Dialog I

“Dialog I”


Kerinduan bisa begitu sederhana
Ia ada dalam hembus angin pagi
Datang bersama embun dini hari
Sambil menyelipkan senyum di bibir yang tertidur

Mungkin, aku pun ada di situ

Silent Symphony IV

Samar terdengar sebuah gumam
Dalam ruang masam berbau cat
Dan tubuh kering yang tak pernah basah
            Aku menyebut biru
            Seperti rindu yang selalu
            Seperti cinta melulu

Lalu kata-kata lenyap dalam cemas
Derap menjauh lalu senyap
Ia tidak meninggalkan harap
            Menjelmakan aku
            Yang serba tak tahu
            Mana memar atau rindu

Ia membongkar lembab
Mencari celah di tempurung kepalanya
Agar didapatnya biru terang
            Seperti saat melihat langit biru
            Saat angin menebar bibit kemarau
            Saat tak ada lagi dingin membeku

Agni

"Agni" (Fire) Acrylic on board 65 cm x 78 cm ©Alf Sukatmo. 2017

“Agni” (Fire)
Acrylic on board
65 cm x 78 cm
©Alf Sukatmo. 2017

When a dance starts the history
Men are falling in desperation
 
-ASu

05022017


Photo reference used with permission from the photographer
Photo reference credit: @whdbrn

Bak

Mungkin kau hendak meminjamiku
Sebagian dari dirimu
Menjadi surgaku

Mungkin kau hendak membagiku
Setetes keringat yang menekuk punggungmu
Agar aku tahu sedikit nerakamu

Mungkin kau hendak memberiku
Selembar rambut putihmu
Sebagai apapun untuk menetak rindu

(03022017)

Senyum

Beri aku sesuatu yang singkat

Sesingkat yang bisa kurindu
Secepat yang bisa kau beri

Seulas senyum
Mungkin, seperti “Smile” dalam hentak bass Yoshihiro Naruse
Atau tangis bila kau bisa

Cepat
Tanpa perlu sebab atau alasan
Sebelum dinding-dinding yang terlalu lama kosong
Mengerang dibawa ajal


010217