a1y_puff wrote in 10settings

I'm Not Gay! - part 1-3

- The Dorks -
{ I’m Not Gay! Please be My Girl! {

1 | Kamu Kan Gay
    “Sori, gimana? Tadi kamu bilang apa?”
    Ran mengerjapkan matanya. Ia memperthatikan laki-laki yang berdiri dengan sedikit menduduk di hadapannya ini dengan seksama. Pipinya sedikit memerah, dan senyumannya terlihat gugup. Helaian rambutnya yang kecoklatan menari pelan tertiup angin sore.
    “Erm. Aku sudah lama suka sama kamu,” cowok itu mengulangi pernyataanya. “Kamu mau ya, jadi pacarku?”
    Sekali lagi, Ran mengerjapkan matanya. Hening mengisi udara di antara mereka. Lalu, seolah mendapat momen eureka, Ran berseru pelan, “Oh!”
    Cowok di hadapannya masih menunggu jawaban. Ran menepuk bahunya pelan, menatap sepasang mata cokelat gelap itu dengan serius.
    “Maaf ya, tapi aku nggak bisa jadi kamuflase kamu,” ujar Ran dengan penuh simpati.
    Cowok itu terlihat bingung. “Eh? Kamuflase?” Ia menggaruk bagian belakang kepalanya. “Maksudnya…?”
    Ran kembali menepuk-nepuk bahu lelaki itu. “Habis, kamu gay, kan?”
    Cowok itu ternganga. “Ap—ak—ga—gay—haaah?”
    “Nggak apa-apa, kok,” Ran melebarkan senyumnya. “Aku nggak akan bilang siapa-siapa. Tapi, maaf ya, aku nggak bisa jadi kamuflase kamu.”
    Dan dengan itu, Ran mengundurkan diri dengan satu lambaian tangan, lalu berbalik ke arah pintu menuju tangga turun dari atap yang sudah sepi di jam pulang sekolah ini.
    Jika Ran menengok, mungkin dia akan tertawa karena melihat wajah cowok itu yang seperti megap-megap—mulutnya membuka dan menutup, gagal membentuk kata-kata.
    Jika Ran tinggal sedikit lebih lama, mungkin dia akan mendengar ketika cowok itu akhirnya dengan frustrasi meneriakkan: “Tapi aku bukan gay!”

* * *

Dia adalah Jun—entah siapa nama panjangnya. Ran hanya mengenalnya sebagai Jun, anak kelas dua yang sering mampir ke Houkago Bites. Sebagai anggota klub memasak, Ran memang sering shift menjadi waitress di kafe ini. Sejak beberapa bulan lalu, ia mulai sering melihat Jun di kafenya. Bukannya memperhatikan, sih, tapi Jun itu ‘rame’. Dia biasa datang dengan teman-temannya di klub bola. Kebetulan juga, salah satu teman Ran adalah manajer di klub bola.
    Mereka berisik sekali kalau sedang bercanda. Jun yang bertubuh tinggi, terlihat menonjol. Selain itu, dia tipe yang sepertinya senang melakukan kontak fisik dengan teman-teman lelakinya. Misalnya merangkul atau menyentuh.
    “Mungkin dia memang tipe yang touchy-feely sama teman-temannya,” komentar Mei, teman sekelas Ran yang dicurhatinya di jam istirahat siang itu. Mei inilah teman Ran yang adalah manajer klub bola. Walaupun selepas semester ini ia harus mengundurkan diri karena sudah kelas tiga.
    Ran menelengkan kepalanya. “Hmmm… tapi instingku bilang dia—berpotensi,” jawab Ran, sementara kaki mereka terus melangkah menaiki tangga menuju atap sekolah untuk makan siang.
    Mei tertawa. “Mungkin, instingmu saja yang bias,” ejeknya, yang hanya dibalas Ran dengan juluran lidahnya.
    Iya, memang Ran memiliki hobi yang sedikit unik. Dia senang membaca komik atau cerita-cerita berbau bromance. Menurut Ran, kedekatan yang terjalin antara lelaki itu manis dan menggemaskan. Makanya, dia juga memiliki ketertarikan yang sedikit berlebihan jika melihat cowok di dunia nyata yang kemungkinan adalah gay. Mungkin, itu awalnya mengapa Ran menyadari keberadaan Jun di sekitarnya.
    Ran meraih gagang pintu yang menuju ke atap sekolah. Baru saja menapakkan kaki keluar pintu, terdengar suara teriakan yang familiar. Suara cowok. Ran dan Mei bertukar pandang, lalu berjalan memutari dinding dan—
    Di sana, Ran dan Mei melihat Jun yang sedang berlagak menangis sambil memeluk seorang teman lelakinya. Ia mengenalinya sebagai bintang klub bola, Kenzo. Cowok berkacamata itu menepuk-nepuk kepala Jun sambil bilang, “Udah, udah.”
    Menyadari kehadiran Ran dan Mei, Kenzo mengangkat tangannya dari kepala Jun, yang membuat cowok itu lalu mengangkat kepalanya dan mengikuti arah pandang Kenzo.
    Jun membeku. Lengannya masih melingkar di badan Kenzo. Begitu sadar, dia buru-buru melompat mundur, gelagapan, “Ini—nggak—itu… eh…”
    Ran hanya tertawa kecil. “Santai aja, nggak apa-apa kok” katanya sambil berkedip, lalu berbalik ke arah dan menarik Mei pergi sambil bilang, “Tuh kan.”
    Jun membenamkan wajahnya ke telapak tangan, sementara Kenzo terbahak-bahak di sebelahnya.

* * *

2 | Bukan Seperti Kelihatannya, Kok…

    Houkago Bites selalu ramai di jam pulang sekolah dan sore hari, ketika para siswa yang punya kegiatan klub baru bubaran. Shift Ran hampir berakhir ketika Jun memasuki kafe bersama Kenzo, lalu melambaikan tangan padanya.
    Merasa sudah agak mengenal Jun, Ran tidak keberatan untuk melayaninya. Ia mendatangi Jun dan Kenzo dengan buku menu, lalu memberikan senyum komersilnya. “Selamat datang! Mau pesan apa?”
    “Aku bukan gay,” kata Jun, frontal.
    Ran berkedip. Lalu tersenyum sekali lagi. “Oke, mau pesan apa?”
    Tanpa perlu melihat ke menu, Jun dengan mantap menjawab, “Milkshake stroberi.”
    Ujung bibir Ran bergetar menahan geli. Kenzo yang menyadarinya, langsung tertawa dan menepuk bahu Jun.
    “Hei. Aku suka manis, tapi aku bukan gay!”
    Iya deh, sahut Ran dalam hati sembari mencatat pesanan Jun dan Kenzo yang memilih garlic bread dan soda. Ran memberikan satu senyuman terakhir, sebelum akhirnya undur diri. Ketika berjalan menuju dapur untuk menyampaikan pesanannya, perhatian Ran tertarik ke sekelompok siswi yang sedang berbisik-bisik dengan hebohnya.
    “Iya beneran, katanya ada celana dalam yang dicuri di asrama puteri!”
    “Sssh! Jangan keras-keras, kan baru gosip.”
    “Tapi katanya memang ada yang kehilangan kok, aku denger dari senior—“
    Ran menaikkan alisnya. Memang dia sudah mendengar bahwa belakangan, semakin banyak benda yang hilang. Mungkin, sampai di asrama nanti, dia bisa tanyakan ke teman sekamarnya. Kebetulan, Erika anggota OSIS. Mungkin dia tahu sesuatu.

* * *

    “Kak Ran dengar dari mana?” tanya Erika sambil mendongak dari meja belajarnya, ketika Ran menanyakan perihal gosip hilangnya celana dalam di asrama putri.
    “Tadi ada yang membicarakan itu di kafe,” sahut Ran sambil mengurai rambutnya yang sudah seharian dicepol itu. “Memangnya benar, ya?”
    Erika terlihat ragu untuk sesaat. Lalu, dengan suara dipelankan—seolah dinding saja bisa mendengar mereka—ia melanjutkan, “Aku nggak tahu detilnya, tapi memang benar. Aku dengar sendiri dari kak Kanna…”
    “Dari Kanna?” Ran mengulangi. Berarti memang bukan sekadar gosip.
    “Pokoknya, lebih hati-hati aja kak. Jangan lupa kunci pintu sebelum tidur juga,” pesan Erika.
    Ran mengangguk. Tapi, malam itu, setelah mandi air hangat dan merasa sangat mengantuk, Ran langsung menjatuhkan dirinya di kasur. Lupa bahwa dia yang terakhir masuk kamar. Lupa bahwa seharusnya dia mengunci pintu.

* * *

    Asrama putra masih hidup meski malam sudah mendekati pergantian hari. Beberapa murid kelas satu dan kelas dua berkumpul dalam satu kamar, membentuk lingkaran di lantai yang sempit dan memainkan truth or dare.
    Jun adalah salah satunya. Bersama enam orang anggota klub bola yang lain, mereka berkumpul di kamar Kenzo, yang sekamar dengan sesama anggota klub bola juga. Ketika tiba gilirannya, Jun dengan percaya diri menjawab, “Dare!”
    Keempat temannya bertukar pandang, saling berbisik, lalu menyeringai lebar.   Raka, salah satu teman klubnya yang berambut spikey, menepuk pundak Jun.
    Perasaan Jun jadi tidak enak.
    “Oke, dare untukmu adalah: menyelinap ke asrama putri!” Raka berseru, dan disambut dengan sorakan teman-temannya yang lain.
    Jun memucat. “Ta-tapi kan—”
    “Nggak boleh mundur, Jun,” Kenzo ikut menyeringai. “Penalti buat yang menolak dare lebih berat, lho.”
    “Iya betul,” Raka menimpali lagi. “Untuk memastikan Jun benar-benar melakuakn dare-nya, Kenzo harus menemani!”
    “Heh?” yang disebut namanya protes. “Kenapa jadi aku?”
    Kali ini tak hanya Raka, tapi juga Hiro, kiper andalan klub yang biasanya berlagak cool, ikutan memojokannya. “Karena kalian kan partner. Temanilah dia.”
    “Terus kalau ketahuan, gimana?” tanya Jun ragu.
    Raka, Hiro dan Dai—yang notabene adalah juniornya—hanya tersenyum lebar. “Ya jangan sampai keathuan!”
    Jun dan Kenzo menghela napas panjang.

* * *

    “Lihat apa yang aku lakukan. Demi kamu,” Kenzo menggerutu sambil mengendap di koridor asrama putri.
Jun hanya meringis. “Salahmu sendiri tadi menyetujui dare ini. Jadi kena juga, kan?”
    Kenzo tidak berkomentar lagi. Pelan-pelan, mereka menaiki tangga ke lantai dua asrama putri. Letak asrama putera dan puteri berseberangan. Koridor mereka saling berhadapan, meski terpisah jarak yang lumayan jauh. Tugas Jun dan Kenzo adalah naik ke lantai dua, lalu pergi ke seberang kamar Kenzo, di mana di asrama putra, ketiga teman mereka menunggu sinyal bahwa mereka sudah disana. Nanti tinggal lambaikan ponsel dengan layar menyala, supaya terlihat sama para cowok di seberang sana.
    Jun dan Kenzo berjalan pelan-pelan. Seharusnya, sedikit lagi mereka sampai di area yang berseberangan dengan kamar Kenzo. Tapi, tiba-tiba terdengar bunyi langkah dari arah berlawanan. Bunyi langkah itu masih jauh, tapi terdengar jelas di tengah keheningan malam. Jun dan Kenzo buru-buru melipir ke dinding.
    Sorotan lampu senter terlihat. “Itu ibu asramanya patroli?” bisik Jun, panik.
    “Mana kutahu! Aduh, gawat. Mati kita kalau ketahuan,” desis Kenzo balik.
    Mereka merapatkan punggung ke dinding, merayap ke pintu kamar terdekat dan berharap demi apapun pintu itu tidak terkunci.
    Kenob pintu ditarik pelan-pelan. Pintu berderit ringan. Tanpa pikir panjang, Jun dan Kenzo menyusup ke dalam kamar dan kembali menutup pintu sepelan mungkin.
    Bunyi detak jantung mereka terdengar nyaring. Jun menahan napas, merapatkan punggung ke daun pintu. Kenzo sama tegangnya di sisinya. Ia menempelkan telinganya ke pintu.
    Suara langkah itu semakin dekat, dekat—lalu lewat. Beberapa detik setelahnya, keduanya masih menahan napas, hingga bunyi sepatu beradu dengan ubin itu telah lama tak terdengar.
    “Fuaah~” Jun menghembuskan napas panjang.
    Kenzo menginjak kakinya pelan. “Sssh!” ia menempelkan jari telunjuk di tangan, mengingatkan Jun untuk tetap diam.
    Tangan Kenzo kembali meraih kenob pintu. Sementara Jun memindai ruangan dengan matanya—memastikan bahwa penghuninya tidak terbangun.
    Di seberang ruangan, korden yang dibiarkan terbuka mengijinkan cahaya bulan menembus jendela. Terlalu gelap untuk melihat detil ruangan, tapi cukup untuk mengetahui bahwa gundukan di dua tempat tidur yang ditempatkan berseberangan itu masih tidak bergerak.
    “Hei,” panggil Kenzo. “Ayo kabur sekarang.”
    Jun mengangguk, lalu berbalik dan—kejadiannya begitu cepat. Jun tidak bisa menjelaskan kenapa kakinya bisa tersangkut dengan kaki Kenzo, membuat mereka kehilangan keseimbangan dan—
    GUBRAK!
    Jun memejamkan matanya, menahan pening dan ngilu pada sikunya karena terjatuh dalam posisi tengkurap. Tapi, tubuhnya tidak membentur lantai, tertahan oleh sesuatu yang hangat dan—
    “Oi,” geram Kenzo dari bawahnya. “Sakit tahu! Cepetan minggir, kamu berat!”
    “Eh? Maaf—“
    KLIK!
    Lampu meja belajar menyala, menerangi kamar itu dengan cahaya remang. Tapi, masih cukup terang bagi penghuni kamar itu untuk mengenali adanya penyusup yang masuk, lalu…
    Di sana, berdiri di depan meja belajar itu adalah sosok Ran, dengan rambut tergerai dan sedikit berantakan, memandangi mereka dalam diam.
    Lalu, gundukan di tempat tidur yang satu lagi bergerak. Sepasang kaki turun ke lantai. Cewek itu menengok ke arah pintu dengan wajah bingung. Setelah menyadari kekacauan yang ada di lantai dekat pintu kamar itu, ia berseru:
“ADA COWOOOK!!”
    Jun dan Kenzo buru-buru bangkit. Mereka mengangkat kedua tangan, seperti penjahat yang siap untuk menyerah. “Ka-kami bisa jelaskan,” kata Kenzo berusaha tenang, sambil sebelah tangannya meraih gagang pintu dan membukanya pelan-pelan.
    Mata Jun menatap Ran dengan panik. Hal terakhir yang diinginkannya adalah Ran menganggapnya sebagai cowok mesum yang menyelinap ke kamar cewek. Gadis itu terlihat masih memandanginya dan Kenzo bergantian, sementara teman sekamarnya—cewek berambut gelombang panjang itu—mengacungkan penggaris sambil berjalan mendekat.
Jun menelan ludah.
    KLIK. Kenzo berhasil membuka kenob pintu dan dengan cepat, menarik Jun keluar kamar, menuju koridor yang aman—
    Oh, tidak. Dari pintu di kiri-kanan kamar Ran itu, wajah-wajah penasaran bercampur kantuk menyembul keluar. Penghuni asrama di sekitar kamar yang terbangun itu, mematung begitu melihat dua sosok lelaki di area terlarang ini.
    “Uhh,” Kenzo mencoba bersuara lagi. Ia dan Jun terus melangkah mundur, hingga dinding mereka menabrak dinding balkon.
    Mereka terkepung.
    “Ini… nggak seperti kelihatannya, kok…” Jun mencoba bicara.
    Dia tidak pernah mengira, dikerubungi wanita dalam pakaian tidur mereka bisa semengerikan ini.
    “Mereka pasti mau nyuri pakaian dalam, tuh!”
    “Iya, ngapain coba, malam-malam begini nyelinap ke kamar cewek?”
    “Ya ampun, Kenzo! Aku nggak nyangka… ini pasti karena dia dipaksa temannya itu!”
    “Ta-tapi, mereka bilang cuma truth or dare?”
    “Maling mana ada yang mau ngaku?”
    Suara-suara bernada tinggi itu memenuhi telinga Jun, membuatnya makin menciut di dekat dinding. Di sebelahnya, Kenzo bungkam, sesekali melotot ke arahnya. Ketika melihat ke seberang, koridor asrama putera sepi. Ketiga teman mereka pasti sudah sembunyi begitu melihat bahwa mereka berdua ketahuan. Dalam hatinya, Jun merasa dongkol.
    “Ada apa ini?” sebuah suara baru bergabung dalam keributan kecil di sekeliling Jun. Siswi-siswi yang tadinya ribut sendiri, langsung terdiam. Kerumunan di depan Jun dan Kenzo terbelah, membukakan jalan untuk sesosok perempuan berambut hitam panjang dalam balutan daster berwarna krem dilapisi kardigan hitam.
    Sepasang mata gelap menatap Jun dan Kenzo dari balik kacamata.
    Kanna, si Ketua OSIS.
    Mati.

* * *

    Pada akhirnya, Kanna mengambil alih situasi. Gadis itu menyuruh semua siswi yang tidak berkepentingan untuk kembali ke kamar mereka, lalu bersama dengan Ran dan Erika, membawa Jun dan Kenzo ke ruang rekreasi di gedung utama yang merupakan zona netral bagi siswa dan siswi. Di tengah malam, ruangan itu sepi. Kanna berbaik hati untuk tidak sampai memberi tahu ibu asrama dan satpam yang berjaga di lobi. Tapi, tetap saja…
    “Truth or Dare?” Kanna mengulangi jawaban mereka dengan nada datar, sambil memandangi mereka dengan tatapan dingin.
    Jun dan Kenzo mengangguk kecil, tidak berani menatap wajah siswi yang paling disegani di sekolah mereka itu.
Kanna mengurut pangkal hidungnya, seperti sedang melawan sakit kepala. Wajahnya terlihat semakin seram. Di belakangnya, teman sekamar Ran bersedekap dan menatap mereka penuh tuduhan. Sementara Ran…
    Ran akhirnya maju dan menepuk pundak Kanna, mencoba tersenyum untuk mencairkan suasana. “Aku percaya kalau mereka bukan akan mencuri, kok. Mereka bukan orang seperti itu.”
    Dada Jun menghangat mendengar pernyataan Ran. Rasanya, terharu sekali dibela olehnya—
    “Habisnya, dia,” Ran menunjuk ke arah Jun, lalu setengah berbisik di telinga Kanna, “Dia kan, gay.”
    Jun tersedak air ludahnya sendiri, sementara Kenzo berusaha untuk tidak tertawa mengingat situasi mereka saat ini.
    Kanna memandangi Ran dengan ragu. “Be-begitu ya…?”
    Ran mengangguk mantap. Jun membuka mulutnya, hendak menyanggah, tapi tangan Kenzo buru-buru membekapnya. “Kami nggak punya alasan untuk mencuri… ini benar-benar hanya karena permainan bodoh saja, kok,” Kenzo mencoba meyakinkan.
    Sekali lagi, Kanna memandangi mereka. Lalu, ia menghela napas. “Kalian tetap harus dihukum,” ujarnya pelan sambil mengeluarkan ponselnya dan menekan-nekan layar sentuh itu.
    Jun dan Kenzo merapatkan diri satu sama lain, berharap Kanna bukan menghubungi ibu asrama. Bisa-bisa mereka mendapat hukuman serius.
    Sepuluh menit kemudian, Shuhei melangkah masuk ke ruang rekreasi. Terlihat tenang dan penuh senyum meski hanya dalam balutan kaus dan celana training. Jun dan Kenzo spontan berdiri begitu Shuhei berjalan mendekati mereka, lalu—
DUK! Jun merasakan jitakan keras di kepalanya, satu detik sebelum erangan tertahan terdengar dari mulut Kenzo. Shuhei lalu berjalan ke belakang mereka, dan dengan kedua tangannya, memaksa Jun dan Kenzo menundukkan kepala hingga badan mereka membungkuk.
    “Maaf ya semuanya, malam-malam begini mereka bikin ribut,” ujar Shuhei dengan suara lembut, kontras sekali dengan seberapa kuat dia menekan kepala mereka.
    Memahami maksud Shuhei, Jun dan Kenzo berucap hampir bersamaan, “maaf…”
    “Iya, nggak apa-apa,” jawab Ran ringan. “Jangan diulangi, ya.”
    “Nggak akan. Aku yang akan memastikan mereka kapok,” Shuhei berjanji.
    “Ya sudah, kurasa nggak perlu diperpanjang lagi,” ujar Kanna yang lalu menatap pada wakilnya itu. “Aku percaya kamu tahu hukuman yang pas bagi mereka.”
    “Pasti.”
    Jun merinding hukuman seperti apa yang diterimanya. Dalam hati, ia berjanji akan menyeret ketiga temannya yang mengusulkan dare ini.

* * *