usahakan dengan pembacaan surah Al-Waqiah di dalam perkumpulan alumni. “Makanya beliau (Kiai Badruddin) mengajarkan membawa Waqiah.” Tutur Kiai Fathul Bari. Para Pengasuh Selalu Mendoakan Alumni Keluarga pengasuh senantiasa mendoakan para alumni agar selalu sehat dan rezekinya lancar. Drh. KH. Hairuddin, Ak., M.Si., menyampaikan tentang rezeki yang tak terduga dari Allah Swt. Sebagaimana dalam surah At-Talaq, &#8230; وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ &#8230; (3) Artinya, “(2) Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (3) Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3) Tentunya orang yang mendapat rezeki tak terduga itu ialah mereka yang bertakwa. Maka dari itu, Kiai Hairuddin mengajak para alumni meningkatkan ketakwaan. Terutama mengamalkan syair dari Kiai Badruddin. جاءت لدعوته الأشجار ساجدة تمشى إليه على ساقٍ بلا قدم Meski Alumni Harus Tetap Santri Ustaz Mohammad Hayat dalam sambutannya juga menyampaikan pesan Kiai Badruddin dulu. “Ono pondok santri, ono ndalan santri, ono omah santri, ndek endi wae tetap santri (Di pondok santri, di jalan santri, di rumah santri, di manapun tetap santri).” Begitulah beliau sampaikan dengan bahasanya sendiri. Saat sowan dulu, Ustaz Hayat juga mendapat pesan lain dari Kiai Badruddin. “Dadi santri kudu seng kuwat (Menjadi santri harus kuat).” Ucap Kiai Badruddin dulu. Kalimat ini pendek tapi memiliki makna yang banyak. Ustaz Hayat memaknainya menjadi beberapa poin. Pertama, santri harus kuat dalam masalah ekonomi. Santri Kiai Badruddin sudah memiliki bekalnya yaitu membaca surah Al-Waqiah dan Jaad Lida’. Kedua, santri harus kuat dalam bermasyarakat. Sebagaimana beliau sampaikan, “Santri harus mewarnai masyarakat bukan diwarnai masyarakat.” Ketiga, santri harus kuat menjadi pemimpin. Para santri setelah lulus akan mendalami berbagai bidang hingga menjadi pimpinan. Santri harus tahan banting dari segala gangguan pada masa itu. Ustaz Hayat mengatakan, “Orang yang gagal bukan orang yang tidak pintar, tapi orang yang gagal adalah orang yang berhenti sebelum waktunya.” Selain itu, santri alumni harus memiliki beberapa sifat yang Ustaz Hayat sampaikan. Sifat pertama adalah memiliki pemikiran membawa nama baik pondok pesantren. Kedua, berpikir agar dirinya menjadi maslahat bagi pondok dan orang lain. Misalnya dengan memondokkan anaknya, saudaranya, dan kerabatnya. Ketiga agar pondoknya semakin baik. Temu Kangen ini memiliki kesan dan pesan tersendiri bagi masing-masing alumni. Ustaz H. Nur Kholis, M.Pd.I., satu orang dari 45 alumni lulusan 1991. Kini sepuluh dari mereka telah meninggal dunia. Beliau mengungkapkan dan sambutannya, “Dari 35 orang itu punya keluh dan suka dukanya.” Bahkan Ustaz Nur Kholis menyatakan teman-teman seperjuangannya tetap akrab hingga kini. (Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://annur2.net/temu-kangen-alumni-pokoknya-harus-kumpul/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Malam Sejuta Waqiah 1447 H: Penutupan Penuh Berkah Beserta Akad Nikah</title>
		<link>https://annur2.net/malam-sejuta-waqiah-1447-h-penutupan-penuh-berkah-beserta-akad-nikah/</link>
					<comments>https://annur2.net/malam-sejuta-waqiah-1447-h-penutupan-penuh-berkah-beserta-akad-nikah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Annur2]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2026 16:50:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KILAS AN-NUR]]></category>
		<category><![CDATA[alvers]]></category>
		<category><![CDATA[annur2]]></category>
		<category><![CDATA[annur2malang]]></category>
		<category><![CDATA[ayomondok]]></category>
		<category><![CDATA[ayongaji]]></category>
		<category><![CDATA[ngajihadits]]></category>
		<category><![CDATA[ngajikuy]]></category>
		<category><![CDATA[ngajionline]]></category>
		<category><![CDATA[onedayonehadith]]></category>
		<category><![CDATA[pesantrenwisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://annur2.net/?p=30773</guid>

					<description><![CDATA[annur2.net &#8211; Tepat malam 27 Ramadan 1447 H, Malam Sejuta Waqiah dilaksanakan di area Masjid Utama Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo”, Senin, 16 Maret 2026. Para jemaah duduk di area dalam masjid dan pelataran di bawah terop, melaksanakan salat Hajat terlebih dahulu. Empat rakaat, dua kali salam, pembacaan surah Al-Ikhlas sebanyak sepuluh kali dan kelipatannya pada setiap rakaatnya.  Kiai Husni Mubarok, S.Ag., M.Pd.I., kemudian membacakan tawasul. Berlanjut dengan pembacaan surah Al-Waqiah sebanyak tiga kali dan wa shubba alayya rizqan oleh Ustaz Mohamad Hasyim, M.Pd.I. Hujan yang lumayan deras turut mengiringi suasana khidmat Pasar Waqiah.&#160; Intensitas Makna Doa Wa Shubba ‘Alayya Rizqan Drs. KH. Hairuddin, Ak., M.i., mewakili majelis keluarga An-Nur II, berharap malam 27 Ramadan ini bertepatan dengan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. “Yang apabila baca Waqiah pada malam ini, pahalanya seperti membaca Waqiah 83 tahun 4 bulan.” Ucapan beliau dalam sambutannya. Kemudian, Kiai Hairuddin menjelaskan doa yang biasa jemaah baca setelah surah Al-Waqiah memiliki makna yang sangat dalam. Berikut doanya, وصب علي الرزق صبة رحمة فانت رجا قلبي الكسيرمن الخبت&#160; &#8220;Curahkanlah rizki kepada kami, dengan curahan kasih sayang. Karena Engkaulah harapan hati kami yang hancur lebur.&#8221; Bait pertama merupakan harapan agar Allah memberi rezeki kepada hamba-Nya dengan kasih sayang-Nya. Kiai Hairuddin menjelaskan bait pertama, “Kalau disayangi Allah bagaimana? Apakah tidak menangis?” Pada bait kedua menjelaskan pengakuan hamba-Nya bahwa Allah adalah harapan satu-satunya. Oleh karena itu, Kiai Hairuddin berpesan kepada seluruh jemaah, “Monggo setiap di rumah walaupun baca satu kali tiap Subuh atau tiap sore, baca satu kali misalkan, langsung baca doa itu.” Jangan Menyia-nyiakan Datangnya Bulan Ramadan Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., menyebutkan tiga golongan manusia di dunia dalam tausiyahnya. Pertama, orang yang bersungguh-sungguh. Kedua, orang yang melakukan perintah sekadarnya. Ketiga, orang yang acuh terhadap perintah.&#160; Kiai Fathul Bari menghubungkan tiga golongan tersebut dengan pelaksanaan puasa Ramadan. Golongan pertama tentu mendapatkan fadilah yang banyak sebab memperbanyak ibadah. Namun pemikiran golongan kedua dan ketiga, “Tahun depan Ramadan masih ada,” justru bisa mengecewakan mereka. Apalagi golongan ketiga yang menyia-nyiakan kesempatan itu. Keyakinan Ramadan akan datang setiap tahunnya pasti benar. “Cuma pertanyaannya pada waktu Ramadan datang, kita masih hidup apa tidak? Kita bisa menyambut atau tidak?” Tutur Kiai Fathul Bari meyakinkan. Maka orang yang merugi di bulan Ramadan adalah yang tidak melakukan ibadah dengan sungguh-sungguh. Ramadan tahun ini pun akan usai. “Tatkala Ramadan meninggalkan kita, maka kita senantiasa harus muhasabah. Apakah kira-kira puasa diterima oleh Allah Swt.?” Pertanyaan Kiai Fathul Bari. Indikator Allah menerima ibadah selama Ramadan ialah seberapa baik perubahan orang tersebut.&#160; Kiai Fathul Bari mengungkapkan, “Kalau tahun kemarin jelek. Begitu habis Ramadan jadi baik. Tahun sebelumnya baik. Habis Ramadan tambah baik. Itu tandanya panjenengan dari wong seng taqwa.” Sebab kesungguhan dalam ibadah bisa mengubah diri seseorang menjadi lebih baik.&#160; Sebagai penutup, Kiai Syamsul Arifin melantunkan doa. Kemudian Syekh Mohamed Masud Mohamed Ahmed Habib selaku guru utusan dari Al-Azhar Mesir juga membacakan doa penutup. Akad Nikah Alumni An-Nur II pada Malam Sejuta Waqiah Usai acara, terdapat akad nikah alumni Pondok Pesantren An-Nur II sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Mempelai pria, Ustaz Muhammad Sholihin, alumni asal Jodipan, Malang yang telah mondok selama 15 tahun sejak 2011. Ia menikah dengan Fitriyah Alfi&#160; Az-Zahriyah, alumni asal Klojen, Malang.&#160; Mereka langsung diakadkan oleh pengasuh Pondok Pesantren An-Nur II, Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. Khutbah nikah pun disampaikan oleh Syekh Mas’ud. Doa nikah oleh Syekh Mas’ud dan Kiai Syamsul Arifin. Puluhan kembang api menghiasi langit malam pertanda acara Malam Sejuta Waqiah telah usai. Para jemaah menerima semangkuk makanan dan ramah tama di area pelataran masjid sebelum pulang ke rumah.&#160; (Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://annur2.net/malam-sejuta-waqiah-1447-h-penutupan-penuh-berkah-beserta-akad-nikah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gelombang Terakhir Pembekalan dan Perpulangan Santri Malang Raya: Ini Pesan Penting Kiai!</title>
		<link>https://annur2.net/gelombang-terakhir-pembekalan-dan-perpulangan-santri-malang-raya-ini-pesan-penting-kiai/</link>
					<comments>https://annur2.net/gelombang-terakhir-pembekalan-dan-perpulangan-santri-malang-raya-ini-pesan-penting-kiai/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Annur2]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2026 11:51:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KILAS AN-NUR]]></category>
		<category><![CDATA[alvers]]></category>
		<category><![CDATA[annur2]]></category>
		<category><![CDATA[annur2malang]]></category>
		<category><![CDATA[ayomondok]]></category>
		<category><![CDATA[ayongaji]]></category>
		<category><![CDATA[ngajihadits]]></category>
		<category><![CDATA[ngajikuy]]></category>
		<category><![CDATA[ngajionline]]></category>
		<category><![CDATA[onedayonehadith]]></category>
		<category><![CDATA[pesantrenwisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://annur2.net/?p=30768</guid>

					<description><![CDATA[annur2.net &#8211; Ada tiga kata yang dapat membahagiakan hati seluruh santri, “Liburan Telah Tiba!” Ungkap Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., Pengasuh An-Nur II. Rabu, 11 Maret 2026, gelombang terakhir kepulangan santri An-Nur II “Al-Murtadlo”. Seluruh santri putra yang tersisa di pondok pesantren berkumpul di lapangan utama An-Nur II sebelum Subuh. Rangkaian mushafahah kali ini berbeda, seluruh santri berkumpul dan salat berjamaah Subuh di lapangan. Kemudian berlanjut ke rangkaian Kegiatan mushafahah dan pembekalan. Kegiatan ini berjalan khidmat, semua santri menyimak nasihat Kiai Fathul Bari. Jaga Orang Tua Seorang santri pasti bahagia jika mereka berlibur pulang ke rumah masing-masing. Kalau senang dapat pulang ke rumah santri harus bisa menyenangkan orang tuanya. Jangan sampai membuat mereka susah. “Cari ridanya.” Tutur KH. Fathul Bari. Berkat orang tua senang, rida Allahpun juga akan meridai kita. Maka berbaktilah (birr) kepada kedua orang tua (walidain), ini sudah jelas Allah firmankan: وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra: 23) “Setinggi apapun cita-citamu pasti Allah memudahkannya.” Imbuhnya. Tujuan para santri pulang adalah mencari rida orang tua. Maka jangan sesekali menyakitinya, walupun satu kata saja. فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا Artinya: “Maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah membentak mereka.” (QS. Al-Isra: 23) Jaga Rutinitas Santri Ada tips agar dapat mendapat rida orang tua saat berlibur, yaitu menjaga rutinitas santri. Menjaga kegiatan yang sudah istikamah dilakukan selama di pesantren, seperti salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan roan (bersih-bersih). Kegiatan roan harus tetap santri lakukan meski sudah berlibur dan walaupun di rumahnya ada ART (asisten rumah tangga). Terutama mencuci pakaian orang tua. Agar lebih mendapat keberkahan dan ridanya cuci baju mereka yang baru saja dipakai bekerja. Sebab keringat jerih payahnya itu untuk membiayai kehidupan santri di pesantren. Jaga Pergaulan Selama liburan santri pastinya menemui berbagai orang yang memiliki karakter berbeda-beda. Maka jagalah pergaulan agar tidak terjerumus ke perkara buruk. الصَّاحِبُ سَاحِبٌ Artinya: “Teman itu penarik (mempengaruhi).” Maksudnya: teman akan menarik seseorang kepada kebiasaan dan jalan yang ia tempuh, baik atau buruk. Pilihlah yang baik dan jangan sampai meninggalkan ngaji dan membaca Al-Qur’an dalam sehari. Di Pondok Santri Di Jalan Santri Di Rumah Juga Santri (Almaghfurlah KH. M. Badruddin Anwar, Pendiri Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo”) (Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://annur2.net/gelombang-terakhir-pembekalan-dan-perpulangan-santri-malang-raya-ini-pesan-penting-kiai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PWR Malam Ke-21: Perbanyak Ibadah dan Doa untuk Berburu Lailatul Qadar</title>
		<link>https://annur2.net/pwr-malam-ke-21-perbanyak-ibadah-dan-doa-untuk-berburu-lailatul-qadar/</link>
					<comments>https://annur2.net/pwr-malam-ke-21-perbanyak-ibadah-dan-doa-untuk-berburu-lailatul-qadar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Annur2]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2026 09:31:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[alvers]]></category>
		<category><![CDATA[annur2]]></category>
		<category><![CDATA[annur2malang]]></category>
		<category><![CDATA[ayomondok]]></category>
		<category><![CDATA[ayongaji]]></category>
		<category><![CDATA[ngajihadits]]></category>
		<category><![CDATA[ngajikuy]]></category>
		<category><![CDATA[ngajionline]]></category>
		<category><![CDATA[onedayonehadith]]></category>
		<category><![CDATA[pesantrenwisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://annur2.net/?p=30765</guid>

					<description><![CDATA[Pasar Waqiah Ramadan 1447 H/2026 M Malam Ke-21 Memburu Lailatul Qadar Oleh: Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. annur2.net &#8211; Pada Lailatul Qadar, Malaikat Jibril turun ke bumi dan akan berpapasan dengan orang-orang mukmin. Malaikat Jibril mengucapkan salam bahkan bersalaman dengan mereka.&#160; Syekh Abdul Qadir di dalam kitabnya menerangkan bahwa Malaikat Jibril turun dari langit pada malam Lailatul Qadar tidak akan membiarkan seorang manusia pun kecuali mengucapkan salam dengan menjabat tangannya. Tandanya bulu kulit merinding, hati terasa lembut dan gampang menangis, dan air mata bisa bercucuran.&#160; Hal tersebut menunjukkan keistimewaan Lailatul Qadar. Lailatul Qadar terdiri dari dua kata. Kata pertama yaitu lailatun artinya malam. Kedua qadarun artinya kemuliaan. Maka Lailatul Qadar artinya malam kemuliaan. Bisa dikatakan pula, Lailatul Qadar adalah malam orang-orang yang beribadah saat itu akan mendapatkan kemuliaan dari Allah Swt. Setiap amal-amal baik di malam tersebut mulia. Sebagaimana di dalam Al-Qur’an, إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5) “(1) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. (2) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (3) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (4) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (5) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr) Kata qadar juga bermakna takdir. Pada malam Lailatul Qadar menunjukkan takdir setahun yang akan datang kepada malaikat. Lalu Allah memberikan takdir tersebut kepada malaikat untuk mengeksekusinya termasuk urusan rezeki dan ajal. Meski begitu, sebenarnya takdir telah Allah tentukan sebelum menciptakan langit dan bumi.&#160; Angan-Angan Nabi Muhammad Penyebab Adanya Lailatul Qadar Terdapat satu kisah di balik adanya Lailatul Qadar. Ada seseorang yang menceritakan kehebatan jihad Bani Israil. Sampai-sampai ada yang berjihad seribu bulan. Itu hanya umur perangnya. Seribu bulan sekitar 83 tahun. Wajar saja orang-orang saat itu memiliki umur yang panjang. Bahkan sampai ratusan hingga ribuan tahun. Akhirnya Nabi Muhammad saw., berandai-andai umatnya bisa seperti itu. Bisa berjihad dengan amal yang banyak. Nabi pun berdoa, “Ya Allah, Engkau jadikan umatku umurnya paling pendek sehingga amal mereka sedikit.” Sebagai jawaban, Allah memberikan satu malam paling istimewa yaitu Lailatul Qadar. Saat beribadah di malam itu, maka nilainya sama dengan beribadah selama seribu bulan.&#160; Dikatakan juga orang-orang dulu tidak mendapatkan predikat abid (orang yang beribadah) kecuali setelah beribadah selama seribu bulan. Jika mengikuti itu, umat Nabi Muhammad tidak akan pernah mendapatkan gelar abid atau ahli ibadah karena rata-rata umurnya 60 tahun. Kemudian Allah memberikan kemuliaan kepada umat Nabi Muhammad berupa Lailatul Qadar.&#160; Bayangkan jika setiap tahun mendapati Lailatul Qadar dan beribadah di dalamnya. Tentu nilai yang diperoleh sangat banyak. Orang yang berumur 60 tahun dan setiap tahunnya menemui Lailatul Qadar berarti mendapatkan nilai ibadah 60.000 bulan.&#160; Salat dan Doa untuk Menghidupkan Lailatul Qadar Allah meletakkan Lailatul Qadar di akhir Ramadan karena mencocokkan dengan naluri manusia. Mereka lebih dominan menyukai hal-hal yang baru. Makanya salah Tarawih di awal Ramadan membuat masjid penuh. Tapi semakin lama, jemaahnya berkurang.&#160; Oleh karena itu, adanya Lailatul Qadar menjadi motivasi agar manusia tetap bersemangat beribadah di akhir Ramadan. Seandainya Allah meletakkannya di awal Ramadan, pasti pada tanggal belasan masjid sudah sepi.&#160; مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang salat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari) Lalu siapa orang yang berhak mendapatkan Lailatul Qadar? Apa yang haru dilakukan supaya mendapatkannya? Sesuai hadis di atas, mestinya dengan mendirikan salat di malam Ramadan. Tidak harus beribadah di seluruh malam. Dalam hadis yang lain disebutkan,&#160; من صلى المغرب والعشاء في جماعة حتى ينقضي شهر رمضان فقد أخذ من ليلة القدر بحظ وافر “Barang siapa salat Magrib dan Isya secara jemaah sampai bulan Ramadan selesai, maka ia benar-benar mendapati Lailatul Qadar.” (HR. Al-Baihaqi) Dalam hadis lain,&#160; من شهد العشاء الآخرة في جماعة من رمضان فقد أدرك ليلة القدر “Barang siapa yang melaksanakan salat Isya terakhir secara jemaah dari bulan Ramadan maka ia benar-benar menemui Lailatul Qadar.” (HR. Al-Baihaqi) Menurut hadir pertama, setiap melaksanakan salat Magrib dan Isya berjemaah sampai akhir Ramadan pasti mendapatkan Lailatul Qadar. Bahkan melakukan salat Isya berjemaah di akhir bulan Ramadan pun begitu. Ini adalah minimal usaha agar bisa menemui Lailatul Qadar.&#160; Tidak hanya salat, Lailatul Qadar juga mengajak untuk memperbanyak doa kepada Allah. Sayidah Aisyah pernah bertanya kepada Nabi, قلتُ : يا رسولَ اللهِ أرأيتَ إن علمتُ أيَّ ليلةِ القدرِ ما أقولُ فيها ؟ قال : قولي : اللهمَّ إنك عفوٌّ تُحبُّ العفوَ فاعفُ عنِّي “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, Wahai Rasulullah, jika aku kedapatan menjumpai lailatul qadar, bagaimana doa yang harus kubaca?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Bacalah, ‘Allāhumma innaka afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī (Ya Allah, sungguh Engkau maha pemaaf yang pemurah. Engkau juga menyukai maaf. Oleh karena itu, maafkanlah aku (maafkanlah kami)),’” (HR. Turmudzi) Indikasi Letak Malam Lailatul Qadar  Oleh karena tidak kita ketahui pasti kapan Lailatul Qadar, langkah yang tepat adalah melakukan ibadah dari awal hingga akhir Ramadan. Meskipun hanya melakukan salat Isya berjemaah. Ibarat membeli jajan yang berhadiah. Membelinya satu per satu tapi paling banyak kemungkinan tidak mendapatkan hadiah. Lebih baik langsung membeli satu renteng karena pasti akan mendapatkan hadiahnya.&#160; Syekh Nawawi Al-Bantani menyebutkan ada tiga tingkatan menghidupkan Lailatul Qadar. Tingkatan tertinggi menghidupkan Lailatul Qadar dengan salat di seluruh malam itu. Tingkatan tengah-tengah dengan melakukan salat di sebagian besar malamnya. Sedangkan tingkatan paling rendah yaitu salat Isya dan Subuh berjemaah.&#160; Imam Ghazali memberikan tanda-tanda kapan malam Lailatul Qadar. Namun ini hanya perkiraan dan letak sesungguhnya hanya Allah yang tahu. Beliau mengatakan Lailatul Qadar bisa diketahui dengan awal awal Ramadan. Awal Ramadan 1447 H ini pada hari Kamis. Berarti menurut Imam Ghazali, Lailatul Qadar terletak pada malam 25 Ramadan.&#160; Semoga dengan adanya Lailatul Qadar ini bisa memotivasi kita untuk semangat beribadah. Semakin akhir bulan Ramadan, semakin rajin melakukan ibadah kepada Allah. Terlebih lagi ketidaktahuan kita pada letak Lailatul Qadar bisa membantu kita untuk beribadah setiap malam Ramadan. Meskipun hanya dengan tingkatan terendahnya, yaitu salat Isya berjemaah. Selain]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://annur2.net/pwr-malam-ke-21-perbanyak-ibadah-dan-doa-untuk-berburu-lailatul-qadar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Waktunya Perpulangan Santri Luar Malang Tiba, Mushafahah Gelombang Kedua</title>
		<link>https://annur2.net/waktunya-perpulangan-santri-luar-malang-tiba-mushafahah-gelombang-kedua/</link>
					<comments>https://annur2.net/waktunya-perpulangan-santri-luar-malang-tiba-mushafahah-gelombang-kedua/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Annur2]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2026 02:11:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KILAS AN-NUR]]></category>
		<category><![CDATA[alvers]]></category>
		<category><![CDATA[annur2]]></category>
		<category><![CDATA[annur2malang]]></category>
		<category><![CDATA[ayomondok]]></category>
		<category><![CDATA[ayongaji]]></category>
		<category><![CDATA[ngajihadits]]></category>
		<category><![CDATA[ngajikuy]]></category>
		<category><![CDATA[ngajionline]]></category>
		<category><![CDATA[onedayonehadith]]></category>
		<category><![CDATA[pesantrenwisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://annur2.net/?p=30756</guid>

					<description><![CDATA[annur2.net &#8211; Hari kedua mushafahah santri Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo”. Senin sore, 9 Maret 2026 seluruh santri luar Malang Raya berkumpul di Masjid An-Nur II. Barisan mereka mencapai pelataran berkeramik motif batu timbul. Mereka siap menyambut liburan Ramadan dan Idulfitri 1447 H. Bakda Asar, seorang santri melantunkan kasidah Burdah sembari para santri berdatangan dari asrama masing-masing. Setelah semuanya berkumpul, Kiai Zainuddin Badruddin, M.M., selaku Pengasuh Pondok Pesantren Putra An-Nur II menduduki mimbar di depan para santri. Beliau memberikan pesan untuk para santri sebelum liburan. “Di antaranya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dilakukan, dan ilmu yang telah dikuasai kemudian dilakukan.” Pembukaan pesan beliau. Kiai Zainuddin mengharapkan para santri mengamalkan ilmunya selama di rumah. Lebih tepatnya ilmu berbakti kepada orangtua atau birrul walidain. Beliau melanjutkan, “Dan ini adalah bagian daripada ilmu yang wajib kita lakukan adalah berbakti kepada kedua orang tua.” Tentu berbakti kepada orangtua menjadi kewajiban bagi seorang anak, terutama santri yang mempelajari adab secara mendalam. Sabda Nabi Muhammad saw., “Rida Allah ada pada rida orangtua, dan amarah Allah ada pada amarah orangtua,” menjadi landasan seorang anak wajib birrul walidain. Bagi Kiai Zainuddin, berbakti kepada orangtua adalah salah satu tanda ilmu yang bermanfaat. “Percuma belajar tinggi-tinggi, kemudian orang yang pernah mengajarimu berbicara sekarang kamu ajari.” Pesan beliau. Kiai Zainuddin mencegah para santri merasa lebih pintar dan berilmu daripada orangtuanya, meskipun memiliki keterbatasan dalam menuntut ilmu. “Karena mungkin karena keterbatasan kedua orang tua dalam menuntut ilmu.” Jelas beliau. Kiai Zainuddin tidak ingin ada orangtua yang dijadikan seperti karyawan atau pembantu untuk anak. Justru anak lah yang harus mandiri dan membantu orangtua mengerjakan pekerjaan mereka. Itu adalah tanda orang berilmu. “Orang berilmu adalah orang yang memuliakan kedua.” Pesan beliau. Setelah itu, sesi mushafahah dilaksanakan dengan pembacaan surah Yasin dan Tahlil di raudah KH. Muhammad Badruddin Anwar. Para santri ramai-ramai langsung berpindah tempat memadati area raudah. Usai pembacaan, para santri kembali ke kamar masing-masing untuk persiapan. Jadwal Perpulangan Santri Luar Malang Raya Para santri luar Malang An-Nur II dijadwalkan pulang pada Selasa, 10 Maret 2026. Terdapat dua metode: penjemputan oleh orangtua atau wali dan pemberangkatan dengan bus yang An-Nur II sediakan. Terdapat dua gelombang pemberangkatan dengan bus: (Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II) Mushafahah Luar Jawa &#160;Ditranskripsi oleh TurboScribe. Tingkatkan ke Tanpa Batas untuk menghapus pesan ini. Selamat datang di kuliah saya. Kita selalu ingin menampilkan hasil. Semoga kita semua mencernyam semuanya berkaitan dengan kegiatan yang bermanfaat. Di antaranya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dilakukan, dan ilmu yang telah dikuasai kemudian dilakukan. Dan ini adalah bagian daripada ilmu yang wajib kita lakukan adalah berbakti kepada kedua orang tua. Ridhallah fi ridhal walidain wa sukhtullah fi sukhtil walidain. Rida Allah terletak kepada ridanya orang tua, dan kebencian atau kemurkaan Allah juga ada pada kemurkaan kedua orang tua. Oleh karena itu, ada salah satu cerita juga orang ingin pergi berjihad. Kemudian ditanya apakah sudah ijin kepada kedua orang tua? Apakah Anda masih punya kedua orang tua? Masih punya harga yang belum &#8230;? Kembalilah, rawatlah kedua orang tua. Dan orang tua ini adalah termasuk hal besar yang menjadikan kita masuk surga. Tentunya orang masuk surga itu adalah hal besar. Begitu juga kesuksesan. Seseorang akan bisa sukses ketika patuh, ketika dia tidak melawan kepada kedua orang. Oleh karena itu, bapak saya telah lama berkongsi dengan bapak saya di sini. Ini adalah waktu saatnya, menumbuhkan &#8230; Dan itu adalah ilmu yang bermanfaat. Termasuk tandanya adalah berbakti kepada kedua orang tua. “Percuma belajar tinggi-tinggi, kemudian orang yang pernah mengajarimu berbicara sekarang kamu ajari.” Yang ini adalah orang tua. Karena mungkin karena keterbatasan kedua orang tua dalam menuntut ilmu. Sehingga kita bisa, lebih mengetahui. Kemudian orang tuanya digunakan atau dianggap sebagai karyawan atau pembantu. Orang berilmu adalah orang yang memuliakan kedua. Semoga orang tua panjenengan sehat wal afiat. Panjang umur. Dan nanti kalau pulang jangan lupa Sampaikan salam kami kepada wali. Kedua orang tua. Semoga semua ini panjang umur dan malafiat. Yang ini adalah bermanfaat. Pulang dalam keadaan selamat. Kembali ke garansi depan waktu. Semoga juga puasa yang lancar sampai abad. Amin. Semoga berjaya. Assalamualaikum. Assalamualaikum Wr Wb. &#160;Ditranskripsi oleh TurboScribe. Tingkatkan ke Tanpa Batas untuk menghapus pesan ini.]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://annur2.net/waktunya-perpulangan-santri-luar-malang-tiba-mushafahah-gelombang-kedua/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PWR Malam ke-19: Hutang Penghancur Layaknya Bom</title>
		<link>https://annur2.net/pwr-malam-ke-19-hutang-penghancur-layaknya-bom/</link>
					<comments>https://annur2.net/pwr-malam-ke-19-hutang-penghancur-layaknya-bom/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Annur2]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2026 13:06:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[alvers]]></category>
		<category><![CDATA[annur2]]></category>
		<category><![CDATA[annur2malang]]></category>
		<category><![CDATA[ayomondok]]></category>
		<category><![CDATA[ayongaji]]></category>
		<category><![CDATA[ngajihadits]]></category>
		<category><![CDATA[ngajikuy]]></category>
		<category><![CDATA[ngajionline]]></category>
		<category><![CDATA[onedayonehadith]]></category>
		<category><![CDATA[pesantrenwisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://annur2.net/?p=30752</guid>

					<description><![CDATA[Pasar Waqiah Ramadan 1447 H/2026 M Malam ke-19 Kiat Melunasi Hutang Oleh: Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. annur2.net &#8211; Pada bulan Ramadan sebagian orang membagi beberapa fase di dalamnya secara humor namun penuh makna, yaitu: minggu pertama masjid penuh, minggu kedua mal penuh, minggu ketiga terminal penuh, dan minggu terakhir pegadaian yang penuh. Humor ini terutama fase terakhir sebenarnya sedang menyindir satu fenomena yang sering terjadi di kehidupan sekarang: persoalan hutang. Ada dua slogan yang sangat kontras beredar di tengah masyarakat. Ungkapan itu berbunyi: “Agar silaturahmi tidak terputus, pinjam dulu seratus.” Namun ada pula ungkapan yang justru sebaliknya: “Hutang adalah pemutus silaturahmi yang paling tajam.” Maka tidak heran di toko-toko terpampang tulisan: “Toko ini tidak melayani bon.” Bahkan ada yang menambahkan kalimat lucu: “Hiroshima hancur karena bom, toko ini hancur karena bon.” Humor-humor tersebut sebenarnya menunjukkan satu kenyataan bahwa hutang seringkali menjadi sumber masalah di tengah kehidupan bermasyarakat. Hutang Penjerumus ke Dalam Dosa Para ulama mengatakan: الدَّيْنُ هَمٌّ بِاللَّيْلِ وَذُلٌّ بِالنَّهَارِ Artinya: “Hutang itu kegelisahan pada malam hari dan kehinaan pada siang hari.” Imam Sufyan Ats-Tsauri juga pernah berkata bahwa hutang akan membuat seseorang gelisah ketika malam dan hina ketika siang, karena selalu terbebani oleh kewajiban untuk membayar dan rasa malu sebab memiliki hutang yang tak kunjung lunas. Dikisahkan bahwa suatu hari Sayidina Umar melihat seseorang bernama Ibnu Juraij berjalan di siang hari dengan menutup wajahnya. Umar bertanya kepadanya: “Kenapa engkau menutup wajah di siang hari?” Beliau lalu mengingatkan sebuah hikmah dari Luqman Al-Hakim bahwa menutup wajah di siang hari adalah tanda kehinaan. Ternyata Ibnu Juraij melakukan itu karena ia memiliki hutang dan malu kepada orang-orang. Nabi Muhammad saw., sudah mewanti-wanti kepada umatnya agar menjauhi hutang. Sebab hutang hanya akan membawa rasa gelisah dan takut. لا تُخِيفوا أنفُسَكم بعْدَ أَمْنِها. قالوا: وما ذاكَ يا رسولَ اللهِ؟ قال: الدَّيْنُ Artinya: “Janganlah kalian meneror diri kalian sendiri padahal sebelumnya kalian dalam keadaan aman.” Ketika beliau ditanya apa maksudnya, beliau menjawab: “Itu adalah hutang.” (HR. Ahmad) Seseorang yang sebelumnya hidup tenang bisa berubah menjadi gelisah karena memikul beban hutang. Selain mengakibatkan kegelisahan dan ketakutan setiap harinya, hutang dapat menjerumuskan ke dalam dosa. إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ Artinya: “Sesungguhnya seseorang jika terlilit hutang, ia akan berbicara lalu berdusta, dan berjanji lalu mengingkari.” (HR. Bukhari dan Muslim) Orang-orang yang sudah terlanjur terlilit hutang, terkadang ia terpaksa berbohong atau mengingkari janji pelunasan hutangnya. Dua perbuatan dosa inilah yang menanti para penghutang. Bahkan bukan hanya dosa berbohong dan khianat, dosa memutus silaturahmi juga sering berakibat bagi penghutang. Seperti kisah sahabat Rasulullah bernama Qais bin Sa’ad bin Ubadah. Suatu ketika beliau sedang sakit. Namun anehnya, hanya sedikit orang yang datang menjenguknya. Qais merasa heran lalu bertanya: “Kenapa teman-temanku tidak banyak yang menjengukku?” Seseorang menjawab: “Mereka malu menjengukmu karena mereka memiliki banyak hutang kepadamu.” Mendengar itu Qais langsung berkata: “Kalau begitu umumkan kepada mereka: &#8216;Siapa pun yang punya hutang kepadaku, semuanya aku bebaskan.&#8216;&#8221; Begitulah kemuliaan hati para sahabat. Sering kali seseorang tidak berani bertemu dengan orang yang menghutanginya karena rasa malu. Sebab hutang merupakan salah satu kehinaan bagi pemiliknya. Memang terkadang penghutang berbuat dosa saat belum bisa membayar. Tetapi ada juga yang lebih buruk, dia berbuat zalim sebab punya uang tapi tidak melunasinya. Rasulullah ﷺ bersabda: مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ Artinya: “Menunda pembayaran hutang oleh orang yang mampu adalah suatu kezaliman.” (HR. Ahmad) Anehnya, di kehidupan sekarang sering kita temui fenomena yang ironis. Seseorang mengaku memiliki hutang tetapi kehidupan sehari-harinya penuh flexing dan gaya hidup mewah. Bahkan terkadang penghutang justru lebih galak daripada yang memberi hutang. Padahal menagih hutang sebenarnya bukan perkara mudah. Banyak orang mengatakan lebih sulit menagih hutang daripada meminjamkan uang. Jika seseorang memiliki hutang, maka langkah pertama adalah membuat skala prioritas. Dalam daftar keuangan, nomor satu adalah membayar hutang. Sayangnya sekarang sering terjadi kebalikannya: orang lebih mendahulukan gaya hidup daripada melunasi hutangnya. Hutang Beban di Akhirat فِي الدَّيْنِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوْ قُتِلَ رَجُلٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، ثُمَّ عَاشَ، وَعَلَيْهِ دَيْنٌ، مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ دَيْنُهُ. Artinya: “(Itu) tentang hutang. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya seseorang terbunuh di jalan Allah kemudian hidup kembali sementara ia masih memiliki hutang, maka ia tidak akan masuk surga sampai hutangnya dilunasi.” Hutang di dunia tidak akan berhenti ketika seseorang itu sudah mati. Itu sebuah beban terberat bagi pemiliknya. Bahkan Allah Swt., tidak menerima perjuangan orang yang hingga mati di medan pertempuran jika masih memiliki hutang. Seandainya hutang itu sudah lunas Allah akan menerimanya dan memasukkannya ke dalam surga-Nya. Bahkan dalam hadis lain disebutkan: يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الدَّيْنَ Artinya: “Semua dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutang.” (HR. Muslim) Pada masa Rasulullah ﷺ, beliau pernah enggan menyalati jenazah yang masih memiliki hutang sampai ada yang bersedia menanggungnya. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya persoalan hutang dalam Islam. Hutang Bukan Haram, Tapi Pintu Darurat Islam tidak melarang hutang. Bahkan Rasulullah ﷺ sendiri pernah berhutang. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha: اشْتَرَى النَّبِيُّ ﷺ مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا إِلَى أَجَلٍ وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ Artinya: “Nabi membeli makanan dari seorang Yahudi dengan pembayaran tempo dan beliau menggadaikan baju perangnya.” (HR. Ibnu Majah) Namun hutang dalam Islam bukan gaya hidup, melainkan pintu darurat. Ibarat pintu darurat di dalam bus yang bertuliskan: “Pecahkan kaca ini hanya dalam keadaan darurat.” Jika busnya aman, tentu tidak boleh dipecahkan. Begitu juga hutang. Gunakan hanya ketika benar-benar terdesak. Berbeda dengan orang zaman sekarang. Orang dahulu memiliki prinsip: “Kalau tidak punya uang, jangan membeli.” Namun sekarang sering terjadi kebalikannya: “Walaupun tidak punya uang, tetap membeli dengan cara berhutang.” Dulu orang berpikir: “Kalau bisa cash, kenapa harus berhutang?” Namun sekarang: “Kalau bisa kredit, kenapa harus lunas?” Bahkan bank menawarkan kartu kredit kepada orang yang sebenarnya sudah punya uang. Selain menjadikan hutang sebagai jalan terakhir. Penghutang juga harus berniat mengembalikannya. Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَهَا يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ Artinya: “Barangsiapa yang mengambil harta orang lain dengan niat mengembalikannya, Allah akan membantunya melunasi. Namun siapa yang mengambilnya dengan niat merusaknya, Allah akan merusaknya.”&#160; (HR. Bukhari) Bahkan dalam hadis lain disebutkan: أَيُّمَا رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةً]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://annur2.net/pwr-malam-ke-19-hutang-penghancur-layaknya-bom/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PWR Malam Ke-17: Memperingati Nuzulul Qur’an dengan Memperbanyak Membaca Al-Qur’an</title>
		<link>https://annur2.net/pwr-malam-ke-17-memperingati-nuzulul-quran-dengan-memperbanyak-membaca-al-quran/</link>
					<comments>https://annur2.net/pwr-malam-ke-17-memperingati-nuzulul-quran-dengan-memperbanyak-membaca-al-quran/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Annur2]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2026 06:12:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[alvers]]></category>
		<category><![CDATA[annur2]]></category>
		<category><![CDATA[annur2malang]]></category>
		<category><![CDATA[ayomondok]]></category>
		<category><![CDATA[ayongaji]]></category>
		<category><![CDATA[ngajihadits]]></category>
		<category><![CDATA[ngajikuy]]></category>
		<category><![CDATA[ngajionline]]></category>
		<category><![CDATA[onedayonehadith]]></category>
		<category><![CDATA[pesantrenwisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://annur2.net/?p=30748</guid>

					<description><![CDATA[Pasar Waqiah Ramadan 1447 H/2026 M Malam ke-17 Kajian Nuzulul Qur’an Oleh: Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. annur2.net &#8211; Tidak terasa sudah mencapai malam 17 Ramadan. Malam tersebut bertepatan memperingati Nuzulul Qur’an, malam turunnya Al-Qur’an. Di mana pun, turun itu dari atas. Hal ini menandakan Al-Qur’an turun dari sebuah kemuliaan yaitu Allah Swt.  Sebenarnya, terdapat dua istilah turunnya Al-Qur’an. Pertama yaitu Lailatul Qadar yang terletak pada malam ganjil tanggal-tanggal likuran. Tidak ada yang mengetahui kapan tepatnya kecuali Allah semata. Fase ini merupakan penurunan Al-Qur’an dari Lauh Mahfuz ke langit dunia Baitul Izzah langsung 30 juz.&#160; Kedua yaitu Nuzulul Qur’an yang terjadi pada tanggal 17 Ramadan. Fase ini berlangsung selama 22 tahun 2 bulan 22 hari atau kurang lebih 22 tahun. Al-Qur’an diturunkan dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad saw., melalui perantara Malaikat Jibril. Turunnya Al-Qur’an harus diperingati karena Al-Qur’an adalah kitab suci dan akan tetap seperti itu sampai hari kiamat. Beda dengan kitab suci yang lain. Sekarang kitab-kitab selain Al-Qur’an tidak suci lagi karena adanya campur tangan manusia. Banyaknya perubahan pada kitab-kitab tersebut menjadikannya tidak murni. Beda halnya Al-Qur’an. Seandainya terjadi pembakaran semua kitab suci, Al-Qur’an akan menjadi kitab yang masih ada. Sebab banyak orang yang telah menghafalkannya dari awal sampai akhir. Namun selain Al-Qur’an akan hilang seketika. Apalagi tidak ada yang menghafalkannya. Kemungkinan yang terjadi setelahnya adalah “pembuatan kitab suci baru”.&#160; Selain itu, Al-Qur’an tetap kekal bahkan sampai hari kiamat karena Allah langsung yang menjaganya. Sebagaimana dalam firman-Nya, إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9) Al-Qur’an ibarat produk yang memiliki garansi. Ketika ada kesalahan pasti ada yang memperbaikinya sampai benar keseluruhannya, yaitu Allah Swt., melalui penghafal Al-Qur’an. Sedangkan kitab lainnya ibarat produk dengan garansi yang sudah habis. Ada kesalahan dan tidak bisa diperbaiki. Tentu lebih memilih produk yang bergaransi daripada non garansi. Membaca Al-Qur’an Mengobati Hati Al-Qur’an artinya bacaan. Maka harus dibaca. Tapi sekarang banyak orang yang menyalahartikan Al-Qur’an sebagai hiasan. Banyak Al-Qur’an yang hanya menjadi pajangan. Padahal membaca Al-Qur’an akan memperoleh tombo ati (obat hati). Dalam kasidah, moco Qur’an angen-angen sak maknane (membaca Al-Qur’an mereka-reka beserta maknanya). Kalau asal membaca Al-Qur’an, hati tidak akan tenang karena tidak mendalami maknanya. Malahan memikirkan urusan dunia yang meresahkan.&#160; Ada cerita seorang anak yang memiliki kakek rajin membaca Al-Qur’an. Anak itu bertanya, “Mbah, engkau membaca AL-Qur’an terus. Aku juga kepingin. Tapi aku tidak bisa membaca tanpa bisa mendalami maknanya seperti Mbah.” Lalu kakeknya menjawab, “Nak, baca saja! Kamu paham maknanya atau pun tidak, baca saja!” Sama dengan salat, harus khusyuk. Tapi kalau menunggu khusyuk, tidak akan salat. Makanya mending tetap melakukan salat sambil berlatih khusyuk. Begitu juga membaca Al-Qur’an. Tetap terus membaca Al-Qur’an sambil berlatih memahami maknanya. Membaca Al-Qur’an bisa membersihkan hati. Nabi bersabda,&#160; إن القلوب تصدأ كما يصدأ الحديد فقيل يا رسول الله وما جلاؤها فقال تلاوة القرآن وذكر ‌الموت “Sesungguhnya hati itu bisa korosi sebagaimana besi ketika bertemu dengan air. Kemudian ada yang bertanya kepada Baginda Nabi, &#8216;Ya Rasulallah, lalu apa yang dapat menghilangkan korosi tersebut?&#8217; Rasul menjawab, &#8216;Banyak mengingat kematian dan membaca Al-Qur&#8217;an.&#8217;” (HR. Al-Baihaqi) Ada seorang bapak yang bicara kepada anaknya sambil menunjuk sebuah keranjang, “Nak, isilah wadah ini dengan air dari sungai, tapi menggunakan keranjang itu.” Anaknya pun melakukannya. Ia bolak-balik dari sungai ke wadah. Tapi wadah itu tak kunjung penuh. Akhirnya anak itu menyerah.&#160; “Ayah, aku berhenti. Wadah itu tidak penuh-penuh.” Ucap anak itu. Bapaknya pun berkata, “Nak, wadah itu memang tidak penuh. Tapi lihat perubahan keranjang itu. Apa yang kamu lihat?” Anak itu menjawab, “Semakin bersih daripada sebelumnya.” Lalu ayahnya menambahi, “Benar, itu juga yang akan terjadi pada orang yang sering membaca Al-Qur’an.” Orang seperti itu akan memiliki hati yang bersih.&#160; Membaca Al-Qur’an Membersihkan Hati Syekh Ahmad Isa Al-Mu’ashrawi,&#160; عجباً لأمر القرآن نزل جبريل بالقرآن فأصبح أفضل الملائكة. ونزل القرآن على محمد فصار سيد الخلق. ونزل القرآن في شهر رمضان فأصبح خير الشهور.&#160; ونزل القرآن في ليلة القدر فأصبحت خيرا من ألف شهر. وجاء القرآن إلى أمة محمد فأصبحت خير أمة. فماذا لو نزل القرآن في قلوبنا؟ “Sungguh menakjubkan keajaiban Al-Qur&#8217;an. Jibril menurunkan Al-Qur&#8217;an, lalu ia menjadi malaikat terbaik. Al-Qur&#8217;an diturunkan kepada Muhammad, lalu ia menjadi pemimpin seluruh makhluk. Al-Qur&#8217;an diturunkan pada bulan Ramadan, lalu bulan itu menjadi bulan terbaik. Al-Qur&#8217;an diturunkan pada malam Lailatul Qadar, lalu malam itu menjadi lebih baik dari seribu bulan. Al-Qur&#8217;an datang kepada umat Muhammad, lalu umat itu menjadi umat terbaik. Lalu, bagaimana jika Al-Qur&#8217;an diturunkan ke dalam hati kita?” Mestinya hati akan menjadi bersih dan dipenuhi makna Al-Qur’an. Dalam keadaan apapun, orang itu akan tenang, bahkan ketika tertimpa masalah. Lebih mantap lagi jika memperbanyak membaca Al-Qur’an seolah ini Ramadan terakhir. Mengingat kematian mendorong untuk lebih giat dan semangat dalam membaca Al-Qur’an.&#160; الصيامُ والقرآنُ يَشْفَعانِ للعبدِ، يقولُ الصيامُ: أَيْ رَبِّ ! إني مَنَعْتُهُ الطعامَ والشهواتِ بالنهارِ، فشَفِّعْنِي فيه، ويقولُ القرآنُ : مَنَعْتُهُ النومَ بالليلِ، فشَفِّعْنِي فيه ؛ فيَشْفَعَانِ “Puasa dan Al-Qur’an bisa memberikan syafaat kepada hamba. Puasa berkata, ‘Wahai tuhanku! Sesungguhnya aku telah mencegah hamba tersebut dari makanan dan syahwat di siang hari. Maka dari itu, terimalah syafaatku untuknya’. Al-Qur’an juga berkata, ‘Aku telah mencegahnya dari tidur pada malam hari, maka terimalah syafaatku untuknya.’ Sehingga mereka bisa memberikan syafaat.” (HR. Ahmad) Perumpamaan Pembaca Al-Qur’an Mukmin dan Munafik Meski sama-sama membaca Al-Qur’an, orang mukmin dan kafir memiliki anggapan yang berbeda. Nabi Muhammad bersabda, 2865 &#8211; عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «‌مَثَلُ ‌الْمُؤْمِنِ ‌الَّذِي ‌يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُنْجَةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا، وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ رِيحُهَا مُرٌّ وَطَعْمُهَا مُرٌّ.» Ada pemuda yang bertanya kepada seorang syekh, “Syekh, bagaimana ulama terdahulu memperlakukan Al-Qur’an?” Ia heran mengapa mereka bisa sering membaca Al-Qur’an. Syekh itu menjawab, “Mereka memperlakukan Al-Qur’an sebagaimana kamu memperlakukan gadget sekarang.” Dalam artian, mereka tidak terlepas dari Al-Qur’an. Entah sebelum maupun sesudah salat, bahkan sebelum dan bangun tidur, mereka membaca Al-Qur’an. Maka tak heran, pada bulan Ramadan, Imam Malik membaca]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://annur2.net/pwr-malam-ke-17-memperingati-nuzulul-quran-dengan-memperbanyak-membaca-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gelombang Pertama, Mushafahah Perpulangan Santri Luar Jawa</title>
		<link>https://annur2.net/gelombang-pertama-mushafahah-perpulangan-santri-luar-jawa/</link>
					<comments>https://annur2.net/gelombang-pertama-mushafahah-perpulangan-santri-luar-jawa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Annur2]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2026 01:10:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KILAS AN-NUR]]></category>
		<category><![CDATA[alvers]]></category>
		<category><![CDATA[annur2]]></category>
		<category><![CDATA[annur2malang]]></category>
		<category><![CDATA[ayomondok]]></category>
		<category><![CDATA[ayongaji]]></category>
		<category><![CDATA[ngajihadits]]></category>
		<category><![CDATA[ngajikuy]]></category>
		<category><![CDATA[ngajionline]]></category>
		<category><![CDATA[onedayonehadith]]></category>
		<category><![CDATA[pesantrenwisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://annur2.net/?p=30745</guid>

					<description><![CDATA[annur2.net &#8211; Sore Sabtu, 7 Maret 2026 di Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” tengah terdapat kegiatan Mushafahah Santri Luar Jawa untuk berpamitan kepada pengasuh sebelum berlibur. Hari itu merupakan bagian untuk santri area luar Jawa yang dilaksanakan di Makam pendiri Pondok Pesantren yakni Almaghfurlah Romo KH. M. Badruddin Anwar. Kepulangan santri luar Jawa lebih dulu memang disengaja karena mengingat tempat tinggal yang jauh maka butuh waktu untuk menempuh. Acara ini dimulai pasca salat Asar dimulai dengan pembacaan tahlil. Tahlil ditujukan kepada pendiri pondok pesantren juga sembari menunggu santri yang mulai berdatangan. Hingga pembacaan tahlil selesai dan santri telah memenuhi seisi makam acara akan dilanjut dengan nasihat oleh pengasuh yakni Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. Beliau mengawali dengan selamat atas liburan kepada santri.  Beliau mengatakan bahwasanya kebahagiaan orang Islam dalam puasa itu ada dua. Pertama, datangnya waktu berbuka dan kedua adalah ketika mereka telah bertemu dengan Allah Swt. Akan tetapi, untuk para santri ini berbeda karena ketambahan satu yakni ketika telah sampai di rumah. Ketika sampai di rumah, para santri harus membantu dan tidak menyusahkan orang tua. Pengasuh: Senantiasa Menjadi Santri “Di pondok santri, di jalan santri, di rumah santri.” Ucap Kiai Fathul Bari, bahwasanya santri harus menerapkan ilmu di manapun kita berada. Dari hal itu, sebagai santri dapat membuat orang tua bahagia dan tidak kesusahan. Jangan terlalu banyak meminta-minta kepada orang tua, tapi harus banyak membantu orang tua.  رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ “Rida Allah, tergantung rida orang tua dan murka-Nya tergantung pada murka keduanya” (HR. Tirmidzi, No. 1899) Beliau juga mengingatkan bahwasanya santri di rumah sedang melaksanakan puasa. Dari hal itu, sebaiknya santri mengkhatamkan Al-Qur’an dan pergi ke musala untuk menjadi imam serta merawatnya.  Orang tua akan bangga jika anaknya melakukan hal tersebut. Kalau orang tua rida, Allah pun rida, ketika semua rida hal atau cita-cita yang kita inginkan akan mudah tercapai. Akhir kata beliau mengingatkan, “Ingat! Tatkala kamu pulang sampai rumah cari orang tua kamu kemudian minta maaf kepada orang tua, terima kasih kepada orang tua dan minta doa supaya kamu punya cita-cita dimudahkan Allah Swt.” Dengan demikian, sambutan dari Kiai Fathul Bari selesai dan santri akan berpamitan dan bersalaman dengan beliau secara bergantian.  (Zihni Maurizio/Mediatech An-Nur II)]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://annur2.net/gelombang-pertama-mushafahah-perpulangan-santri-luar-jawa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PWQ Malam Ke-15: Pasar adalah Tempat yang Dibenci Allah Tapi Baik Untuk Manusia?</title>
		<link>https://annur2.net/pwq-malam-ke-15-pasar-adalah-tempat-yang-dibenci-allah-tapi-baik-untuk-manusia/</link>
					<comments>https://annur2.net/pwq-malam-ke-15-pasar-adalah-tempat-yang-dibenci-allah-tapi-baik-untuk-manusia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Annur2]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2026 07:03:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[alvers]]></category>
		<category><![CDATA[annur2]]></category>
		<category><![CDATA[annur2malang]]></category>
		<category><![CDATA[ayomondok]]></category>
		<category><![CDATA[ayongaji]]></category>
		<category><![CDATA[ngajihadits]]></category>
		<category><![CDATA[ngajikuy]]></category>
		<category><![CDATA[ngajionline]]></category>
		<category><![CDATA[onedayonehadith]]></category>
		<category><![CDATA[pesantrenwisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://annur2.net/?p=30742</guid>

					<description><![CDATA[Pasar Waqiah Ramadan 1447 H/2026 M Malam Ke-13 Adab Pasar Oleh: Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا» Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa nabi bersabda, “Negeri (tempat) yang paling dicintai Allah adalah pada masjid-masjid-Nya, dan tempat yang paling dimurkai Allah adalah pasar-pasar-Nya.” (HR. Muslim) annur2.net &#8211; Tempat yang paling dicintai oleh Allah yakni masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar. Dari hal itu, bukan berarti orang yang datang ke pasar merupakan orang-orang yang buruk. Nabi Muhammad pun dulu pergi ke pasar untuk mencari bahan pangan dan memenuhi kebutuhan.  Hal tersebut menimbulkan kontradiksi antara pasar merupakan tempat yang hina dan nabi sebagai makhluk paling suci pergi ke tempat yang hina. Pasar adalah tempat orang bekerja, nabi bersabda sesungguhnya allah mencintai orang yang beriman dengan memiliki pekerjaan yang dapat menopang keluarga. وفي حديث آخر إن الله يحب الفقير المتعفف أبا العيال Dalam hadis lain Rasulullah saw., bersabda “Allah menyukai orang fakir yang apik dan yang menjadi tulang punggung keluarga.” (HR. Ibnu Majah) Allah tidak suka dengan orang yang nganggur, yakni orang yang tidak sibuk urusan dunia dan tidak sibuk dengan urusan akhirat. Mengemis bukanlah profesi dan jangan jadikan hal tersebut menjadi sebuah pekerjaan. Nabi sendiri pernah bersabda: لَا تَزَالُ الْمَسْأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ &#8220;Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain hingga ia datang pada Hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya.&#8221; (HR. Bukhari No. 1474, Muslim No. 1040) Barang siapa yang sering meminta-minta tanpa adanya kebutuhan yang mungkin penting, ketika di Hari Kiamat wajahnya akan hancur total. Wajahnya hancur tanpa secuilpun daging di wajahnya, hanya terlihat tulang, terlihat kulitnya dan menghitam. Karena mengemis atau meminta tanpa adanya kebutuhan adalah perbuatan haram karena menurunkan martabat dan meninggalkan ikhtiar (usaha/bekerja mencari rezeki yang halal).&#160; Mengemis bukan untuk memperkaya diri, akan tetapi menghancurkan martabat, tipu daya, hingga di akhirat wajahnya hancur. Namun, meminta boleh dilakukan dengan tiga hal: الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ &#8220;Meminta-minta itu adalah cakaran yang dengannya seseorang mencakar wajahnya sendiri, kecuali jika seseorang meminta kepada penguasa (pemerintah) atau dalam perkara yang tidak bisa dihindari (keadaan genting/darurat).&#8221; (HR. An-Nasa&#8217;i No. 2600, At-Tirmidzi No. 681) Meminta diperbolehkan dengan dua hal, yang pertama meminta kepada pemerintah. Kita boleh meminta pemerintah karena rakyat pemilik kedaulatan dan pemerintah bertugas untuk melayani, melindungi serta mensejahterakan rakyat. Ini merupakan bentuk hubungan timbal balik dari rakyat yang telah membayar pajak dan mematuhi aturan. Sehingga kita berhak untuk meminta-minta kepada pemerintah untuk memenuhi hak kita, namun kita juga harus membayar pajak serta mentaati peraturan. Lalu, meminta sesuatu bila memang dalam keadaan darurat.&#160; Bekerja di Pasar Sembari Zikir Kepada Allah Tempat bekerja itu dipasar, siapapun yang masuk pasar tapi berdiri dengan membaca zikir maka ia akan mendapat ganjaran yang besar. Seperti yang Nabi Muhammad katakan: مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ: لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُۥ لَا شَرِيكَ لَهُۥ، لَهُ ٱلْمُلْكُ وَلَهُ ٱلْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ حَىٌّۭ لَّا يَمُوتُ بِيَدِهِ ٱلْخَيْرُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ، كَتَبَ ٱللَّهُ لَهُۥ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُۥ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ &#8220;Barangsiapa masuk ke pasar kemudian membaca: &#8216;Tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan. Dia hidup tidak mati. Di tangan-Nya segala kebaikan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.&#8217; Maka Allah mencatat baginya satu juta kebaikan, menghapus darinya satu juta keburukan, dan mengangkat baginya satu juta derajat.&#8221; (HR. Tirmidzi No. 3428-3429, HR. Ibnu Majah No. 2235) Sesiapa yang masuk pasar membaca zikir akan membawa satu juta kebaikan, dihapus satu juta keburukan dan akan diangkat satu juta derajat baginya. Yakni membaca “La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumit, wa huwa hayyun la yamut, biyadihil khair, wa huwa &#8216;ala kulli syai&#8217;in qadir.”&#160; Mengapa jika di pasar terdapat hal yang begitu tidak disukai Allah? Hal itu disebabkan pasar adalah tempat berbagai setan bersarang. Maka dari itu, terdapat banyak orang yang lupa ketika di pasar akan Allah, melakukan penjualan yang tidak jujur dan berbagai keburukan disana. Sehingga, ketika di pasar kita dianjurkan untuk mengucapkan “Lailahailallah”. Dengan demikian, pasar merupakan tempat yang paling dibenci oleh Allah Swt. Alasannya karena pasar terdapat banyak orang yang melakukan jual beli yang buruk. Dari hal itu, banyak orang yang lupa Allah dengan melakukan penjualan yang tidak jujur dan Nabi Muhammad saw., menganjurkan ketika akan masuk ke dalam pasar membaca zikir. Maka dari itu, ketika kita akan masuk ke pasar dan berjualan, kita harus ingat kepada Allah dengan membaca zikir agar kita dijauhkan dari perbuatan yang buruk ketika berada di pasar. (Zihni Maurizio/Mediatech An-Nur II)]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://annur2.net/pwq-malam-ke-15-pasar-adalah-tempat-yang-dibenci-allah-tapi-baik-untuk-manusia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
