
“Dialog IV”
Tak ada waktu yang perlu diburu
Pun sia-sia mengejar rindu
Sewajar saat
Seperti itulah kelak aku menemukanmu

“Dialog IV”

“Dialog III”
Daun tak menggugat
Ia tak bertanya
“Kenapa?”
Saat jatuh
Ia luruh dalam peluk
“Kau tahu?”
Rindu pun bahasa semesta

“Dialog II”

“Dialog I”
Mungkin, aku pun ada di situ
Samar terdengar sebuah gumam
Dalam ruang masam berbau cat
Dan tubuh kering yang tak pernah basah
Aku menyebut biru
Seperti rindu yang selalu
Seperti cinta melulu
Lalu kata-kata lenyap dalam cemas
Derap menjauh lalu senyap
Ia tidak meninggalkan harap
Menjelmakan aku
Yang serba tak tahu
Mana memar atau rindu
Ia membongkar lembab
Mencari celah di tempurung kepalanya
Agar didapatnya biru terang
Seperti saat melihat langit biru
Saat angin menebar bibit kemarau
Saat tak ada lagi dingin membeku

“Agni” (Fire)
Acrylic on board
65 cm x 78 cm
©Alf Sukatmo. 2017
When a dance starts the history
Men are falling in desperation
-ASu
05022017
Photo reference used with permission from the photographer
Photo reference credit: @whdbrn
Mungkin kau hendak meminjamiku
Sebagian dari dirimu
Menjadi surgaku
Mungkin kau hendak membagiku
Setetes keringat yang menekuk punggungmu
Agar aku tahu sedikit nerakamu
Mungkin kau hendak memberiku
Selembar rambut putihmu
Sebagai apapun untuk menetak rindu
(03022017)
Beri aku sesuatu yang singkat
Sesingkat yang bisa kurindu
Secepat yang bisa kau beri
Seulas senyum
Mungkin, seperti “Smile” dalam hentak bass Yoshihiro Naruse
Atau tangis bila kau bisa
Cepat
Tanpa perlu sebab atau alasan
Sebelum dinding-dinding yang terlalu lama kosong
Mengerang dibawa ajal
010217

“The Only Flower”
Acrylic on paperboard
65 cm x 78 cm
©Alf Sukatmo. 2017

“Noise”
Acrylic on paperboard.
65 cm x 78 cm
©Alf Sukatmo. 2017