Listens: 'Toguro' - Dir en Grey

Demon Kingdom; Chapter 8

Title: Demon Kingdom; Chapter 8
Author: fatal_complexes
Rating : NC-17
Fandom : Dir en Grey
Genre : AU, angst, abuse, BDSM [overall chapters]
Pairing(s) : DiexKaoru
Synopsis : Ini kehidupan baru dan lingkungan baru. Ini tentang survive your life. Die masuk penjara karena kasus pembunuhan...Tetapi sebenarnya dia di neraka.
Comments : chapter 8

Previously: prologue, chapter 1, chapter 2, chapter 3, chapter 4, chapter 5, chapter 6, chapter 7


Chapter 8









Be mine. Although God have you.

Udara dingin membangunkan Die dari tidur siangnya yang tidak nyenyak, tidak pernah. Dalam mimpi pun yang dialaminya kadang begitu jelas dan nyata, bahkan tidak tau apakah dirinya sedang bermimpi atau tidak. Kekuatan iblis, pikirannya kembali mengingat master-nya, walaupun Die tidak ingin mengakui jabatan Kaoru. Laki-laki berambut hitam itu memandang ke arah langit dengan mata terpejamnya.

Setelah Kaoru menyatakan ucapannya, kedua laki-laki itu hanya saling memandang. Kaoru yang mengunci mata Die dan mengklaim sebagai miliknya dan milik Die, di mana dirinya melihat dan merasakan pertentangan, penolakan, penerimaan, kebingungan, dan hampa saling berebut untuk menjadi sebuah keputusan’.

“You’re weak.”

Matanya kembali terbuka, disambut oleh kumpulan awan yang menutupi cahaya matahari, namun tidak menciutkan pemberontakan dari sinar matahari untuk menembus celah-celah hingga bisa menghujamkan cahayanya ke bumi. Sedikit menggambarkan tentang dirinya, masih ada perlawanan dalam diri Die. Dan kebingungan.

Lapangan di depannya di penuhi para tahanan dengan aktifitasnya masing-masing; bermain bola, berkelahi dan sesuatu yang sebenarnya tidak pantas dilakukan, Die memalingkan wajahnya dari Toshiya dan slave­-nya, walaupun hanya sebuah ciuman, hal itu tetap sangat mengganggunya. Beruntunglah tidak ada seorang pun yang mengganggu dirinya yang sedang termenung di sebuah bangku panjang untuk mendapatkan ruang sendiri.

Die bangkit dan mulai berjalan tidak menentu, hanya berjalan dan berjalan walau tidak ada tempat lain yang bisa dia kunjungi. Ditemani dengan sebatang rokok Die kembali berpikir dan berpikir. Namun semakin dirinya berpikir semakin sulit sebuah keputusan ditentukan hingga tanpa terasa rokok miliknya habis dan bara api kecil menyengat jarinya, “Shit!” batang nikotin terlempar dari jarinya.

“Selamat siang.” Sebelum rasa perih itu reda, seseorang telah berdiri di hadapannya. Pakaian, atau lebih tepatnya sebuah seragam rapi menutupi tubuhnya yang semampai sebuah wajah yang belum dilihatnya, tapi udara di sekelilingnya cukup untuk memberitaukan jangan berurusan denganya. “Ini pertemuan pertama kita, sepertinya aku harus memperkenalkan diriku.” Rambutnya berwarna cokelat muda, senyuman yang tersungging di bibirnya tidak memperlihatkan kenyamanan bagi Die, “Yoshiki, kepala penjaga lama.”

Sebuah nama yang cukup menghentak laki-laki yang lebih muda hingga dirinya tidak sadar menampikan wajah keterkejutannya walaupun sedikit, “Tidak perlu terkejut seperti itu,” laki-lkai itu terkekeh, “Ekspresimu menunjukkan setidaknya kau sudah pernah mendengarku. Entah dari siapa.”

Belum habis rasa terkejut Die hingga tidak ada balasan yang keluar dari mulutnya, Yoshiki kembali berbicara “He’s right. You’re so gorgeous.” Senyuman berubah menjadi seringai, lagi dan lagi membuat Die semakin tidak nyaman dan tertekan, apa yang dimaksud dia benar, “Tapi tidak memberitau perubahan rambutmu.” Dan jelas itu mengarah pada Die, dari mana Yoshiki tau kalau warna rambut sebelumnya bukan hitam?

“Kau. Apa maksudmu?!” suara meninggi bukan berarti dirinya berani menantang sang kepala penjaga, terlebih untuk menutupi kegugupan yang datang entah dari mana.

Yoshiki menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil, “I mean, you’re really gorgeous. Especially with black hair.” Kini perkataan benar-benar membuat Die kesal, Yoshiki bisa melihat dari wajahnya, “Kaoru benar-benar sangat beruntung hingga membuatku iri.” Wajahnya terlihat kecewa namun tetap tidak membuat Die simpati.

“Shut the fuck off!”

Dan. Entah kapan dirinya terhantam pada dinding di belakangnya dengan tangan Yoshiki menekan kedua pergelangannya, wajahnya begitu dekat dengan Die hingga membuat nafasnya seolah dicambuk dan bisikan-bisikan dari tahanan lain mulai terdengar samar-samar. “Tipe pemberontak. Aku suka itu.” Die bersumpah akan menghajarnya jika Yoshiki berani menyentuh telinga miliknya dengan bibirnya. “How about with sex? Rebelation is a GOOD taste.” Bisikkan seperti kotoran di telinga Die dan laki-laki muda itu akan meluapkan kekesalannya pada laki-laki dihadapannya, hingga dirinya terlupa untuk tidak berurusan dengan Yoshiki.

“He’s mine.” Suara yang begitu dingin terdengar di antara mereka hingga perhatian mereka teralih pada pemilik suara tersebut. Yoshiki melihat Kaoru telah berdiri di sisi kanannya, tidak jauh dari tempat dirinya dan Die. Begitu juga Die yang langsung melihat ke arah Kaoru, matanya menyiratkan kebencian walaupun ekspresinya sedingin es, mungkin karena Die seorang slave yang bisa merasakan apa yang sedang dirasakan master-nya, benarkah?

Yoshiki terkekeh lalu tertawa hingga tangannya melepaskan Die, “So what’s the problem?” tanya Yoshiki, dirinya tidak bisa menahan diri untuk mengganggu Kaoru walaupun dengan hal-hal kecil, walaupun sebenarnya hal ini tidak kecil karena Kaoru berkata Die miliknya.

“I own him.” Jawab Kaoru ketus.

Sementara Die sendiri merasakan dirinya berada di tengah kedua sosok dengan kekuatan yang bisa menekan orang lemah untuk tunduk kepada mereka. Matanya menatap kedua laki-laki itu dengan tubuh yang gemetaran. “Apa buktinya jika dia milikmu?” tanya Yoshiki kembali mengarahkan pandangannya pada Die.

Tentu saja bukti itu tak terlihat, perubahan rambut pada Die tidak begitu kuat untuk mendukung pernyataan Kaoru. “Jika tidak ada bukti, ucapanmu hanya omong kosong, Kaoru.” Bagaimana Yoshiki menyebutkan nama miliknya terasa sangat menjijikan di telinga Kaoru, tapi dirinya menahan kemarahannya dan tidak membiarkan dirinya mengikuti permainan yang ingin Yoshiki mainkan.

Tak terduga Kaoru melayangkan pandangannya pada Die hingga membuat laki-laki berambut hitam itu mengalihkan matanya dan bertemu dengan milik Kaoru. Seperkian detik terasa sangat lama bagi Die jika memandang mata miliknya, menusuk sukma dan jelas Kaoru meminta sesuatu dari Die.

Jawaban.

“Jadi-“ Yoshiki menganggukkan kepalanya perlahan, kejadian itu cukup menarik perhatian beberapa tahanan yang semakin lama mulai menikmati pertemuan kedua laki-laki yang memiliki reputasi masing-masing dan Die bukanlah siapa-siapa di hadapan mereka. Rasanya hidup dan mati dirinya sedang dipertaruhkan, tidak, Die tidak ingin memikirkan hal itu. Mereka hanya sedang menekannya hingga dirinya menyerah, tetapi di satu sisi Die ingin terbebas dari udara yang terasa mencekiknya.

Dan kata itu meluncur dari mulutnya.

“I belong to him.” Die mengakui, bibirnya bergetar saat mengatakan pernyataannya, “I belong to him till death and-“ kini perkataan berikutnya terangkut di ujung lidahnya. Apakah benar dia akan mengatakan hal itu? Kembali mata miliknya bertemu dengan Kaoru. Die tau, dan dia mulai menyadari ucapan Kaoru perlahan menjadi sebuah kenyataan. Entah perkataannya yang mana, hanya untuk saat ini satu dari sekian ucapannya menjadi kenyataan yang Die sendiri ingin ingkari. “He own me although God have my soul.” Tanpa mengalihkan matanya dari master-nya.

Tanpa ada yang menyadari, di dalam diri Kaoru perkataan itu menggema di seluruh tubuh dan pikirannya. Mungkin Die mengatakan hal itu hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri dan akan ada beberapa luka lagi yang timbul di badannya, namun selalu ada sisi yang bersebrangan, di mana Kaoru mengharapkan pengakuannya adalah sebuah kejujuran.

“Menarik, tapi aku belum puas.” Terdengar suara kekehan Yoshiki, matanya terlihat berbinar-binar jika orang melihatnya dengan seksama. Seperti seorang anak laki-laki yang dibelikan mainan, maka dia akan memainkannya, begitulah perasaan yang dirasakan kepala penjaga itu.

“Sayangnya itu benar, Yoshiki-san.” Dan suara yang tidak asing terdengar dari arah yang berlawanan. Semua mata teralih pada sosok the unthouchable lain dengan rambut pirang dan tatto yang tidak kalah banyak dari Kaoru, Kyo.

Yoshiki membalikkan badannya dan bahkan kesenangannya semakin bertambah dengan munculnya Kyo, “Ah, Kyo.” Ucapnya terlihat begitu senang, “Sudah lama aku tidak melihatmu dan kau masih indah seperti dulu. Bukan begitu Kaoru?” kembali teralih pada Kaoru.

Kaoru sekilas melirik kearah Kyo lalu ke arah Yoshiki, “Aku tidak melihat itu.” Jawabnya dingin.

Giliran Kyo yang tertawa, “Dia sudah menemukan mainan yang baru dan kau sedang mengganggunya, apa tidak berlebihan di hari pertama kau bertugas kembali?” goda Kyo yang sekarang tekah berdiri di sebelah Yoshiki dan semkin membuat Die ingin pergi dari situ.

“Hanya menyapa saja.” Jawabnya sambil tersenyum. Yoshiki kembali memperhatikan Kaoru, “Kau curang selalu memilih yang terbagus dan kupikir terbaik, membuatku iri.” Dan matanya kembali menyentuh seluruh badan Die, “Hari ini kurasa cukup, lagipula-“ dan gikiran Kyo yang dilihatnya, “Kita harus berbincang-bincang Kyo. Kau tau aku sangat merindukanmu.” Seringan muncul di kedua laki-laki yang bersebelahan itu, mereka tau Kaoru akan merasa kesal dengan kedekatan mereka walaupun dirinya menjawab tidak jika seseorang menanyakannya.

“Sampai nanti, Die. Jelas kita akan bertemu lagi.” Ucapnya lalu terkekeh bersama Kyo sembelum kedua mulai menjauhi dirinya.

Setelah usai para tahanan kembali tidak mempedulikan Die dan mengurusi urusan masing-masing, sementara Die, sekarang giliran dirinya berurusan dengan Kaoru. Sang master masih memperhatikannya tanpa ekspresi untuk beberapa saat, “Explain what you’re fucking mean?”

Die bisa merasakan amarah disuara Kaoru dan dia tau penyebabnya. Dirinya mengumpulkan udara ke dalam paru-parunya untuk menenangkan jantungnya sebelum membalas pertanyaan Kaoru. “Aku-“ Kepalanya menggeleng tidak karuan, “Aku tidak tau.” Jawabnya nyaris berbisik tapi cukup terdengar oleh Kaoru.

“Seharusnya kau sudah kubunuh dari dulu.”

“Tetapi tidak’kan!” Seru Die, “Kau selalu mengatakan akan membunuhku, tetapi tidak pernah. Hanya menyiksaku, itu yang kau lakukan!” kini Die cukup lantang untuk mengeluarkan kekesalannya yang tertahan. “Sekarang siapa yang mengatakan omong kosong.”

“Ini membuatku gila!” bentak Die kepada dirinya sendiri.

Perkataan Die ada benarnya walaupun Kaoru tidak ingin mengakuinya, kata-kata ‘membunuh’ mungkin sudah biasa diucapkannya tapi sebaliknya, dirinya cukup bosan dengan kata itu. Tanpa merendahkan harga dirinya dan tetap bersifat dingin Kaoru membalas perkataan Die, “Melihatmu menderita jauh lebih menyenangkan.” Ucapnya. Laki-laki lain menatapnya kembali, kali ini dengan ekspresi tidak percaya dan Kaoru sedikit puas dengan jawabannya. Sebelum sempat menjawab, Die melihat Kaoru telah membalikkan badannya kemudian berjalan menjauhinya.

Sekarang kau pergi. Apa kau ingin mengelak?

“Hei!” Seru Die sambil menyusul Kaoru, rasanya aneh mengejar seseorang yang berkata ingin membunuhmu. Selalu kebingungan yang meliputi pikiran Die belakangan ini, tdak sejak awal dirinya masuk ke penjara ini pun sudah membuktikan itu sebuah 'kebingungan'. Kaoru tidak berhenti bahkan menghiraukan panggilan Die dan membuat laki-laki di belakangnya mempercepat langkahnya hingga dirinya telah berada di depan Kaoru, berjalan mundur sambil sesekali melihat ke arah belakangnya. “Seharusnya kau bilang, aku akan menyiksamu!” sekarang Die tidak tau apa yang diocehkannya.

Kaoru masih berjalan dan merasa terganggu dengan Die, “Apa mau mu?” tanyanya tanpa memperlambat langkahnya.

Die menghela nafas sambil berpikir, sangat sulit menebak perilaku laki-laki yang satu ini hingga akhirnya langkahnya terhenti dengan tiba-tiba dan membuat Kaoru nyaris menabrak dirinya walaupun dada mereka sudah bersentuhan, “The topic is what do you want?” tanya Die mengulangi perkataan Kaoru.

ITU. Terkadang perilaku Die bisa membuat detak nadinya mempercepat seperti sekarang, bagaimana saat laki-laki lain begitu berani mendekatinya namun bisa sangat lemah di satu sisi dan Kaoru menyukai kedua sisi itu, tanpa dia sadari. “Minggir.” Ucap Kaoru, tapi laki-laki yang lain hanya berdiri di depannya sambil menatap dirinya, menanti untuk dijawab. Bagi Die sendiri, terkadang sifatnya pada Kaoru tidak terduga sama sekali; ketakutan dan rasa sakit yang ditimbulkan Kaoru menyatu tidak menentu dengan rasa ingin tau mengenai laki-laki lain, seperti sekarang. “Back off.” Kaoru mengulang perkataannya, kini lebih ketus dan jengkel.

“Try me.” Dan. Terkadang jantungnya berdegup keras jika kedua mata milik Kaoru menatapnya wlaupun dengan kebencian sekalipun, tapi ada di saat tertentu die melihat yang lain di balik pandangan dingin dan arogan itu, sesuatu yang belum bisa dia gambarkan dan artikan.

Kaoru tidak ingin berdebat lagi untuk sekarang, pada akhirnya dia hanya bergeser ke kiri lalu jalan melewati Die tanpa sepatah katapun.

Kepala Die mengikuti langkah Kaoru dengan kerutan di keningnya.

First, I even won’t stare at you. Then torturing me like animal. And fucked me. Then dared kissed you. And mad at you. Then hatred about you. And I said belong to you. You make me sick! Or I'm really sick!

Setelah mengeluh pada dirinya sendiri Die segera membalikkan badannya, menyusul Kaoru kembali dan kali ini sedikit berbeda. “Let’s go to your fave place!” tanpa menunggu balasan dari Kaoru, Die segera menarik pergelangan tangan kiri Kaoru lalu menariknya dan meninggalkan Kaoru dengan kebingungan akan perilakunya.

Pemandangan yang aneh di dalam perjara itu, para tahanan kembali saling berbisik saat mata mereka menangkap Die sedang menggandeng Kaoru dan the highest untouchable tidak bereaksi sama sekali. Dan ini untuk pertama kalinya bagi Kaoru, seorang slave berani melakukan hal itu. Kaoru sadar mereka berdua menjadi tontonan dan gosip di seluruh penjara namun Die tidak mempedulikan hal itu, karena dipikirannya Kaoru tetap seorang manusia dan ini normal untuk dilakukan. “Lepaskan.” Protes Kaoru, namun Die tidak mengabulkannya, hanya terus membawanya ke tempat kesukaan Kaoru, jauh dari keramaian.

Kenapa aku melakukan ini?

Die terhenti ketika Kaoru tidak bergerak, wajahnya tidak berubah saat Die melihatnya, hanya memandangnya seperti biasa. “I’m your master.” Setelah mengatakan hal itu giliran Kaoru yang menarik tangan Die. Perpindahan posisi yang sedikit mengejutkan Die ketika tangan Kaoru menggandengnya. Harga diri, mungkin itu yang dipikirkan oleh Kaoru sekarang dan kali ini Die tidak memprotesnya karena dia sendiri ingin berbicara dengan Kaoru.

 

Di sinilah mereka, the place where the demon belong, Die mengingatnya kembali. Memang tempat yang bisa dibilang sangat nyaman di antara tempat-tempat lain di penjara itu, tidak ada tahanan atau apapun yang mengganggu jika kau ingin menenangkan diri. Tapi sebutannya sangat bertolak belakang.

Kaoru melepaskan tangan Die lalu maju beberapa langkah untuk menghisap nikotin. “Jelaskan sebelum aku melakukan sesuatu padamu.” Dingin seperti biasa, tidak ada yang Die harapkan dari suara Kaoru.

“Biarkan aku berpikir.” Jawaban yang salah tapi Die memang harus berpikir apa yang ingin dia bicarakan, apa yang dia inginkan dan apa yang dia harapkan. Kaoru tidak meladeninya hanya merasakan nikotin memenuhi paru-paru-nya dan membuat dirinya sedikit tenang akibat kejadian tadi.

“I hate black hair because my father.” Awalan yang membuat Kaoru sedikit terkejut hingga memalingkan wajahnya pada Die. Apa maksud perkataan Die? Kaoru belum menemukan modus dari laki-laki lain karena Die sendiri terlihat bingung mengatakan hal yang diucapkannya. Tentu itu menjelaskan alasan kemarahan Die atas rambutnya, tetapi tidak peduli kenapa Die tidak menyukainya. “Orang bilang aku sangat mirip dengannya jika rambutku hitam dan aku sangat membencinya.” Die mendesis kesal mengingat ayahnya bahkan untuk memanggilnya ayah sudah cukup membuat darahnya mendidih. “He’s fucking bastard!” bentaknya lalu mengutuk tidak jelas sementara Kaoru telah kembali menikmati rokok-nya, namun dibalik itu dia mendengarkan.

“Dari dulu aku sangat memuja ayahku hingga saat usiaku sepuluh tahun-“ laki-laki di belakang Kaoru terhenti, kata-katanya tersedak di tenggorokkannya hingga membuat dirinya ingin membunuh sosok yang sudah tidak ada itu, “Dia menjadi gila. Memukuli ibu, adikku dan aku pun tidak terlepas dari cengkramannya. Lalu-“ Samar Kaoru mendengar isakkan bercamour hembusan angin dari arah yang berlainan, “Dia mengambil janin ibu, calon adikku.” Die tidak bisa menahan emosi yang telah dikuburnya dalam-dalam, telapak tangannya menekan keningnya dengan kuat dan perlahan wajah pucatnya berubah menjadi merah. “He killed mom exactly in my face!” kini terdengar jelas oleh Kaoru, kesedihan, kemarahan, kebencian dan kekesalan, bercampur menjadi sebuah kerapuhan.

Die tersedu. “He fucked my sister and he-“ nyaris berbisik dan menghilang ditelan angin namun di telinga Kaoru perkataannya sangat jelas. “Setiap kali bercermin aku selalu melihat sosok-nya di dalam diriku dan itu membuatku muak hingga aku membenci diriku!”

He fucked me. Over and over.

Kaoru membalikkan tubuhnya lalu memperhatikan Die dengan seksama. Apa yang akan dia katakan pada Die? Rasa optimis, kasihan, iba atau bahkan kemarahan? “Apa yang kau ocehkan?” berusaha menjadi netral, itu yang dilakukan Kaoru walaupun orang akan menganggapnya kejam, ya kata itu sangat akrab dengan dirinya hingga tidak peduli jika Die menganggapkan sama.

Mata Die yang berkaca dan wajahnya yang masih memerah dan mulutnya yang bergetar bahkan kebingungan kenapa dirinya menceritakan masa lalu yang begitu kelam. “Aku tidak tau.” Jawabnya ambil menggigit bibirnya, “I just-“ kepala Die bergerak tidak menentu kecuali untuk menatap mata Kaoru, sekarang terasa sangat dingin untuk dilihat. “Apa kau mengerti apa yang kubicarakan?” keluh Die dan pada akhirnya menatap Kaoru kembali.

Kaoru terdiam sejenak sebelum membalas, “Bagaimana aku bisa mengerti jika kau sendiri tidak tau apa yang kaubicarakan.” Jawabnya.

Die memang tidak bisa mengharapkan Kaoru, untuk apa pun. Rasanya seperti orang bodoh saat Kaoru menjawab atau membalas semua ucapan dan perkataannya, membuatnya semakin bingung dan bingung. “Itu kenapa aku sangat marah padamu saat kau mengubah rambutku.” Ucap Die pelan.

Baiklah, sedikit jelas bagi Kaoru kenapa Die begitu menolak rambutnya berwana hitam walau kini dia terlihat tidak memprotes lagi, tapi tidak menjelaskan sama sekali kenapa setelahnya Die malah mencium Kaoru. “Itu tidak menjelaskan apa pun untukku.” Dan kali ini Die merasa sia-sia berbicara dengan Kaoru, memang tidak ada hubungannya antara masa lalu Die dengan Kaoru tapi setidaknya ada sedikit sesuatu dibalik sana, benar’kan?

Die menggosok-gosok matanya yang berkaca lalu menghampiri Kaoru dan berdiri di sampingnya, “And why you want own me. So much.” Wajahnya yang sedikit sembab menatap Kaoru penuh tanya, pertanyaan yang sangat tiba-tiba itu cukup membuat Kaoru terdiam beberapa saat dan hanya menghisap rokoknya. “Kau terlihat sangat ingin memiliku, matamu selalu mengatakannya setiap saat.” Pembicaraan sebelumnya nyaris terlupakan bagi kedua-nya, karena alasan Die membawa Kaoru lalu Kaoru yang mengambil alih adalah perkataan yang baru saja Die lontarkan pada pria lain.

“seorang master selalu ingin memiliki slave-nya.” jawab Kaoru jelas.

Die menggelengkan kepalanya, “Keinginanmu lebih dari untuk memiliki, Kau bahkan tidak menginginkan Tuhan memilikinya-“

“Itu komitmen!” Suara tinggi Kaoru segera memotong perkataan Die, rokok yang sebelumnya dinikmati oleh Kaoru kini terlempar dan terjatuh di antara rerumputan. Kekesalan memenuhi mata Kaoru saat Die melihatnya, “Kau tau arti sebenarnya slave?” pandangannya yang menikam menatap laki-laki lain hingga membuat ekspresinya berubah, tentu saja Die tau walaupun tidak secara pasti dan arti menurutnya. Bagaimana arti kata itu untuk Kaoru, Die tidak mengetahuinya.

Slave, kepemilikan mutlak.” Jawaban singkat itu sedikit membuat bulu kuduk Die berdiri. Sesederhana namun sangat kompleks jika menelaah perkataan Kaoru. Kepemilikan mutlak. “Kau membuang waktuku dengan semua ocehan dan perkataan bodohmu. Pembicaraan ini tidak ada artinya sama sekali.” Protes Kaoru.

Benarkah tidak ada artinya? Die menjawab tidak untuk dirinya.

“Dan kau tidak menjelaskan apa yang kau katakan tadi!” satu pukulan mengenai pipi Die hingga mundur ke belakang. Sakit namun dirinya tidak membalas, hanya merasakan dengan tangannya dan sedikit darah yang dirasakan oleh lidahnya. “Fucking nonesense!” Kaoru berteriak dan Die akan merasakan akibatnya lagi lambat laun.

“This is not fucking nonesense, okay!” suaranya sama tingginya dengan milik Kaoru, “Kau mengerti apa yang kubicarakan? Apa sedikit pun kau tidak menyadari kenapa aku sangat membencimu-“

“Apa yang sedang kau coba jelaskan?!” potong Kaoru, “Kau hanya mengoceh tanpa mengatakan apa yang ingin kau katakan.” Kemudian mendekati Die hingga wajah mereka berdekatan, “Your bullshit, what are you trying to say?”

 

That’s because I begin fallen to you. And I let you again, because-

Tidak seperti sebelumnya, kali ini Kaoru tetap berada di tempat tidur Die, menghisap rokoknya sementara laki-laki lain tertidur di sebelahnya. Malam terlihat cerah dan beberapa sinar bintang terlihat oleh Kaoru. Hari yang melelahkan dan begitu banyak perdebatan dan pembicaraan yang masuk ke dalam pikirannya hingga tempat kosong di otaknya sudah penuh. Nikotin hanya menenangkan dirinya sedikit dan Die, itu sesuatu yang cukup menimbulkan efek baginya.

Sentuhan kecil terasa di punggung Kaoru, pandangannya sekilas menatap ke arah belakangnya dan mendapati Die sudah terbangun dengan jemari-jemarinya menelusuri luka yang seorang pun tidak pernah menyentuhnya untuk sekian lama. Kaoru kembali menatap ke luar tanpa meprotes apa yang Die lakukan, dirinya sudah banyak berdebat hari ini dan malam hari waktunya untuk sedikit mengistirahatkan dirinya. Dan sentuhan Die sedikit membuatnya nyaman.

Sementara Die masih memperhatikan dan merasakan luka di punggung Kaoru, luka yang selalu membuat dirinya penasaran dan tertarik, “What happen?” ucapnya pelan tanpa menghentikan jarinya. Kaoru enggan untuk menjawab, sama seperti Die, dirinya mempunyai alasan sendiri yang tidak ingin diceritakan kepada orang lain. Die menatap punggung Kaoru, sedikit berharap laki-laki di hadapannya akan menceritakannya, “Dari dulu selalu punggungmu yang terlihat.”

Siang hari yang berbeda dan malam hari yang berbeda. Baru pada malam ini Kaoru begitu tenang dan membiarkan dirinya berada di dekat Die dan merasakan sentuhannya.

Die. Nama yang baru dikenalnya beberapa bulan lalu dan sekarang nama itu seakan berakiba fatal pada dirinya. Setelah Kyo, Die-lah orang yang tidak takut kepadanya. Setelah Kyo, Die-lah yang mengisi. Setelah Kyo, penakut berubah menjadi pemberontak. Begitu banyak hal-hal yang terjadi dan Kaoru nikmati bersama Kyo, itu sudah lama berlalu dari dirinya dan sekaranglah dirinya bersama dengan Die.

“Yoshiki.” Nama itu meluncur dari mulut Kaoru dan jari lak-laki lain berhenti di tengah luka miliknya.

“Since?” kata itu tersedak di tenggorokan Die, walaupun begtu dirinya sangat penasaran apa yang dilakukan Yoshiki hingga luka itu tertoreh di punggung Kaoru.

Bagi Kaoru alasannya mengundang kembali saat-saat yang sulit ketika dirinya pendatang baru di penjara, baik di bagian remaja, transisi hingga di tempatnya sekarang ini, Yoshiki seolah mengikutinya seperti bayangan. Die. Nama itu kemudian muncul di kepalanya, mungkin ini saatnya iblis membuka seikit tentang dirinya. “When I was young.” Jawabanya singkat lalu menghisap kembali batang nikotinnya.

Die bangkit dari tidurnya hingga tepat berada di sebelah Kaoru, “Ceritakan padaku?” tanyanya serius saat pendangan mereka bertemu.

Kaoru memperhatikan dirinya sejenak, “Apa keuntunganku?” tanyanya datar dan hanya dibalas dengan ekspresi serius dari Die. Laki-laki lain kembali menatap langit dengan hisapan dalam untuk menenangkan dirinya, “Dulu aku sangat menghormatinya, hingga dia membuatku selalu melakukan kesalahan-“ menghisap dalam-dalam, “Menjebakku. Keluar-masuk ruang isolator dan di sana,” Kaoru kembali berhenti, saat Die melihatnya, pandangan Kaoru terasa sangat jauh dan berbeda, mungkin waktu yang sangat berat untuk Kaoru hingga matanya begitu sendu, namun terasa hangat di saat yang bersamaan. “Di sana dia sering mencambukku dan melampiaskan hobinya.” Satu hisapan terakhir sebelum rokok itu mati.

“Aku tidak pernah menceritakan hal ini, bahkan kepada Kyo.” Jadi Die-lah orang pertama yang mendengar sedikit masa lalu Kaoru? Itu membuatnya terkejut dan tersanjung. “Hide-san tidak termasuk hitungan.”

“He fucked you?” dan itu pertanyaan yang tidak direncanakan oleh Die.

Tiba-tiba Kaoru kembali berhenti, Die merasa bodoh menanyakan hal itu dan Kaoru mungkin akan memukulnya seperti biasa. Sejak matahari terbit hari itu memang hari yang tidak biasa, dan Kaoru tidak memukulnya ataupun bereaksi, kali ini sang iblis enggan untuk bergerak.

“Die.” Panggilnya, “Berjanji padaku. Jangan pernah biarkan dia memasuki mu ke dalam ruangan isolator.” Ucapnya sambil mengalihkan pandangannya pada Die. Jelas Die terkejut saat Kaoru meminta dirinya untuk berjanji, sebuah nasihat atau ancaman Die belum jelas mengartikannya, “Aku tidak akan memaafkanmu jika itu terjadi.” Dan matanya kembali menusuk Die, menyiratkan kali ini dirinya bersungguh-sungguh.

“I- I promise.” Jawabnya terbata.

Kaoru kembali terdiam, menikmati sisa malam yang masih panjang tanpa harus sendirian. Perasaan lain tentang Die begitu tersembunyi di labirin hatinya, tapi perlahan Kaoru bisa merasakan di mana tempat itu berada. Di sampingnya.

“Kao.” Kaoru bisa merasakan bibir Die berbisik di punggungnya dan bagaimana namanya disebut, sementara kedua telapak tangannya berada di punggung bagian bawah dan dada-nya, mengusapnya perlahan dan menghantarkan elektrik ke sel-selnya yang dingin, itu cukup membuat Kaoru tersentak setelah pembicaraan singkat yang melelahkan.

Die tau apa yang dilakukannya, tau apa yang diinginkannya, dan tau apa yang dibutuhkannya untuk sekarang. Setelah mati-matian mengingkari sesuatu, justru saat Kaoru mulai menerimanya sedikit demi sedikit hal itu semakin sulit dan membesar. Belum sepenuhnya, seperempat, sepertiga atau setengah-nya sudah bisa dia rasakan. Sesuatu yang diinginkan Kaoru namun masih diragukan oleh Die, sesuatu yang akan mengikatnya hingga dirinya mati. Die belum siap untuk apapun.

Setiap sentuhan di luka Kaoru membuat dirinya sedikit gila dan kulit-kulit halus yang dirasakan oleh telapaknya terasa sangat jelas, menggapai ke seluruh area dan menikmatinya. Sementara Kaoru sedikit demi sedikit terbuai dalam sentuhan Die, kesenangan yang menjalar ke setiap aliran darahnya tidak bisa dielaknya. Sudah terlalu lama hingga Kaoru tidak bisa mengingata akan seseorang menyentuhnya begitu intim.

“Own me.”

Satu lagi pernyataan yang membuat laki-laki itu terhentak. Bagi Kaoru kata-kata itu membuat bulu kuduknya merinding dan bagi Die sendiri itu adalah sebuah keputusan dan komitmen dirinya kepada Kaoru dan dirinya kepada dirinya sendiri. Die tau konsekuensinya dan begitu juga dengan Kaoru. Apa yang membuat Die mengiyakan permintaan Kaoru sebelumnya? Apa ini jebakan?

“Why?” mata Kaoru setengah tertutup saat lidah Die yang hangat menjilat jalur lukanya dan menciumnya dengan tangan-tangan yang mencari kehangatan. Dan kaki-kaki yang saling berbenturan. Kaoru tidak melanjutkan perkataannya, hanya mendesis merasakan setiap sentuhan Die sementara laki-laki yang lain hanya menjawab dengan aksi. Keduanya mulai tenggelam satu sama lain, Die menyukai rasa kulit Kaoru walaupun cerita dibalik luka itu mengerikan namun tidak menghentikan Die untuk merasakan tiap inchi-nya. luka yang selalu dilihatnya dan selalu dipertanyakannya dan sekarang dinikmatinya. Bisa Die rasakan tubuh Kaoru sedikit gemetaran di bawah bibirnya, Die menyukainya dan semakin ingin melakukannya hingga tangannya menuruni dada Kaoru, melalui perutnya, menghilang di balik selimut yang menutupi Kaoru hingga terhenti dan membuat Kaoru menahan nafasnya.

Die tersenyum setelah sekian lamanya, ini perasaan yang menyenangkan, membuat the unthoucable seperti Kaoru menyerah. Dan Kaoru tidak mengungkiri Die seorang slave yang memiliki sentuhan istimewa dan karena Kaoru tau Die begitu istimewa terutama bagi para unthoucable seperti Kyo dan Toshiya. Bagaimana bibir yang penuh itu saat dicium, bagaimana jari jemari panjangnya menyentuh, bagaimana saat tubuhnya bereaksi akan rasa sakit dan kesenangan dan bagaimana rasanya berada di dalam diri Die, Kaoru tau Die sangat istimewa.

Kaoru kembali kedalam kesadarannya, tangan Die ditariknya lalu mendorongnya hingga bebaring. Gerakan yang membuat Die terkejut hingga nafasnya tersenggal saat Kaoru melihatnya, “Tell me.” Ucap Kaoru.

Inilah waktunya bagi Die untuk memutuskan, matanya terpejam untuk beberapa saat lalu kembali menatap milik Kaoru, “Seperti kau bilang, slave akan tunduk kepada master-nya.” tenggorokan Die mati rasa untuk perkataan selanjutnya dan butuh paksaan dari dirinya untuk melanjutkan, “And I’m fallen to you.”

Jawaban Die menggema di seluruh sel Kaoru, jawaban yang dinantikan Kaoru, jawaban yang membuat jantungnya kembali berdebar kencang. Tetapi harus dipastikan kembali, “Why?” tanyanya lagi dan seakan belum puas.

Sebelum menjawab Die memandang Kaoru tepat di matanya, “Semakin lama aku membencimu,  semakin kacau apa yang kurasakan padamu.” Dan Die benar, perasaannya terhadap Kaoru belum bisa dijelaskan apa artinya, “There’s something I feel, I don’t know if it that word or what. But some reason I like when you touch me, your lips-“ jemari Die menggapai bibir Kaoru untuk merasakannya kembali, “Wajahmu,” Die meneruskan menyentuh bagian wajah Kaoru dan terlihat jika laki-laki lain menyukainya. “Semakin kupikirkan, semakin tidak kumengerti. Hanya saja, jika seseorang ingin memiliku aku ingin kau orangnya.” Kaoru masih mencerna semua ucapan Die, seperti sebuah obat untuk dirinya dan menikmati sentuhan di wajahnya.

“Karena perasaan kita yang bertolak belakang dan rasa kebencian yang membentur,” Die menjelajahi wajah Kaoru dengan matanya, “Mungkin karena itu akibat yang terjadi justru sebaliknya.”

“We live in pain, grow in pain and like because a pain. ” Ucap Die saat tangan Kaoru menyentuh miliknya, “Own me, Kao.” Sekali lagi perkataan itu menyiram tubuhnya, menggelitik tiap sel dan darahnya.

Dan Kaoru harus memutuskan.

Tanpa banyak bicara Kaoru mencium Die dengan lapar, penuh dengan tekanan yang memuncak dan kebutuhan hingga kau tidak bisa menjelaskan hanya dengan kata-kata, terlalu banyak kata-kata yang harus dirangkai hingga luapan itu hanya menjadi sebuah pelampiasan. Die membalas ciuman Kaoru dengan perasaan yang sama seperti Kaoru. Saling membutuhkan. Dan tembok yang selama ini membentang begitu luas dan besar, perlahan-lahan terkikis namun tetap ada. Nafas yang bersahutan, lidah bertaut di mulut Die dan tangan yang mencari rambut helai demi helai untuk digenggam, dan tengkuk yang terdorong agar tidak ada yang terlewatkan untuk merasakan.

“Keep your words.” Ucap Kaoru di sela-sela ciuman dengan nafasnya yang berat dan mata yang menatap Die dengan serius dan menyadari kalau semua yang dikatakan Die adalah sebuah kenyataan.

“I will.” Balas Die lalu menarik tengkuk Kaoru untuk mendapatkan ciuman lain dan merasakan berat laki-laki lain di tubuhnya. Kali ini Die menikmatinya, jika dia mengingat malam-malam yang telah lalu hanya ada kemarahan, rasa sakit dan sekedar alat. Malam ini semuanya berbeda, baik bagi Die atapun Kaoru, lebih intim, lebih dalam dan kali ini lebih berarti.

I let my self fallen for demon,
I let the pains grow more and more between us,
Because I had fallen,
Fallen for fallen demon.

That word never spell, yet.


-End of Chapter 8 -